Share

Bab 82

Penulis: Bilkis29
last update Tanggal publikasi: 2026-08-22 13:57:48

Langit sore itu tampak kelabu, seolah turut merenungi suasana di ruang rawat inap yang selalu terlihat sepi namun penuh kepura-puraan. Di atas ranjang empuk itu, Casandra berbaring dengan wajah yang selalu ia usahakan terlihat pucat dan lemah, rambut pendek yang ia biarkan terlihat tipis seolah menjadi bukti penderitaan yang tak kunjung usai. Tangannya yang terlihat kurus perlahan meraih ponsel di samping bantal, namun seketika ia meletakkannya kembali dengan wajah bertanya-tanya ketika menya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 83

    Ruangan rawat inap itu kembali menjadi tempat di mana dua dunia saling bertabrakan—satu dunia penuh kepura-puraan yang disusun dengan sangat rapi, dan satu dunia lain yang sedang perlahan-lahan menyusun kepingan kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik tirai kebohongan. Sore itu, Rendra duduk di tepi ranjang Casandra, wajahnya selalu terlihat berat dan murung, seolah beban yang ia pikul sungguh tak sanggup lagi ia tanggung. Padahal di dalam hatinya, ia tenang, ia tahu setiap kata yang keluar dari mulutnya hanyalah bagian dari rencana yang telah disepakati bersama Rina dan Bu Widya. Casandra berbaring di sana, rambut pendek yang ia biarkan terlihat tipis, wajah yang setiap pagi ia rias agar tampak pucat dan lemah. Matanya menatap Rendra dengan tatapan yang sengaja dibuat penuh simpati dan rasa kasihan, seolah dialah satu-satunya orang yang benar-benar memahami penderitaan Rendra di tengah dunia yang tak lagi peduli padanya. "Kamu selalu terlihat lelah akhir-akhir ini, Rendra,"

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 82

    Langit sore itu tampak kelabu, seolah turut merenungi suasana di ruang rawat inap yang selalu terlihat sepi namun penuh kepura-puraan. Di atas ranjang empuk itu, Casandra berbaring dengan wajah yang selalu ia usahakan terlihat pucat dan lemah, rambut pendek yang ia biarkan terlihat tipis seolah menjadi bukti penderitaan yang tak kunjung usai. Tangannya yang terlihat kurus perlahan meraih ponsel di samping bantal, namun seketika ia meletakkannya kembali dengan wajah bertanya-tanya ketika menyadari sudah tiga hari berlalu dan tak ada satu pun pesan maupun kunjungan dari Rina. "Rina... di mana dia?" gumamnya pelan, namun cukup terdengar jelas oleh Rendra yang duduk di tepi ranjang sambil menatap jendela dengan tatapan yang sengaja dibuat murung dan sedih. "Sudah berapa lama dia tidak datang ke sini? Bahkan tak ada kabar sedikit pun. Padahal dulu dia selalu begitu... begitu perhatian." Rendra perlahan menoleh ke arahnya, menghela napas panjang dengan wajah yang tampak berat, seolah

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 81

    Setelah semuanya terungkap—bukti dari Suster Murni, catatan obat-obatan palsu, rambut yang dicukur sendiri, dan rekam medis yang tidak jelas—ketiganya duduk berkeliling di ruang tengah, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak. Rendra menggenggam buku catatan itu erat-erat, buku yang berisi semua kebohongan yang selama ini membelenggu perasaannya. Wajahnya tidak lagi murung karena kasihan, melainkan tegas, penuh kesadaran yang baru saja terbangun. "Lebih baik kita langsung pergi ke sana dan membongkar semuanya!" seru Rendra, suaranya bergetar menahan amarah. "Lihat saja wajahnya saat tahu semua rahasianya sudah terbongkar!" Namun Bu Widya menggeleng pelan, lalu menatap anaknya dengan tatapan tenang namun tajam. "Tunggu dulu, Nak. Kalau kita langsung menghadapinya sekarang, dia hanya akan menyusun kebohongan baru. Dia akan semakin berhati-hati, menutup jejaknya, dan mungkin menyakiti diri sendiri supaya terlihat seperti kita yang kejam. Itu justru yang dia inginkan—dram

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 80

    Malam itu, setelah Rendra dan Rina saling bercerita habis-habisan tentang segala hal yang berkaitan dengan Casandra—mulai dari masa lalu di Amerika, video-call yang hampir menghancurkan rumah tangga mereka, hingga permohonan Casandra agar Rendra menemaninya menjalani kemoterapi—suasana di kamar tidur mereka akhirnya terasa lebih damai. Tidak ada lagi rahasia yang tersembunyi di balik senyum, tidak ada lagi rasa bersalah yang dipendam sendirian. Rendra merasa beban berat yang selama ini menekan dadanya perlahan terangkat, digantikan oleh rasa syukur karena istrinya mau mendengarkan dan memahami, walau tentu saja rasa sakit itu belum hilang sepenuhnya. Namun, di ruang tengah rumah itu, Ibu Widya duduk sendirian di kursi kayu jati kesayangannya, cahaya lampu yang remang-remang menyorot wajahnya yang tampak serius. Ia tidak bisa tidur. Sebagai seorang ibu yang telah melihat banyak peristiwa dalam hidup, ia punya insting yang jarang sekali salah. Dan insting itu berteriak keras: Casand

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 78

    Langkah kaki Rendra terasa berat saat melangkah masuk ke dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat paling tenang dan damai baginya. Pintu utama tertutup pelan di belakang punggungnya, menyisakan suara tawa dan keramaian dari perayaan tujuh bulanan yang baru saja ia tinggalkan. Udara di dalam rumah terasa hangat, dipenuhi aroma harum bunga dan masakan yang masih tersisa, namun hati Rendra terasa dingin dan sesak, seolah ada batu besar yang menumpuk di sana. Ia berjalan perlahan menuju balkon lantai atas, tempat yang biasanya menjadi tempat favoritnya untuk melepas lelah setelah seharian sibuk. Langit sore itu tampak indah, berwarna jingga keunguan yang memanjakan mata, namun pandangan mata Rendra tak mampu menikmati keindahan itu. Ia bersandar pada pagar balkon, menatap kosong ke arah halaman rumah yang masih tampak ramai, namun pikirannya melayang jauh—terbawa kembali pada kata-kata yang baru saja diucapkan Casandra kepadanya, dengan suara lemah dan mata yang basah oleh air m

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 79

    Kebenaran di Balik Wajah PucatMalam itu, setelah mereka berdua saling berbagi isi hati dan tidak ada lagi rahasia yang tersembunyi di antara keduanya, suasana hati Rendra jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Rina duduk di sampingnya sambil mengusap lembut punggung tangan suaminya, menatapnya dengan tatapan penuh pengertian dan kasih sayang yang begitu dalam.“Besok pagi, mari kita pergi menjenguknya bersama-sama, Rendra,” ucap Rina dengan suara lembut namun tegas, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan. “Aku tidak ingin kau menghadapi hal ini sendirian. Apa pun yang terjadi, kita adalah satu. Kita hadapi semuanya berdua.”Rendra menatap wajah istrinya yang bercahaya itu, lalu mengangguk perlahan. Rasa syukur kembali memenuhi dadanya—bagaimana ia bisa begitu beruntung memiliki istri yang begitu lembut hatinya namun juga begitu kuat pendiriannya? Ia mencium punggung tangan Rina dengan penuh rasa terima kasih. “Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah mengerti. Aku tidak tahu

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 7

    Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya. Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dala

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 6

    Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 5

    Rina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah. Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun. Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran. Semua barang tertata dengan bai

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 4

    Keesokan harinya Dimas hanya diam saja duduk di depan rumah. Seperti biasa, Rina memasak dulu sebelum berangkat kerja. Ia bergerak ke sana kemari di dapur, menyiapkan makanan seadanya, namun tidak sekalipun ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, Rina meletakkan kunci

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status