Accueil / Fantasi / Kehidupan Kelima Sang Antagonis / Bab 9 : Pembicaraan Pertama

Share

Bab 9 : Pembicaraan Pertama

Auteur: Fortunata
last update Dernière mise à jour: 2026-02-08 19:00:17

Ashford tampak canggung—malu, sekaligus kesal. Rahangnya mengeras.

Ada apa dengan wanita ini?! – teriak Ashford dalam hati.

Belum sempat Ash membuka mulut, sosok yang paling Aveline tunggu sekaligus paling menyita perhatian itu melintasi ruangan klub.

Saintess Lilia.

Begitu melihatnya, Aveline seolah berubah wujud. Seperti pedagang yang melihat pelanggan VIP, ia langsung mendekati Lilia dengan percaya diri.

“Salam,

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 13 : Aku Secantik Ini

    Jujur saja Aveline agak mirip dengan Sarah.Sarah bisa terbilang seorang pekerja kantoran yang kompeten. Tiap tahun ia selalu mendapat kenaikan jabatan.Sebagai alumni dari kampus yang bahkan tidak terkenal, Sarah benar-benar mengharumkan almamaternya.Sarah sempat berpikir setidaknya dia bisa sedikit berbangga diri akan pencapaiannya bukan? Konsisten belajar dan bekerja hingga dini hari bukanlah hal yang mudah.Sebagai hasilnya, Sarah menjadi karyawan kesayangan. Semakin pandai Sarah, semakin besar tanggung jawab yang ditimpakan padanya.Pekerjaan menumpuk tanpa henti.Aveline pun mirip dengannya. Karakter antagonis satu ini konsisten melakukan hal-hal yang bisa membuatnya dekat dengan Ashford.Dekat dengan Ashford sama dengan memiliki skill yang menguntungkan kerajaan karena Ashford sendiri merupakan seorang pangeran.Karyawan yang cakap memang sering diperas paling keras.Perbedaannya Sarah dan Aveline hanya

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 12 : Kekuatan Apa Ini? (2)

    Aveline mendekati pria itu perlahan.Langkahnya terasa berat."Jika aku datang lebih cepat… apakah pria ini akan selamat?" gumamnya lirih. "Apa kali ini aku memang harus mengabdikan seluruh hidupku di medan perang tanpa harus kembali?"Ia segera menggeleng keras, menepis pikiran bodoh itu sebelum semakin jauh.[ Jangan lupa membunuh saintess Lilia sebelum kau mengabdikan diri di medan perang. ]Pesan yang tiba-tiba muncul itu membuat rahangnya mengeras.Aveline mengabaikannya. Ia memilih menyapu pandangan ke sekeliling tenda darurat itu. Banyak sekali korban yang sudah tidak bisa diselamatkan.Langkahnya terhenti saat melihat seorang anak kecil terbaring kaku di atas ranjang yang nyaris tidak layak lagi itu."Berapa umur anak ini? Dua belas? Sebelas? Masih kecil sekali…" gumamnya.Ia berlutut, dadanya terasa sesak.Masih tersisa embusan tipis dari tubuh mungil itu. Namun bagian tubuh lainnya… hancur. Kepala penuh luka, darah yang mengalir tanpa henti membasahi pakaian kecilnya.Tubuh

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 11 : Kekuatan Apa ini?

    Keluargaku mungkin tak akan peduli jika aku terbunuh.Pembawa masalah dalam keluarga telah tiada. Bukankah itu justru kabar baik bagi mereka? – batin Aveline.Bibir Aveline terangkat tipis.“Kau terdengar sangat yakin bisa mengalahkanku,” ucapnya sinis pada Nora. “Padahal… kau belum pernah menang dariku.”“Selain itu, meski aku kalah disini, aku akan terus hidup kembali hingga bisa mengalahkanmu!” lanjut Aveline tersenyum tengil.Wajah Nora merah padam.“Omong kosong!”Pfffttt! Dia tak tahu saja aku berbicara fakta – batin Aveline lagi.“Kali ini aku akan menang dan mematahkan kesombonganmu! Serang!” teriaknya pada pasukan Uruk.“Hiyyaaaaa! Seranggg!”Teriakan para prajurit menggema di hutan yang masih berasap.Maaf, Nora. Aku tak akan mati, kau memang tak akan pernah menang dari Aveline.Bagaimanapun juga, pemilik tubuh ini adalah antagonis terkuat di dunia ini. Hanya saintess Lilia yang sebanding dengannya.Kali ini, Aveline tidak mengandalkan sihirnya.Ia menarik pedang dari sarung

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 10 : Tidak nyaman

    Kau berharap apa? Aku menjamu dengan makanan? Gila lo… gerutu Aveline dalam hati.Jika saja memukul anggota keluarga kerajaan tidak dijatuhi hukuman, Aveline pasti sudah meninju Edward saat ini.Sayangnya, ia hanya bisa menampilkan senyum bisnis pekerja kantoran. Meskipun sedih dan marah, tetap wajib tersenyum!“Benar, Pangeran. Ini adalah ruang klub karya ilmiah. Dan saya ketuanya.”“Kau? Ketuanya?” tanya Edward, sebelah alisnya terangkat. Nada bicaranya benar-benar tidak ramah. Sepertinya hanya dia bangsawan di benua ini yang tidak pandai menyembunyikan perasaannya.“Tentu saja.” Aveline mengangguk ringan.Meski jelas sekali Edward terlihat merendahkannya, Aveline tampak santai.Edward mendecih pelan.“Lili… ayo kita pergi dari sini.”Ia langsung menarik tangan Lilia.“Tapi…” Lilia sempat menoleh, ia masih ingin membaca buku.Namun Edward tidak menerima penolakan. Ia menarik Lilia keluar dengan paksa.Aveline berdiri diam di tengah ruangan yang mendadak terasa hampa. Senyumnya perl

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 9 : Pembicaraan Pertama

    Ashford tampak canggung—malu, sekaligus kesal. Rahangnya mengeras.Ada apa dengan wanita ini?! – teriak Ashford dalam hati.Belum sempat Ash membuka mulut, sosok yang paling Aveline tunggu sekaligus paling menyita perhatian itu melintasi ruangan klub.Saintess Lilia.Begitu melihatnya, Aveline seolah berubah wujud. Seperti pedagang yang melihat pelanggan VIP, ia langsung mendekati Lilia dengan percaya diri.“Salam, Saintess Lilia,” sapa Aveline lembut.Dalam sekejap, orang-orang di sekitar Lilia langsung siaga. Posisi mereka refleks membentuk benteng pelindung—lagi-lagi formasi yang mengingatkan Aveline pada power rangers.“Salam, Nona Aveline,” balas Lilia dengan senyum manisnya.Ah… senyum itu.Penggambaran di novel ternyata sama persis dengan kenyataan.Saintess Lilia benar-benar memancarkan aura yang lembut dan anggun. Apapun yan

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 8

    “Aku hanya melihat potensi bisnis yang bagus di bidang ini. Kau tentu tahu, keluargaku memiliki banyak bisnis,” jawab Aveline santai, seolah yang ia bicarakan hanyalah investasi biasa.Miller terdiam. Tatapannya turun ke meja, lalu ia mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa.Keheningan menggantung cukup lama, sampai akhirnya Miller menarik nafas dalam.“Berikan aku waktu untuk berpikir…” ucapnya pelan.Miller pun beranjak pergi, meninggalkan Aveline yang kembali menyantap makan siangnya. Hanya saja, Aveline tidak bisa makan siang dengan tenang.Tatapan sinis orang-orang dan bisik-bisik yang menyertainya. Jelas sekali Aveline adalah pusat gosip hari ini.BRAK!Meja tempat Aveline makan terguncang keras.Edward berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam, telapak tangannya masih menekan permukaan meja.“Hal busuk apa lagi yang kau rencanakan?!” bentaknya. “Apa kali ini kau akan melibatkan rakyat tak berdosa ke dalam permainanmu?! Edser hanyalah murid beasiswa! Dia bisa kehilangan beas

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status