MasukSudah dua bulan berlalu sejak perceraiannya dengan Dina, namun luka itu masih terasa segar. Danang berharap dunia segera melupakan aibnya. Tapi kenyataan justru sebaliknya.
Hari ini, kantor terasa berbeda. Tidak ada yang terang-terangan bertanya, tetapi Danang tahu—mereka tahu.
Di pantry, ia sedang menuang kopi ketika samar-samar telinganya menangkap suara dua orang staf muda berbicara pelan.
“Eh, katanya cerai karena selingkuh, ya?”
“Iya, aku juga denger gitu. Gila sih... padahal mukanya kayak alim.”
"Ssstt! Jangan keras-keras. Dia denger tuh..."
Danang menggertakkan giginya. Tangannya gemetar menahan emosi. Ia menoleh cepat , dan kedua staf itu buru-buru pergi. Danang letakkan cangkirnya di atas meja tanpa menyesap sedikit pun, dan berlalu meninggalkan ruang pantry dengan langkah cepat.
Di dalam ruang kerjanya, Danang mengepalkan tangan, wajahnya memerah menahan amarah.
"Siapa yang membocorkan perceraianku?" batinnya bergemuruh.
"Yoga, Toni, dan Rudy... mereka tahu aku sudah menikah. Apa mungkin salah satu dari mereka?"
Danang keluar dari ruang kerjanya. Dia melangkah menuju ruang kerja Yoga. Ia membuka pintu ruang kerja Yoga tanpa mengetuk dahulu. Dia masuk dan menutup pintu ruang kerja Yoga dengan sedikit keras. Yoga yang tengah mengetik menoleh cepat.
"Astaghfirullah... !" Yoga memegang dadanya. "Kau buat jantungku mau copot, Dan. Ada apa?
“kamu yang nyebarin kabar itu, ya?”
Yoga mengerutkan kening. “Kabar apa?”
“Jangan pura-pura. Soal perceraianku. Orang-orang kantor udah pada tahu. Aku denger sendiri mereka ngomongin perceraianku.”
Yoga bangkit dari kursinya, wajahnya serius.
“Dan, Aku nggak pernah cerita apa pun ke siapa pun. Kamu temenku, bro. Aku ngerti itu masalah pribadimu, tidak mungkin aku jadikan konsumsi publik.”
“Tapi cuma kamu yang tahu detailnya.”
Yoga menggeleng keras. “Nggak cuma aku, Dan. Toni, Rudy juga tahu. Tapi sumpah, aku nggak pernah ngomong. Kamu harus percaya.”
Danang menatap Yoga tajam. Hatinya masih membara, tapi sorot mata Yoga terlihat jujur—dan itu justru membuatnya semakin bingung.
"Jadi... bukan kamu?"
"Bukan, Dan," jawab Yoga tenang, dengan nada yang tidak terlihat menyembunyikan apa pun.
Danang terdiam sejenak, lalu melangkah keluar dari ruangan dengan perasaan berkecamuk. Ia kembali ke mejanya, tapi pikirannya tak kunjung tenang.
Siapa yang menyebarkan kabar perceraiannya?
Jam makan siang, Danang segera menuju kantin. Dia mencari keberadaan Toni dan Rudy.
Begitu melihat keduanya, Danang mendatangi meja mereka . Tanpa basa-basi, ia duduk dan langsung berkata, “Siapa yang nyebarin cerita soal perceraianku?”
Toni meletakkan sendoknya. “Cerita apa?”
“Soal aku cerai!” Danang menatap dua temannya bergantian.
Rudy terbelalak. Dengan suara yang pelan ia bertanya. “Loh... cerai? Kamu cerai ?"
Danang menggeram. “Jangan pura-pura kaget, Rud. Kalian tahu aku sudah nikah, dan kalian juga tahu aku ada masalah dengan istriku."
Toni ikut angkat tangan. “Serius, Dan. Aku tahu kamu nikah, tapi soal cerai? Aku tidak tahu. Baru sekarang sekarang aku tahu, Dan. Itu juga Kamu yang mengatakannya.”
Rudy mengangguk. “Iya, Dan. Demi Tuhan, bukan kita yang nyebarin. Kita juga nggak tahu orang lain tahu dari mana.”
“Aku nggak punya musuh di sini,” gumam Danang, suaranya pelan tapi dingin. “Kalau bukan dari kalian, siapa lagi?”
“Mungkin ada yang liat postingan mantanmu? Atau temen-temennya dia yang kebetulan kerja di sini?” tebak Rudy.
Danang terdiam.
Toni menyandarkan tubuh ke kursi. “Atau bisa jadi, ada orang luar yang nyebarinnya. Tapi bukan dari kami, Dan. Percaya deh.”
Danang bangkit berdiri. “Kalau aku tahu siapa yang mulaiin, aku nggak bakal diam aja.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan Toni dan Rudy yang hanya bisa saling pandang.
“Ini bakal ribet,” desah Rudy.
"Siapa yang menyebarkannya ? Aku saja tidak tahu Danang cerai. Dia ada problem dengan istrinya, tahu. Tapi, kalo cerai, tidak," kata Rudy.
"Idem. Walaupun aku tahu, untuk apa juga kita cerita dengan orang lain. Kurang kerjaan sekali." Kata Toni.
~~~
Sementara itu, di sebuah toko kecil yang kini semakin ramai dengan aktivitas para penjahit, Dina tampak begitu bersemangat. Senyumnya tak pernah lepas sejak pagi, meski perutnya sudah mulai membesar memasuki bulan ketiga. Tangannya cekatan merapikan setumpuk kain yang siap dipotong, sambil sesekali memberi arahan kepada Rani dan Yuni.
“Ada benangnya keluar dikit, Mbak,” ujar Yuni sambil mengangkat satu set lengan baju yang belum dijahit.
Dina mendekat dan mengecek. “Iya, betulin lagi. Tapi cepat ya, Sabtu harus selesai dan Minggu harus sudah kita kirim.”
“Siap, Mbak!” jawab Rani dengan semangat.
Tawa kecil terdengar ketika Ana menjatuhkan satu gulung benang ke lantai, membuat semua ikut tergelak. Bahkan bunda Dina ikut tertawa kecil dari dapur, melihat putrinya tampak bahagia lagi setelah badai besar hidupnya.
Saat itulah terdengar suara depan pintu ruko.
“Assalamu’alaikum…” terdengar suara lembut.
Dina menoleh dan tersenyum. “Wa’alaikumsalam. Alma! Masuk, masuk!”
Alma masuk ke dalam toko yang penuh tumpukan kain. Ia langsung memeluk Dina sebentar, lalu menatap wajah sahabatnya dengan tatapan lembut.
“Kamu kelihatan makin glowing dan berisi,” goda Alma sambil duduk di kursi dekat jendela.
“Aku lagi bahagia. Usahaku mulai jalan, karyawan nambah, dan... ya, pelan-pelan hidupku balik ke jalurnya lagi,” jawab Dina dengan senyum lebar.
Alma ikut tersenyum, tapi matanya mengamati perut Dina yang membuncit.
“Kamu bahagia, aku ikut bahagia. Tapi, Din...” suara Alma mengecil. “Jangan terlalu sibuk ya. Ingat, kamu sedang hamil. Dan bukan satu... tapi tiga keponakan Tante Alma ads dalam sini.” Alma menunjuk perut Dina.
Dina terkekeh pelan. “Aku tahu. Tapi aku juga nggak mau rebahan terus, Al. Aku senang lihat mereka kerja, lihat hasilnya. Rasanya kayak... aku punya kendali atas hidupku lagi.”
Alma memegang tangan Dina.
“Kendali itu penting. Tapi jangan lupa, tubuhmu juga butuh istirahat. Dan bayi-bayi di perutmu itu perlu ibu yang sehat, bukan yang kelelahan,” katanya lembut.
Bunda Dina datang membawa dua gelas es jeruk dan menyodorkannya ke meja.
“Benar kata Alma, Din. Kalau kamu kecapekan, bahaya."
“Iya, Bunda. Aku ngerti. Aku janji bakal jaga diri,” ucap Dina sambil mengelus perutnya.
Alma menatap sahabatnya dalam-dalam.
“Mbak Tatik mana?” tanya Alma.
“Lagi keluar beli benang,” sahut Dina.
“Aku senang, usahamu semakin maju,” kata Alma, tersenyum.
“Tiga keponakanmu membawa rezeki,” ucap Dina sambil mengelus perutnya.
Alma menatap wajah sahabatnya lekat-lekat, lalu bertanya pelan, “Din, apa kamu akan mengatakan soal kehamilanmu pada mantanmu?”
Dina tidak langsung menjawab. Pandangannya kosong, menatap benang-benang rajut di hadapannya yang mendadak terasa kabur di matanya. Hening sejenak menyelimuti ruang kecil itu.
Lalu perlahan, Dina menoleh pada Alma. Suaranya lirih, tapi terdengar jelas.
“Kalau kamu jadi aku… apa yang akan kamu lakukan, Ma?”
Alma terdiam. Ia tidak menyangka Dina akan balik bertanya seperti itu. Tatapan Dina begitu dalam, seolah menyimpan luka yang terlalu lama dipendam.
“Apa kamu akan datangi pria yang pernah nyakitin kamu… cuma buat bilang, ‘Aku hamil anakmu’? Apa kamu pikir dia akan peduli?” suara Dina mulai bergetar.
Alma menghela napas pelan, lalu menggenggam tangan Dina yang mulai dingin.
“Din, aku tahu kamu kuat. Tapi ini bukan soal dia peduli atau tidak. Ini tentang kebenaran. Anak-anakmu punya hak tahu siapa ayah mereka.”
Dina menarik tangannya pelan, lalu berdiri. Ia berjalan ke arah jendela, menatap langit yang mendung.
“Kamu tahu apa yang paling aku takutkan, Ma?” katanya pelan. “Aku takut, saat aku bilang anak ini anaknya… dia malah anggap aku pakai bayi ini buat nyeret dia balik ke hidupku. Seolah-olah aku nggak move on, masih berharap.”
Alma berdiri, ikut menghampiri sahabatnya.
“Kalau kamu diam… suatu saat anak-anakmu bisa nuntut. ‘Kenapa Ibu nggak pernah cerita siapa ayah kami?’ Dan kamu… nggak akan punya jawaban.”
Dina terisak pelan. Ia menggigit bibir, menahan tangis yang nyaris pecah.
“Aku cuma ingin tenang, Ma… Hidup damai tanpa masa lalu terus menghantui.”
Alma memeluknya pelan, membiarkan sahabatnya menangis di pundaknya.
“Terkadang… untuk bisa tenang, kita justru harus berani menghadapi masa lalu. Bukan lari darinya,” bisik Alma, menepuk lembut punggung Dina.
Dan di antara isak tangis yang tertahan, Dina tahu—cepat atau lambat, ia harus memilih: tetap diam, atau mengungkapkan kebenaran yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
Danu berdiri mematung di ruang tamu, seolah waktu berhenti di sekelilingnya. Matanya terpaku pada deretan foto yang tersusun rapi di dinding, menciptakan panorama kenangan yang penuh emosi. Foto-foto itu menggambarkan bayi-bayi yang tampak lucu dan polos dan bukan satu, bukan dua, tetapi tiga. Rayan, Revan, dan Alya. Senyum polos mereka seolah menusuk langsung ke dadanya, mengingatkannya pada masa-masa bahagia yang kini terasa begitu jauh.Napas Danu tercekat, seolah ada beban berat yang menggantung di dadanya. Rasanya seperti ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram jantungnya, membuatnya sulit bernapas. Kenangan akan kebahagiaan yang hilang berputar-putar dalam pikirannya, mengingatkan betapa cepatnya waktu berlalu.Sementara itu, Endang, yang berdiri di sampingnya, ikut menatap foto-foto itu. Wajahnya perlahan berubah pucat, seolah menyadari kebenaran yang selama ini terpendam. Bibirnya bergetar saat ia menyadari sesuatu yang selama ini tak pernah terlintas dalam pikirannya, sebu
Tidak… tidak mungkin…Kedua kakinya terasa lemas, seperti bukan miliknya lagi. Nafasnya tertahan di tenggorokan. Dunia yang tadi ramai mendadak sunyi, seolah hanya ada dia… dan pria itu.Pria yang selama ini hanya hadir dalam ingatan. Pria yang selama ini ia kubur namanya dalam-dalam. Pria yang menjadi ayah dari ketiga malaikat kecilnya, yang hari ini dia akikahkan seorang diri.Dina menelan ludah dengan susah payah.Ini pasti capek… Ini pasti cuma bayangan… Ini cuma perasaan…Namun bayangan itu tidak memudar.Pria itu tetap berdiri di sana, menatapnya. Tatapan itu membuat jantung Dina seperti diremas kuat. Dina bangkit dari tempat ia duduk dan Dina mundur setengah tapak tanpa sadar. Tangannya gemetar saat refleks memeluk erat Alya. Nafasnya semakin tidak teratur.Kenapa dia di sini…? Bagaimana bisa…? Sejak kapan…?Di belakang Danang/Danu, Dina melihat dua sosok lain. Seorang perempuan paruh baya dengan wajah yang jelas ia kenali. Dan seorang perempuan muda, berdiri sedikit di sampin
Halaman rumah Dina sejak pagi sudah ramai. Tenda sederhana berdiri di depan rumah, kursi-kursi plastik tertata rapi, aroma masakan dari dapur bercampur dengan wangi daging kambing yang sedang diolah. Suara obrolan para tetangga saling bersahutan, diselingi tawa kecil dan sapaan ramah.Namun di balik keramaian itu, Dina berdiri di dalam kamar, menatap ketiga buah hatinya yang tidur nyenyak di boks bayi.Rayan Aldama.Revan Aldamar.Alya Adeline.Tiga nama yang selalu ia sebutkan setiap ia berdoa.Tangannya bergetar saat membenarkan selimut Alya. Dina menarik napas panjang. Hari ini seharusnya menjadi hari yang penuh kebahagiaan. Hari akikah. Hari syukur. Hari ketika seorang ayah berdiri di samping ibu, menyebut nama anaknya dengan lantang.Namun hari ini… Ia sendiri.“Ya Allah…” bisiknya pelan. “Aku lakukan ini sendirian. Tapi Engkau tahu, aku tidak sendirian, ada orang-orang yang menyayangiku. Kuatkan aku Allah..."Aini masuk ke kamar, melihat wajah Dina yang terlihat tegang.“Din…” s
“Mas Dito!”Suara Aini terdengar bergetar saat matanya menangkap sosok yang sudah lama tak ia lihat. Tubuhnya refleks berhenti bergerak, seolah tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya.Pria bertubuh tinggi itu tersenyum lebar. “Surprise!” serunya sambil membuka kedua tangan.Aini menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. “Ya Allah… Mas Dito beneran datang?”Ia langsung melangkah mendekat dan memeluk abang tertuanya itu erat-erat, seakan takut kalau sosok itu hanya bayangan.Dari samping, Amar tertawa kecil melihat reaksi adiknya. “Gimana? Kaget, kan?”Aini melepaskan pelukan, lalu menoleh ke Amar. “Mas Amar tahu?” tanyanya setengah protes, setengah senang.Amar mengangguk santai. “Tahu dong. Kalau enggak, mana mungkin kejutan ini berhasil.”Belum sempat Aini menimpali, seorang perempuan anggun melangkah mendekat. Wajahnya ramah dengan senyum hangat yang familiar.“Mbak Ami,” ucap Aini cepat.“Iya, Aini,” jawab Aminah sambil merentangkan tangan. “Apa kabar?”Aini langsung memelu
Malam itu, Danu duduk di ruang keluarga rumahnya. Badannya bersandar ke sofa, kedua tangannya saling mengait, sementara pandangannya kosong menatap lantai. Di kepalanya masih terngiang kalimat terakhir yang ia ucapkan di kantor siang tadi, surat pengunduran diri. Itu adalah satu keputusan besar yang akhirnya benar-benar ia ambil.Endang keluar dari dapur sambil membawa dua gelas teh hangat. Ia meletakkannya di meja kecil di depan Danu, lalu duduk di seberangnya. Sejak tadi, ia memperhatikan anak laki-lakinya itu dengan perasaan campur aduk, bangga, khawatir, sekaligus penuh harap.“Minum dulu,” kata Endang pelan.Danu mengangguk, meraih gelasnya, lalu menghela napas panjang sebelum menyesap teh itu.“Ma… Senin nanti aku resmi jadi pengangguran,” ucapnya, mencoba bercanda, tetapi suaranya tetap terdengar berat.Endan
Sejak hari Danu resmi mengajukan resign dari perusahaan, kabar itu menyebar lebih cepat dari yang ia perkirakan. Bukan hanya rekan kerja, tetapi juga orang-orang yang pernah mengenalnya, yang dulu hanya sekadar saling sapa mulai mengetahui keputusan itu. Setiap kali bertemu, pertanyaan yang sama selalu muncul, dengan nada yang berbeda-beda.“Kenapa keluar, Dan?”“Sudah dapat tempat baru?”“Atau ada masalah?”Danu hanya tersenyum tipis. Ia menjawab seperlunya, singkat dan tanpa emosi berlebih. Baginya, tidak semua orang berhak mengetahui alasan hidupnya berubah arah. Ia sudah terlalu lelah menjelaskan, apalagi membela diri.Namun, bukan hanya pertanyaan langsung yang harus ia hadapi. Ada selentingan yang sampai ke telinganya, cerita yang beredar diam-diam, disampaikan setengah berbisik namun terasa lebih bising dari suara keras.







