Home / Romansa / Kekasih Pengganti Nona Arogan / Part 6. Kekasih Pengganti Nona Arogan

Share

Part 6. Kekasih Pengganti Nona Arogan

Author: Arwend Arau
last update Last Updated: 2025-08-05 11:00:00

"Cepat, ikut kami! Silakan Anda jelaskan semuanya di kantor polisi!" ucap salah satu petugas yang membawa paksa ayah Noval. Mereka langsung memasukkannya ke dalam mobil patroli yang terparkir tidak jauh dari rumah mereka.

"Tolong, Pak, jangan bawa suami saya! Dia sedang sakit. Tolong lepaskan suami saya!"

Ibu Noval terus berlari mengejar mobil patroli yang membawa suaminya. Tanpa memperdulikan tatapan orang-orang padanya. Keluarga Sanjaya yang terkenal baik di kalangan masyarakat sekitar itu kini menjadi bahan gunjingan.

"Ibu, tenang! Noval pasti bisa bebaskan ayah dari polisi." Noval mencoba menenangkan ibunya. Membawanya kembali ke dalam rumah dan segera menutup semua pintu dan jendela.

"Bubar semua! Bubar!" pekik Noval ke arah kerumunan warga.

"Huuuuu, kayak yang baik tau-tau ditangkap polisi!"

"Dasar muka topeng semua! Huuuu!"

Suara-suara bising para tetangga yang sibuk membicarakan keluarga Sanjaya, semakin membuat mental ibunya terguncang hebat.

"Semua gara-gara kamu, Mas! Kalau aja kamu bisa dapet uang buat pengganti, ayah nggak akan masuk penjara!" teriak seorang gadis berseragam SMA itu ke arah Noval.

"Lihat, ibu sampai jatuh pingsan. Semua salah kamu, Mas! Semua salah kamu! Kamu kakak yang nggak berguna! Argh," teriakan itu semakin kencang. Cacian, makian terus keluar dari mulut gadis itu.

Tangis gadis itu akhirnya pecah ketika melihat wanita yang melahirkannya kini terkulai lemas di atas tempat tidur. Kembali, Tiara meluapkan segala amarah dan kekesalannya pada Noval.

Noval berdiri bergeming. Ia tidak membalas apapun segala perbuatan dan ucapan adiknya itu kepadanya. Tak lama kemudian Noval membawa Tiara dalam pelukan untuk membuat adik perempuannya itu tenang.

"Iya, semua salahnya Mas. Mas minta maaf!"

Hampir setengah jam, ibunya belum menunjukkan tanda akan sadar. Noval meminta adiknya untuk membawakan minyak kayu putih. Perlahan ia mulai menghirupkan aroma dari kayu putih tersebut ke dekat hidung. Ibunya mulai tersadar. Tak ada sepatah katapun yang terucap. Hanya buliran air mata yang menunjukkan betapa hatinya terluka kini.

"Noval minta maaf, Bu!" Noval bersimpuh di kaki sang ibu. Begitupun Tiara--adiknya, yang tadi sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya.

"Semua bukan salah kamu, Nak!" Ibunya mulai berucap. Hanya ada sorot kesedihan yang tersurat di raut wajahnya yang mulai keriput.

"Ayah kalian tidak bersalah. Dia dijebak." Ibunya kembali mengucapkan hal yang sama berulang kali.

"Ibu ...!" Tiara memeluk ibunya yang kini terduduk lesu di atas tempat tidur.

Wanita yang kini hampir berumur setengah abad itu memegang erat dadanya. Seakan sebuah batu besar kini tengah menindihnya. Terasa berat beban hidup yang harus ia jalani kini seorang diri. Rasa tak kuasa saat harus melihat sang suami diboyong polisi karena sebuah tuduhan yang tak mendasar.

Tak mampu lagi berucap, hanya linangan kesedihan yang terus mengalir membasahi pipi bahkan hijab yang beliau kenakan pun sudah basah.

"Kamu mau ke mana?" tanya ibunya sambil terisak-isak saat melihat Noval beranjak pergi.

"Aku ada urusan sebentar. Tiara tolong jaga ibu!" Noval berlalu meninggalkan ibunya dan sang adik yang tengah bersedih.

Noval memalingkan wajahnya, menahan sekuat tenaga agar cairan bening yang ikut larut dalam lukanya tidak terlihat oleh orang-orang yang ia cintai. Dia harus terlihat kuat dan tegar.

Noval melajukan roda dua miliknya. Meninggalkan pelataran rumahnya menuju suatu tempat yang ia kira bisa menjawab pertanyaan mengapa ayahnya tersebut bisa dibawa ke kantor polisi? Padahal jelas-jelas jika perjanjian yang ia terima waktu itu menyebutkan tenggak waktu proses pelunasan sisa uang konfensasi yang harus dibayarkan. Lalu mengapa ayahnya saat ini harus dibawa ke kantor polisi?

Rasa kecewa dan kesal bercampur aduk. Ia melajukan kuda besinya dengan kecepatan maksimum. Bahkan hanya butuh beberapa menit saja ia telah sampai di tempat yang dituju.

Bruk!

Noval mendobrak ruangan manajer tempatnya bekerja.

"Apa maksud semua ini?" bentak Noval saat melihat sang manajer tengah duduk santai sambil memainkan segelas minuman di depannya.

"Hei, ada apa ini? Mengapa kamu bertingkah aneh seperti ini? Ini bukan Noval yang kukenal," jawabnya dengan santai. Laki-laki yang berperawakan tinggi kurus itu mulai berjalan mendekati Noval yang sedang terlihat marah.

"Jelaskan padaku, mengapa polisi bisa datang ke rumah dan menangkap ayahku, hah?!" Noval mencengkeram kerah kemeja yang pria itu kenakan.

"Hei, santai kawan! Kita bisa bicara baik-baik. Aku masih atasanmu, kau ingat itu?" Perlahan Noval melepaskan cengkraman tangannya. Napasnya memburu, menahan amarah yang sedang bergejolak.

"Cepat jawab jangan banyak alasan!" bentaknya lagi.

"Soal itu, kamu bisa lihat sendiri di surat perjanjian kita dulu." Pria itu menunjukkan sebuah berkas pada Noval.

"Di sana tertulis jelas waktu kalian sudah habis untuk membayar uang pengganti. Dan ya, mau tidak mau ayahmu harus menerima segala konsekuensi dari perbuatannya."

"Sial, mengapa tanggalnya berubah? Bukankah seharusnya masih ada waktu dua minggu lagi? Ini jelas-jelas penipuan," sanggah Noval saat melihat tanggal yang tercantum berbeda dari tanggal awal pembuatan surat perjanjian.

"Itu karena kamu juga ikut membuat kerusakan dan kerusuhan tempo hari di tempat ini. Kamu ingat?"

"Ini tidak benar. Sekarang juga kalian harus cabut laporan tersebut dan bebaskan ayahku!" Noval mencoba menggertak dan menunjuk wajah pria di depannya.

"Itu mudah, asal kamu ... bisa segera melunasi uang kerusakan properti di klub ini. Kalau tidak, siap-siap saja polisi juga akan segera menangkapmu!" ucap manajer sambil berbisik. Berharap pria tinggi di depannya akan ciut nyalinya saat mendengar ancaman darinya.

Bugh! Sebuah pukulan tiba-tiba mendarat di wajah manajer bar tersebut. Rasanya kesabaran Noval sudah di ujung tanduk.

Bagaimana tidak, Ia rela bekerja di bar ini untuk membayar biaya ganti tanpa mendapat bayaran sepeserpun. Omset pendapatan bar meningkat saat Noval bekerja di sini. Keahliannya dalam meracik minuman membuat banyak para pengunjung tak henti berdatangan. Di tambah dengan gayanya yang kharismatik membuat para pengunjung perempuan tergila-gila padanya.

Manajer tersebut menekan sebuah tombol yang terhubung langsung ke pos keamanan. Tak lama kemudian, dua orang berbadan besar datang dan langsung mengamankan Noval.

"Lepasin!" Noval berontak. Namun, cengkeraman kedua tangan pria bertubuh besar itu tak mampu ia lawan.

"Segera lunasi hutangmu, atau sesuatu yang lebih buruk akan menimpa keluargamu!" ancam pria itu tepat di depan wajah Noval.

"Cepat bawa dia keluar, dan jangan biarkan dia datang lagi ke bar ini! Kecuali untuk melunasi hutangnya!" seru pria yang memiliki luka di salah satu sudut bibirnya karena mendapatkan bogeman dari Noval.

Noval jatuh tersungkur. Kedua pria bertubuh besar itu mendorongnya kuat saat keluar dari bar.

***

Noval kembali dengan harapan kosong. Seluruh tabungannya telah habis terkuras. Hanya tinggal motor sport yang kini dikendarai yang menjadi harta terakhirnya.

"Sial, aku harus mencari ke mana sisa uang itu? Lima ratus juta bukanlah uang sedikit yang bisa di dapat dalam waktu singkat. Andai aku menjual motorku ini, sisanya masih sangat banyak sekali. Aku harus apa?"

Dalam kebingungan, Noval tiba-tiba teringat ucapan seorang perempuan cantik yang dulu pernah menawarkan uang sepuluh miliar padanya.

"Nggak mungkin, aku nggak mau berurusan lagi dengan Renata." Segara ia tepis segala yang berhubungan dengan wanita cantik itu.

"Yang ada, nanti aku akan dijadikan bahan olokan lagi oleh dia," pikirnya dalam sunyi.

Menjelang tengah malam, Noval baru kembali ke rumah. Setelah dari bar itu, Noval pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan sekaligus melihat keadaan ayahnya yang sebenarnya sedang dalam perawatan. Untungnya para polisi itu memperlakukan ayahnya dengan baik. Ayahnya saat ini berada di ruangan khusus dan tidak satu sel dengan tahanan yang lainnya karena tengah sakit.

"Kamu baru pulang, Mas?" tanya Tiara saat ia membukakan pintu untuk Noval.

"Bagaimana keadaan ibu?" Noval meletakkan helm di atas meja dan kemudian membuka sepatu serta jaket yang melekat di tubuhnya.

"Ibu udah tenang, baru aja tidur," jawab Tiara dengan mata yang terlihat sangat mengantuk.

Noval lalu menyuruh Tiara kembali ke dalam kamarnya. Namun, sesaat kemudian gadis itu kembali lagi ke luar dan menemui Noval yang sedang duduk melamun di ruang tengah.

"Gimana keadaan ayah?"

"Ayah baik. Kamu nggak usah cemas. Tidur sana bukannya besok kamu harus sekolah?"

"Kamu dari mana tadi? Susah banget dihubungin? Coba cek ponselmu berapa kali tadi aku miscall?" seru Tiara menunjuk pada ponsel Noval yang tergeletak di atas meja.

"Tadi baterainya habis. Aku lupa membawa charger. Ada apa? Ada sesuatu terjadi lagi saat aku pergi?" jawabnya sambil memijat leher belakangnya yang terasa tegang.

"Tadi, ada dua perempuan datang kemari mau ketemu sama kamu."

"Dua orang perempuan? Hmm, siapa mereka?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kekasih Pengganti Nona Arogan   Bab 22. Kekasih Pengganti Nona Arogan

    Noval mendekatkan wajahnya. Kini hanya berjarak lima centimeter saja, membuat kedua mata mereka saling beradu. Tatapannya penuh pesona, membuat Renata menjadi sangat bergairah. Wanita itu langsung mengalungkan kedua lengannya ke leher Noval. kedua bola matanya yang biru langsung terpejam. Seakan tak peduli dengan apa yang akan dilakukan Noval padanya. Dia benar, situasi seperti ini membuat setan dengan leluasa menggodanya. Dan sialnya dia sangat menikmati hal tersebut. Pria itu memiringkan wajahnya, semakin dekat dengan leher jenjang milik Renata. Bahkan hembusan napasnya bisa langsung Renata rasakan. Sensasinya membuat tubuhnya menginginkan hal lebih. Sesaat kemudian Noval berbisik lirih," Pergilah mandi, aroma alkohol masih melekat di badanmu!""Apa?" Seketika Renata melepaskan pelukannya. Pikirannya dipenuhi keinginan untuk berteriak dan memaki, melampiaskan kekesalannya. Namun, setiap kali ia membuka mulut, bayangan kejadian memalukan tadi melintas, membuatnya ingin menarik selim

  • Kekasih Pengganti Nona Arogan   Bab 22. Kekasih Pengganti Nona Arogan

    Renata mematung, melihat bayangn dirinya di dalam cermin. Tak ada rona kebahagiaan terpancar di sana. Yang ada hanya kabut pekat yang menyelimuti dunianya. Cukup lama ia larut dalam keheningan. Pikiran dan hatinya kini dinaungi awan hitam, penuh keraguan. Perlahan gadis bermata biru itu mengusap lembut cincin putih yang melingkar manis di salah satu jarinya yang lentik. Renata tampak gusar. Berulang kali ia meremas rambutnya yang panjang. Menghela napas panjang dan membuangnya kasar. "Sial!" Penampilannya bahkan terlihat sangat kacau siang ini; pakaian tidur yang masih melekat di badan; rambut singa yang berantakan dan badan yang bau dengan alkohol. Ting! Tong! Berulang kali suara bel itu terdengar memanggilnya. Karena merasa terganggu ia bangkit walau dengan terpaksa. "Siapa sih, berisik banget?!" Renata membuka lubang intip di pintunya. Seketika matanya terbelalak. Ia mengucek matanya, bahkan sampai mencubit pipi untuk memastikan jika pe

  • Kekasih Pengganti Nona Arogan   Bab 21. Kekasih Pengganti Nona Arogan

    "Iya, tapi 'kan kamu tau, kafe Mas bentar lagi grand opening. Rencananya saat nanti acara itu Ma mau lamar dia dihadapan umum, eh taunya dia batal pulang." Raut wajah Noval terlihat sedikit murung. Ia teringat dengan cincin yang sudah ia pesan untuk acara penting itu. "Ya udah, makanya udah susul aja ke sana. Gimana kalau kondisi ayahnya itu terus menurun, umur nggak ada yang tau, Mas!" ujarnya lalu menggigit buah pir yang ada di atas meja kerja Noval. "Eh, itu buah pir Mas maen gigit aja," Noval merebut buah itu dari tangan Tiara. Seolah mengalihkan topik pembicaraan. "Pelit! Huuuu!" ucapnya sambil berlalu pergi. "Eh, lupa!" Tiara mendongakkan kepalanya di depan pintu kamar yang belum tertutup. "Apa lagi?" jawab Noval malas, ia lalu memutar kursi kerjanya menghadap Tiara. "Bantuin ngerjain PR dong, tugas Kimia sama Matematika! Mumet nih, soalnya susah banget!" rengeknya manja. "Ya udah bawa sini!" jawab Noval setengah malas. Tapi demi adik

  • Kekasih Pengganti Nona Arogan   Bab 20. Kekasih Pengganti Nona Arogan

    "Pak Zul, tolong dengarkan penjelasan saya lebih dulu. Kita kembali ke dalam dan bicarakan ini baik-baik. Kita harus dengarkan apa pendapat anak-anak kita tentang masalah perjodohan ini, Karena sejatinya merakalah nanti yang akan menjalani pernikahan ini," bujuk Pak Sanjaya. "Sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Tadi saya dengar sendiri kalau Noval tidak menginginkan anak saya menjadi istrinya."Mendengar pertengkaran yang terjadi di rumah Noval. Para tetangga sekitar mulai berdatangan melihat. "Ada apa ini?""Ada apa ini?"Terdengar suara riuh ibu-ibu yang sudah memadati halaman rumah Noval yang pagarnya tidak terkunci. Bahkan sudah terlihat beberapa orang yang sudah siap dengan ponsel masing-masing yang siap mengabadikan momen pertengkaran yang ada di depan mata.Ketika rasa empati mulai terkikis, dan siapa saja sudah bisa jadi reporter dadakan. Semua direkam, semua diliput dalam media sosial. Dan menjadi trending adalah tujuan yang dicar

  • Kekasih Pengganti Nona Arogan   Bab 19. Kekasih Pengganti Nona Arogan

    "Gue udah di bandara." Sebuah chat masuk ke aplikasi hijau milik Noval. "Beneran aku nggak boleh nganter kamu pergi?" jawab Noval. Tak lama balasan chat Renata datang. "Nggak usah, yang ada tar gue nggak mau pisah dari lu. Makasih ya, buat yang tadi. Sumpah tadi gue malu banget diliatin orang-orang kayak gitu.""Aku yang makasih karena kamu ... udah terima aku. Jangan lepas cincinnya, ya! Maaf aku belum bisa ngasih yang layak buat kamu." Noval mengirim emoji hati merah. Renata mengirim sebuah PAP cincin yang melingkar di jari manis tangan kiri beserta emoji hati yang banyak. "Always together, Hopefully ( selalu bersama, semoga)." Tulis Renata penuh harap. "Semoga ayah kamu segera pulih. Habis itu aku bakal lamar kamu segera." Renata kembali membalas dengan emoji tersenyum girang. Lalu menulis AAMIIN. LOVE YOU. Tok! Tok! Tok! Terdengar suara ketukan di pintu kamar Noval. Sebelum menutup ponselnya ia dengan cepat membalas chat terak

  • Kekasih Pengganti Nona Arogan   Bab 18. Kekasih Pengganti Nona Arogan

    Sebuah pikiran buruk sempat terlintas di benak Renata. "Apa jangan-jangan dia mau bawa gue ke hotel atau ke tempat sepi terus gue di gitu-gituin sama dia. Ah, nggak mungkin dia pria baik-baik. Nggak mungkin dia ngelakuin hal gila kayak gitu. Ngeres banget ini otak.""Ikut aja, nanti aku tunjukin tempatnya." Noval mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Renata. "Ok!" jawabnya tanpa pikir panjang lagi.Noval memberikan helm-nya yang berwarna putih itu pada Renata. Dia mulai menghidupkan kuda besinya dan melaju perlahan meninggalkan pelataran rumah Renata yang luas.Jalanan cukup lengang siang ini. Mungkin karena hari kerja, para pekerja masih disibukan dengan urusan pekerjaan mereka masing-masing. Beda halnya dengan para bos dan pimpinan perusahaan, terkadang meraka memiliki waktu luang yang lebih."Pegangan yang erat," pinta pria yang kini memakai jaket khusus untuk berkendara motor itu pada Renata saat melewati sebuah kawasan perbukitan yang cukup

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status