Share

Bab 3 | Ternyata, Aku Adalah ....

Author: Romero Un
last update Last Updated: 2026-01-31 15:40:40

“Hey, Duke! Apa kau tidak mau menemaniku di dalam sini?”

Isolde tengah merasa bosan, duduk di dalam kereta kuda sendirian. Hampir satu minggu perjalanan mereka lewati.

Setelah menandatangani lembaran kertas yang menurut seorang pendeta adalah akta pernikahan Isolde dengan Duke Devereux, mereka segera melakukan perjalanan kembali ke daratan utara.

Duchy Devereux berada di bagian utara kerajaan Valtherion.

“Duchess, sebaiknya Anda tidak menjulurkan kepala seperti itu!” usul salah seorang ksatria yang mendampingi Duke Devereux yang memilih mengendarai kuda.

Duke Devereux berada sedikit jauh dari kereta kuda. Ia jengah mendapat pertanyaan dan ajakan serupa dari Isolde, sejak mereka memulai perjalanan tadi.

‘Cih! Kenapa dia tiba-tiba dingin padaku?’ 

Isolde kesal. Baru kali ini juga ia kesulitan membaca raut wajah seseorang.

Pasalnya, saat di pesta perayaan minggu lalu, Duke Devereux terlihat menikmati kedekatan mereka.

‘Apa itu cuma akting belaka? Agar tidak membangkitkan amarah si kaisar aneh itu?’ batin isolde lagi, menebak-nebak.

Karena bosan, Isolde pun memutuskan untuk menjadikan ksatria tadi, teman bicaranya. 

“Hey, ksatria! Siapa namamu?” tanya Isolde dengan bahasa santai.

Sang ksatria pun terkejut. Ia tidak ingin dianggap mengambil perhatian sang duchess untuk dirinya sendiri. 

Setelah melirik ke arah duke Devereux dan tidak melihat tanda-tanda keberatan, ksatria itu pun memperkenalkan diri. “Uhm … nama saya Nol, Duchess.”

“Nol! Apa duke-mu itu punya kakak kandung?” tanya Bianca mulai meneliti keadaan. “Yang sangat dia sayang seperti itu lah.”

Dalam cerita novel yang dibaca Bianca, Duke Devereux nantinya akan lepas kontrol atas kekuatan supranaturalnya saat sang kakak mati dibunuh oleh kaisar.

Tanpa berpikir dua kali, sang duke akan langsung melakukan pemberontakan.

‘Yah, walau menang, aku malas harus melihat pertumpahan darah lagi. Aku sudah bosan melihat perkelahian dan perang antar klan,’ batin Isolde menganalisa keadaan.

Namun, Nol terlihat kebingungan menjawab pertanyaan sederhana itu.

“Anu, Duchess. Duke Devereux itu—”

“Kita sudah sampai!” seru pemimpin rombongan dari arah paling depan. “Bersiap memasuki duchy!”

Nol tak melanjutkan jawabannya, karena ia harus bertukar posisi dengan ksatria lain.

Isolde pun frustasi.

“Astaga! Padahal aku perlu tahu kondisi sekarang. Ini tahun apa? Tapi aku juga tidak ingat tahun-tahun yang ada di novel. Si sialan itu membacakannya setengah-setengah.”

Sang duchess bermaksud mengulang pertanyaannya pada ksatria lain yang ada di dekat jendela, tetapi pemandangan di luar membuatnya ternganga.

Dibandingkan hamparan gunung salju yang mereka lewati, di dalam duchy tidak ada salju sedikitpun.

“Kenapa bisa begitu?” Isolde tak sengaja menyuarakan apa yang ada di pikirannya.

Ksatria lain yang berada di dekatnya tersenyum bangga.

“Maksud Duchess, kenapa di dalam tidak ada salju?” tanyanya mengkonfirmasi kebingungan Isolde. 

Isolde mengangguk. Antusias ingin mendengar penjelasan.

Sambil membusungkan dada, ksatria itu berkata, “Ha! Itu karena kami punya banyak sekali kristal api. Duke Devereux sendiri yang membuatnya menjadi perisai di sekeliling duchy.”

“Wow! Duke Devereux keren sekali!”

Wajah kagum Isolde yang tulus membuat sang ksatria semakin senang. Ia tidak menyangka, duchess yang digosipkan sebagai seorang gadis pemalu, ternyata banyak bicara seperti ini.

“Ha! Tentu saja—”

“Acro!” bentak seseorang, memutus ucapan sang ksatria. “Siaga di barisan!”

Ksatria bernama Acro tersebut pun segera menegakkan tubuhnya. “Ah! Siap, Kapten!”

Isolde menatap kapten yang berteriak tadi. Dari cara sang kapten menatapnya, Isolde yakin kalau orang itu tidak menyukainya.

‘Cih! Apa sih maunya dia? Kalau aku punya pistolku sekarang, sudah pasti kulubangi kepalanya!’ keluh Isolde yang akhirnya memilih menikmati pemandangan sampai mereka tiba di tujuan.

Ketika kereta kuda berhenti bergerak, Isolde un langsung membuka pintu dan keluar begitu saja. Ia merasa tidak perlu menyusahkan Duke Devereux dengan menunggunya menawarkan tangan untuk turun dari kereta kuda.

Begitu keluar, Isolde mengangakan mulutnya lebar-lebar. Ia kini berdiri di depan sebuah bangunan mewah seperti istana kerajaan kaisar di ibukota. Walau yang ini tidak semegah milik Kaisar Thalric.

Dan yang lebih membuatnya terheran-heran adalah benteng yang dibangun melingkari istana mewah itu.

Tepatnya, mansion mewah di tengah benteng pertahanan.

“Gila! Besar sekali!” seru Isolde penuh semangat.

“Selamat datang kembali, Duke!” seru para pelayan yang sudah menyambut di depan mereka. “Selamat datang Duchess!” 

Seketika Bianca merapat ke arah Duke Devereux sementara mereka melangkah memasuki mansion tersebut.

‘Yosh! Mulai sekarang aku adalah Isolde! Dan aku akan menyelamatkan kakak Duke Devereux, jadi semua bisa hidup bahagia hingga maut memisahkan!’

“Perkenalan para pekerja kujadwalkan besok saja. Kau pasti lelah.” Duke Devereux memutuskan.

Isolde mengangguk penuh semangat. “Tapi apa kita tidak akan menyapa kakakmu dulu, Duke?”

Dahi Duke Devereux mengernyit bingung. “Kakak? Dari mana kau dapat informasi bahwa aku punya kakak?”

“Dari sumber terpercaya!” cetus Isolde angkuh.

Duke Devereux mendengus geli. “Kalau begitu, kau harus belajar memilah orang yang bisa dipercaya, Duchess. Aku tidak punya kakak. Yang kupunya adalah adik lelaki.”

Otak Isolde berputar-putar mendengar jawaban yang tidak sesuai dengan apa yang diketahuinya. Kalimat narasi dalam novel yang dibacakan Hebron kembali terngiang.

‘Duke Devereux menghancurkan ibukota detik ia mengetahui sang kakak dibunuh oleh istrinya, yang ternyata adalah mata-mata utusan Kaisar Thalric.’

Wajah Bianca menjadi pucat setelah menyadari siapa dan apa yang tengah terjadi.

‘Oh, Tuhan! Jadi, aku adalah pembunuh suamiku?!’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kehidupan Kedua: Putri Mafia Terjebak Dalam Kisah Novel   Bab 8 | Wajah Tampan, Mulut Tak Sopan!

    Isolde sarapan bareng.Bjorden muncul. Dia baru dateng karena kloter kedua perang. Isolde jadi perhatiin terus karena dia akhirnya ketemu sama salah satu tokoh dari novel. “Dan kau, kenapa malah mengambil dokumen, Bas?”Netra Isolde memicing ke arah suaminya. Alih-alih membawanya ke ruang makan, Bastiven mengambil salah satu kertas dari tumpukan dokumen di meja dan membacanya.“Aku tidak sarapan, Duchess.” Bastiven menjawab tanpa melepas pandangannya dari dokumen-dokumen itu. “Ini kepulanganku setelah 11 tahun di medan perang. Terlalu banyak hal yang harus kuurus ketimbang sarapan.”Sang Duchess merengut. Tidak. Ia tidak suka makan sendirian. Sebelum kehidupan keduanya ini, ia tidak pernah merasakan pengalaman makan bersama keluarga.Walau seorang penerus klan mafia, ia tergolong wanita yang mendambakan seorang suami dan anak yang bisa disebutnya keluarga. ‘Duh! Bagaimana mengajak orang ini untuk sarapan?’ batin Isolde. Kalau dulu, ia bisa memerintahkan anak buahnya untuk duduk m

  • Kehidupan Kedua: Putri Mafia Terjebak Dalam Kisah Novel   Bab 7 | Lembaran Baru

    “Kami hanya ingin agar Nyonya dan Tuan tidak canggung,” tambah Sylfia panik.Isolde melirik ke arah tiga gadis muda yang ketakutan itu, kemudian terkekeh pelan. “Well, kali ini kulepaskan kalian. Bastiven juga cukup kaku semalam,” ujarnya mengingat bagaimana Bastiven menagrahkan bilah pedang ke lehernya. Lagi kata Isolde, “Kalian mendapat terima kasihku!”Wajah Nirena dan kedua pelayan lainnya pun kembali berbinar. “Dengan senang hati, Nyonya! Ayo, biar kami bersihkan tubuh Nyonya!”“Tidak mau! Gara-gara kalian aku sekarang tidak bisa bangun!” keluh Isolde dengan jenaka. “Tubuh majikan kalian ini renta sekali, tahu?”Nirena terkekeh. Ia senang karena sang majikan baru tidak segan bermanja pada mereka. Bagi pelayan keluarga Devereux, sepertinya membuat majikan bergantung pada mereka adalah kepuasan yang tidak ternilai.Apalagi setelah mendengar kehidupan Isolde sebelum tiba di kediaman devereux. Tekad untuk memberikan kehidupan serba ada dan serba nyaman bagi sang majikan perempuan i

  • Kehidupan Kedua: Putri Mafia Terjebak Dalam Kisah Novel   Bab 6 | Malam Pertama (2)

    “Sol ….”Bastiven kalah telak! Menghadapi godaan seorang Isolde yang mabuk, ternyata bukan hal mudah. Pria yang dibuat menggendong wanita itu sampai ke atas ranjang. Bastiven juga pasti sadar, kalau ada yang salah dengan wine yang mereka minum. Karena seharusnya, sejenis wine ini tidak akan mempan pada sang duke.Di antara lengan kekar Bastiven, Isolde terbaring tanpa perlawanan. Jubah tidurnya pun sudah setengah terlepas, mengekspos bagian tubuhnya sedikit. “Aku tidak yakin kamu menginginkan ini, Isolde,” ungkap Bastiven dengan suara rendahnya. Namun, Isolde sudah larut dalam kemabukan dan rasa haus akan sentuhan seseorang. Ia mengelus perlahan dua lengan kekar suaminya itu dan berkata, “Kenapa tidak yakin? Kau lihat sendiri aku tidak menolakmu, Bas.”Pertahanan Bastiven runtuh. Walau logikanya berupaya menahan diri, tetapi hasrat lelaki tak bisa dikekangnya lagi. Ini semua karena pengaruh wine yang tidak biasa.Kalau bukan karena ingatan tentang kehidupan masa lalunya yang tiba-

  • Kehidupan Kedua: Putri Mafia Terjebak Dalam Kisah Novel   Bab 5 | Malam Pertama (1)

    “Sebaiknya kubakar saja!” gumam Isolde setelah menganalisa daun teh yang ada di tangannya. Karena beberapa racun justru berbahaya ketika dilemparkan ke dalam perapian. Untungnya, racun ini termasuk yang tidak menimbulkan jejak. Ia pun segera menuang daun teh yang bercampur racun itu ke dalam perapian. Setelah agak lama, barulah ia membakar kantong tehnya. “Orang-orang zaman ini sepertinya lebih maju kalau soal herbal dan racun.” Isolde kembali berkomentar. Isolde kini merasa lega. Dengan ini, ia sudah terbebas dari rute pembunuhan. “Fufufu! Berarti aku tinggal menikmati hidup tenang bersama Bastiven!”Sambil berjingkat riang, ia keluar dari ruang pemandian menuju ke kamar Bastiven. Hanya beberapa langkah, Isolde tiba di depan pintu. Tanpa ragu, Isolde membuka pintu kamar suaminya. Dengan riang ia berseru, “Selamat malam, Bas—”Ucapan Isolde terpotong karena bilah pedang yang tiba-tiba menyambut kedatangannya. Ia hampir ceroboh karena tidak menyadari aura membunuh dari balik pint

  • Kehidupan Kedua: Putri Mafia Terjebak Dalam Kisah Novel   Bab 4 | Hadiah Pernikahan dari Kaisar

    “Oh Tuhan, oh Tuhan! Jadi, aku masuk ke masa di mana cerita novelnya sama sekali belum dimulai?” Isolde mulai menata ulang rencananya. Ia terlihat mondar-mandir di dalam kamarnya dengan raut wajah gusar, sambil menggigiti kuku.“Pantas saja aku tidak kenal nama Isolde!”Tengah pusing dengan pikirannya, seseorang mengetuk pintu kamar. “Duchess! Saya akan mengantar Anda ke tempat pemandian.”“Apa?! Mandi?!” pekik Isolde dengan suara tertahan. “Aku tidak butuh itu sekarang! Aku harus tahu bagaimana aku membunuh suamiku!”Namun, diingat bagaimanapun, Isolde tidak menemukan jawabannya. Novel itu hanya menyebutkan bahwa kakak dari Duke Devereux mati dibunuh oleh istrinya. Tengah panik, pikiran sehat Isolde mulai bekerja. ‘Tenang saja! Aku tinggal menghindari rute pembunuhan, lalu menjadi istri super baik dan setia! Hidup bahagia! Happy ending!’Isolde menganggukkan kepala. Setuju pada pikirannya sendiri. “Benar juga! Aku tinggal hidup tenang dengan duke Devereux yang sekarang. Bendera

  • Kehidupan Kedua: Putri Mafia Terjebak Dalam Kisah Novel   Bab 3 | Ternyata, Aku Adalah ....

    “Hey, Duke! Apa kau tidak mau menemaniku di dalam sini?”Isolde tengah merasa bosan, duduk di dalam kereta kuda sendirian. Hampir satu minggu perjalanan mereka lewati.Setelah menandatangani lembaran kertas yang menurut seorang pendeta adalah akta pernikahan Isolde dengan Duke Devereux, mereka segera melakukan perjalanan kembali ke daratan utara.Duchy Devereux berada di bagian utara kerajaan Valtherion.“Duchess, sebaiknya Anda tidak menjulurkan kepala seperti itu!” usul salah seorang ksatria yang mendampingi Duke Devereux yang memilih mengendarai kuda.Duke Devereux berada sedikit jauh dari kereta kuda. Ia jengah mendapat pertanyaan dan ajakan serupa dari Isolde, sejak mereka memulai perjalanan tadi.‘Cih! Kenapa dia tiba-tiba dingin padaku?’ Isolde kesal. Baru kali ini juga ia kesulitan membaca raut wajah seseorang.Pasalnya, saat di pesta perayaan minggu lalu, Duke Devereux terlihat menikmati kedekatan mereka.‘Apa itu cuma akting belaka? Agar tidak membangkitkan amarah si kaisar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status