Share

Bab 5 Mulut usil

Author: Lin shi
last update Last Updated: 2025-09-03 16:35:39

Pagi itu, aroma nasi goreng dan telur dadar memenuhi meja makan. Tapi suasana yang biasanya mulai hangat, kini terasa dingin. Dinda duduk dengan wajah muram, sendok di tangannya tak bergerak. Ia hanya menatap kosong ke arah piring.

Danang, yang baru turun dari lantai atas, kamarnya, duduk di seberang Dinda sambil menyeduh teh.

“Kenapa kamu? Mukamu kaya mau perang,” tegur Danang, mencoba berkelakar untuk menormalkan hubungannya dengan sang adik.

Dinda mendongak pelan. Matanya sembab. Tapi yang keluar dari mulutnya bukan keluhan biasa.

“Masih bisa bercanda ya?” suaranya pelan, tapi menggigit.

Danang mengerutkan alis. “Maksud kamu apa, Din?”

“Kamu tuh tahu nggak, karena kamu, aku diputusin Rizal!” suara Dinda meninggi. Dia tidak memanggil Danang dengan sebutan 'Mas' seperti biasanya.

Danang terkejut. “Apa hubungannya aku dengan cowok kamu, Din?”

Dinda meledak. Ia berdiri, napasnya naik turun. “Orangtuanya Rizal tahu kamu cerai karena selingkuh! Mereka pikir keluargaku nggak bisa dipercaya! Mereka takut aku nanti sama aja kayak kamu!”

“Dinda!” bentak Danang, ikut berdiri. “Jangan lempar semua kesalahan ke aku!”

“Lho? Emang bukan salah kamu? Perceraian terjadi karena kamu itu selingkuh !" serang Dinda, air matanya mulai tumpah. “Kamu yang bikin aib! Kamu yang hancurin pernikahan sendiri! Tapi aku yang kena imbas! Aku yang ditinggal tanpa salah apa-apa!”

“Cukup, Dinda!” Danang membanting sendoknya ke meja. “Jangan sok jadi korban! Hubungan kamu sama cowok itu urusan kamu! Jangan tarik-tarik aku ke dalamnya!”

Suara dua saudara itu menggema di ruang makan. Mama mereka, Endang, yang sedang menyusun buah potong di dapur, buru-buru keluar.

“Astaghfirullah! Apa-apaan kalian ini pagi-pagi sudah teriak-teriak?” serunya panik.

“Maa…,” Dinda menoleh, air mata membanjiri pipinya. “Dia tidak merasa bersalah ma. Dia yang membuat orang tua Mas Rizal menolak aku. Namun, dia tidak merasa itu salahnya."

Danang menggeleng keras. “Mama,hubungan mereka kandas, kenapa aku yang dipersalahkan? Kenapa sekarang semua kesalahan ditimpakan ke aku seolah-olah aku ini sampah!”

“Cukup!” Endang meninggikan suaranya. “Kalian ini saudara! Mau sampai kapan saling menyalahkan?”

Keduanya terdiam, dada naik turun, emosi belum sepenuhnya reda.

Endang mendekat ke Dinda dan merangkul pundaknya.

“Kamu sakit hati, Mama paham. Tapi jangan simpan dendam ke kakakmu. Dan kamu, Danang, kalau kamu memang menyesal, tunjukkan! Bukan dengan marah-marah balik, tapi berubah dan tanggung jawab.”

Danang menunduk. Dinda menghapus air matanya kasar. Tapi tak ada kata-kata yang keluar lagi.

Sarapan pagi itu nyaris berantakan. Napas Danang masih tersengal karena emosi. Ia menatap adiknya, Dinda, yang masih berdiri dengan wajah basah air mata. Tapi kali ini, bukan hanya amarah yang muncul di matanya—ada luka dan rasa bersalah yang tak mampu ia sembunyikan.

“Kalau memang orangtuanya Rizal menilai kamu dari kesalahan yang aku perbuat…” suara Danang mulai merendah, namun tegas, “Aku sendiri yang akan datang ke Rizal. Aku akan bicara langsung. Aku akan pertanyakan kenapa dia harus bawa-bawa urusan pribadiku ke hubungan kalian.”

Dinda menatap kakaknya dengan mata melebar, seakan tak percaya.

“Mas mau datangi Rizal?” tanyanya setengah mengejek. “Buat apa? Udah terlambat! Aku sudah putus dengan Rizal."

“Enggak!” Danang menegakkan tubuhnya. “Aku mungkin salah di masa lalu, tapi aku nggak akan diam saat kesalahanku menyakiti kamu juga. Aku akan temui dia. Biar aku sendiri yang jelaskan. Aku nggak mau kamu kehilangan orang yang kamu sayangi gara-gara aku.”

Endang memejamkan mata sejenak. Kalimat Danang adalah sesuatu yang tak ia duga keluar dari mulut anak laki-lakinya. Mungkin, akhirnya, penyesalan itu tumbuh juga.

Dinda masih menatap kakaknya, diam, matanya basah tapi tak lagi meluapkan emosi. Mungkin, di balik semua amarah dan luka, masih tersisa harapan bahwa kakaknya bukan sepenuhnya lelaki yang ia benci pagi ini.

Danang menunduk, merapikan sendok garpu yang tergeletak di meja, lalu berkata pelan namun dalam,

“Aku tahu aku nggak bisa perbaiki semuanya dalam sehari. Tapi setidaknya... biar aku coba bertanggung jawab. Aku nggak mau kamu ikut hancur cuma karena aku gagal menjaga hidupku.”

Tak ada yang menjawab. Tapi pagi itu, meski penuh dentuman emosi, akhirnya menyisakan satu hal yang belum ada sebelumnya: niat untuk memperbaiki.

~~~

Dina duduk di lantai beralas karpet tipis. Kardus-kardus besar mengelilinginya, penuh dengan baju-baju seragam berwarna abu-abu dan biru laut yang telah rapi disetrika dan dilipat.

Tangannya dengan cekatan memasukkan pakaian ke dalam kardus, satu per satu, sembari menempelkan label kecil bertuliskan nama pabrik dan jumlah pesanan.

“Din, hati-hati, jangan terlalu nunduk. Ntar pegal perutnya,” kata Bunda dari dapur sambil membawa gelas berisi air putih.

“Iya, Bun,” jawab Dina seraya menyandarkan punggung ke dinding sejenak. Ia menyeka peluh di dahinya, lalu tersenyum melihat tumpukan kardus yang hampir selesai. “Sebentar lagi selesai packing-nya. Besok tinggal kirim.”

Bunda duduk di sampingnya, menyerahkan air. “Masya Allah, rezeki bayi-bayi ini memang luar biasa. Belum lahir aja udah bawa berkah.”

Dina tersenyum, lalu menatap baju-baju dalam kardus seolah sedang menatap masa depan yang perlahan ia bangun dengan tangannya sendiri. “Semoga mereka bangga nanti, Bun… lihat ibunya bisa berdiri sendiri meski tanpa ayahnya.”

Bunda menggenggam tangan Dina dengan lembut. “Kamu kuat, Nak. Tapi jangan lupa, sesekali juga boleh menangis. Nggak apa-apa.”

Dari arah mesin jahit, terdengar suara tertawa kecil.

“Mbak Dina, istirahatlah. Biar kami yang kerjain. Jahitan kami tinggal beberapa saja ini ," kata Ana sambil merapikan potongan kain di meja.

"Biar saya saja mbak," kata Ana 

Dina tertawa, suaranya renyah. “Iya dong! Kalian masuk daftar tim tetap. Nanti kalau punya pabrik beneran, kalian jadi kepala bagian semua.”

“Wah, siap, Bu Direktur!” ucap Ana sambil berdiri dan memberi hormat pura-pura.

“Yang penting, nanti kasih kita seragam kerja yang bagus. Jangan kayak seragam pabrik ini, warnanya suram banget,” kata Yuni dengan wajah jenaka.

Tawa kembali memenuhi ruangan sederhana itu. Meski letih dan peluh bercampur, semangat dan harapan seolah menjahit mereka menjadi satu keluarga kecil yang saling menguatkan.

Dina menatap mereka, lalu mengusap lembut perutnya yang kian membuncit. Dalam hati, ia membisikkan janji. Ibu akan berjuang. Untuk kalian. Untuk masa depan yang lebih baik.

~~~

Siang itu matahari menyengat tanpa ampun. Deni melangkah cepat melewati jalan kampung yang berdebu, membawa dua kantong plastik berisi kebutuhan dapur. Saat hendak menyeberang jalan kecil di dekat warung tua milik Pak Samin, suara tajam terdengar dari sebelah kiri.

“Eh, Den!” panggil seseorang.

Deni menoleh. Juragan Zuki berdiri di depan warung, tangannya bersedekap di dada. Wajahnya menyiratkan senyum sinis, bukan sapaan hangat seperti biasanya.

“Gimana kabar dua janda di rumah?” tanya Juragan Zuki lantang, dengan nada merendahkan.

Deni mengernyit. “Apa maksudnya, juragan?” tanyanya dengan nada menahan diri.

Juragan Zuki menyeringai, masih tetap berdiri santai. “Ya kakakmu itu, kan sekarang sudah resmi janda. Ibumu juga janda. Berat juga hidupmu, Den. Harus jagain dua janda. Jangan tua sebelum waktunya .”

Beberapa warga yang tengah duduk di depan warung langsung menghentikan obrolannya. Suasana mendadak hening.

Deni menggenggam erat kantong plastik di tangannya. Matanya menatap lurus ke arah Juragan Zuki. Napasnya naik turun, dengan raut wajah merah menahan amarahnya.

“Pak, hati-hati kalau bicara. Kakakku cerai bukan karena dia mau, tapi karena disakiti. Dia sudah cukup menderita. Nggak usah ditambahin dengan kata-kata nyinyir begitu,” ucap Deni, nadanya mulai meninggi.

Pak Samin yang mendengar langsung menimpali, “Juragan. Nggak pantas ngomong seperti itu. Kalau nggak bisa bantu, ya diam saja.”

“Benar, juragan. Jangan mempermalukan orang yang sedang mendapat musibah,” sahut Pak Naryo.

“Lho, saya cuma ngomong apa adanya,” ucap juragan Zuki masih bertahan dengan gaya congkaknya.

“‘Apa adanya’ nggak harus nyelekit begitu, juragan,” jawab Deni tegas. “Kalau keluarga juragan digituin, juragan tidak marah?”

Juragan Zuki tak menjawab. Matanya beralih ke arah lain, tak berani menatap Deni.

Tiba-tiba dari arah gang muncul Johnny, sahabat Deni. Ia melihat kerumunan itu dan mendekat cepat.

“Ada apa Den?” tanya Johnny curiga, menatap wajah Deni yang memerah.

“Biasa,” ujar Deni sambil menarik napas dalam. “Ada orang yang hobinya nyakitin orang lain pakai mulutnya.”

Deni sedikit mengatakan pada Johnny.

Johnny menatap Juragan Zuki dengan tajam. “Juragan, jangan asal bicara. Sudah tua banyak-banyak menumpuk pahala juragan. Jangan malah numpuk dosa."

Warga lainnya mengangguk, menandakan dukungan mereka.

Deni masih menatap Juragan Zuki. “Saya tahu keluarga saya bukan siapa-siapa, Pak. Tapi jangan pernah rendahkan perempuan yang sudah berjuang sekuat itu. Kakakku lebih mulia dari mulut Bapak yang cuma bisa nyinyir.”

Juragan Zuki diam. Wajahnya merah, bukan karena malu, tapi karena sadar ia kalah dalam debat di hadapan banyak orang.

“Sudahlah, Den,” ujar Johnny, menepuk bahu Deni. “Orang seperti itu biar hidup dengan lidahnya sendiri. Kita lanjut, yuk.”

Deni menatap Zuki sekali lagi, lalu memalingkan wajah. Ia dan Johnny melangkah pergi.

“Kak, orang-orang mungkin bisa bicara apa saja... Tapi aku di sini. Aku akan jaga kehormatanmu. Kakak nggak sendiri.” dalam hati Deni.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 171 Hukuman

    Sudah tiga hari berlalu sejak ditemukannya bungkusan mencurigakan di dekat pohon mawar. Sejak kejadian itu, Endang tidak bisa benar-benar tenang. Setiap pagi, setiap siang, bahkan kadang sore hari, ia selalu menanyakan hal yang sama kepada asisten rumah tangganya.Pagi itu, Endang keluar dari kamar sambil merapikan kerudungnya. Di dapur, Bik Iyem sedang memotong bawang.“Bibik…” panggil Endang.“Iya, Bu?” jawab Bik Iyem sambil menoleh.Endang mendekat sedikit.“Bibik, ada lihat benda aneh lagi di halaman?”Bik Iyem langsung menggeleng.“Tidak ada, Bu. Saya sudah cek tadi pagi.”Endang menghela napas, tapi wajahnya masih terlihat khawatir.“Sudah lihat ke dekat pohon mangga?”“Sudah, Bu. Bahkan saya keliling sampai ke pagar belakang juga.”Endang masih belum puas.“Di sudut-sudut taman?”“Sudah juga, Bu.”Endang akhirnya duduk di kursi dekat meja makan.“Bibik yakin tidak ada apa-apa lagi?”“Iya, Bu. Aman.”Endang mengangguk pelan, meski pikirannya masih penuh dengan kejadian beberapa

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 170 Bersumpah

    Suasana rumah sore itu sedikit tegang. Dinda duduk di ruang tamu bersama Endang dan Danu. Wajah Dinda masih terlihat kesal sejak percakapan teleponnya dengan Rizal tadi siang.Tok… tok… tok…Endang berdiri, karena keduanya Danu dan Dinda masih sibuk dengan pikirannya masing-masing.Endang berjalan ke pintu dan membukanya. Begitu pintu terbuka, terlihat Rizal berdiri di depan rumah dengan wajah serius namun tetap sopan.“Assalamualaikum, Tante,” ucap Rizal.Endang sedikit terkejut, tetapi tetap menjawab.“Waalaikumsalam.”Mendengar suara Rizal, Danu langsung berdiri. Ekspresinya tidak terlalu ramah.“Ngapain kamu ke sini?” tanya Danu tanpa basa-basi.Rizal menarik napas dalam-dalam.“Saya mau meluruskan sesuatu.”Dinda yang mendengar suara itu langsung menoleh. Begitu melihat Rizal, wajahnya kembali menegang.“Ngapain datang?” tanya Dinda dingin.Rizal melangkah masuk setelah Endang mempersilakan.“Masuk dulu,” kata Endang.Rizal masuk dan berdiri di tengah ruang tamu. Ia tidak langsun

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 169 Kembali ke Diri Sendiri

    Sore itu, suasana di rumah Endang terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin sore yang lembut seakan enggan masuk ke dalam, membuat setiap sudut rumah tampak lebih kelam. Endang masih terperangkap dalam pikirannya, mengingat bungkusan aneh yang ditemukan oleh Bik Iyem di bawah pohon mawar. Walaupun bungkusan itu sudah dibakar hingga hangus, rasa tidak nyaman dan ketidakpastian masih menyelimuti hatinya, seperti bayangan yang tak kunjung pergi.Dinda, yang baru pulang dari sesi terapi, duduk di ruang tengah sambil memijat pelan kakinya yang masih terasa nyeri akibat latihan fisik yang berat. Ketika Endang datang membawa segelas air hangat, Dinda mengangkat wajahnya, menyambut kedatangan ibunya dengan senyuman lemah. “Nih, minum dulu,” kata Endang sambil menyerahkan gelas itu dengan penuh perhatian.“Terima kasih, Ma,” jawab Dinda, meneguk air hangat itu dengan pelan, berharap dapat meredakan rasa sakit di kakinya.Endang duduk di sampingnya, wajahnya terlihat serius dan penuh beban. “Di

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 168 Guna-guna

    Di tempat usaha doorsmeer milik Danu, suasana siang itu cukup ramai. Beberapa motor dan mobil sedang dicuci oleh karyawan. Air menyembur dari selang, dan suara mesin kompresor terdengar bersahut-sahutan. Danu berdiri di dekat meja kasir, karena Dinda tidak masuk. Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di depan pintu masuk. Yoga turun dari motornya dan berjalan cepat menghampiri Danu. Wajahnya terlihat serius.“Dan,” panggil Yoga.Danu menoleh. “Eh, Yo. Tumben siang-siang datang. Ada apa?”Yoga tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi plastik dan duduk di depan Danu. “Ada yang mau aku omongin.”Danu langsung memperhatikan wajah sahabatnya itu. “Kenapa? Wajahmu kayak orang habis lihat hantu.”Yoga menghela napas pelan. “Tadi… Sinta datang ke kantor.”Danu langsung terdiam beberapa detik. “Sinta?” ulang Danu.“Iya,” jawab Yoga. “Dia nanyain kamu.”Danu mengerutkan kening. “Ngapain dia nyari aku ke kantor?”Yoga menggeleng. “Itu dia. Makanya aku datang ke sini. Feeling aku nggak enak,

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 167 Pendekatan

    Tangis Alya terdengar tiba-tiba memecah suasana sore di rumah baru Dina. Bayi kecil itu terbangun dari tidurnya dan langsung menangis keras. Dina yang sedang duduk merapikan baju-baju ke dalam tas dekat kasur tempat ketiga bayinya berbaring segera mengangkat Alya.“Sayang… kenapa, Nak?” Dina mengayun pelan tubuh putrinya.Namun Alya tetap menangis. Bahkan semakin keras. Wajah kecilnya memerah, tangan mungilnya bergerak gelisah.Aini yang berada di dekat dapur segera datang.“Coba bunda gendong,” kata Aini sambil mengambil Alya dari tangan Dina.Alya digendong oleh neneknya. Aini menepuk-nepuk punggung bayi itu perlahan.“Cucu bunda kenapa? Kaget ya, bangun di tempat asing?”Namun tangis itu belum juga berhenti. Dan, tangisan Alya berhasil membuat kedua saudaranya terbangun, namun tidak membuat keduanya menangis.Dinda yang duduk dengan kaki masih sedikit pincang ikut mendekat.“Sini kak, coba aku gendong.”Alya berpindah tangan lagi. Dinda berusaha menghiburnya dengan suara lembut.“

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 166 Tidak ingin egois

    Siang hari itu matahari bersinar cukup terik, tetapi angin yang berembus di halaman rumah baru Dina di Mekar Jaya membuat suasana terasa nyaman. Rumah yang berdiri di belakang ruko itu masih terlihat baru, dengan cat dindingnya bersih, halaman masih sepi dari banyak tanaman, dan beberapa kardus masih tersusun di sudut teras.Amar, paman Dina, duduk di kursi kayu di samping rumah. Ia memandang sekeliling rumah itu sebentar, lalu menoleh ke arah Danu yang duduk di depannya. Wajah Amar terlihat serius, tetapi tidak menunjukkan kemarahan. Dia sepertinya sudah mulai menerima kehadiran Danu.“Danu,” kata Amar membuka pembicaraan. “Iya, Paman.”Amar menatapnya beberapa detik, lalu berkata pelan, “Paman dengar kamu sekarang pakai nama baru.”“Iya, Paman,” jawabnya jujur.Amar mengangkat alis sedikit. “Kenapa?”Pertanyaan itu sederhana, tetapi terasa berat.Danu menghela napas panjang sebelum menjawab.“Saya… ingin melupakan masa lalu, Paman,” katanya pelan. “Masa lalu yang penuh kesalahan.”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status