แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Bilkis29
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-19 08:33:44

Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya.

Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dalam dirinya menjadi sangat berubah. Bukan hanya soal uang atau masa depan, tapi juga tentang bagaimana Rina memperlakukannya sekarang.

Selama berbulan-bulan Dimas menganggur, hidup mereka penuh dengan kekurangan. Setiap kali ia mencoba mendekati Rina atau mengungkapkan keinginannya, Rina selalu menolak dengan halus namun tegas.

“Mas, kita tidak punya uang, tidak ada suasana, nanti saja ya,” atau “Mas, kamu belum bekerja, nanti kalau sudah ada penghasilan baru kita nikmati waktu bersama.”

Kata-kata itu selalu terngiang di telinga Dimas, dan itu membuat hatinya tersakiti. Ia merasa tidak diinginkan, merasa tidak layak, dan rasa kesal itu perlahan menumpuk di dalam diri.

Namun sekarang, semuanya berbeda. Hari ini adalah hari pertama ia bekerja secara resmi. Wajah Rina tampak lebih cerah, senyumnya lebih hangat, dan tatapannya penuh kasih sayang yang belum pernah ia rasakan selama ini.

Saat makan malam tadi, Rina bahkan menyuapkan lauk ke piringnya dan berkata, “Mas, sekarang kamu sudah bekerja, aku senang sekali. Kamu boleh istirahat dengan tenang malam ini.”

Setelah selesai makan, Rina membereskan meja dan duduk di tepi kasur sambil memandang ke arah jendela yang terbuka, menyaksikan cahaya lampu jalan yang berkelip-kelip.

Dimas yang duduk di dekatnya perlahan mendekat. Ia tahu dalam hatinya bahwa ini semua hanyalah sementara. Ia masih menyimpan niatnya untuk membalas dendam dan menjadi pelit nanti setelah punya uang banyak.

Tapi saat ini, ia masih butuh Rina. Ia butuh kehangatan tubuhnya, kelembutan sentuhannya, dan rasa nyaman yang hanya bisa diberikan oleh istrinya.

Bagi Dimas, saat ini Rina bukan lagi sekadar istri yang dicintai, tapi juga tempat untuk mengisi kekosongan dan mencari kenyamanan sementara sampai waktunya tiba.

Dimas perlahan bergerak mendekati Rina, lalu perlahan-lahan memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat, seolah-olah takut ia akan pergi. Ia menempelkan dagunya di bahu Rina, lalu mulai menciumi lembut bagian leher belakang istrinya—bagian yang selalu disukainya.

Aroma tubuh Rina yang wangi dan menenangkan langsung menyelimuti indra perasa Dimas, membuat rasa lelahnya sedikit berkurang.

Rina awalnya terkejut dan sedikit kaku, tapi tidak seperti biasanya malam ini. Biasanya ia akan menepis pelukan Dimas atau berkata bahwa ia capek.

Namun malam ini, Rina hanya diam saja, menutup matanya perlahan dan menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Dimas.

Tidak ada penolakan, tidak ada kata-kata penyangkal. Hanya keheningan yang penuh dengan perasaan yang selama ini ia simpan.

Dimas merasakan perubahan itu, dan di dalam hatinya ada rasa puas yang muncul, sekaligus rasa hambar yang menyelinap.

Ia tahu bahwa Rina hanya memperlakukannya dengan baik karena sekarang ia sudah punya pekerjaan.

Bukan karena benar-benar mencintainya lebih dari sebelumnya, tapi karena ia dianggap sudah menjadi laki-laki yang layak.

“Rin…” bisik Dimas dengan suara yang pelan, masih terus menciumi leher dan bahu istrinya. “Kamu tahu, selama ini aku sering merasa sedih dan kesal. Karena setiap kali aku ingin dekat denganmu, kamu selalu menolak. Aku merasa seperti tidak diinginkan.”

Rina membuka matanya perlahan, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Dimas. Wajahnya tampak lembut dan penuh pengertian.

“Maafkan aku ya, Mas. Aku bukan menolakmu karena tidak sayang. Aku hanya khawatir, kalau kita lakukan hal itu saat kita tidak punya apa-apa, nanti malah jadi beban buat kamu dan buat kita. Aku ingin kita kuat dulu, baru nikmati kebersamaan seperti ini.”

Dimas melepaskan pelukannya sebentar, lalu memegang kedua tangan Rina dan menggenggamnya erat.

Tatapan matanya menatap langsung ke mata istrinya, seolah-olah sedang berusaha memainkan peran suami yang paling pengertian dan penyayang.

“Aku mengerti itu, Rin. Tapi bagiku, kehadiranmu dan kehangatanmu jauh lebih berharga daripada harta benda."

"Bahkan saat kita susah pun, aku tetap butuh kamu. Aku butuh kamu untuk merasa bahwa aku masih laki-laki yang mampu, walaupun sedang tidak bekerja.”

Rina tersenyum tipis, lalu mengusap pipi Dimas dengan lembut. “Aku tahu sekarang, Mas. Dan aku berjanji, mulai hari ini aku akan selalu ada buat kamu. Apapun keadaan kita, aku tidak akan pernah menjauh lagi.”

Malam itu, mereka duduk berdekatan di atas kasur, lampu kamar yang dinyalakan dengan terang namun tidak terlalu menyilaukan. Dimas mulai bercerita banyak hal tentang harinya di kantor.

Ia bercerita tentang Pak Adi yang baik, tentang rekan kerja yang ramah, tentang tugas-tugas yang baru ia pelajari, dan tentang harapannya untuk masa depan.

Ia bercerita dengan nada yang antusias, seolah-olah ia benar-benar bahagia dan puas dengan pekerjaan barunya.

“Rin, kamu tahu nggak? Hari ini aku belajar banyak hal baru. Pak Adi bilang kalau aku rajin dan bisa bertahan, aku bisa berkembang pesat di sana.

Aku berharap dalam waktu tidak terlalu lama, aku bisa dapat gaji yang cukup buat kita hidup lebih tenang,” kata Dimas sambil mengelus rambut Rina perlahan.

Rina mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali mengangguk dan bertanya hal-hal kecil untuk melanjutkan pembicaraan. “Itu bagus sekali, Mas.

Aku percaya kamu bisa melakukannya. Jangan lupa istirahat yang cukup ya, jangan sampai kamu terlalu memaksakan diri. Dan ingat, kita ini satu tim. Kalau kamu lelah, cerita sama aku, kita selesaikan bersama.”

Dimas tersenyum, senyum yang dibuatnya terasa sangat tulus dan hangat. “Terima kasih ya, Rin. Kamu memang istri yang terbaik buat aku.

Tanpa dukungan dan doamu, aku mungkin tidak akan pernah semangat untuk bangkit lagi dari keadaan sulit ini.”

Di tengah pembicaraan itu, Dimas kembali memeluk Rina, kali ini dengan perasaan yang lebih kompleks.

Di satu sisi, ia benar-benar merasakan kebahagiaan dan ketenangan karena berada di dekat istrinya yang dicintai. Di sisi lain, ia tidak pernah melupakan rencana kelamnya.

Ia tahu bahwa semua kebaikan dan kasih sayang Rina ini hanya akan ia terima sampai ia masih butuh.

Begitu ia sudah mengumpulkan uang banyak dan merasa kuat, semua ini akan berubah. Ia akan menjadi dingin, pelit, dan tidak lagi peduli pada perasaan Rina.

Namun malam itu, ia memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu. Untuk sesaat, ia ingin menikmati kehangatan ini sepenuhnya.

Ia ingin berpura-pura bahwa perasaannya itu benar-benar tulus, bahwa ia benar-benar suami yang baik yang mencintai istrinya sepenuh hati.

“Rin,” kata Dimas lagi, suaranya lembut dan dalam. “Meskipun hidup kita belum sepenuhnya mudah, tapi malam ini aku merasa sangat bahagia.".

"Cuma karena kamu ada di sini, mendengarkan aku dan mendukung aku. Itu sudah cukup buat aku.”

Rina memiringkan kepalanya ke bahu Dimas, merasa aman dan tenang. “Aku juga bahagia, Mas. Yang penting kita bersama dan saling percaya. Itu sudah lebih dari cukup buat aku.”

Mereka duduk begitu lama, berbagi cerita, berbagi harapan, dan saling memegang tangan satu sama lain.

Malam itu terasa lebih panjang dan lebih indah daripada malam-malam sebelumnya bagi Dimas. Ia menikmati setiap sentuhan, setiap kata yang diucapkan Rina, dan setiap momen kebersamaan itu.

Saat akhirnya mereka berbaring dan mematikan lampu, Rina sudah tertidur dengan nyaman di pelukan Dimas.

Dimas tetap terjaga sebentar, memandang wajah istrinya yang tenang di dalam gelap. Ia berbisik pelan, hanya untuk dirinya sendiri: “Sabar dulu, Rin. Semua kebaikan ini akan aku terima sampai aku kuat.

Nanti saat aku punya banyak uang, aku akan tunjukkan padamu siapa aku sebenarnya. Dan saat itu, kamu akan merasakan semua rasa sakit yang sama seperti yang aku rasakan selama ini.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 93

    Pagi yang kelabu di rumah keluarga Bu Widya membawa beban yang tak terlukiskan bagi Rina. Sejak kejadian muntah darah dan dilarikannya Casandra ke rumah sakit, keresahan di hati Rina tak kunjung mereda. Meski pemandangan itu begitu mengerikan dan tampak nyata, namun naluri Rina sebagai istri yang selama ini sering melihat kepura-puraan dan kelicikan Casandra terus berbisik bahwa ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang belum terungkap sepenuhnya di balik semua penderitaan itu. Rina duduk termenung di sudut ruang tamu yang luas namun terasa dingin. Ia teringat betapa selama berbulan-bulan ia menjadi sasaran kecemburuan, fitnah, dan kebohongan yang disusun rapi oleh Casandra. Pura-pura sakit kanker rahim, membayar dokter dengan harga sangat mahal, menjalani kemoterapi yang sebenarnya tidak perlu, hingga melakukan diet ekstrem yang menghancurkan kesehatannya sendiri—semua itu semata-mata untuk merebut perhatian Rendra dan membuat Rina tersisih. Namun kini, melihat kondisi Casandra yang ma

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 92

    Cerita pagi itu dimulai dengan keheningan yang berat, seolah-olah udara di dalam rumah besar keluarga Bu Widya telah lama dipenuhi ketegangan yang tak terucapkan. Sejak kepulangannya beberapa hari lalu, Casandra memang terlihat semakin murung dan tertutup. Ia jarang berbicara, lebih sering menatap kosong ke arah jendela kamar yang menghadap ke halaman belakang yang luas, dengan pikiran yang berkecamuk hebat. Dalam hatinya, Casandra merasa kecewa dan bingung. Ia telah mengerahkan segala cara—berpura-pura sakit parah, melemahkan tubuhnya sendiri dengan diet ekstrem, bahkan rela menjalani kemoterapi yang menyiksa—hanya agar Rendra menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang dan perhatian sepenuhnya. Namun kenyataannya semakin ia berusaha menarik perhatian pria itu, semakin Rendra menjauh. Sikap Rendra tetap sopan namun dingin, jauh berbeda dengan harapan yang ia impikan setiap malam. “Lebih baik aku diam saja,” batinnya menggerutu dengan rasa getir yang meluap-luap, “Semakin aku berusa

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 90

    Suasana ruang makan malam itu terasa hangat dengan cahaya lampu gantung yang lembut, menyinari meja panjang yang telah tertata rapi dengan piring-piring keramik bersih dan hidangan lezat yang mengundang selera. Aroma masakan rumah yang harum—tumis sayuran segar, sup hangat, dan lauk pauk yang menggugah selera—tercium memenuhi ruangan, namun bagi Casandra, keindahan dan kehangatan itu justru terasa seperti cemoohan yang tajam yang menusuk hatinya yang penuh rasa iri dan dengki. Casandra duduk di kursi roda yang diletakkan di dekat ujung meja, tubuhnya yang kurus kering terasa begitu tenggelam di antara bantal-bantal penyangga. Pakaian yang dikenakannya terasa longgar, seolah-olah tidak lagi memiliki tubuh yang cukup untuk mengisinya. Wajahnya yang pucat pasi tanpa semburat merah muda, dengan tulang pipi yang menonjol tajam dan bibir yang kering kerontang, kontras sekali dengan Rina yang duduk di sisi lain meja, tepatnya di samping Rendra. Mata Casandra bergerak perlahan, seolah te

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 91

    Suara tangis yang tertahan, pilu namun terdengar sengaja dikeraskan, menggema dari balik pintu kamar tamu yang kini menjadi tempat tinggal Casandra. Di lorong rumah yang luas dan tenang itu, Rendra berdiri tegak dengan tangan yang terangkat hendak mengetuk, sementara di sampingnya Rina berdiri diam dengan senyum tenang yang terukir di bibirnya. Hati Rina sama sekali tidak merasa terganggu—ia sudah sangat paham betul pola pikir dan kelakuan Casandra; setiap isak tangis itu hanyalah sandiwara yang disusun rapi untuk memancing perhatian dan rasa iba, terlebih lagi dari Rendra. “Ijinkan aku berbicara padanya sebentar, Rin,” ucap Rendra dengan nada rendah, berusaha menyembunyikan rasa tidak tenang yang sesekali muncul karena kebiasaan lamanya. Rina menoleh, menatap suaminya dengan pandangan yang penuh pengertian namun tegas, lalu mengangguk lembut. “Silakan, Rendra. Aku tidak melarangmu. Hanya saja, hati-hati... jangan sampai terhanyut lagi dalam cerita yang mungkin tak sepenuhnya juju

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 88

    Suasana di ruang tengah rumah Rendra terasa begitu pekat, dipenuhi kebisuan yang berat namun sarat makna. Rendra masih menggenggam erat gawai di tangannya, seolah takut jika ia melepaskannya, kebenaran yang terpampang nyata lewat foto itu akan lenyap begitu saja. Foto itu menampilkan wajah Casandra yang tak lagi bercahaya, tak lagi berhias keangkuhan atau kepura-puraan yang cerdik. Yang terlihat hanyalah sosok manusia yang terperangkap dalam kehancuran fisik yang luar biasa—tulang belulang terlihat jelas di balik kulit yang kering dan kusam, kepala yang gundul tak berpenutup, dan sorot mata yang dulunya tajam kini redup bagai lilin yang hampir habis. Pesan dokter yang menyertai foto itu terngiang kembali di benaknya, menusuk-nusuk kalbu: “Kondisi pasien sangat kritis. Estimasi waktu yang tersisa paling lama satu tahun, dan itu pun dengan perawatan maksimal tanpa jaminan perbaikan.” Belum sempat Rendra mencerna seluruh rasa kaget yang melanda jiwanya, pintu depan terbuka perl

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 89

    Suara roda kursi roda bergesekan halus dengan lantai keramik berkilau di rumah besar itu, menciptakan irama yang terasa begitu menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya. Di depan sana, Rendra berjalan tegak namun dengan gerakan yang penuh perhitungan, tangannya yang kokoh memegang erat sandaran kursi roda tempat Casandra duduk. Wajah Rendra terlihat tenang, namun jauh di dalam matanya yang tajam, tersembunyi perasaan bercampur aduk—antara rasa iba yang dipaksakan dan ketegasan yang telah lama dipendam. Casandra duduk di sana dengan tubuh yang terlihat begitu ringkih, wajahnya pucat pasi, tulang-tulang pipinya menonjol jelas karena kurus yang luar biasa akibat diet ekstrem dan perlakuan medis yang kini menimpanya sungguh-sungguh. Namun, di balik kelopak matanya yang sering terpejam lemah, ada kilatan lain yang tak mudah terlihat—kilatan kebencian, kecemburuan yang meluap, dan ambisi yang tak kunjung padam meski situasinya sudah berbalik seratus delapan puluh derajat. R

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 4

    Keesokan harinya Dimas hanya diam saja duduk di depan rumah. Seperti biasa, Rina memasak dulu sebelum berangkat kerja. Ia bergerak ke sana kemari di dapur, menyiapkan makanan seadanya, namun tidak sekalipun ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, Rina meletakkan kunci

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 3

    Tekad Rina makin kuat. Ia melihat perubahan kecil. Dimas mulai gelisah. Ia tidak lagi bisa meminta uang seenaknya, tidak lagi bisa menuntut layanan batin kalau ia sendiri tidak memberi apa-apa, dan tidak lagi bisa melempar semua kesalahan begitu saja. Harga diri palsunya yang selama ini ia bangu

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 6

    Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 5

    Rina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah. Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun. Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran. Semua barang tertata dengan bai

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status