Share

Bab 3 Di tinggalkan

Author: Lin shi
last update Last Updated: 2025-09-03 16:33:05

Di ruang makan yang sederhana, cahaya lampu kuning temaram menyinari meja makan bundar. Endang, ibu Dinda, baru saja menyelesaikan sayur sop kesukaan anaknya. Ia memanggil Dinda yang sejak sore hanya berdiam diri di kamar.

Endang melangkah mendekati pintu kamar Dinda dan mengetuk pintu kamar dengan lembut.

Tok... Tok...

“Din, makan dulu, Nak,” ujar Endang lembut dari balik pintu kamar.

Beberapa menit kemudian, Dinda keluar. Wajahnya masih sembab. Tapi ia berusaha tersenyum, berpura-pura tegar. Ia duduk di kursi makan dan mulai menyendok nasi ke piring.

"Ayo makan. Kita hanya berdua. Danang keluar," kata mamanya.

Mereka makan dalam diam. Hanya suara sendok yang sesekali menyentuh pinggir piring. Tapi suasana hening itu pecah, ketika tiba-tiba... air mata Dinda menetes, jatuh ke piringnya.

Sendok di tangannya gemetar, lalu diletakkan perlahan. Bahunya naik-turun menahan isak, namun tak mampu lagi disembunyikan.

Endang menoleh, kaget. “Dinda...?”

Dinda menunduk, mencoba mengusap air matanya diam-diam, tapi tangisnya semakin deras.

“Dinda, ada apa, Nak?” suara Endang lembut, panik. Ia bergeser mendekat, menyentuh bahu anak gadisnya.

“Ada yang sakit? Kepalamu? Perutmu?”

Dinda menggeleng, pelan... masih menunduk. Air matanya jatuh tanpa suara.

“Lalu kenapa, sayang?” suara ibunya kini nyaris berbisik, dipenuhi kekhawatiran.

Dinda menggigit bibirnya. Ia mencoba bicara, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.

Endang mengusap punggung Dinda dengan pelan. “Kamu bisa cerita sama mama. Apa ada yang ganggu pikiranmu?”

Beberapa detik yang panjang berlalu.

Akhirnya, dengan suara nyaris tak terdengar, Dinda berbisik:

“Aku… ditinggalin, ma…”

Endang menatap wajah putrinya dengan bingung. “Ditinggalin? Siapa, sayang?”

“Mas Rizal…” isaknya pecah. “Dia mutusin aku…”

Endang bangkit mendekati Dinda dan kemudian memeluk putrinya itu dengan erat, yang kini menangis di pelukannya. Seisi ruang makan berubah menjadi saksi keheningan paling menyakitkan antara ibu dan anak.

Di luar rumah, angin malam berhembus pelan. Dan di dalam rumah, tangis Dinda masih terus berlanjut… bukan karena tubuhnya yang sakit, tapi karena hatinya yang robek tanpa peringatan.

Masih dalam pelukan bundanya, Dinda terus menangis. Hatinya seperti meledak, semua beban yang ia tahan sejak sore tadi akhirnya tumpah juga.

Endang mengelus rambut putrinya dengan sabar, menunggu hingga isak itu mulai mereda.

“Pelan-pelan, Dinda… cerita ke mamanya. Apa yang sebenarnya terjadi?” bisiknya lembut.

Dinda menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Suaranya masih bergetar saat ia mulai bicara.

“Rizal… Rizal mutusin aku, ma,” katanya pelan.

“Kenapa, sayang? Bukannya kalian baik-baik saja?”

Dinda mengangguk pelan. “Kami baik… kami saling sayang. Tapi orangtuanya... mereka nggak setuju.”

“Orangtuanya?” Endang mengernyit.

“Mereka tahu soal Mas Danang. Mereka tahu Mas selingkuh, cerai dari Kak Dina. Dan karena itu… mereka nilai keluarga kita rusak. Mereka takut aib Mas Danang akan nempel di Rizal juga.”

Endang terdiam. Matanya menatap jauh ke dinding seolah tak percaya.

“Padahal aku bukan Mas Danang, ma… aku nggak salah apa-apa...” lanjut Dinda, air matanya kembali mengalir. “Tapi kenapa aku yang harus kehilangan?”

Ia menunduk, menatap jemarinya yang gemetar di atas pangkuan.

“Aku sayang Rizal... aku pikir dia bisa perjuangin aku. Tapi ternyata dia juga nyerah.”

Endang menggenggam tangan Dinda erat-erat.

“Dinda… kamu dengerin ma, ya,” ucapnya lembut, menahan emosi yang ikut bergelora.

“Kamu anak yang baik. Kamu bukan bayangan dari siapa pun. Kamu bukan dosa dari Danang. Kamu adalah kamu, Nak. Dan orang yang benar-benar mencintaimu nggak akan biarkan kamu terluka karena kesalahan orang lain.”

Dinda terisak. “Tapi kenapa semua orang lihat aku dari nama keluarga kita, ma? Aku sedih ma…”

Endang memeluk Dinda lebih erat, seolah ingin meredakan seluruh badai yang bergemuruh di hati anak gadisnya.

"Kamu boleh sedih... kamu boleh nangis... Tapi jangan pernah merasa kalau kamu nggak layak bahagia."  

Suara Endang lembut tapi penuh kekuatan.  

"Orang yang menilai kamu dari aib orang lain, bukanlah orang yang pantas untuk mendampingimu."

"Ada pria di luar sana yang sudah dipersiapkan Alloh untukmu." Endang mengusap punggung Dinda dengan lembut.

Dinda mengangguk kecil. Air matanya masih mengalir deras, namun pelukan itu dan kalimat itu seperti memberi ruang bagi hatinya untuk bernapas kembali.

~~~

Dina berbaring di ranjang pemeriksaan, sedikit tegang.

“Bu Dina… jangan tegang. Rileks,” ucap perawat sambil mengoleskan gel dingin ke perut Dina.

"Santai Din," kata bundanya yang berdiri di sampingnya.

“Siap ya. Sekarang kita lihat kondisi anak-anaknya,” kata Dokter Eva sambil menyalakan alat USG.

Suara detak jantung memenuhi ruangan, ritmenya teratur dan jelas terdengar dari alat USG yang terhubung pada perut Dina. Ia berbaring mulai tenang, meski sorot matanya menyimpan rasa gugup. Di sampingnya, Dokter Eva fokus menatap layar monitor.

“Lihat, ini yang pertama,” ucap Dokter Eva sambil menunjuk bayangan kecil di monitor. “Yang ini adiknya, dan ini si bungsu... sangat aktif ya, dia terus bergerak dari tadi. USG pertama, si bungsu sedikit lemah.

Dina tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Mereka sehat, kan, Dok?”

“Alhamdulillah, sejauh ini perkembangan janin-janinnya baik. Ukuran dan detak jantung mereka normal. Tidak ada tanda-tanda kelainan sejauh ini,” jawab Dokter Eva meyakinkan. “Sudah masuk minggu ke-13. Artinya, kamu sudah melewati trimester pertama dengan cukup baik.”

Dina mengangguk, menatap layar seolah bisa menyentuh anak-anaknya dari sana. “Tiap kali lihat mereka bergerak… rasanya seperti mimpi, Dok.”

“Ini bukan mimpi. Ini berkah. Tapi karena kamu membawa tiga janin sekaligus, tubuhmu bekerja tiga kali lebih berat. Jadi, kamu juga harus tiga kali lebih disiplin menjaga diri.”

Setelah mematikan alat dan suster membersihkan gel dari perut Dina, dan Dina sudah kembali duduk. Dokter Eva mulai menjelaskan lebih rinci.

“Kamu harus benar-benar jaga asupan makanan. Perbanyak makanan tinggi protein, ikan matang, ayam, tahu, tempe, dan sayur hijau. Susu kehamilan juga jangan sampai absen. Tapi kurangi makanan asin, manis berlebihan, dan jangan konsumsi makanan mentah sama sekali.”

Dina duduk perlahan. “Jadi nggak boleh makan mie instan?”

Dokter Eva tertawa kecil. “Mie instan itu musuh ibu hamil. Sekali-sekali kalau benar-benar ingin, ya boleh, tapi jangan sering. Kamu bawa tiga bayi, bukan satu.”

Dina ikut tertawa. “Baik, Dok. Tapi… kalau es teh manis?”

“Lebih baik air putih hangat. Gula bisa memicu tekanan darah tinggi, apalagi di kehamilan kembar. Ingat, risiko preeklampsia juga lebih tinggi,” jelas Dokter Eva sambil menatap Dina dengan serius.

Dina mengangguk pelan. “Saya usahakan.”

“Oh ya, satu lagi. Hindari terlalu banyak berdiri atau berjalan jauh. Jangan paksakan pekerjaan fisik. Tidur siang itu wajib. Dan tolong, jangan stres.”

Ucapan terakhir itu membuat Dina terdiam sejenak. Ia menunduk, menggenggam ujung jilbabnya.

Dokter Eva menatap Dina dengan penuh empati, sorot matanya hangat dan meyakinkan.  

"Bu Dina harus tetap kuat dan semangat, ya. Izinkan orang lain membantu, tidak semua harus Ibu tanggung sendiri."

Bunda Dina langsung menimpali, “Tuh...Din. Dengerin dokter. Kamu sekarang jangan cuma mikirin dirimu sendiri. Ada tiga malaikat kecil yang harus kamu jaga.”

Dina tersenyum kecil, lalu membelai perutnya. “Saya akan mengingat apa yang dokter katakan. Mereka butuh mama yang kuat dan sehat.”

Sebelum pergi, Dokter Eva menepuk ringan bahu Dina. “Dan kamu juga butuh mereka. Mereka yang akan membuatmu terus melangkah.”

Dina melangkah keluar dari ruangan dengan dada yang sedikit lebih lapang, meski bayangan tentang hari esok masih menggelayuti pikirannya. Tiga kehidupan tumbuh di dalam dirinya. Dan mulai saat ini, tak ada lagi kata mundur.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 119 Sangat terluka

    Di ruang tamu rumah Dina, suasana terasa hening meski acara akikah masih berlangsung di luar. Tawa tamu-tamu terdengar samar, namun kontras dengan percakapan yang kini terjadi di dalam ruangan. Endang duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya saling bertaut di pangkuan. Tatapannya tak lepas dari Ami, istri Dito, seolah ada ribuan pertanyaan yang menunggu jawaban.Danu duduk di samping ibunya. Tubuhnya kaku, bahunya tegang. Ia tidak lagi menunduk, tetapi menatap lurus ke depan, ke arah dinding tempat foto-foto Rayan, Revan, dan Alya terpajang. Setiap gambar seperti pisau yang mengiris perlahan, namun dalam. Kenangan indah itu kini terasa menyakitkan, mengingatkan pada apa yang hilang dan apa yang harus mereka hadapi.Dinda duduk agak menjauh, bersandar di dekat jendela. Pandangannya sesekali beralih pada foto, lalu kembali ke wajah kakaknya. Ada kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan, seolah setiap detik berlalu semakin menambah beban di hatinya.Endang akhirnya membuka suara, sua

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 118 Restu merajut cinta

    Rahma melangkah masuk dengan kaki gemetar, mengenakan baju pelindung berwarna hijau muda. Tangannya bergetar saat meraih pintu kaca, matanya langsung tertuju pada sosok yang terbaring lemah di ranjang ICU.Ahmad.Suaminya.Pria yang selama puluhan tahun menjadi sandaran hidupnya kini terbaring tak berdaya, dengan selang dan alat bantu napas menutupi wajahnya. Dadanya naik turun perlahan, dibantu mesin. Rahma menutup mulutnya, menahan isak yang hampir pecah.“Yah…” suaranya serak, nyaris tak terdengar.Ia melangkah mendekat, duduk di kursi kecil di samping ranjang. Tangannya meraih tangan Ahmad yang dingin, menggenggamnya erat seolah takut kehilangan. Ahmad membuka mata perlahan karena merasakan tangannya digenggaman. Matanya redup, namun sorotnya berubah ketika melihat Rahma.Ahmad menggerakkan tangannya sedikit, memberi isyarat. Matanya melirik ke arah selang di mulutnya, lalu kembali menatap Rahma. Dengan sisa tenaga, ia memberi tanda ingin berbicara.Rahma menggeleng cepat.“Jangan

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 117 Penyesalan

    Danu berdiri mematung di ruang tamu, seolah waktu berhenti di sekelilingnya. Matanya terpaku pada deretan foto yang tersusun rapi di dinding, menciptakan panorama kenangan yang penuh emosi. Foto-foto itu menggambarkan bayi-bayi yang tampak lucu dan polos dan bukan satu, bukan dua, tetapi tiga. Rayan, Revan, dan Alya. Senyum polos mereka seolah menusuk langsung ke dadanya, mengingatkannya pada masa-masa bahagia yang kini terasa begitu jauh.Napas Danu tercekat, seolah ada beban berat yang menggantung di dadanya. Rasanya seperti ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram jantungnya, membuatnya sulit bernapas. Kenangan akan kebahagiaan yang hilang berputar-putar dalam pikirannya, mengingatkan betapa cepatnya waktu berlalu.Sementara itu, Endang, yang berdiri di sampingnya, ikut menatap foto-foto itu. Wajahnya perlahan berubah pucat, seolah menyadari kebenaran yang selama ini terpendam. Bibirnya bergetar saat ia menyadari sesuatu yang selama ini tak pernah terlintas dalam pikirannya, sebu

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 116 Tamu kejutan

    Tidak… tidak mungkin…Kedua kakinya terasa lemas, seperti bukan miliknya lagi. Nafasnya tertahan di tenggorokan. Dunia yang tadi ramai mendadak sunyi, seolah hanya ada dia… dan pria itu.Pria yang selama ini hanya hadir dalam ingatan. Pria yang selama ini ia kubur namanya dalam-dalam. Pria yang menjadi ayah dari ketiga malaikat kecilnya, yang hari ini dia akikahkan seorang diri.Dina menelan ludah dengan susah payah.Ini pasti capek… Ini pasti cuma bayangan… Ini cuma perasaan…Namun bayangan itu tidak memudar.Pria itu tetap berdiri di sana, menatapnya. Tatapan itu membuat jantung Dina seperti diremas kuat. Dina bangkit dari tempat ia duduk dan Dina mundur setengah tapak tanpa sadar. Tangannya gemetar saat refleks memeluk erat Alya. Nafasnya semakin tidak teratur.Kenapa dia di sini…? Bagaimana bisa…? Sejak kapan…?Di belakang Danang/Danu, Dina melihat dua sosok lain. Seorang perempuan paruh baya dengan wajah yang jelas ia kenali. Dan seorang perempuan muda, berdiri sedikit di sampin

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 115 Satu Doa' untuk tiga malaikat kecil

    Halaman rumah Dina sejak pagi sudah ramai. Tenda sederhana berdiri di depan rumah, kursi-kursi plastik tertata rapi, aroma masakan dari dapur bercampur dengan wangi daging kambing yang sedang diolah. Suara obrolan para tetangga saling bersahutan, diselingi tawa kecil dan sapaan ramah.Namun di balik keramaian itu, Dina berdiri di dalam kamar, menatap ketiga buah hatinya yang tidur nyenyak di boks bayi.Rayan Aldama.Revan Aldamar.Alya Adeline.Tiga nama yang selalu ia sebutkan setiap ia berdoa.Tangannya bergetar saat membenarkan selimut Alya. Dina menarik napas panjang. Hari ini seharusnya menjadi hari yang penuh kebahagiaan. Hari akikah. Hari syukur. Hari ketika seorang ayah berdiri di samping ibu, menyebut nama anaknya dengan lantang.Namun hari ini… Ia sendiri.“Ya Allah…” bisiknya pelan. “Aku lakukan ini sendirian. Tapi Engkau tahu, aku tidak sendirian, ada orang-orang yang menyayangiku. Kuatkan aku Allah..."Aini masuk ke kamar, melihat wajah Dina yang terlihat tegang.“Din…” s

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 114 Harapan

    “Mas Dito!”Suara Aini terdengar bergetar saat matanya menangkap sosok yang sudah lama tak ia lihat. Tubuhnya refleks berhenti bergerak, seolah tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya.Pria bertubuh tinggi itu tersenyum lebar. “Surprise!” serunya sambil membuka kedua tangan.Aini menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. “Ya Allah… Mas Dito beneran datang?”Ia langsung melangkah mendekat dan memeluk abang tertuanya itu erat-erat, seakan takut kalau sosok itu hanya bayangan.Dari samping, Amar tertawa kecil melihat reaksi adiknya. “Gimana? Kaget, kan?”Aini melepaskan pelukan, lalu menoleh ke Amar. “Mas Amar tahu?” tanyanya setengah protes, setengah senang.Amar mengangguk santai. “Tahu dong. Kalau enggak, mana mungkin kejutan ini berhasil.”Belum sempat Aini menimpali, seorang perempuan anggun melangkah mendekat. Wajahnya ramah dengan senyum hangat yang familiar.“Mbak Ami,” ucap Aini cepat.“Iya, Aini,” jawab Aminah sambil merentangkan tangan. “Apa kabar?”Aini langsung memelu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status