Share

Bab 5

Author: Bilkis29
last update publish date: 2026-06-17 08:08:57

Rina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah.

Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun.

Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran.

Semua barang tertata dengan baik.Ia menoleh ke arah Dimas yang berdiri menunduk tak berani menatap matanya.

"Mas?" panggil Rina pelan, terkejut melihat perubahan itu.

Dimas menelan ludah, suaranya keluar pelan dan penuh rasa takut. "A... aku... aku cuma mau bantu, Ri. Aku cuci baju, aku pel lantai... maaf kalau ada yang salah atau kurang bersih. Aku... aku takut kamu marah lagi."

Ia menunduk makin dalam, lalu melanjutkan dengan suara bergetar, seolah membuka rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan.

"Ri... aku tahu aku ini egois. Selama ini aku suka marah-marah, aku keras kepala, aku mau menang sendiri. Tapi sebenarnya... semua itu cuma aktingku saja".

Air mata mulai menetes di pipi Dimas. Ego dan gengsinya yang besar akhirnya runtuh sepenuhnya, berganti dengan kejujuran yang menyakitkan.

"Aku sadar sekarang, aku cuma beban buat kamu. Tapi aku janji... mulai hari ini aku akan berubah. Apa saja yang bisa aku kerjakan, akan aku lakukan. Aku tidak mau lagi marah-marah tanpa alasan. Aku mau nurut sama kamu, aku mau bantu kamu. Tolong jangan tinggalkan aku, Ri... aku tidak sanggup hidup sendirian."

Rina berdiri diam, matanya menatap suaminya lekat-lekat. Ia melihat ketakutan yang tulus, rasa bersalah yang mendalam, dan keinginan untuk berubah di wajah Dimas. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat perlahan.

Ia mengusap pelan bahu Dimas. Wajahnya tidak lagi keras seperti pagi tadi, tapi juga tidak sepenuhnya lembut.

"Mas... aku sudah lama menunggu kata-kata itu keluar dari mulutmu," ucapnya tenang

. "Aku tidak butuh suami yang galak atau yang mau menang sendiri. Aku butuh teman hidup yang mau bekerja sama, mau saling bantu, dan mau jujur sama perasaannya. Kalau kemarin kamu diam dan marah-marah, aku memang capek dan kecewa. Tapi hari ini... kamu sudah membuktikan sesuatu."

Rina menunjuk ke arah rumah yang bersih itu.

"Kerjamu ini sudah bagus, Mas, aku senang".

"Tapi ingat ya, ini bukan cuma dilakukan karena takut aku marah".

". Tapi kalau kamu sudah sadar dan mau berubah, masih ada waktu buat kita perbaiki semuanya sama-sama."

Dimas mengangkat wajahnya, matanya berbinar penuh harap. "Be... benar, Ri? Kamu tidak marah lagi sama aku?"

"Aku tidak marah," jawab Rina sambil tersenyum tipis".

"Tapi aku mau kamu konsisten. Besok, lusa, dan seterusnya, sikapmu harus tetap begini".

" Jangan kembali ke sifat lama lagi. Sekarang, ayo kita bersiap makan malam. Aku sudah beli lauk di jalan."

Dimas mengangguk antusias, rasa takutnya berubah menjadi rasa lega dan bahagia.

" Aku harus mengambil hati istriku dan pura pura baik dulu saat ini"

Dimas hanya menatap punggung istrinya dengan senyuman licik dan helaan nafasnya.

Malam itu, setelah makan malam mereka berdua membereskan meja makannya.

Dimas berpamitan pada Rina untuk ikut ronda di pos penjagaan dekat rumah.

Ia ingin menunjukkan bahwa ia benar-benar mau berubah dan ikut serta dalam kegiatan warga, tidak hanya diam di rumah saja.

Rina tersenyum dan mengangguk senang, merasa apa yang ia harapkan perlahan mulai terwujud.

Di pos ronda, suasana sedang ramai.,beberapa bapak-bapak sedang duduk mengobrol sambil minum kopi.

Di sana, Dimas berpapasan dengan Pak Adi, warga yang tinggal di ujung jalan itu. Pak Adi dikenal sebagai orang yang punya usaha dagang dan beberapa gudang penyimpanan barang.

"Eh, Dimas, sudah lama tidak lihat kamu ikut ronda. Apa kabar?" sapa Pak Adi ramah sambil menepuk bahu Dimas.

"Kabar baik, Pak. Iya, ini baru sempat ikut lagi. Sekarang mau lebih sering keluar dan bantu-bantu di mana saja," jawab Dimas dengan sopan, berbeda sekali dengan sikapnya yang dulu sering sombong dan dingin.

Dimas mulai memainkan sandiwaranya berpura pura baik demi mencari perhatian warga.

Mereka pun mengobrol panjang lebar. Tak lama kemudian, Pak Adi mengeluh sedikit.

"Sebenarnya saya lagi pusing nih, Dimas. Kantor saya butuh orang jaga gudang. Barang-barang di sana cukup banyak dan berharga, tapi penjaga yang lama baru saja berhenti".

"Sampai sekarang belum ada yang cocok mengisi tempatnya. Padahal saya butuh orang yang jujur, bisa dipercaya, dan mau tekun bekerja."

Mendengar itu, hati Dimas berdebar kencang. Ini kesempatan emas! Ia tidak mau menyia-nyiakan peluang yang datang begitu saja.

Ingat betul ia betapa kesalnya di hina oleh istrinya karena selama ini menanggung hidup berdua.

Dan betapa ia sangat butuh pekerjaan agar tidak lagi bergantung sepenuhnya pada istrinya lagi.

Tanpa ragu, Dimas langsung menatap Pak Adi dan berkata dengan sungguh-sungguh dengan suara memohon.

"Pak Adi... kalau Bapak belum dapat orangnya, saya... saya bersedia mencoba. Saya butuh pekerjaan, Pak. Saya janji akan bekerja sebaik mungkin, jujur, dan bertanggung jawab penuh. Saya tidak akan mengecewakan Bapak."

Pak Adi agak terkejut, lalu menatap wajah Dimas lekat-lekat. Ia melihat ketulusan dan semangat yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari pemuda itu.

"Kamu serius, Dimas? Kerja jaga gudang itu harus sabar, kadang harus bersih-bersih juga, tidak boleh malas lho," kata Pak Adi memastikan.

"Saya serius, Pak! Saya siap melakukan apa saja yang jadi tugas saya"

" Dulu saya memang salah, malas dan banyak maunya. Tapi sekarang saya sadar, saya mau berubah demi istri dan demi masa depan kami. Tolong beri saya kesempatan ini, Pak," jawab Dimas dengan nada memohon namun penuh keyakinan.

Pak Adi tersenyum lebar, tampak senang mendengarnya. "Bagus kalau begitu. Kalau niatmu sudah bulat dan mau berubah, saya percaya sama kamu".

"Ya sudah, besok pagi-pagi sekali kamu langsung datang ke kantor saya. Alamatnya saya tulis di sini. Kamu lapor ke bagian administrasi, bilang saya yang menyuruhmu masuk kerja mulai besok."

Dimas merasa sangat bahagia dan terharu. Rasanya seperti mendapat harta karun. Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali sambil bersalaman erat dengan Pak Adi.

"Terima kasih banyak, Pak! Saya janji akan membuktikan bahwa pilihan Bapak tidak salah. Terima kasih banyak!"

Malam itu Dimas pulang dengan langkah ringan dan hati yang berbunga-bunga.

Begitu masuk rumah, ia langsung menemui Rina yang sedang menonton televisi di ruang tengah.

Wajahnya berseri-seri, berbeda jauh dari wajah takut dan bingung yang dulu selalu ia tunjukkan.

"Ri! Rina!" panggilnya bersemangat. "Kamu dengar tidak? Tadi di pos ketemu Pak Adi. Dia butuh orang jaga gudang, dan dia menawarkannya ke aku!"

" Besok pagi aku disuruh datang ke kantornya untuk mulai kerja!"

Rina terbelalak kaget, lalu wajahnya berubah menjadi sangat gembira. Ia langsung berdiri dan mendekati suaminya.

"Benar kata kamu, Mas? Itu berita yang sangat bagus! Alhamdulillah... aku senang sekali dengarnya."

Dimas mengangguk, matanya berkaca-kaca karena haru. Ia memegang tangan istrinya dengan lembut.

Dimas berpura pura haru dan ingin terlihat sudah berubah di depan Rina

"Ini semua karena kamu, Rin. Karena kamu mau menegur aku dan mau sabar sama aku".

" Kalau aku masih tetap keras kepala dan egois seperti dulu, mungkin aku tidak akan berani bicara sama Pak Adi, dan kesempatan ini pasti lewat begitu saja".

"Besok aku akan kerja sungguh-sungguh. Aku ingin bantu kamu, aku ingin kita sama-sama menafkahi rumah ini. Aku tidak mau lagi jadi beban buat kamu."

Rina tersenyum tulus, lalu mengusap lengan suaminya

"Kerja yang rajin, jaga kepercayaan orang, dan jangan lupa uangnya nanti di tabung mas buat masa depan kita".

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, tidur Rina terasa nyenyak dan damai.

Tapi tidak dengan Dimas yang tampak gelisah belum tidur.

Dimas menatap tajam Istrinya dan tersenyum licik sambil mengepalkan tangannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 83

    Ruangan rawat inap itu kembali menjadi tempat di mana dua dunia saling bertabrakan—satu dunia penuh kepura-puraan yang disusun dengan sangat rapi, dan satu dunia lain yang sedang perlahan-lahan menyusun kepingan kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik tirai kebohongan. Sore itu, Rendra duduk di tepi ranjang Casandra, wajahnya selalu terlihat berat dan murung, seolah beban yang ia pikul sungguh tak sanggup lagi ia tanggung. Padahal di dalam hatinya, ia tenang, ia tahu setiap kata yang keluar dari mulutnya hanyalah bagian dari rencana yang telah disepakati bersama Rina dan Bu Widya. Casandra berbaring di sana, rambut pendek yang ia biarkan terlihat tipis, wajah yang setiap pagi ia rias agar tampak pucat dan lemah. Matanya menatap Rendra dengan tatapan yang sengaja dibuat penuh simpati dan rasa kasihan, seolah dialah satu-satunya orang yang benar-benar memahami penderitaan Rendra di tengah dunia yang tak lagi peduli padanya. "Kamu selalu terlihat lelah akhir-akhir ini, Rendra,"

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 82

    Langit sore itu tampak kelabu, seolah turut merenungi suasana di ruang rawat inap yang selalu terlihat sepi namun penuh kepura-puraan. Di atas ranjang empuk itu, Casandra berbaring dengan wajah yang selalu ia usahakan terlihat pucat dan lemah, rambut pendek yang ia biarkan terlihat tipis seolah menjadi bukti penderitaan yang tak kunjung usai. Tangannya yang terlihat kurus perlahan meraih ponsel di samping bantal, namun seketika ia meletakkannya kembali dengan wajah bertanya-tanya ketika menyadari sudah tiga hari berlalu dan tak ada satu pun pesan maupun kunjungan dari Rina. "Rina... di mana dia?" gumamnya pelan, namun cukup terdengar jelas oleh Rendra yang duduk di tepi ranjang sambil menatap jendela dengan tatapan yang sengaja dibuat murung dan sedih. "Sudah berapa lama dia tidak datang ke sini? Bahkan tak ada kabar sedikit pun. Padahal dulu dia selalu begitu... begitu perhatian." Rendra perlahan menoleh ke arahnya, menghela napas panjang dengan wajah yang tampak berat, seolah

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 81

    Setelah semuanya terungkap—bukti dari Suster Murni, catatan obat-obatan palsu, rambut yang dicukur sendiri, dan rekam medis yang tidak jelas—ketiganya duduk berkeliling di ruang tengah, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak. Rendra menggenggam buku catatan itu erat-erat, buku yang berisi semua kebohongan yang selama ini membelenggu perasaannya. Wajahnya tidak lagi murung karena kasihan, melainkan tegas, penuh kesadaran yang baru saja terbangun. "Lebih baik kita langsung pergi ke sana dan membongkar semuanya!" seru Rendra, suaranya bergetar menahan amarah. "Lihat saja wajahnya saat tahu semua rahasianya sudah terbongkar!" Namun Bu Widya menggeleng pelan, lalu menatap anaknya dengan tatapan tenang namun tajam. "Tunggu dulu, Nak. Kalau kita langsung menghadapinya sekarang, dia hanya akan menyusun kebohongan baru. Dia akan semakin berhati-hati, menutup jejaknya, dan mungkin menyakiti diri sendiri supaya terlihat seperti kita yang kejam. Itu justru yang dia inginkan—dram

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 80

    Malam itu, setelah Rendra dan Rina saling bercerita habis-habisan tentang segala hal yang berkaitan dengan Casandra—mulai dari masa lalu di Amerika, video-call yang hampir menghancurkan rumah tangga mereka, hingga permohonan Casandra agar Rendra menemaninya menjalani kemoterapi—suasana di kamar tidur mereka akhirnya terasa lebih damai. Tidak ada lagi rahasia yang tersembunyi di balik senyum, tidak ada lagi rasa bersalah yang dipendam sendirian. Rendra merasa beban berat yang selama ini menekan dadanya perlahan terangkat, digantikan oleh rasa syukur karena istrinya mau mendengarkan dan memahami, walau tentu saja rasa sakit itu belum hilang sepenuhnya. Namun, di ruang tengah rumah itu, Ibu Widya duduk sendirian di kursi kayu jati kesayangannya, cahaya lampu yang remang-remang menyorot wajahnya yang tampak serius. Ia tidak bisa tidur. Sebagai seorang ibu yang telah melihat banyak peristiwa dalam hidup, ia punya insting yang jarang sekali salah. Dan insting itu berteriak keras: Casand

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 78

    Langkah kaki Rendra terasa berat saat melangkah masuk ke dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat paling tenang dan damai baginya. Pintu utama tertutup pelan di belakang punggungnya, menyisakan suara tawa dan keramaian dari perayaan tujuh bulanan yang baru saja ia tinggalkan. Udara di dalam rumah terasa hangat, dipenuhi aroma harum bunga dan masakan yang masih tersisa, namun hati Rendra terasa dingin dan sesak, seolah ada batu besar yang menumpuk di sana. Ia berjalan perlahan menuju balkon lantai atas, tempat yang biasanya menjadi tempat favoritnya untuk melepas lelah setelah seharian sibuk. Langit sore itu tampak indah, berwarna jingga keunguan yang memanjakan mata, namun pandangan mata Rendra tak mampu menikmati keindahan itu. Ia bersandar pada pagar balkon, menatap kosong ke arah halaman rumah yang masih tampak ramai, namun pikirannya melayang jauh—terbawa kembali pada kata-kata yang baru saja diucapkan Casandra kepadanya, dengan suara lemah dan mata yang basah oleh air m

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 79

    Kebenaran di Balik Wajah PucatMalam itu, setelah mereka berdua saling berbagi isi hati dan tidak ada lagi rahasia yang tersembunyi di antara keduanya, suasana hati Rendra jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Rina duduk di sampingnya sambil mengusap lembut punggung tangan suaminya, menatapnya dengan tatapan penuh pengertian dan kasih sayang yang begitu dalam.“Besok pagi, mari kita pergi menjenguknya bersama-sama, Rendra,” ucap Rina dengan suara lembut namun tegas, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan. “Aku tidak ingin kau menghadapi hal ini sendirian. Apa pun yang terjadi, kita adalah satu. Kita hadapi semuanya berdua.”Rendra menatap wajah istrinya yang bercahaya itu, lalu mengangguk perlahan. Rasa syukur kembali memenuhi dadanya—bagaimana ia bisa begitu beruntung memiliki istri yang begitu lembut hatinya namun juga begitu kuat pendiriannya? Ia mencium punggung tangan Rina dengan penuh rasa terima kasih. “Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah mengerti. Aku tidak tahu

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 7

    Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya. Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dala

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 6

    Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 2

    Suatu malam, saat Dimas sudah tidur pulas setelah menghabiskan sisa uang yang Rina dapatkan hari itu, Rina duduk di lantai dekat jendela. Di tangannya ada secarik kertas berisi daftar nama orang yang harus ia bayar. Angka-angka itu seolah menatapnya dengan sinis. Ia memegang dadanya yang terasa

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 1

    "Rina,Rina ......kamu bangun saja lama sekali, apa kamu mau kami kelaparan terus?" suara Dimas meledak, nada bicaranya tinggi dan penuh amarah, padahal Rina baru saja duduk di pinggir kasur. Rina menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. "Maaf, Mas. Aku cuma ingin istirahat sebentar saja,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status