Share

5. Rasa di Balik Lensa

Author: Sandra Dhee
last update Huling Na-update: 2025-10-11 18:36:33

“Kau datang tepat waktu,” kata Ethan sambil mendekat. “Kupikir kau mungkin berubah pikiran.”

Rose mengerjap pelan. “Mungkin. Hampir saja. Tapi pagi ini tiba-tiba rasanya terlalu tenang untuk dihabiskan sendirian.”

Ethan menatapnya sejenak, seolah mempelajari wajahnya lewat lensa yang tak kasatmata. “Kau terlihat berbeda dari semalam.”

“Berbeda bagaimana?”

“Lebih… segar dan bersemangat,” ujarnya sambil tersenyum samar. “Mungkin karena sinar matahari, atau mungkin karena kau akhirnya melepaskan sesuatu.”

Rose tak menjawab. Ia hanya berjalan ke arah dinding yang penuh dengan foto-foto hitam putih maupun berwarna. Potret lanskap, manusia, dan beberapa wajah yang tampak terlalu jujur untuk disebut ‘pose’.

“Fotomu terasa jujur,” katanya pelan. “Tidak banyak yang berani memotret seperti ini. Kebanyakan orang ingin terlihat sempurna.”

“Kesempurnaan membosankan,” jawab Ethan ringan. “Aku lebih suka kejujuran, meskipun bentuknya retak.”

Kata-kata itu membuat Rose menoleh. Tatapan mereka bertemu, hanya sesaat, tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka menegang. Rose cepat-cepat segera mengalihkan pandangan.

“Jadi, kau ingin memotretku?” tanyanya, mencoba terdengar santai.

Ethan mengangguk, tapi nada suaranya sedikit lebih dalam. “Hanya jika kau mengizinkan. Aku tidak memaksa.”

Rose menatapnya, menimbang sesuatu. “Untuk apa kalau aku boleh tahu?"

Ethan menurunkan kameranya dari leher, meletakkannya di meja kayu. “Untuk proyek kecilku. Pameran yang aku katakan semalam, kau ingat? Potret perempuan dalam versi paling jujur mereka. Artinya... tanpa topeng sosial atau tanpa kepura-puraan. Aku sedang mencarinya, dan entah kenapa… ketika melihatmu semalam, aku merasa kau langsung cocok.”

Rose menatap lantai. “Itu terdengar seperti undangan untuk membuka luka.”

“Kadang luka justru tempat cahaya masuk,” jawab Ethan lembut.

Ucapan itu menusuk lebih dalam dari yang ia duga. Rose terdiam cukup lama hingga Ethan menambahkan, “Kita bisa bicara dulu, kalau kau mau. Tidak harus langsung berpose.”

Ia tersenyum sedikit, menatap Ethan yang kini tengah menyiapkan dua cangkir kopi. Ia bergerak luwes, natural, dengan cara yang membuat ruangan terasa lebih hangat. Rose memperhatikannya tanpa sadar. Ada sesuatu dalam dirinya. Dari caranya berbicara dan caranya diam, yang berbeda dari pria-pria yang biasa ia temui.

Ketika Ethan menyerahkan secangkir kopi, jari mereka sempat bersentuhan. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat dada Rose terasa aneh.

Ia meneguk kopi pelan. “Kau selalu membuat kopi untuk tamu?”

“Tidak,” jawab Ethan cepat, matanya menatap lurus padanya. “Hanya untuk orang yang membuatku penasaran.”

Rose nyaris tersedak. “Kau suka berbicara seperti itu pada semua wanita? Menggoda mereka?”

Ethan tersenyum kecil. “Tidak juga. Tapi aku tahu kau bukan wanita yang mudah digoda.”

Ia menatapnya seperti sedang membaca buku terbuka. Rose memalingkan wajah, menatap foto-foto di dinding.

“Mungkin aku hanya terlihat menarik karena luka yang tidak bisa kulihat sendiri,” gumamnya.

“Itu sebabnya aku ingin memotretmu,” jawab Ethan, pelan tapi tegas. “Agar kau bisa melihat bagaimana dunia melihatmu. Bukan seperti yang Noah lihat, tapi seperti yang sebenarnya.”

Nama itu membuat Rose menegang.

“Kau tahu tentang Noah?” tanyanya hati-hati.

Ethan mengangguk. “Sulit untuk tidak tahu. Ia pria berpengaruh di kota ini. Dan,” ia berhenti sejenak, menatapnya jujur, “aku tahu dia jarang di rumah karena kesibukannya.”

Rose menegakkan tubuh. Ada bagian dari dirinya yang ingin menyangkal, tapi apa gunanya? Semua orang sudah tahu. “Sepertinya semua orang tahu lebih banyak tentang pernikahanku dibanding aku sendiri.”

Ethan tak menimpali. Ia hanya duduk di kursi tinggi di depan meja kayu, menatap Rose dengan tenang. Tatapannya bukan simpati, melainkan lebih seperti pemahaman yang diam.

“Kadang kita tidak perlu tahu semuanya,” katanya akhirnya. “Cukup tahu bagian yang menyakitkan untuk berhenti.”

Rose tersenyum miring. “Ngomong-ngomong, kau terdengar lebih santai dan ramah daripada semalam."

“Ya,” jawab Ethan singkat. “Karena semalam aku sedang bekerja. Sekarang... Aku berada di duniaku sendiri."

Hening sejenak. Musik lembut dari speaker kecil di pojok ruangan mengalun pelan, dan terdengar lagu jazz tua yang menenangkan. Rose menatap ke arah kamera di meja, lalu kembali ke mata Ethan.

“Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. “Kau boleh memotretku. Tapi hanya satu sesi.”

Ethan menegakkan tubuh, matanya sedikit membulat. “Kau yakin?”

Rose mengangguk. “Aku ingin tahu… apa yang akan kau lihat.”

Senyum Ethan muncul lagi, kali ini lebih lembut dan dalam. Ia bangkit perlahan, mengambil kameranya, lalu berjalan mendekat. Jarak di antara mereka kini hanya beberapa langkah.

“Kalau begitu,” katanya dengan nada rendah, “lihatlah ke arahku, Rose. Bukan sebagai istri siapa pun. Tapi sebagai dirimu sendiri.”

Rose menatap lensa kamera yang kini terarah padanya. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak berusaha tersenyum.

Cahaya jatuh lembut di wajahnya menyentuh garis matanya yang lelah, bibirnya yang tegar, dan tatapan kosong yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Sebuah kejujuran.

Klik. Suara rana terdengar, membekukan momen itu selamanya.

Ethan menurunkan kamera, tapi tidak berhenti menatap.

Rose menghela napas, lalu tersenyum samar. “Apa kau mendapat apa yang kau cari?”

Ethan menatap layar kameranya sebentar, lalu menatap Rose lagi.

“Ya,” katanya pelan. “Tapi aku rasa ini baru permulaan.”

"Maksudmu?"

Ethan mendekat, kali ini jarak mereka hanya beberapa senti saja. Tubuh Rose membeku seketika. Dia merasakan nafas maskulin Ethan menyapu wajahnya, namun entah mengapa dia justru merasa nyaman dan tak terganggu sama sekali.

Ethan mengulurkan tangan, merapikan anak rambut Rose yang ada di pipi. Saat jari Ethan menyentuh wajahnya, Rose menahan nafas sesaat.

Mereka saling menatap. Ada sesuatu disana. Sesuatu yang lebih dalam dari sekedar penasaran atau profesionalisme kerja.

Lalu, sebelum Rose merasa kehilangan akal, Ethan menjauhkan diri. Ia mundur beberapa langkah ke tempatnya semula dan mulai mengarahkan kamera lagi.

"Kita ambil lagi beberapa gambar. Aku ingin melihat dirimu dari berbagai sisi."

Klik. Klik.

Beberapa foto diambil tanpa jeda. Ethan bergerak ke kanan dan ke kiri mengambil sisi paling jujur dari Rose. Dan Rose, hanya diam di tempatnya. Sesekali ia menatap ke arah jendela, memejamkan mata ketika menarik nafas panjang, lalu kembali menatap ke arah Ethan.

Dan setelah beberapa foto berhasil ia dapatkan, Ethan akhirnya tersenyum dan menjauh dari kameranya.

"Sempurna..." puji Ethan.

"Apa hasilnya bagus?"

"Untuk wanita secantik kamu, tak pernah ada kata jelek dalam setiap fotonya."

"Ayolah. Aku tak butuh gombalan seperti itu..."

Rose kali ini mendekati Ethan. Ia mencoba melihat hasil foto di kamera pria itu, dan membuat jarak mereka semakin dekat. Rambut panjang Rose menyentuh wajah Ethan dan kali ini berhasil membuat pria itu menegang.

"Wow... Aku tak pernah difoto seperti ini sebelumnya," gumam Rose penuh kekaguman.

Ethan tersenyum bangga mendengarnya, "Kau suka?"

"Ya. Suka sekali. Ini sedikit berbeda, tapi bagus..." jawab Rose sambil menoleh ke arah Ethan. Gerakan tiba-tiba itu membuat hidung mereka bersentuhan. Rose baru sadar jika jarak mereka terlalu dekat sehingga membuatnya tersentak dan hampir terjatuh ke belakang.

Dengan sigap lengan kanan Ethan menahan pinggang Rose. Tubuh mereka pun menempel. Mata mereka saling menatap. Dan nafas mereka bersahutan.

Setelah saling tatap dalam beberapa detik, waktu di sekitar mereka pun berhenti seketika. Dan tanpa ada kata yang terucap, bibir mereka pun bertemu. Saling berpagutan dengan lembut.

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kekasih Gelap Sang Istri Milyarder   31. Tamu Asing

    Siang itu rumah kediaman Noah terasa sunyi namun tidak benar-benar tenang.Rose duduk di ruang santai dekat jendela besar dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya. Ia membaca tanpa benar-benar menyerap kata demi kata. Pikirannya melayang, terjebak di antara ingatan tentang Ethan, artikel anonim itu, pertengkaran tadi pagi, dan rasa hampa yang tak kunjung pergi.Dari kejauhan, terdengar suara pelayan berlalu-lalang di dapur. Bunyi peralatan makan beradu lembut, aroma sup yang baru dimasak menyebar tipis di udara. Semuanya tampak normal untuk kehidupan yang sedang runtuh pelan-pelan.Sementara di luar rumah, Cliff berdiri tegak seperti patung. Tubuh besarnya, jas hitam, dan tatapan waspada membuatnya lebih mirip penjaga penjara daripada pengawal. Sejak kejadian semalam, kehadirannya menjadi pengingat bisu bahwa Rose tidak lagi hidup dengan bebas.Rose membalik halaman buku, ketika pintu depan terbuka.Rose menoleh, sedikit terkejut. Tidak ada tamu yang biasanya datang tanpa pemberitahu

  • Kekasih Gelap Sang Istri Milyarder   30. Aku Takkan Menceraikanmu

    Pagi itu, ruang makan terasa terlalu besar untuk diisi oleh dua orang yang saling membenci dalam diam.Rose duduk di kursi makan, menatap piring di hadapannya tanpa selera. Roti panggang yang masih hangat mengeluarkan uap tipis, aroma kopi memenuhi udara, namun semua itu terasa hambar baginya.Noah masuk beberapa menit kemudian. Ia rapi, dingin, dan sepenuhnya terkendali. Seolah kejadian semalam hanyalah gangguan kecil yang tak layak diingat. Ia duduk di seberang Rose, membuka koran digital di tabletnya, lalu menuang kopi dengan gerakan tenang.Tak ada sapaan. Tak ada tatapan.Rose menahan napas. Setiap detik berlalu seperti tarikan pisau yang lambat. Ia tahu, jika ia diam saja, semuanya akan kembali seperti biasa. Penuh pengekangan, pengabaian, dan ketakutan yang dibungkus kemewahan. Ia tidak mau lagi hidup seperti itu.“Noah,” ucap Rose akhirnya. Suaranya serak, tapi ada sesuatu yang baru di sana. Sebuah ketegasan yang selama ini terkubur.Noah tidak menoleh. Bahkan bersikap seolah

  • Kekasih Gelap Sang Istri Milyarder   29. Siapa Penulis Berita Itu?

    "Aaarrgghh!!!" teriak Rose kesal sambil membuang bantal sofa ke lantai.Ia duduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ingin menangis, berteriak, namun semua itu terasa sia-sia. Apapun yang ia lakukan, Noah takkan menarik keputusannya. Mulai besok dia akan diikuti oleh bodyguard yang membuatnya merasa seperti seorang tahanan.Ini gara-gara berita itu. Batin Rose. Ia sadar jika seseorang sudah menciduknya saat bersama Ethan dan menyebarkan gosip di media.Rose segera mengambil ponselnya dan mencari artikel yang dibaca oleh Noah. Tak butuh waktu lama hingga ia menemukan apa yang ia cari.Ini dia, Seorang Ikon Fashion, Istri CEO Terkenal Grup Ferdinand, Diduga Sedang Dekat dengan Fotografer Misterius?Rose membaca artikel itu dengan lengkap. Tidak ada tanggal dan tempat kejadian. Namanya pun tak disebutkan. Tapi siapapun tahu, istri CEO grup Ferdinand yang juga seorang model adalah dirinya. Olivia Rose.Dan yang menarik adalah... Siapa orang yang menyebarkan gosip itu? Dimana mereka

  • Kekasih Gelap Sang Istri Milyarder   28. Penjara Berjalan

    Makan malam itu berlangsung dalam sunyi yang menyesakkan.Meja panjang dengan hidangan mewah terasa seperti panggung sandiwara yang gagal. Rose duduk di satu sisi, punggungnya tegak namun bahunya tegang. Noah duduk di seberang, memotong makanannya dengan gerakan mekanis, tatapannya sesekali melayang. Bukan pada Rose, melainkan ke layar ponsel yang sejak tadi tak lepas dari genggamannya.Rose mencoba fokus pada piringnya. Ia tahu, sejak kepulangan Noah, udara di rumah itu berubah. Lebih berat dan dingin.Lalu ponsel Noah bergetar.Sekali. Dan sekali lagi.Noah berhenti makan. Rahangnya mengeras. Ia membaca sesuatu di layar, dan dalam hitungan detik, wajahnya berubah. Bukan terkejut. Bukan sedih. Melainkan Marah.Noah berdiri mendadak, kursinya bergeser kasar hingga menimbulkan bunyi memekakkan. Rose terlonjak kecil.“Ada apa?” tanya Rose, refleks.Noah tidak menjawab. Ia melempar ponselnya ke atas meja dalam keadaan layarnya menyala, menampilkan sebuah artikel singkat dari akun anonim.

  • Kekasih Gelap Sang Istri Milyarder   27. Rahasia Yang Tercium

    Pagi itu, saat Rose terbangun di studio Ethan, ia masih merasakan hangatnya kebahagiaan yang belum sempat benar-benar mengendap. Ia bernapas pelan, mengharapkan Ethan masih ada di dekatnya. Namun yang ia temui hanya ranjang kosong di sampingnya, walaupun jejak Ethan masih terasa hangat disana. Mungkin Ethan sedang merapikan peralatan kamera, atau mungkin sedang membuatkan kopi dan sarapan. Tapi ruangan itu terasa terlalu sunyi, nyaris hampa.Rose bangun perlahan, meraih bajunya yang berserakan di lantai dan mulai berpakaian. Saat hendak mengambil tasnya, matanya menangkap sesuatu di bawah meja.Sebuah foto.Ia berlutut, meraihnya dengan hati-hati. Satu detik kemudian, pandangannya membeku.Itu foto dua orang pria. Satu asing bagi Rose, tapi pria lainnya sangat ia kenal.Noah.Lebih muda, dengan senyum yang hanya ia lihat dalam foto-foto lama. Pose tegap, latar tempat yang asing, tapi tatapan itu tidak salah lagi. Rose menggenggam foto itu lebih erat, dadanya mengencang.Bagaimana mung

  • Kekasih Gelap Sang Istri Milyarder   26. Kebohongan Ethan

    Ethan menggulingkan tubuhnya, hingga sepenuhnya berada di atas Rose. Bibirnya terus melumat bibir Rose tanpa henti, tangannya bergerak ke tangan Rose. Menggenggamnya erat sebelum mengangkatnya ke atas.Rose terlentang dalam posisi tangan terangkat. Ia mendesah sambil memejamkan mata saat bibir Ethan bergerak turun ke leher dan dadanya.Dalam pose itu, ia tampak semakin sensual dan menggairahkan. Dadanya membulat sempurna. Ethan menelangkupnya dengan kedua tangan, lalu menghisapnya bergantian."Ssshhh... Ethan..." Rose mendesahkan nama itu dengan segenap perasaannya. Ethan terus bergerak, menciumi setiap inchi tubuh Rose. Tangannya mengikuti gerakan bibirnya, hingga akhirnya ia menyentuh titik sensitif Rose di bawah sana.Ethan membelai lembah basah itu dengan lembut. Menyentuhnya seakan itu adalah barang yang sangat berharga. Rose menggelinjang. Ia menggeliat saat jari Ethan masuk dan menyentuhnya semakin dalam."Ethan... Aaaarrgghh..."Ethan tersenyum melihat Rose menyebut namanya un

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status