Share

7 - Berusaha Melarikan Diri

Penulis: YOLANDA
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 20:37:58

Derap langkah kaki memasuki ruangan Nawang. Beberapa dayang yang tadi kembali datang. Kenanga langsung menunduk sopan sementara Alea tampak kebingungan dan gelisah.

“Kenapa lagi ini? Ngapain kalian kesini lagi? Nggak ada kerjaan lain, kah?” Sentak Nawang ketus.

“Nuwun sewu, Gusti Ayu. Gusti Kanjeng Ratu Waskitajawi sudah mendengar kabar tentang panjenengan. Dia akan segera datang dan menemui Gusti. Sebaiknya, Gusti Ayu segera menyiapkan diri.” Ujar dayang senior.

Alea mengerjap, keningnya berkerut.

“Hah? Siapa? Ratu Waskitajawi?! Maksudmu ibu Raden Mas Jolang itu?!”

Abdi dalem itu mengangguk, namun tak menatap langsung. Kenanga yang merasa situasi ini agak canggung langsung menjelaskan kepada Putri Nawang.

“Gusti Rara. Gusti Kanjeng Ratu memerintahkan Gusti Rara untuk bersiap karena dia ingin menemui Gusti Rara.”

Alea terbelalak dan panik.

“Terus aku harus apa, Kenanga?! Mandi? Dandan? Ganti baju? Aduhhhh! Ribet juga jadi putri keraton. Bisa kaya gini aja nggak ketemunya?” Alea merasa kesal.

Semua abdi dalem di sana merasa kaget. Sikap dan perkataan Nawang benar-benar sudah diluar nalar mereka.

“Te-tetapi, Gusti Rara... ini perintah Gusti Kanjeng Ratu.” Ujar Kenanga yang gelisah.

Alea mondar-mandir sambil berpikir. Ia merasa tak siap bertemu Sang Ratu.

“Apa yang akan terjadi kalau dia menemui aku, Ya Allah? Apa dia bakal marah-marah? Curiga kalau aku bukan Nawang? Mengintimidasi? Biasanya Ratu di drama-drama suka begitu. Sumpah, ya! Nggak pernah terpikirkan kalau aku bakal kejebak di kerajaan ini dan ketemu ratu sama selir raja. Sial sial sial!” Gerutunya dalam suara lirih.

Semua dayang memucat. Bingung harus berbuat apa.

“Gini deh. Kalian semua bilang sama Ratu Waskitajawi, kalau aku sedang nggak enak badan. Badanku lemas dan nggak sanggup berdiri. Paham kalian?”

Para dayang jelas terlihat kebingungan. Atau lebih tepatnya takut.

“Kenapa? Kalian takut?” tatap Alea tajam.

“Bukan begitu, Gusti Ayu. Tetapi...” belum sempat dayang senior menyelesaikan perkataannya, Putri Nawang sudah menyuruhnya untuk diam dengan isyarat jari telunjuk di depan bibir.

“Cepat keluar dan katakan itu pada Ratu. Aku juga belum siap ketemu dia dalam keadaan begini. Kalau kalian nggak mau, aku akan kabur dari kamar ini. Gimana?”

Seketika semua dayang panik.

“Jangan, Gusti! Kami semua akan terkena masalah jika Gusti melakukan itu.” Mohon Kenanga panik.

“Nah! Makanya... turuti perintahku!”

“Baik, Gusti Ayu. Kami akan lakukan perintah Gusti Ayu .” Kata dayang senior.

“Nah, gitu dong,”

⏳️⏳️⏳️

Para dayang berjalan beriringan dengan wajah tegang menuju balairung kecil tempat Kanjeng Ratu Waskitajawi sedang duduk bersama dua orang abdi senior dan seorang penasihat perempuan yang selalu mendampingi. Aroma dupa tipis tercium di ruangan, menambah kesan khidmat. Kenanga yang ditunjuk sebagai juru bicara, menggenggam ujung kainnya erat-erat. Jantungnya berdegup kencang, namun ia tahu dirinya tak boleh salah ucap. Begitu tiba di hadapan Sang Ratu, mereka semua menunduk sangat dalam.

“Nuwun sewu, Gusti Kanjeng Ratu…” suara Kenanga bergetar, “Gusti Raden Rara… mohon ampun beribu ampun… ia berkenan menyampaikan kabar melalui hamba…”

Ratu Waskitajawi mengangkat wajahnya perlahan, alisnya sedikit berkerut. “Ada apa dengan Rara Nawang?” tanyanya. Suaranya lembut, namun penuh wibawa.

Kenanga menelan ludah, lalu melanjutkan, “Gusti Raden Rara… beliau berujar, badannya sedang lemah. Tidak kuasa untuk berdiri maupun menyambut kedatangan Kanjeng Ratu. Karena itu… beliau memohon izin, mohon pengertian Kanjeng Ratu untuk tidak menemui beliau dahulu.”

Ruangan seketika hening. Semua abdi menahan napas. Ratu Waskitajawi tampak terkejut, matanya membesar sedikit, lalu menatap kosong ke arah depan. Selama ini, Nawang tak pernah sekalipun menolak pertemuannya.

“Tidak ingin menemuiku?” suara Sang Ratu rendah, nyaris tak terdengar.

“Apakah benar demikian?”

Kenanga menunduk makin dalam. “Inggih, Gusti Kanjeng Ratu. Punika dhawuh Gusti Raden Rara piyambak.”

Ratu Waskitajawi terdiam lama. Sorot matanya menyimpan kecurigaan, seolah ada yang tidak beres. Namun ia tetap menjaga ketenangannya. Salah seorang penasihat yang duduk di sisi kanan lalu angkat bicara. Suaranya lembut namun penuh kebijakan.

“Ampun Gusti Kanjeng Ratu. Mungkin Gusti Raden Rara sungguh merasa letih. Ada baiknya kita memberinya waktu untuk pulih. Jangan sampai pertemuan yang kita maksakan justru membuatnya semakin tertekan.”

Kanjeng Ratu menoleh perlahan, menimbang ucapan itu. Ia menarik napas panjang, lalu mengangguk kecil.

“Baiklah. Untuk saat ini, aku menerima alasan Rara Nawang. Sampaikan padanya, aku berharap ia segera pulih. Dan bila esok hari keadaannya membaik, aku sendiri yang akan datang kembali menemuinya.”

Kenanga segera menyembah dalam-dalam. “Inggih, Gusti Kanjeng Ratu. Dawuh panjenengan badhe kulo aturaken.”

Ratu Waskitajawi masih menyimpan raut ragu di wajahnya, namun ia memilih menahan diri. Para dayang pun bergegas undur diri, lega sekaligus tetap dicekam ketakutan. Di benak Kenanga hanya ada satu pertanyaan, “berapa lama lagi Gusti Rara bisa menyembunyikan sikapnya yang aneh ini dari Gusti Kanjeng Ratu?”

⏳️⏳️⏳️

Di kamar, Alea menimbang-nimbang pikirannya.

“Apa sebaiknya aku kabur aja dari sini, ya? Cincin itu, yang bawa jiwa aku ke tubuh ini. Kalau aku temukan cincin itu lagi, apa aku bisa kembali? Tapi, dimana aku bisa temukan cincin itu? Gimana caranya?” Alea berbicara sendiri.

Ia membuka selimutnya lalu berjalan keluar kamar, berniat untuk melarikan diri. Sialnya, ia langsung ketahuan oleh para abdi dalem Keputren terutama para dayangnya. Alea langsung berlari pontang-panting kesana dan kesini untuk menghindari mereka. Dan mereka pun mengejarnya.

“Gusti Rara! Gusti Rara! Berhentilah! Gusti tidak boleh berlari seperti itu!” Teriak Kenanga.

“Bodoamat! Aku ngga mau ada disini! Seenggaknya aku bisa keluar dulu dari tempat ini, kan? Aku ngga bisa hidup seperti Tuan Putri! Apalagi harus bertemu sama anggota keluarga kerajaan. Benar-benar bisa gila aku!” serunya sambil berlari.

Kain jarik yang ia kenakan menyulitkan langkahnya sehingga harus ia angkat sedikit. Ia terus berlari melewati lorong-lorong panjang Keputren. Dayang-dayang yang melihatnya langsung berteriak kaget. Bahkan kabar Putri Nawang ini sudah sampai ke telinga semua wanita bangsawan di Keputren.

Kain jarik mereka berkibar, langkah tergesa-gesa menyusuri jalanan Keputren. Suara teriakkan mereka yang memanggil Putri Nawang menambah kepanikan Alea yang makin merasa terpojok. Alea menoleh ke belakang, wajahnya panik.

“Ya ampun, mereka ngejar terus! Kayak main petak umpet tapi versi horor!”

Ia berbelok ke gang kecil, lalu menyusuri jalan setapak yang dipenuhi pepohonan rindang. Nafasnya tersengal, sampai akhirnya di hadapannya berdiri sebuah pintu besar dari kayu jati, dengan ukiran rumit. Alea terhenti sejenak, menatap pintu itu dengan mata membelalak.

“Apa ini... jalan keluar?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   106 - Sahabat

    "Kemana perginya dia? Dari pagi nggak kelihatan." Gumamnya. Ia berjalan menuju halaman kecil di belakang Pendopo, lalu duduk di ayunan kayu yang pernah dibuat ayahnya ketika ia masih kecil. Ayunan itu bergoyang pelan, namun rasa sepi tetap menempel di dadanya. Tak betah diam, Nawang bangkit mencari Kenanga lagi. Ia menyusuri lorong-lorong Kadipaten, dari taman dalam hingga ke balairung kecil, tetapi gadis itu tak terlihat di mana pun. Ketika hampir menyerah, ia mencium aroma masakan dari arah dapur kadipaten. "Hmmm... enak banget baunya. Masak apa, ya, mereka?" Dengan rasa penasaran, Nawang melangkah masuk. Begitu melihatnya, semua abdi dapur sontak terkejut. Sendok terhenti di udara, mangkuk hampir tergelincir dari tangan seorang pelayan muda. Seorang pelayan senior segera membungkuk dan berkata gugup, “Gusti… panjenengan mboten kenging mlebet mriki. Dapur dudu papan kang prayogi kangge panjenengan.” Pelayan senior itu mengatakan bahwa Nawang tidak seharusnya masuk ke dapur k

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   105 - Waktu Pun Berlalu

    "Teman masa kecil?" Ulang Wiraguna. Keningnya mengkerut. "Mengapa kau tidak pernah menceritakannya padaku jika kau selama ini adalah teman masa kecilnya, Arya?" Tanya Wiraguna. Arya yang tampak gugup, berusaha menjawabnya. "Aku... aku rasa itu bukan perkara yang penting untuk aku beritahu padamu, Gusti Raden. Lagipula, itu sudah lama saat kami masih kecil. Dan aku pikir, Gusti Rara sudah melupakannya," jawab Arya sekenanya. Ia menatap Nawang, Nawang juga menatapnya lekat. "Tapi dia masih mengingatnya, Arya," ujar Wiraguna. Suaranya getir. Arya terdiam. Bingung merespon apa. Sedangkan Nawang tetap santai. "Tidak perlu diperpanjang lagi. Lagipula hari ini kau telah mengetahuinya, Raden Wiraguna." Kata Nawang. Tatapannya menerawang ke depan. Hembusan angin kecil menerbangkan helaian rambut poninya yang selalu disampirkan ke samping. Bisa dibilang itu gaya rambut khas Nawang di hari-hari biasa setelah ia berubah. Ia selalu menyisakan poninya ke samping, katanya biar lebih cant

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   104 - Sahabat Kecil Nawang

    Gusti Nyai Mas Semangkin segera bersuara, nada keberatannya tampak jelas. “Kanjeng Ratu, Nawang bukan barang yang bisa kau ambil begitu saja. Perjodohannya dengan Raden Wiraguna baru saja dibatalkan. Jika ia langsung dijodohkan lagi dengan Putra Mataram yang lain, apa yang akan dipikirkan rakyat tentang keluarga kerajaan? Ini tidak pantas. Terlebih lagi, apa yang akan terjadi jika Adipati Agung Mangkura dan Kanjeng Nyai Dyah Kusumawati mendengar perkataanmu ini?” Kanjeng Ratu membalas dengan suara meninggi. “Bagaimana kau bisa tahu penderitaanku, Semangkin? Kau tidak memiliki putri! Kau tidak akan pernah memahami betapa sakitnya kehilangan seorang putri.” Ucapan itu membuat beberapa orang terkejut, bahkan merasa tidak nyaman, apalagi Raden Rangga. Sebelum perdebatan makin besar, Nawang melangkah maju. Nada suaranya halus, tapi penuh ketegasan. “Kanjeng Ratu, hamba memohon maaf. Tetapi hamba tidak bisa menerima permintaan itu. Jika hamba menerimanya...” ucapan Nawang mengg

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   103 - Permohonan Ratu

    Upacara berlangsung lama namun tertib. Tak ada keributan, tak ada tangis yang keras. Hanya keheningan yang dalam, seperti seluruh alam turut memberi hormat. Di sela-sela kesunyian itu, Alea merasa seperti sedang berada di dua dunia sekaligus. Dunia masa kini yang ia pahami, dan dunia kuno yang perlahan membuka dirinya kepada Alea. Ketika tanah terakhir diratakan, semua orang menundukkan kepala sekali lagi. Pembayun menunduk sangat dalam. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, namun tidak ada air mata yang jatuh. Hanya dada yang naik turun menahan beratnya kehilangan. Nawang mendekat, menepuk pelan punggung Pembayun. "Aku di sini," bisiknya. Dari barisan lain, Raden Wiraguna terus memperhatikan Nawang sejak awal gadis itu tiba di Mataram. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi tak mampu. Hanya matanya saja yang bicara. Dan tanpa sengaja, Nawang menangkap sosok yang sedang memperhatikannya itu. Mata mereka bertemu. Cukup lama, tapi tidak dramatis. Tapi cukup membuat seolah

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   102 - Prosesi Pemakaman di Kotagede

    Nawang kini berada di kamarnya bersama Kenanga. Kedua tangannya terlipat di atas meja. Lalu ia meletakkan dagunya menempel di atas tangannya. Bibirnya manyun. Raut jengkel jelas tergambar di wajahnya. Kenanga sendiri hanya bisa menahan senyum melihat ekspresi kesal itu. Tadi, baru saja Nawang memohon-mohon kepada Kanjeng Nyai agar diperbolehkan ke Mataram. Tapi ditolak mentah-mentah. "Aku sudah mengatakannya, Gusti Rara. Tetapi kau tidak mendengarkanku." "Diamlah, Kenanga. Aku nggak mood. Aku pikir, putri keraton itu selalu mendapat apa yang dia inginkan. Tapi buktinya, keinginanku ditolak." Gerutunya. "Keinginanmu berbahaya, Gusti Rara. Tapi bukankah, Kanjeng Nyai mengizinkanmu kesana esok hari?" "Ya. Memang. Tapi besok ada acara pemakaman, Kenanga. Aku malas ikut-ikutan. Dan lagi, bukannya untuk kesana memakan waktu yang lama? Aku nggak sanggup nginep di tengah hutan kayak waktu itu. Capek!" Kini Nawang merengek. Menangis dibuat-buat. Kepalanya tenggelam di antara kedua tan

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   101 - Kematian Ki Ageng Mangir

    Begitu selesai bersapa dan menghaturkan hormat kepada Adipati Agung Mangkura, selanjutnya Ki Ageng Mangir dipersilakan menghadap Panembahan. Dan sampai di hadapan Panembahan, ia berhenti. Menundukkan kepala dalam-dalam, lalu berjongkok, bersiap untuk mengaturkan sembah bekti. Dengan suara berat namun lembut, Ki Ageng berkata, "daulat, Kanjeng Panembahan. Hamba Ki Ageng Mangir Wanabaya, datang untuk sowan, mengaturkan sembah bekti atas segala anugerah dan pangayoman yang Kanjeng berikan. Hamba pun datang sebagai menantu, mohon diakoni sebagai bagian dari keluarga Mataram." Panembahan menatapnya lama, seolah menelusuri setiap garis wajah menantunya itu. Suasana menjadi sunyi, hingga suara napas saja terdengar jelas. Akhirnya Panembahan mengangguk pelan, bibirnya tersenyum samar. "Ngger Mangir... wis daksuwun rawuhe. Panjenengan dugi kanthi wilujeng, niku sampun dados kabungahan kawula." Ujar Panembahan, mengatakan bahwa kedatangan Ki Agenh Mangir dengan selamat adalah kebahagiaan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status