Share

Bab 3

Author: Arsynta
"Kak Arka, bulan depan sebaiknya kamu saja yang keluar dari kontrak sewa. Nggak pantas terus membiarkan orang luar mengambil keuntungan darimu. Atau suruh saja Kak Svara buat surat utang untukmu. Itu baru adil."

Kalau memukul orang tidak melanggar hukum, aku benar-benar ingin menghadiahi mereka masing-masing satu tamparan. Namun kalau tamparan itu benar-benar mendarat, mereka pasti akan mencari segala cara untuk memeras uang dariku. Permainan menjijikkan yang paling disukai orang kaya tanpa etika.

Tujuh tahun. Aku sudah cukup lama menemani permainan mereka. Aku tidak mau lagi.

"Aku nggak akan buat surat utang. Kalau mau uang, silakan gugat aku. Kita lihat apakah pengadilan akan memutuskan aku kalah. Aku juga nggak akan tinggal di rumah ini lagi. Karena Bu Dinda ingin menginap, jangan lupa bayar sewa ke Arka."

"Kalau nggak, kamu juga jadi perempuan matre."

Aku baru saja hendak pergi, ketika Arka tiba-tiba menarik lenganku. Ekspresi main-main di wajahnya sudah menghilang, digantikan oleh amarah tertahan yang bercampur menyalahkan. "Svara, kamu berlebihan. Aku dan Dinda cuma bercanda denganmu."

"Aku sarankan kamu pikirkan baik-baik. Setelah pergi dari sini, kamu nggak akan bisa tinggal di rumah sebagus ini lagi."

Aku memang salah. Salah besar.

Saat tahu Arka adalah pewaris elite ibu kota, aku tidak seharusnya membiarkan diriku dibujuk beberapa kata lalu mengurungkan niat untuk putus.

Lebih tidak seharusnya lagi, setiap kali dia mengira aku mengincar uangnya, aku malah memercayai ucapannya tentang cinta yang setara, bahwa hubungan seharusnya tidak ditindas oleh uang.

Aku hanya mengingat hal-hal kecil itu. Saat musim dingin paling menusuk, dia menghangatkan kakiku dengan perutnya. Saat aku nyeri haid, dia mengusap dengan telapak tangan yang hangat dan lembut.

Kami memang pernah saling mencintai. Pernah manis dan bahagia. Namun, cinta kami tidak boleh tercemar oleh uang sedikit pun.

"Arka, kita putus."

Baru setelah kata putus keluar dari mulutku, dia akhirnya menyingkirkan senyum jahilnya. Di wajahnya muncul sebersit kepanikan. "Putus? Svara, kamu berani mengajukan putus denganku?"

"Aku nggak setuju. Kamu pikir kamu punya hak apa untuk meninggalkanku? Ngambek juga ada batasnya." Dia selalu menempatkan dirinya di posisi yang tinggi. Seolah-olah berpacaran denganku adalah sebuah anugerah besar bagiku.

Sementara aku hanya menatapnya dengan tenang.

"Aku nggak sedang ngambek. Karena kamu setiap hari menganggap aku perempuan matre yang mengincar uangmu. Lebih baik kamu cari orang yang sepadan denganmu, lalu jalani hubungan yang benar-benar adil."

Aku tidak ingin mengatakan satu kata pun lagi padanya. Aku berbalik masuk ke kamar dan melanjutkan membereskan barang-barang.

Sekitar setengah menit kemudian, terdengar teriakannya yang penuh amarah, "Svara, jangan menyesalQ"

Aku tidak menggubris ancaman itu, apalagi peduli ketika dia membawa Dinda dan membanting pintu lalu pergi. Cinta yang membuatku diperlakukan seperti pencuri, sudah kutahan selama tujuh tahun.

Aku tidak pernah menyalahkan Arka karena aku gagal menyelamatkan ibuku. Dia memang tidak punya kewajiban untuk meminjamkan uang kepadaku.

Namun di saat aku paling membutuhkan pertolongan, bahkan ketika aku rela berlutut sambil membawa surat utang demi menyelamatkan ibuku, dia memilih menutup mata. Bahkan tetap menganggapku perempuan matre.

Saat itu juga, perasaanku terhadap dia dan cinta tujuh tahun kami, telah benar-benar mati rasa.

....

Di tengah malam, aku membawa seluruh barangku, berjalan di jalanan kosong.

Ibu kota yang begitu besar ini tidak memberiku tempat bernaung. Dan aku juga sudah kehilangan alasan untuk bertahan.

Ibuku telah tiada. Cintaku pun telah berakhir. Setiap detik yang tersisa hanya akan menambah kesedihan. Tidak punya tempat tujuan, aku menghabiskan semalaman duduk di lobi rumah sakit terdekat.

Hal pertama yang kulakukan keesokan paginya adalah mengajukan surat pengunduran diri. Atasanku terlihat sangat terkejut saat menerima surat itu.

"Mengundurkan diri? Pak Arka sudah setuju kamu mengundurkan diri?"

"Oh ya, kalau kamu keluar sekarang, bonus bulan ini sepertinya nggak banyak. Gaji selanjutnya akan kami transfer ke satu rekening, ya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kekasih yang Tak Pantas Dipertahankan   Bab 12

    Manusia memang selalu menyimpan khayalan terhadap sesuatu yang tidak bisa lagi dimiliki.Suara Arka terdengar tercekat, "Svara, uangmu itu bukan sengaja kutahan. Dulu sekali kamu bilang ingin menikah denganku, ingin menabung mahar sendiri. Aku takut kamu nggak bisa menabung, jadi aku ingin membantumu. Aku nggak pernah berniat mengambil uangmu.""Aku benar-benar mencintaimu. Aku bisa memberimu sesuatu yang jauh lebih baik daripada Heart of the Ocean ...."Matthew langsung melindungiku di belakang tubuhnya, ekspresinya penuh rasa meremehkan, "Pak Arka, urusan kalian sebenarnya aku juga sudah tahu. Aku hanya nggak ingin Svara terluka, makanya aku nggak pernah menyinggungnya.""Kalau kamu benar-benar mencintainya, kamu nggak akan setiap hari curiga apakah dia wanita matre atau bukan. Meski ada orang yang menghasut, pelelangan itu sudah cukup membuktikan satu hal. Kamu nggak mencintainya.""Aku memberinya hadiah tanpa pernah mengharapkan balasan. Selama dia bahagia, berapa pun uang yang aku

  • Kekasih yang Tak Pantas Dipertahankan   Bab 11

    Matthew memang begitu, setiap kali gugup dia pasti jadi sedikit gagap."Aku tahu. Besok aku akan pakai baju yang paling aku suka. Kamu jangan berpikir macam-macam, aku juga nggak mikir berlebihan."....Keesokan paginya, aku berdiri di depan lemari pakaian yang hampir seluruh isinya adalah baju pemberian Matthew, lalu menutup dahi sambil tersenyum pahit.Yang mana ya, yang paling dia suka?Aku mencoba mengingat ekspresinya setiap kali memberiku pakaian, tapi tetap tidak bisa menentukannya. Sepertinya dia memang tidak pernah peduli soal itu. Yang dia pedulikan hanya satu, apakah aku menyukainya atau tidak.Tiga jam kemudian, aku akhirnya membuat pilihan.Gaun biru muda dengan bahu terbuka yang sederhana dan anggun, sangat cocok dipadukan dengan Heart of the Ocean. Matthew awalnya berniat menjemputku, tapi aku menolaknya. Aku ingin datang sendiri dan diam-diam memberinya kejutan.Aku ingin menunjukkan lewat tindakan bahwa aku benar-benar menyukai hadiahnya. Bukan hanya satu, tapi semuany

  • Kekasih yang Tak Pantas Dipertahankan   Bab 10

    Saat aku baru makan setengah, Matthew tersenyum lalu berkata, "Sudah kenyang?"Setiap kali aku kenyang, kecepatan makanku memang akan melambat. Demi menghargai niat orang lain, aku tetap akan menghabiskan makanan itu perlahan meski sudah kenyang."Kalau sudah kenyang, jangan dipaksakan. Kebanyakan makan nanti nggak enak badan."Aku menggigit ujung sumpit dan tertawa kecil."Matthew, kamu ini cacing di perutku ya? Kenapa bisa sepaham itu sama aku?""Hahaha, mau gimana lagi. Pikiranmu yang sederhana itu sudah tertulis jelas di wajahmu. Sulit nggak tahu."Sederhana? Ini pertama kalinya ada orang yang menggambarkanku seperti itu.Arka selalu menganggapku wanita penuh perhitungan yang hanya mengincar uang. Kalau aku memang sesederhana yang dikatakan Matthew, lalu kenapa selama bertahun-tahun Arka tidak pernah memperhatikan perasaanku sekali pun?Melihat raut wajahku sedikit berubah, Matthew buru-buru bertanya, "Ada apa? Aku salah bicara ya?"Aku tersenyum dan menggeleng, kembali seperti bia

  • Kekasih yang Tak Pantas Dipertahankan   Bab 9

    Bohong kalau bilang aku tidak terharu. Orang sesibuk dia, sebenarnya bisa saja mencari alasan apa pun untuk menolakku.Aku berganti pakaian lalu ikut Matthew menuju lokasi kolam ikan."Luas kolammu 30 hektare, kedalaman air idealnya dijaga di sekitar 2,5 meter. Setiap hektare perlu sekitar 150 kilogram kapur tohor untuk sterilisasi. Kedalaman airmu masih kurang kalau mau fokus budidaya ikan."Aku segera mengeluarkan buku catatan, menulis sambil mengangguk, lalu bertanya, "Kalau jenis ikannya, ada syarat khusus?"Matthew berpikir sejenak sebelum menjawab, "Secara umum, untuk kolam sebesar ini, biasanya isinya 2000 ikan mas per hektare, 1500 ikan nila, dan sekitar 20 ikan patin. Tapi untuk tahap awal, sebaiknya mulai dari ikan yang tingkat hidupnya tinggi dulu.""Soal tenaga kerja kamu nggak perlu khawatir. Nanti aku kenalkan beberapa orang yang sudah berpengalaman.""Untuk konsep kolam pancing kelas atas yang kamu rencanakan, kolam harus dibagi zona. Pemula dan pemancing senior nggak bo

  • Kekasih yang Tak Pantas Dipertahankan   Bab 8

    Di depan gedung pengadilan, angin mengacak rambutku. Aku kembali ke kampung halaman.Aku membuka halaman kecil tempat dulu aku dan ibu hidup bersama. Aroma yang begitu familier membuat air mata kembali memenuhi mataku. Aku memeluk guci abu ibu dengan putus asa, berjongkok di tanah dan menangis tersedu-sedu."Maafkan aku, Bu, aku nggak bisa membuatmu hidup dengan layak.""Maafkan aku, Bu, aku nggak bisa mengumpulkan biaya operasi tepat waktu.""Maafkan aku, Bu, aku nggak sempat memperlihatkan kepadamu saat aku menikah."....Ada terlalu banyak hal yang belum sempat kulakukan untuk ibu.Setelah lelah menangis, aku melihat bangku kecil di halaman. Di atasnya masih ada gambar wajah tersenyum yang dibuat ibu untukku. Hanya saja, karena lama tidak dipakai, bangku itu sudah dipenuhi lumut.Aku mengambil bangku itu dan berjalan ke tepi sungai kecil. Dengan sikat di tangan, aku menggosoknya perlahan-lahan untuk membersihkan kotoran yang menempel.Wajah tersenyum di bangku itu perlahan kembali t

  • Kekasih yang Tak Pantas Dipertahankan   Bab 7

    Sorot mata Dinda sempat menampakkan kilatan kebencian, tetapi dia menyembunyikannya dengan cepat."Kak Arka, kalau bukan karena kamu memberinya pekerjaan, Svara bahkan nggak akan bisa bertahan di ibu kota. Ibunya sudah meninggal ya biarkan saja, nggak ada yang istimewa. Setidaknya sekarang dia nggak bisa lagi pakai alasan itu untuk mengeruk uangmu.""Kalau kamu pergi mencarinya sekarang, sama saja kasih dia kesempatan untuk jadi congkak. Sesama perempuan itu paling paham satu sama lain, Kak Svara itu cuma main tarik ulur."Sesaat Arka merasa Dinda yang berdiri di depannya tampak begitu asing. Dia tahu betul seberapa hebat dan berdedikasinya aku. Dalam beberapa tahun terakhir, aku telah banyak menambah nilai valuasi perusahaan.Sebaliknya, Arka sendirilah yang selama ini diam-diam menekanku.Sebuah nyawa manusia ini terdengar jadi begitu tidak berarti saat diucapkan oleh Dinda.Baru saja Arka menelusuri kembali seluruh kenangan antara aku dan dirinya. Dia memang tidak pernah menghabiska

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status