LOGINHari ulang tahun pernikahan mereka akhirnya tiba. Pesta yang diadakan di kediaman mewah milik mertua Adelia itu sangat megah. Semua persiapan dilakukan dengan sangat teliti dan sempurna, sehingga Adelia terkejut melihat betapa besar dan mewahnya pesta tersebut.
"Benarkah ini, Kak Adel? Kakak terlihat sangat berbeda, seperti artis Hollywood!" seru Amelia dengan kagum. Sejak siang hingga sore, Adelia sibuk dengan persiapan Make-up. Samuel telah menyewakan jasa seorang Make-Up Artist (MUA) profesional untuk memastikan Adelia tampil sempurna dan mempesona di hari istimewanya. Adelia tersenyum malu-malu saat mendengar pujian dari adiknya, Amelia. Dia tidak terbiasa menerima pujian seperti itu, sehingga dia merasa sedikit tidak nyaman. "Kamu terlalu berlebihan, Mel. Aku tidak secantik itu." Adelia merasa Sangat canggung dengan pujian tersebut. Dia jasi teringat hari pernikahannya dulu, di mana dirinya hanya memakai baju dress sederhana dan make-up tipis, hanya untuk sekedar foto. Dia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari akan menjadi pusat perhatian dengan penampilan yang mewah seperti ini. Tapi Amelia tidak mau diam, dia terus memuji Adelia dengan antusias. "Tidak, Kak Adel, kamu benar-benar terlihat cantik! Aku tidak pernah melihat kamu seperti ini sebelumnya." Adelia merasa sedikit tidak nyaman dengan pujian yang berlebihan, tapi dia juga merasa bahagia karena adiknya sangat suka melihat penampilannya. Tak lama setelah itu, seorang pelayan memasuki kamar Adelia, "Nyonya meminta anda untuk segera turun ke ruang pesta!" Adelia mengangguk, seketika jantungnya jadi berdebar-debar cepat. Sekali lagi ia menatap di cermin, memastikan penampilannya sempurna. Setelah mengenakan sepatu hak tinggi 5 cm yang elegan, ia melangkah keluar dari kamar, senyumnya penuh percaya diri. Sesampainya di ruang pesta, Adelia merasa gugup sekali. Matanya langsung diserbu oleh pemandangan ramai para tamu terhormat yang berdiri memenuhi ruangan pesta. "Adelia! Datang ke sini sebentar!" tiba-tiba Devina memanggilnya dari kejauhan, dengan nada yang cukup keras, menarik perhatian beberapa tamu di sekitarnya. Jantung Adelia berdegup cepat. Ia takut akan dimarahi mertuanya, namun wajah ibu mertuanya tampak berbeda hari ini, Devina memanggil Adelia dengan senyum ramah. Adelia melangkah menuju ibu mertuanya, ia berjalan menunduk, seakan-akan setiap mata di ruangan itu sedang tertuju padanya. Saat tiba di sisi ibu mertuanya, Adelia menyapa dengan senyum. "Selamat malam, Ma." Devina tersenyum tipis, lalu dengan anggun ia mengulurkan tangan dan menggandeng lengan Adelia. "Ada tamu penting yang ingin ibu perkenalkan sama kamu," ujar Devina, suara yang terkesan penuh arahan. Adelia merasa gugup, tapi mencoba untuk tetap tenang. "Baiklah, Ma," jawabnya singkat. Ibu mertuanya memimpin langkah Adelia menuju sudut ruang dekat panggung pesta. Begitu mendekat, ia melihat Samuel, kak Selly, dan bapak mertuanya sedang berbincang. Namun, ada satu pemandangan yang menarik perhatiannya—seorang wanita cantik yang penampilannya tak kalah mempesona seperti dirinya. Wanita itu sedang bergandengan tangan dengan Samuel, suaminya, dan itu membuat hati Adelia terasa berat. ‘Siapa wanita itu?’ tanya Adelia dalam hati, namun tak berani menyuarakannya. Devina dengan sengaja membawanya untuk diperkenalkan kepada Bella. "Bella, perkenalkan, ini Adelia, istri Samuel," seru Devina dengan senyum yang terasa tidak tulus. Bella langsung tersenyum ramah, seolah tak tahu apa yang sedang terjadi diantara mereka. "Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, istri Samuel," ujarnya dengan nada manis. Adelia membalas dengan senyum tipis, meski hatinya hancur. Ia merasa dunia disekitar sedang runtuh. Bagaimana bisa mertuanya membiarkan wanita lain bergandengan tangannya begitu mesra dengan suaminya? "Selama kamu bersikap baik kepada Bella, aku tidak akan menceraikan mu," kata Samuel tiba-tiba, nadanya penuh penekanan. Kemudian, Samuel kembali memandang wajah Bella dengan penuh kasih sayang. Ia mengangkat satu tangan wanita itu dan menciumnya dengan lembut, penuh kehangAtan, tanpa memperdulikan kesedihan yang terukir jelas di wajah istrinya, Adelia. "Bella adalah wanita yang kucintai, dan hari ini akan menjadi pesta pertunangan kami," kata Samuel dengan suara yang penuh kepercayaan diri. Adelia menatap tajam Bella, hatinya terasa sakit dan pilu. Dia tidak bisa percaya bahwa suaminya bisa dengan mudah mengumumkan pertunangannya dengan wanita lain di depannya. Senyum lebar yang terukir di wajah Bella membuat hati Adelia terasa ditusuk ribuan jarum. Bella menatap Samuel penuh kekaguman, seolah-olah tidak ada yang salah dengan cinta yang mereka perlihatkan di depan Adelia. "Tega sekali kamu mas! Di hari ulang tahun pernikahan kita, kamu malah bertunangan dengan wanita lain!" suara Adelia bergetar dan air mata mengalir di pipinya.“Bangun… Adelia…”Sebuah suara menembus kegelapan dipikirkan Adelia. Suara yang tak asing. Adelia merasa tubuhnya ringan, seperti sedang mengambang di antara dingin dan sunyi. Suara aliran air mengalun di telinganya.“Adelia, bangun! Sekarang…” suara yang tak asing, makin mendesaknya.Adelia mengerutkan kening, mencoba menggerakkan jarinya. Terasa berat dan dingin.Kelopak matanya bergetar, kelopak matanya mulai menyesuaikan cahaya yang merembes masuk. Dan tepat saat kesadarannya muncul, ia membuka mata dan melihat wajah Satrio terlalu dekat.Napasnya tersentak. Dan Refleks.BUK!“Augh—!”Pukulan itu mendarat tepat di pipi Satrio. Kepalanya terhuyung ke samping, nyaris kehilangan keseimbangan.“Adelia, tunggu!” serunya kaget.Adelia terengah-engah, kedua tangannya mengepal erat, ia merangkak mundur dengan napas yang terputus-putus. Dadanya naik turun dengan cepat, matanya menyapu sekitar dengan kecemasan, ia melihat hari masih siang, tanah basah yang lengket di bawah kakinya, dan hamp
“POSISI AMAN!”“TIM DUA, MASUK DARI SISI KANAN!”Pintu utama didobrak dengan satu hentakan keras.BRAK!“POLISI! SEMUA ANGKAT TANGAN!”Marlan membeku. Wajah yang tadinya penuh amarah kini kosong. Nadia sempat menjerit, tapi langsung menjatuhkan diri ke lantai. Doni refleks mengangkat tangan, lututnya gemetar tak mampu menyangga tubuhnya sendiri.Di belakang barisan polisi, Samuel dan Jusuf berdiri kaku. Napasnya tertahan sejak melihat kondisi tempat penyekapan Adelia.“Adelia…” gumam Samuel lirih. Kedua matanya terus menatap pintu masuk, ia pun melangkah maju.“Adelia!” serunya lebih keras, sambil mencoba menerobos barisan petugas didepannya,“Pak, mohon mundur. Situasi masih berbahaya.” Seorang polisi langsung menghadangnya dengan tegas.“Tapi istriku ada didalam!” bentak Samuel, emosinya pecah. Ia mendorong tangan petugas itu. “Kalian nggak tahu apa yang dia alami di dalam sana!”“Pak! Mohon tenang dulu. Kami masih amankan lokasi. Tolong jangan masuk sebelum kami pastikan aman.”Tap
“BERHENTI!”Marlan langsung berteriak. Matanya membesar menatap Satrio dan Adelia. nalurinya menghantam lebih cepat daripada pikirannya.Satrio tak menoleh. Langkahnya justru dipercepat.“Kita ditipu!” Marlan berteriak lagi, suaranya dipenuhi amarah. “Kejar mereka!”Devina membeku.“Apa…? Siapa yang menipu!” suaranya tercekat. Wajahnya pucat seketika, tubuhnya mundur setengah langkah."Putramu, nyonya!" teriak Nadia kesal.“Tidak mungkin… itu mustahil.”“MEREKA AKTING! CEPAT KEJAR MEREKA!” Marlan berlari ingin menangkap. Doni dan Nadia ikut bergerak.Devina menoleh ke arah gelapnya jalanan didepan, melihat punggung Satrio yang semakin menjauh dengan tubuh Adelia di pundaknya. Matanya membelalak, dadanya sesak, seolah kenyataan baru menghantamnya tanpa ampun.“Turunkan aku!” seru Adelia panik, suaranya pecah di antara derap langkah Satrio.“Kita lagi dikejar!""Turunkan aku, aku masih bisa lari!”Satrio tak menjawab. Rahangnya mengeras. Langkahnya justru semakin cepat, menembus gelapny
"Hahaha..."Adelia tertawa getir, dipaksakan.“Apa lagi yang tersisa? Kalian sudah ambil semuanya!" katanya frustasi.Devina tersenyum puas. “Bagus. Kalau tak ada yang kau ucapkan. Tak perlu drama.”Satrio mendekat, berjongkok di hadapan Adelia. Dari jarak sedekat itu, wajahnya terlihat kejam. Tapi hanya sepersekian detik, saat mata mereka bertemu, topeng itu retak.Satrio langsung berbisik. “Dengarkan aku baik-baik. Jangan bersuara. Jangan percaya siapa pun selain aku.”Adelia tertegun.Satrio berdiri, sengaja meraih pisau di atas meja dan menghantamkannya keras ke dinding disamping Adelia.CLANG!Suaranya sengaja dibuat gaduh, Devina pun hampir loncat saat mendengarnya.“Kau harus mati malam ini!” ucap Satrio lantang, seolah sedang memainkan peran paling kejam dalam hidupnya.Ia mengarahkannya ke leher Adelia. Adelia mendesis ketakutan.Devina merinding melihat tindakan putra sulungnya. Bukan karena iba—melainkan karena pemandangan itu terlalu dekat, terlalu ekstrem.“Hmm,” gumam De
“Di mana wanita yang kalian sekap? Aku harus segera menghabisinya… sebelum polisi datang." kata Satrio, tanpa memberi kesempatan Marlan berpikir panjang, ia tak ingin membuang waktu.Mendengar itu, wajah Marlan menegang, Nadia tercengang, satu tangan menutup mulutnya, matanya membelalak. Wajah Doni berubah pucat dan spontan mundur setengah langkah, seolah tidak siap mendengar kata menghabisi.Mereka bertiga saling pandang, shock—karena sejak awal tugas mereka hanya menculik, bukan untuk membunuh.Sejak awal Instruksinya jelas. Tidak ada pembunuhan. Namun di tengah kepanikan itu, Devina justru menyeringai puas, wajahnya terlihat lega karena mengira putranya benar-benar sejalan dengan rencananya.“Tunggu apa lagi! Jangan buang waktu,” kata Devina, nada suaranya dingin. “Cepat bunuh Adelia. Biar semuanya selesai malam ini.”Marlan tak langsung bergerak, ia terdiam sejenak. Alisnya berkerut, tatapannya beralih dari Devina ke pria yang berdiri tak jauh darinya—Satrio.“Sebentar,” ucap Marl
“Gang ini sempit sekali…” Devina menggerutu pelan, menyingkirkan sarang laba-laba dari pundaknya.“Memang jalurnya cuma ini, Nyonya,” sahut Doni tanpa menoleh. Doni berjalan di depan, senter kecil di tangannya memantul-mantul di atas jalan tanah yang becek. Gang itu memang sempit—cukup untuk dua orang berdiri berdampingan, tapi gelapnya seperti menelan cahaya senter.“Tempatnya sengaja jauh dari pemukiman, kata bang Marlan biar aman nggak ada yang curiga.” lanjut Doni, sambil terus berjalan dalam gelap.Devina menutup hidungnya dengan syal. Bau lembap, karat, dan sampah menusuk masuk. Tentu saja ia tak pernah mau datang ke tempat seperti ini… kalau bukan karena dendamnya pada Adelia.Dalam hati, ia mendesis, “Perempuan sialan… akhirnya aku bisa memastikan sendiri kau tidak akan bisa keluar hidup-hidup. Kau harus membayar semuanya dengan nyawamu.”Dibelakang mereka, Satrio terus mengikuti, cahaya senter sesekali memperlihatkan wajahnya yang menegang, rahangnya mengeras. Ia tidak boleh







