LOGIN“Kami hanya ingin agar Nyonya dan Tuan tidak canggung,” tambah Sylfia panik.Isolde melirik ke arah tiga gadis muda yang ketakutan itu, kemudian terkekeh pelan. “Well, kali ini kulepaskan kalian. Bastiven juga cukup kaku semalam,” ujarnya mengingat bagaimana Bastiven menagrahkan bilah pedang ke lehernya. Lagi kata Isolde, “Kalian mendapat terima kasihku!”Wajah Nirena dan kedua pelayan lainnya pun kembali berbinar. “Dengan senang hati, Nyonya! Ayo, biar kami bersihkan tubuh Nyonya!”“Tidak mau! Gara-gara kalian aku sekarang tidak bisa bangun!” keluh Isolde dengan jenaka. “Tubuh majikan kalian ini renta sekali, tahu?”Nirena terkekeh. Ia senang karena sang majikan baru tidak segan bermanja pada mereka. Bagi pelayan keluarga Devereux, sepertinya membuat majikan bergantung pada mereka adalah kepuasan yang tidak ternilai.Apalagi setelah mendengar kehidupan Isolde sebelum tiba di kediaman devereux. Tekad untuk memberikan kehidupan serba ada dan serba nyaman bagi sang majikan perempuan i
“Sol ….”Bastiven kalah telak! Menghadapi godaan seorang Isolde yang mabuk, ternyata bukan hal mudah. Pria yang dibuat menggendong wanita itu sampai ke atas ranjang. Bastiven juga pasti sadar, kalau ada yang salah dengan wine yang mereka minum. Karena seharusnya, sejenis wine ini tidak akan mempan pada sang duke.Di antara lengan kekar Bastiven, Isolde terbaring tanpa perlawanan. Jubah tidurnya pun sudah setengah terlepas, mengekspos bagian tubuhnya sedikit. “Aku tidak yakin kamu menginginkan ini, Isolde,” ungkap Bastiven dengan suara rendahnya. Namun, Isolde sudah larut dalam kemabukan dan rasa haus akan sentuhan seseorang. Ia mengelus perlahan dua lengan kekar suaminya itu dan berkata, “Kenapa tidak yakin? Kau lihat sendiri aku tidak menolakmu, Bas.”Pertahanan Bastiven runtuh. Walau logikanya berupaya menahan diri, tetapi hasrat lelaki tak bisa dikekangnya lagi. Ini semua karena pengaruh wine yang tidak biasa.Kalau bukan karena ingatan tentang kehidupan masa lalunya yang tiba-
“Sebaiknya kubakar saja!” gumam Isolde setelah menganalisa daun teh yang ada di tangannya. Karena beberapa racun justru berbahaya ketika dilemparkan ke dalam perapian. Untungnya, racun ini termasuk yang tidak menimbulkan jejak. Ia pun segera menuang daun teh yang bercampur racun itu ke dalam perapian. Setelah agak lama, barulah ia membakar kantong tehnya. “Orang-orang zaman ini sepertinya lebih maju kalau soal herbal dan racun.” Isolde kembali berkomentar. Isolde kini merasa lega. Dengan ini, ia sudah terbebas dari rute pembunuhan. “Fufufu! Berarti aku tinggal menikmati hidup tenang bersama Bastiven!”Sambil berjingkat riang, ia keluar dari ruang pemandian menuju ke kamar Bastiven. Hanya beberapa langkah, Isolde tiba di depan pintu. Tanpa ragu, Isolde membuka pintu kamar suaminya. Dengan riang ia berseru, “Selamat malam, Bas—”Ucapan Isolde terpotong karena bilah pedang yang tiba-tiba menyambut kedatangannya. Ia hampir ceroboh karena tidak menyadari aura membunuh dari balik pint
“Oh Tuhan, oh Tuhan! Jadi, aku masuk ke masa di mana cerita novelnya sama sekali belum dimulai?” Isolde mulai menata ulang rencananya. Ia terlihat mondar-mandir di dalam kamarnya dengan raut wajah gusar, sambil menggigiti kuku.“Pantas saja aku tidak kenal nama Isolde!”Tengah pusing dengan pikirannya, seseorang mengetuk pintu kamar. “Duchess! Saya akan mengantar Anda ke tempat pemandian.”“Apa?! Mandi?!” pekik Isolde dengan suara tertahan. “Aku tidak butuh itu sekarang! Aku harus tahu bagaimana aku membunuh suamiku!”Namun, diingat bagaimanapun, Isolde tidak menemukan jawabannya. Novel itu hanya menyebutkan bahwa kakak dari Duke Devereux mati dibunuh oleh istrinya. Tengah panik, pikiran sehat Isolde mulai bekerja. ‘Tenang saja! Aku tinggal menghindari rute pembunuhan, lalu menjadi istri super baik dan setia! Hidup bahagia! Happy ending!’Isolde menganggukkan kepala. Setuju pada pikirannya sendiri. “Benar juga! Aku tinggal hidup tenang dengan duke Devereux yang sekarang. Bendera
“Hey, Duke! Apa kau tidak mau menemaniku di dalam sini?”Isolde tengah merasa bosan, duduk di dalam kereta kuda sendirian. Hampir satu minggu perjalanan mereka lewati.Setelah menandatangani lembaran kertas yang menurut seorang pendeta adalah akta pernikahan Isolde dengan Duke Devereux, mereka segera melakukan perjalanan kembali ke daratan utara.Duchy Devereux berada di bagian utara kerajaan Valtherion.“Duchess, sebaiknya Anda tidak menjulurkan kepala seperti itu!” usul salah seorang ksatria yang mendampingi Duke Devereux yang memilih mengendarai kuda.Duke Devereux berada sedikit jauh dari kereta kuda. Ia jengah mendapat pertanyaan dan ajakan serupa dari Isolde, sejak mereka memulai perjalanan tadi.‘Cih! Kenapa dia tiba-tiba dingin padaku?’ Isolde kesal. Baru kali ini juga ia kesulitan membaca raut wajah seseorang.Pasalnya, saat di pesta perayaan minggu lalu, Duke Devereux terlihat menikmati kedekatan mereka.‘Apa itu cuma akting belaka? Agar tidak membangkitkan amarah si kaisar
“Duke Valmont! Apa yang baru saja diucapkan putrimu?! Jelaskan!”Suara menggelegar itu langsung membuat sunyi seluruh aula besar yang tadinya sibuk berbisik-bisik. Orang yang barusan berteriak itu berdiri di samping kaisar. Kemungkinan besar memiliki kedudukan yang tidak bisa diremehkan.Isolde ikut terkejut mendengar teguran keras tersebut. Ia lupa, kalau saat ini ia tidak sedang berada di Vroshea yang mengerti bahasa negara England. Duke Adrian von Valmont terlihat membungkukkan tubuh dengan gemetar. “Mohon belas kasihan, Yang Mulia Kaisar Thalric. Sepertinya putri saya terlalu bersemangat karena melihat Duke Devereux begitu mempesona.”Isolde hampir saja memutar bola matanya. Tentu saja itu alasan yang dibuat-buat. Namun, netra sang ayah yang memelototinya membuat tubuh Isolde bereaksi ketakutan.‘Ugh! Kenapa aku ketakutan?! Hey, Isolde! Aku ini tidak akan takut dengan pelototan manusia remeh macam ayahmu! Jangan ketakutan!’ ujar Isolde dalam hati, seolah ia bicara pada dirinya







