Share

Bab 47

Penulis: Bilkis29
last update Tanggal publikasi: 2026-07-10 09:13:41

Suara mobil Bu Widya perlahan menghilang di ujung jalan, menandakan ibu mertuanya itu sudah berangkat menuju kantor. Setelah pintu depan tertutup rapat, suasana rumah yang tadinya hangat namun tertib kini menjadi sunyi dan milik mereka berdua sepenuhnya.

Rendra menutup pintu kamar perlahan dengan bunyi yang nyaris tak terdengar, lalu membalikkan badannya menghadap Rina yang berdiri di dekat tepi tempat tidur.

Wajah Rina masih menyisakan rona merah samar sisa rasa malunya saat sarapan tadi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 47

    Suara mobil Bu Widya perlahan menghilang di ujung jalan, menandakan ibu mertuanya itu sudah berangkat menuju kantor. Setelah pintu depan tertutup rapat, suasana rumah yang tadinya hangat namun tertib kini menjadi sunyi dan milik mereka berdua sepenuhnya. Rendra menutup pintu kamar perlahan dengan bunyi yang nyaris tak terdengar, lalu membalikkan badannya menghadap Rina yang berdiri di dekat tepi tempat tidur. Wajah Rina masih menyisakan rona merah samar sisa rasa malunya saat sarapan tadi, namun kini ada kilatan kelembutan dan keberanian yang belum pernah terlihat sebelumnya di matanya. Rendra melangkah perlahan mendekat, tangannya terulur lembut menyentuh ujung jari Rina hingga wanita itu mengangkat wajah menatapnya. Senyum jahil namun penuh kasih sayang merekah di bibir Rendra, membuat jantung Rina berdegup kencang kembali. “Kau tahu, mama sudah pergi sampai sore nanti,” bisik Rendra, suaranya berat dan mendayu, membuat bulu kuduk Rina meremang halus. “Kita punya banyak wa

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 46

    Lampu ruangan utama perlahan dipadamkan, digantikan oleh cahaya lembut dari lilin beraroma melati yang tersebar di sudut-sudut balkon kamar pengantin. Angin malam berhembus pelan membawa sejuknya udara, menggoyangkan tipis kelambu putih yang melambai lembut seakan menyambut babak baru yang penuh makna. Rina berdiri mematung sejenak di depan jendela kaca yang menghadap ke taman luas, tangannya meremas ujung gaun pengantin yang kini sudah disingkapkan sebagian, diganti dengan jubah tidur sutra berwarna krem yang jatuh anggun di tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena takut seperti dulu, melainkan karena rasa haru dan canggung yang bercampur bahagia. Pintu kamar terbuka perlahan. Rendra masuk dengan langkah pelan, menutup pintu di belakangnya hingga bunyi klik halus terdengar memecah keheningan. Ia sudah berganti pakaian santai, rambutnya sedikit berantakan namun justru menambah kesan hangat dan manusiawi. Saat melihat punggung Rina yang tegak namun tampak tegang,

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 45

    Berita penerimaan lamaran Rina oleh Rendra menyebar perlahan, namun tidak semua orang menyambutnya dengan sukacita. Bagi Rina, hari itu adalah awal babak baru kehidupan, namun bayang-bayang masa lalu belum sepenuhnya lenyap. Sementara Rendra dan Bu Widya sibuk mempersiapkan segalanya dengan penuh kebahagiaan, dari arah yang tak terduga, gangguan mulai datang kembali—seolah tak ingin membiarkan Rina menikmati ketenangan yang baru saja ia temukan. Pagi itu, Rina sedang duduk di ruang kerjanya, memeriksa desain gaun pengantin yang akan ia buat untuk dirinya sendiri. Ujung jarinya menyentuh kertas dengan hati-hati, menggambar pola yang melambangkan ketabahan dan kebangkitan. Pintu ruangan terbuka tiba-tiba dengan kasar, dan mantan ibu mertuanya—muncul dengan wajah merah padam, diikuti Dimas yang berjalan enggan di belakangnya. “Jadi benar apa yang kudengar? Kau berani-beraninya mau menikah lagi dengan anak orang kaya lagi, hah?” seru nya tanpa sopan santun, berdiri tegak di tengah ruan

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 44

    Angin sore berhembus lembut menyapu halaman rumah Rina yang luas dan indah. Di teras rumah yang kini berdiri megah bak istana itu, Rina duduk sendirian memandang ke arah taman yang tertata rapi. Di tangannya tergenggam sebuah kotak perhiasan kecil berisi cincin lamaran yang diberikan Rendra sebulan yang lalu. Wajahnya yang cantik, berkilau dengan kecerdasan dan keanggunan yang kini menjadi ciri khasnya, terlihat penuh keraguan. Meski ia telah bangkit dari keterpurukan, menjadi perancang busana ternama dan duta merek yang dikagumi banyak orang, bayangan masa lalu masih menari-nari di sudut hatinya. Ingatan tentang Dimas—laki-laki yang di awal pernikahan tampak penuh janji manis, namun akhirnya menjadi sumber luka dan penghinaan—masih membekas dalam ingatan. Rina takut, takut kisah pahit itu akan terulang kembali. Langkah kaki pelan terdengar mendekat. Rendra muncul membawa dua cangkir teh hangat, wajahnya yang tenang dan lembut selalu memancarkan ketulusan yang jarang ditemui orang

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 43

    Mobil ibu Dimasi melaju kencang menuju kawasan perumahan elit di Cikarang. Hatinya masih mendidih menahan amarah dan rasa malu setelah diusir halus namun tegas dari rumah Rina. Sepanjang jalan, bayangan wajah tenang Rina, tatapan tajam Ibu Widya, dan genggaman tangan Rendra pada Rina terus berputar di kepalanya. Ia tidak habis pikir—bagaimana bisa wanita yang dulu dianggap sampah oleh keluarganya, kini hidup berkelas dan dilindungi orang sekuat itu? Setelah hampir satu jam perjalanan, mobil berhenti di depan rumah Dimas dan Sari. Bangunannya memang megah dan luas, bergaya modern mewah dengan halaman yang bersih dan rapi. Ini adalah rumah yang didapat Dimas berkat dukungan finansial keluarga Sari saat mereka baru saja menikah dulu. Bu Sumiati menarik napas panjang, berusaha menyusun wajahnya agar tidak terlihat terlalu kusut, lalu melangkah masuk. Begitu masuk ke ruang tengah yang luas dan sejuk, ia melihat Sari sedang duduk di sofa empuk. Wanita itu kini mengandung enam bulan, per

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 42

    Rumah itu kini berdiri tegak di atas lahan luas di salah satu kawasan elit Bekasi, dindingnya berwarna putih bersih dengan sentuhan kaca berkilau yang memantulkan sinar matahari pagi. Taman depan yang asri dipenuhi bunga bermekaran, jalan setapak dari batu alam mengarah ke beranda yang luas. Tidak ada lagi rumah papan sempit yang dulu bocor saat hujan, tidak ada lagi atap yang menekan seolah menahan harapan. Rumah ini bukan sekadar bangunan megah—ini adalah bukti nyata bahwa Rina telah bangkit dari keterpurukan. Dari balik pagar tinggi yang dihiasi tempaan besi indah, tetangga-tetangga yang dulu sering berbisik sinis kini sering berhenti sejenak hanya untuk memandang kagum. Dulu mereka sering berkomentar keras: "Istri si Dimas itu lho, hutang di mana-mana, tidak bisa bayar iuran, mana lagi mandul." Kini mereka menyapa dengan senyum lebar setiap kali melihat Rina keluar dengan mobil mewahnya, atau saat truk bahan baku berhenti di depan rumah untuk mengantar pesanan khusus desainnya.

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 4

    Keesokan harinya Dimas hanya diam saja duduk di depan rumah. Seperti biasa, Rina memasak dulu sebelum berangkat kerja. Ia bergerak ke sana kemari di dapur, menyiapkan makanan seadanya, namun tidak sekalipun ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, Rina meletakkan kunci

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 7

    Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya. Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dala

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 6

    Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 5

    Rina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah. Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun. Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran. Semua barang tertata dengan bai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status