Home / Fantasi / Kehidupan Ketiga Sang Villainess / Bab 105 - Pelukan penenang

Share

Bab 105 - Pelukan penenang

Author: BabyCaca
last update Last Updated: 2026-03-04 10:58:05

Bola energi kehancuran di tangan Xaverius semakin membesar, berputar liar dengan warna abu-abu kusam yang mematikan. Suara dengung energi itu terdengar seperti jeritan ribuan lebah yang marah, menggetarkan udara hingga membuat telinga berdenging sakit.

Aurelia berdiri di hadapannya, terpisah hanya oleh lapisan tipis perisai emas dari Pena Sang Penulis yang mulai retak.

KRAK!

Retakan itu menjalar cepat. Aurelia tahu, perisai ini tidak akan bertahan dari hantaman berikutnya. Di hadapannya buka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   SIDE STORY PART 3

    Namaku Kael. Dulu, orang-orang di seluruh benua mengenal namaku dengan sebutan yang membuat bulu kuduk berdiri: The Shadow General (Jenderal Bayangan), The Silent Blade (Pedang Sunyi), atau Tangan Kanan Kaisar Iblis. Prestasiku? Jangan tanya. Aku pernah menyusup ke benteng Dwarf tanpa terdeteksi, membunuh tiga komandan Orc dalam satu tarikan napas, dan memanah seekor Wyvern tepat di bola matanya dari jarak satu kilometer saat badai salju. Aku adalah definisi dari "Mematikan". Tapi hari ini... "PAMAAAN KAAEEELLL! KEJAR BELLAAA!" Hari ini, musuh terbesarku bukanlah pasukan aliansi atau monster Void. Musuhku adalah seorang gadis kecil berusia tujuh tahun dengan rambut hitam legam dan koordinasi motorik terburuk dalam sejarah klan Dracul. Di Taman Mawar Istana Obsidian, Putri Isabella Dracul sedang berlari mengejar seekor kupu-kupu biru. Masalahnya, dia berlari sambil melihat ke atas, sementara di depannya ada akar pohon yang menonjol. Satu detik. Kaki mungil Isabella tersangkut.

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   SIDE STORY PART 2

    Langit di atas Nocturnia yang biasanya cerah mendadak berubah warna menjadi hijau zamrud yang menyilaukan. Angin berhembus kencang membawa aroma pinus dan bunga liar yang sangat pekat, menutupi aroma laut dan debu kota. Di balkon Istana Obsidian, sirene peringatan sihir berbunyi nyaring. WIIUUU! WIIUUU! Xaverius, yang sedang menikmati kopi paginya (yang baru diseduh dengan sempurna oleh mesin buatan Dwarf), langsung tersedak. Mata merah-emasnya menyala waspada. Ia meletakkan cangkir, lalu memanggil pedang Black Sun-nya dari udara kosong. "Kael!" teriak Xaverius, suaranya menggelegar ke seluruh lorong. "Siapkan pasukan! Ada serangan sihir skala besar dari Utara! Siapa yang bosan hidup berani menyerang wilayahku saat aku sedang cuti?!" Kael muncul dari balik bayangan pilar, membawa dua belati, tapi wajahnya terlihat bingung. "Lapor, Tuan! Deteksi energi menunjukkan ini bukan serangan musuh, tapi... uh... energi alam murni?" Belum sempat Xaverius memproses laporan itu, pintu balkon

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   SIDE STORY PART 1

    Delapan tahun telah berlalu sejak perang besar berakhir, namun bagi Kael, medan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di halaman belakang Istana Obsidian. TAK! TAK! BUK! Suara benturan pedang kayu bergema di udara pagi. "Pangeran... hah... hah..." Kael, Sang Jenderal Bayangan yang namanya pernah membuat raja-raja benua lain gemetar ketakutan, kini berlutut dengan napas memburu. Keringat membasahi seragam latihan hitamnya. Ia mengangkat tangan tanda menyerah. "Ampun, Pangeran! Istirahat dulu! Napas saya mau putus!" Di hadapannya, berdiri seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun. Tubuhnya kecil, namun tegak lurus seperti tiang bendera. Rambut peraknya yang halus—warisan mutlak dari sang Ibu—berkilauan ditimpa sinar matahari pagi. Namun, saat bocah itu mengangkat wajahnya, siapa pun akan langsung teringat pada Kaisar Iblis. Mata heterochromia merah-emas itu menatap Kael datar. Tanpa emosi. Tanpa belas kasihan. "Berdiri, Kael," perintah Pangeran Maximilian Dracul dengan sua

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 121 - Persaingan

    Taman Istana bagian barat kini telah disulap menjadi area piknik pribadi. Di atas rumput hijau yang dipangkas rapi, terbentang tikar kain sutra bermotif bunga. Tumpukan bantal empuk berserakan di sekitarnya, menciptakan suasana santai yang sangat tidak cocok untuk dua pria paling kuat di benua itu yang kini sedang saling menatap dengan aura membunuh. Di sisi kiri, duduklah Theron, Pangeran Elf dengan rambut emas yang berkilauan. Ia memegang sebuah piring perak berisi buah-buahan eksotis yang sudah dikupas dengan seni potongan tingkat dewa. Di sisi kanan, duduklah Xaverius, Kaisar Iblis Pensiunan. Ia memegang garpu emas dengan cengkeraman yang seolah ingin membengkokkan logam itu, matanya menyipit tajam ke arah Theron. Di tengah-tengah mereka, Aurelia duduk bersila sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. "Makanlah, Adikku," Theron menyodorkan piring buah itu ke depan mulut Aurelia dengan senyum malaikat. "Ini Moonberry langka yang hanya tumbuh di mata air suci Hutan Elf. Mengandu

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 125 - Akhir yang bahagia

    Pesta pernikahan itu berlangsung sampai dini hari. Musik, tarian, dan arak madu mengalir tanpa henti di seluruh penjuru Istana Obsidian. Namun, saat langit timur mulai menampakkan semburat ungu muda, keramaian itu perlahan mereda. Para tamu sudah terlelap di kamar tamu, di taman, atau bahkan di bawah meja perjamuan saking mabuknya oleh kebahagiaan. Di lorong lantai atas yang sunyi, Xaverius Dracul berjalan pelan. Jas putih pengantinnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang kancing teratasnya dibuka longgar dan lengan yang digulung sebatas siku. Di sampingnya, Aurelia berjalan tanpa alas kaki. Sepatu hak tingginya sudah lama ia tinggalkan di sudut ballroom karena kakinya pegal berdansa. Tangan kanannya menjinjing ujung gaun pengantinnya yang berat, sementara tangan kirinya digenggam erat oleh Xaverius. "Lelah?" tanya Xaverius lembut, menatap istrinya yang terlihat mengantuk namun tetap tersenyum. "Sedikit," aku Aurelia. "Kakiku rasanya mau copot. Tapi hatiku penuh." Mereka s

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 124 - Pernikahan megah

    Lonceng Katedral Agung Nocturnia berdentang, suaranya menggema hingga ke ujung benua, menandakan dimulainya perhelatan terbesar dalam sejarah dunia baru ini. Di dalam ruang ganti pengantin pria, Xaverius Dracul—Kaisar yang pernah menelan kiamat dan membunuh dewa—sedang mengalami krisis kepercayaan diri yang parah. Ia berdiri kaku di depan cermin, menarik kerah jas putih formalnya yang dihiasi sulaman benang emas. "Kael," panggil Xaverius datar, namun ada getaran halus dalam suaranya. "Apakah dasiku miring?" Kael, yang mengenakan setelan jas Best Man berwarna merah marun (yang dia pilih sendiri agar mencolok), memutar bola matanya. Dia berjinjit untuk merapikan dasi tuannya yang sebenarnya sudah sempurna. "Tuan, ini sudah kesepuluh kalinya Tuan tanya soal dasi dalam lima menit," keluh Kael. "Dasinya lurus. Rambut Tuan badai. Wajah Tuan ganteng maksimal. Kalau Tuan tanya sekali lagi, saya akan panggil Theron buat gantiin posisi Tuan di altar." Mata Xaverius menyipit tajam. "Coba sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status