LOGIN“Sebaiknya kubakar saja!” gumam Isolde setelah menganalisa daun teh yang ada di tangannya.
Karena beberapa racun justru berbahaya ketika dilemparkan ke dalam perapian. Untungnya, racun ini termasuk yang tidak menimbulkan jejak.
Ia pun segera menuang daun teh yang bercampur racun itu ke dalam perapian. Setelah agak lama, barulah ia membakar kantong tehnya.
“Orang-orang zaman ini sepertinya lebih maju kalau soal herbal dan racun.” Isolde kembali berkomentar.
Isolde kini merasa lega. Dengan ini, ia sudah terbebas dari rute pembunuhan.
“Fufufu! Berarti aku tinggal menikmati hidup tenang bersama Bastiven!”
Sambil berjingkat riang, ia keluar dari ruang pemandian menuju ke kamar Bastiven. Hanya beberapa langkah, Isolde tiba di depan pintu.
Tanpa ragu, Isolde membuka pintu kamar suaminya. Dengan riang ia berseru, “Selamat malam, Bas—”
Ucapan Isolde terpotong karena bilah pedang yang tiba-tiba menyambut kedatangannya. Ia hampir ceroboh karena tidak menyadari aura membunuh dari balik pintu.
“Apa maksud semua ini, Bas?” tanya Isolde dengan tenang.
Aneh. Justru Bastiven yang terlihat kaget. “Kau tidak membawa cangkir teh?”
Dahi Isolde berkerut. “Cangkir teh? Apa kau tadi pesan? Apa aku lupa?”
Kemudian Isolde terkekeh sambil menyingkirkan pedang tajam tersebut dengan ujung jarinya. “Ngambek-mu berbahaya juga ya, suamiku. Kalau mau teh, biar kuminta Nirena untuk menyiapkan.”
Bastiven terlihat seperti orang linglung. “Tidak—ah ya, kalau memang kau mau minum teh.”
Isolde menatap Bastiven lekat. ‘Astaga! Di mana lagi aku menemukan lelaki dengan tubuh sebagus ini?’
Tanpa sadar, Isolde sudah mendekat dan meraba bagian depan tubuh Bastiven yang tidak tertutup jubah tidur.
“Isolde!” panggil Bastiven ragu.
Mendengar namanya dipanggil, Isolde langsung tersadar. Ia menatap dada bidang Bastiven, kemudian memekik, “Astaga! Aku tidak sadar! Apa yang—”
Isolde segera menjauh sambil menutupi wajahnya yang memerah. Ia juga tidak ingin terhanyut dalam pemandangan indah tubuh Bastiven.
Bastiven mendengus. Tidak bisa menahan kekehan tawanya, melihat tingkah Isolde. “Apa yang kamu pikirkan sampai tidak sadar menyentuh tubuhku, hm?”
“Well, ini dan itu!” gumam Isolde sambil membuang muka.
‘Kenapa perempuan ini beda sekali? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa dia merencanakan hal lain?’ batin Bastiven tidak mengerti.
Karena malu dan panik, Isolde mencoba mengalihkan topik pembicaraan. “Ba—bagaimana kalau kita minum wine saja? Lebih enak wine daripada teh, kan?”
Bastiven menatap Isolde lagi. ‘Ini juga berbeda. Bukannya seharusnya teh?’
Tanpa menunggu pendapat Bastiven, Isolde segera menyuruh Nirena untuk menyiapkan wine merah dengan beberapa camilan kue dan buah.
Sementara menunggu, Bastiven memutuskan untuk duduk di salah satu kursi kamar. Isolde pun mengikutinya. Ia memilih duduk di samping Bastiven, agar tidak perlu saling pandang saat bicara.
“Bagaimana bisa, kau tidak panik ketika pedang tadi hampir memotong lehermu, Isolde?” tanya Bastiven yang sejak tadi juga kaget dan terpukau dengan reaksi Isolde.
Orang awam, terlebih wanita, pasti akan langsung teriak atau panik ketakutan jika berada dalam posisi tadi.
Isolde sedikit panik mendengar pertanyaan tajam itu. ‘Ugh! Bagaimana aku menjelaskannya? Dia pasti sudah mencari tahu seperti apa Isolde. Aku sendiri saja sama sekali tidak tahu tentang ‘diriku’ di dunia ini!’
Asal saja, Isolde menjawab, “Mu—mungkin aku sudah sedikit mabuk. Ehehehe!”
‘Astaga, Bianca! Jawaban apa itu!’ teriaknya dalam hati. ‘Tidak mungkin Bastiven percaya!’
Namun ternyata, sang suami percaya dengan kebohongan bodoh itu. Dengan polos Bastiven bertanya, “Apa pelayanku memandikanmu dengan wine?”
Hampir saja Isolde tersedak liurnya sendiri. Kepolosan Bastiven di bidang ini sepertinya terlalu membagongkan!
“Bi—bisa jadi!”
Isolde tertawa canggung, berharap tidak ada lagi kebohongan yang perlu ia buat. Bagaimanapun, ia berharap hidupnya dengan Bastiven sekarang akan lebih tenang dan normal.
Tak lama kemudian, Nirena datang dengan wine dan makanan ringan untuk mendampingin minuman beralkohol itu.
Isolde percaya diri bahwa ia bisa mengatur kadar alkohol yang diminumnya. Hanya satu botol tidak akan membuatnya mabuk. Apalagi hanya wine.
Namun, baru satu gelas, Isolde sudah mulai meracau. Terlebih lagi, ia berani naik di atas pangkuan Bastiven dengan gaun yang tak berniat menutupi tubuhnya.
“Kau tahu, Bas? Ini malam pertamaku. Apa kau tidak berencana menyentuhku?”
Jemari Isolde meraba perlahan garis rahang Bastiven. Mengalirkan sensasi yang tidak pernah dirasakan Bastiven.
Sentuhan wanita yang baru saja resmi menjadi pasangan hidupnya itu membuat tubuh Bastiven lapar akan kelanjutannya.
Belasan tahun di medan perang, tidak ada waktu memikirkan gairahnya sendiri. Ia sibuk bertahan hidup demi membuktikan pada Kaisar Thalric yang gila kekuasaan itu, bahwa separah apapun medan perang, seorang Bastiven tidak akan pernah kalah.
Dan sekarang, begitu pulang dari perang, ia harus berhadapan dengan wanita yang dijadikan hadiah kemenangan.
Namun, kenyataan membuatnya menarik diri. ‘Tidak mungkin aku tidur dengan pembunuhku!’
“Kami hanya ingin agar Nyonya dan Tuan tidak canggung,” tambah Sylfia panik.Isolde melirik ke arah tiga gadis muda yang ketakutan itu, kemudian terkekeh pelan. “Well, kali ini kulepaskan kalian. Bastiven juga cukup kaku semalam,” ujarnya mengingat bagaimana Bastiven menagrahkan bilah pedang ke lehernya. Lagi kata Isolde, “Kalian mendapat terima kasihku!”Wajah Nirena dan kedua pelayan lainnya pun kembali berbinar. “Dengan senang hati, Nyonya! Ayo, biar kami bersihkan tubuh Nyonya!”“Tidak mau! Gara-gara kalian aku sekarang tidak bisa bangun!” keluh Isolde dengan jenaka. “Tubuh majikan kalian ini renta sekali, tahu?”Nirena terkekeh. Ia senang karena sang majikan baru tidak segan bermanja pada mereka. Bagi pelayan keluarga Devereux, sepertinya membuat majikan bergantung pada mereka adalah kepuasan yang tidak ternilai.Apalagi setelah mendengar kehidupan Isolde sebelum tiba di kediaman devereux. Tekad untuk memberikan kehidupan serba ada dan serba nyaman bagi sang majikan perempuan i
“Sol ….”Bastiven kalah telak! Menghadapi godaan seorang Isolde yang mabuk, ternyata bukan hal mudah. Pria yang dibuat menggendong wanita itu sampai ke atas ranjang. Bastiven juga pasti sadar, kalau ada yang salah dengan wine yang mereka minum. Karena seharusnya, sejenis wine ini tidak akan mempan pada sang duke.Di antara lengan kekar Bastiven, Isolde terbaring tanpa perlawanan. Jubah tidurnya pun sudah setengah terlepas, mengekspos bagian tubuhnya sedikit. “Aku tidak yakin kamu menginginkan ini, Isolde,” ungkap Bastiven dengan suara rendahnya. Namun, Isolde sudah larut dalam kemabukan dan rasa haus akan sentuhan seseorang. Ia mengelus perlahan dua lengan kekar suaminya itu dan berkata, “Kenapa tidak yakin? Kau lihat sendiri aku tidak menolakmu, Bas.”Pertahanan Bastiven runtuh. Walau logikanya berupaya menahan diri, tetapi hasrat lelaki tak bisa dikekangnya lagi. Ini semua karena pengaruh wine yang tidak biasa.Kalau bukan karena ingatan tentang kehidupan masa lalunya yang tiba-
“Sebaiknya kubakar saja!” gumam Isolde setelah menganalisa daun teh yang ada di tangannya. Karena beberapa racun justru berbahaya ketika dilemparkan ke dalam perapian. Untungnya, racun ini termasuk yang tidak menimbulkan jejak. Ia pun segera menuang daun teh yang bercampur racun itu ke dalam perapian. Setelah agak lama, barulah ia membakar kantong tehnya. “Orang-orang zaman ini sepertinya lebih maju kalau soal herbal dan racun.” Isolde kembali berkomentar. Isolde kini merasa lega. Dengan ini, ia sudah terbebas dari rute pembunuhan. “Fufufu! Berarti aku tinggal menikmati hidup tenang bersama Bastiven!”Sambil berjingkat riang, ia keluar dari ruang pemandian menuju ke kamar Bastiven. Hanya beberapa langkah, Isolde tiba di depan pintu. Tanpa ragu, Isolde membuka pintu kamar suaminya. Dengan riang ia berseru, “Selamat malam, Bas—”Ucapan Isolde terpotong karena bilah pedang yang tiba-tiba menyambut kedatangannya. Ia hampir ceroboh karena tidak menyadari aura membunuh dari balik pint
“Oh Tuhan, oh Tuhan! Jadi, aku masuk ke masa di mana cerita novelnya sama sekali belum dimulai?” Isolde mulai menata ulang rencananya. Ia terlihat mondar-mandir di dalam kamarnya dengan raut wajah gusar, sambil menggigiti kuku.“Pantas saja aku tidak kenal nama Isolde!”Tengah pusing dengan pikirannya, seseorang mengetuk pintu kamar. “Duchess! Saya akan mengantar Anda ke tempat pemandian.”“Apa?! Mandi?!” pekik Isolde dengan suara tertahan. “Aku tidak butuh itu sekarang! Aku harus tahu bagaimana aku membunuh suamiku!”Namun, diingat bagaimanapun, Isolde tidak menemukan jawabannya. Novel itu hanya menyebutkan bahwa kakak dari Duke Devereux mati dibunuh oleh istrinya. Tengah panik, pikiran sehat Isolde mulai bekerja. ‘Tenang saja! Aku tinggal menghindari rute pembunuhan, lalu menjadi istri super baik dan setia! Hidup bahagia! Happy ending!’Isolde menganggukkan kepala. Setuju pada pikirannya sendiri. “Benar juga! Aku tinggal hidup tenang dengan duke Devereux yang sekarang. Bendera
“Hey, Duke! Apa kau tidak mau menemaniku di dalam sini?”Isolde tengah merasa bosan, duduk di dalam kereta kuda sendirian. Hampir satu minggu perjalanan mereka lewati.Setelah menandatangani lembaran kertas yang menurut seorang pendeta adalah akta pernikahan Isolde dengan Duke Devereux, mereka segera melakukan perjalanan kembali ke daratan utara.Duchy Devereux berada di bagian utara kerajaan Valtherion.“Duchess, sebaiknya Anda tidak menjulurkan kepala seperti itu!” usul salah seorang ksatria yang mendampingi Duke Devereux yang memilih mengendarai kuda.Duke Devereux berada sedikit jauh dari kereta kuda. Ia jengah mendapat pertanyaan dan ajakan serupa dari Isolde, sejak mereka memulai perjalanan tadi.‘Cih! Kenapa dia tiba-tiba dingin padaku?’ Isolde kesal. Baru kali ini juga ia kesulitan membaca raut wajah seseorang.Pasalnya, saat di pesta perayaan minggu lalu, Duke Devereux terlihat menikmati kedekatan mereka.‘Apa itu cuma akting belaka? Agar tidak membangkitkan amarah si kaisar
“Duke Valmont! Apa yang baru saja diucapkan putrimu?! Jelaskan!”Suara menggelegar itu langsung membuat sunyi seluruh aula besar yang tadinya sibuk berbisik-bisik. Orang yang barusan berteriak itu berdiri di samping kaisar. Kemungkinan besar memiliki kedudukan yang tidak bisa diremehkan.Isolde ikut terkejut mendengar teguran keras tersebut. Ia lupa, kalau saat ini ia tidak sedang berada di Vroshea yang mengerti bahasa negara England. Duke Adrian von Valmont terlihat membungkukkan tubuh dengan gemetar. “Mohon belas kasihan, Yang Mulia Kaisar Thalric. Sepertinya putri saya terlalu bersemangat karena melihat Duke Devereux begitu mempesona.”Isolde hampir saja memutar bola matanya. Tentu saja itu alasan yang dibuat-buat. Namun, netra sang ayah yang memelototinya membuat tubuh Isolde bereaksi ketakutan.‘Ugh! Kenapa aku ketakutan?! Hey, Isolde! Aku ini tidak akan takut dengan pelototan manusia remeh macam ayahmu! Jangan ketakutan!’ ujar Isolde dalam hati, seolah ia bicara pada dirinya







