Accueil / Fantasi / Kehidupan Ketiga Sang Villainess / Bab 97 - Efek penghapusan

Share

Bab 97 - Efek penghapusan

Auteur: BabyCaca
last update Dernière mise à jour: 2026-03-02 11:11:58

Hutan Terlarang sudah terlihat di depan mata—dinding pepohonan raksasa dengan daun berwarna ungu dan perak yang tertutup kabut abadi. Namun, jarak satu kilometer terakhir ini terasa seperti jarak terjauh yang pernah mereka tempuh seumur hidup.

Di belakang mereka, "Tinta Purba" itu tidak lagi berbentuk cairan yang merayap di tanah. Ia telah berubah menjadi tsunami putih raksasa—sebuah dinding ketiadaan setinggi lima puluh meter yang menghapus langit, tanah, dan suara.

Tidak ada gemuruh. Itulah
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 98 - Naskah terbakar

    Aurelia berdiri di depan pintu gubuk tua itu, tangannya terulur hendak menyentuh gagang kayunya yang lapuk. Penjaga Hutan masih berlutut di belakangnya, dan kabut ungu berputar pelan seolah menahan napas. Namun, sebelum jari Aurelia menyentuh kayu itu, sebuah rasa panas yang menyengat tiba-tiba menyerang matanya. "Argh!" Aurelia mundur selangkah, menutup matanya dengan kedua tangan. Rasanya seperti ada bara api yang ditaruh tepat di balik kelopak matanya. "Aurelia!" Xaverius, yang sedang disandarkan Kael di batang pohon, memaksakan diri untuk berdiri. "Ada apa?!" Aurelia membuka matanya paksa. Dan apa yang ia lihat membuatnya menjerit ngeri. Layar transparan yang selama ini menemaninya—panel sistem yang memberinya peringatan, misi, dan status—kini tidak lagi berwarna biru tenang atau merah bahaya. Layar itu terbakar. Api digital berwarna emas melahap teks-teks yang ada di sana. Bukan api ilusi; Aurelia bisa merasakan panasnya membakar retina matanya. Huruf-huruf di layar itu m

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 97 - Efek penghapusan

    Hutan Terlarang sudah terlihat di depan mata—dinding pepohonan raksasa dengan daun berwarna ungu dan perak yang tertutup kabut abadi. Namun, jarak satu kilometer terakhir ini terasa seperti jarak terjauh yang pernah mereka tempuh seumur hidup. Di belakang mereka, "Tinta Purba" itu tidak lagi berbentuk cairan yang merayap di tanah. Ia telah berubah menjadi tsunami putih raksasa—sebuah dinding ketiadaan setinggi lima puluh meter yang menghapus langit, tanah, dan suara. Tidak ada gemuruh. Itulah bagian yang paling mengerikan. Tsunami itu bergerak dalam keheningan total. Aurelia, yang masih lemas di pelukan Xaverius di atas punggung naga, menoleh ke belakang dengan mata terbelalak. Ia melihat barisan belakang pasukan Aliansi yang masih berusaha lari. Seorang letnan dari pasukan Ksatria Perak, pria gagah yang tadi sempat memberikan Aurelia air minum saat istirahat, tersandung kudanya. Ia jatuh terguling di tanah. "Tolong!" teriak letnan itu, mengulurkan tangan ke arah teman-temannya.

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 96 - Retakan realistis

    Naga Bayangan itu membelah angin dengan kecepatan putus asa, sayapnya mengepak panik menjauhi lembah yang kini telah menjadi kawah kematian. Di punggung naga, Xaverius masih memeluk Aurelia, namun cengkeramannya mulai melemah. Darah segar terus merembes dari sela-sela bibir sang Kaisar, menetes mengotori zirah hitam Aurelia yang sudah berdebu. "Xaverius, bertahanlah..." Aurelia terisak, tangannya yang bercahaya perak menekan dada suaminya, mencoba menyalurkan Aether penyembuh. Namun, luka Xaverius bukan luka fisik biasa. Itu adalah luka akibat benturan langsung dengan ketiadaan. Energi penyembuh Aurelia hanya mendesis saat menyentuh kulit Xaverius, seolah ditolak oleh residu Void yang menempel di sana. "Jangan buang tenagamu," Xaverius terbatuk, suaranya parau. Ia menoleh ke belakang, menatap horor yang sedang mengejar mereka. "Lihat..." Aurelia mengikuti arah pandang Xaverius, dan napasnya tercekat di tenggorokan. Lembah Valeraine tidak lagi terlihat seperti lembah. Tanah di san

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 95 - Janji kaisar

    Langit di atas Lembah Valeraine runtuh. Bukan secara metafora, melainkan harfiah. Awan-awan kelabu yang menutupi matahari ditarik paksa ke bawah oleh gravitasi yang diputarbalikkan oleh Sang Bayangan Purba, menciptakan pusaran angin topan yang menghancurkan sisa-sisa hutan mati. "Wadahku... kemarilah." Suara itu tidak terdengar lewat telinga, tapi langsung menghantam otak seperti palu godam. Aurelia menjerit tertahan, memegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Darah segar mengalir dari hidungnya. Di depannya, sosok asap raksasa dengan mata ungu itu mengulurkan tangan yang besarnya seukuran menara istana. "JANGAN DENGARKAN DIA!" teriak Xaverius. Sang Kaisar tidak membuang waktu. Ia tidak mencoba menyerang balik makhluk itu—insting tempurnya yang telah diasah ribuan tahun memberitahunya bahwa makhluk di depan mereka berada di dimensi kekuatan yang berbeda. Ini bukan monster; ini adalah dewa kematian. Xaverius menyambar tubuh Aurelia, mendekapnya erat ke dada bidangnya, lalu berbal

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 94 - Lembah duka

    Debu. Hanya itu yang tersisa. Istana Valeraine, monumen ketakutan yang telah berdiri selama lima ratus tahun dan menjadi mimpi buruk bagi seluruh benua, kini tak lebih dari tumpukan batu yang hancur. Ledakan jatuhnya istana itu menciptakan kawah raksasa di tengah lembah, mengirimkan awan debu abu-abu pekat yang menutupi matahari, mengubah siang hari menjadi senja yang kelabu. Naga Bayangan Xaverius mendarat dengan berat di sebuah bukit batu, cukup jauh dari pusat reruntuhan agar aman, namun cukup dekat untuk melihat skala kehancurannya. Xaverius melompat turun lebih dulu. Zirah hitamnya yang legendaris kini retak di bahu dan dada, dan wajahnya tergores luka, namun ia tidak memedulikan dirinya sendiri. Ia segera berbalik, merentangkan tangannya untuk menurunkan Aurelia. Aurelia turun dengan kaki yang terasa seperti jeli. Saat sepatu bot besinya menyentuh tanah, ia nyaris ambruk jika Xaverius tidak menahannya. Aurelia tidak terluka parah secara fisik—zirah kembar dan perlindungan

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 93 - Pesan terakhir

    Cahaya pemurnian itu terasa hangat di kulit Aurelia, namun bagi Eleanor, itu adalah api penyucian yang membakar setiap inci dosa yang melekat pada jiwanya. Di tengah pilar cahaya putih yang membutakan mata itu, waktu seolah melambat. Raungan bayangan di belakang Eleanor perlahan mereda, bukan karena tenang, melainkan karena terusir paksa oleh kemurnian Aether yang Aurelia alirkan. Aurelia masih memeluk tubuh ibunya yang kaku. Ia bisa merasakan bahu Eleanor yang kurus mulai kehilangan kepadatannya, berubah menjadi butiran cahaya yang rapuh. "Ibu..." bisik Aurelia, suaranya tercekat. Eleanor tidak lagi meronta. Wajahnya yang tadinya retak dan mengerikan kini kembali utuh untuk terakhir kalinya. Kulit abu-abunya memudar, menampakkan sisa-sisa kecantikan masa mudanya yang angkuh namun tragis. Mata hitam pekatnya perlahan kembali berwarna cokelat madu—warna mata yang sama dengan milik Aurelia. Eleanor menatap putrinya. Tidak ada lagi kebencian, tidak ada lagi obsesi gila untuk menjadik

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status