LOGINLaura turun dari mobilnya sambil melangkah masuk ke dalam rumah besar 2 lantai yang sudah ditempatinya beberapa waktu ini.
Laura baru saja melewati pintu utama ketika melihat kain-kain yang cukup merusak pemandangan berserakan di lantai. Warnanya merah mencolok, membuat sakit mata bagi yang memandang. Laura tahu pemilik kain itu. Di rumah ini penghuninya hanya ada dirinya dan juga Jackson. Sementara itu tukang bersih hanya dipanggil ketika dibutuhkan saja. Untuk urusan makan, mereka jarang makan di rumah karena kebanyakan baik dirinya maupun Jackson sama-sama sering makan di luar. Baru saja Laura akan melangkahkan kaki menuju kamarnya yang memang berada di dekat tangga, namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok seorang perempuan yang kini menuruni anak tangga dengan hati-hati. Hanya mengenakan kemeja berwarna putih yang tidak menutupi pahanya. Sosok itu adalah Ariana, dengan rambut terurai, menatap Laura dari tangga dengan senyum mengejek. "Ups, maaf sekali, Laura. Aku tidak tahu kalau kamu akan datang. Kalau tahu kamu akan datang, aku pasti akan merapikan pakaianku dan juga Jackson di sini agar tidak merusak pemandanganmu," ucap Ariana, dengan senyum puas. Puas melihat musuhnya kini berdiri tak berdaya saat suaminya sendiri justru lebih memerhatikan dan mengutamakannya. "Lakukan apa yang kamu mau. Aku juga tidak akan peduli lagi." Laura membalas dengan tenang. Tidak marah ataupun kesal sama sekali. Dia lebih kesal karena tadi malam dia kehilangan keperawanannya hanya karena dirinya yang mendapatkan jatah dari botol kristal taruhan mereka. "Aku tahu kamu pasti marah dan cemburu. Bukannya selama ini memang kamu menyukai Jackson? Sayang sekali, Jackson tidak pernah peduli dengan kamu." Ariana melangkah turun dengan gerakan sensual dan juga hati-hati. Tidak lupa perempuan itu juga membuka satu kancing lagi untuk memperlihatkan bercak merah di kulitnya, hasil karya Jackson. Sampai kemudian dia berdiri di hadapan Laura dengan senyum menantang. "Aku tahu kamu sedih. Aku juga tahu kalau kamu pasti tidak terima. Tapi, mau bagaimana lagi kalau Jackson hanya tertarik padaku seorang. Dia tidak akan tertarik padamu." Ariana berkata lagi. "Kasihan sekali kamu. Sudah lama menikah dengan Jackson tapi kamu tidak pernah disentuh olehnya. Aku tahu, kamu pasti merasa tidak berguna. Yap, kamu memang tidak berguna sampai suamimu sendiri lebih memilih perempuan lain daripada diri kamu sendiri. Menyedihkan sekali." Laura melipat tangannya menatap Ariana. Perempuan cantik yang baru saja kehilangan keperawanannya tadi malam itu mendengus. "Apa yang perlu dibanggakan dari perempuan yang hanya menjadi teman tidur tanpa terikat status?" Laura menatap Ariana dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. "Kamu bilang aku menyedihkan? Bagaimana dengan dirimu sendiri? Bukankah kamu jauh lebih menyedihkan dari aku? Kamu hanya dijadikan teman tidur, tapi tidak dijadikan sebagai istri. Jika memang Jackson benar-benar mencintai kamu, dia akan menikahi kamu bukan justru menikahi aku." Ariana mengepalkan kedua tangannya mendengar perkataan Laura yang cukup menyentil hatinya. "Jackson tidak menikahi aku karena keluarga kamu sudah mendesaknya untuk menikahi kamu. Dia tidak bisa melawan kedua orang tuanya." Ariana mencari alasan. "Sedangkan kamu, malam pertama pernikahan kalian, kamu mau tahu Jackson di mana? Yah, dia berada di bawah kendaliku. Saat kamu sedang bersedih di dalam kamar pengantin, dia berada di bawahku, memompa dan mencari kenikmatan dunia yang tidak pernah kamu dapatkan dari dia." Ariana mendongakkan kepalanya ke atas saat mendengar suara langkah kaki. Tahu jika itu adalah Jackson, Ariana mengambil tangan Laura kemudian bergerak seolah Laura sedang mendorongnya. "Ugh! Laura, kenapa kamu mendorongku seperti ini? Apa tidak bisa kamu berbicara baik-baik denganku? Jackson dan aku tadi malam sama-sama mabuk. Kami tidak sengaja melakukannya. Aku mohon kamu jangan sampai menyebarkan ini ke kalangan kita. Aku malu sekali jika sampai orang-orang tahu tentang aku yang berada di dalam rumah ini. Aku mohon padamu, Laura." Ariana mengambil posisi duduk dan bahkan berlutut sambil menangkup kedua tangannya menatap Laura dengan tatapan penuh permohonan, membuat Jackson yang baru saja tiba di ujung tangga menatap ke arah pemandangan di hadapannya. Jackson segera menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa menghampiri kedua perempuan yang sedang bertikai itu. "Laura! Apa yang sedang kamu lakukan pada Ariana?" Jackson yang tidak melihat dari awal langsung mendorong Laura hingga perempuan itu mundur beberapa langkah ke belakang. Jackson membantu Ariana untuk berdiri dan segera setelah itu ia menatap tajam Laura. "Jika kamu ingin mencari masalah, cari saja padaku, jangan cari masalah dengan Ariana karena dia tidak bersalah. Kamu tidak berhak untuk marah karena apa yang aku lakukan dengan Ariana." Jackson berkata dengan rahangnya yang mengeras. "Kamu hanya istri di atas kertas. Sedangkan Ariana adalah perempuan yang aku cintai. Tidak berhak kamu untuk berbuat kasar pada wanita yang aku cintai." Jackson berkata dengan marah apalagi melihat Ariana yang menangis tersedu, membuatnya tidak tega dan memeluk perempuan itu. Jangan tanyakan bagaimana ekspresi wajah Laura yang tersenyum miring menatap Jackson. Orang bodoh seperti Jackson ini pantas saja tidak memiliki posisi elit di kantor karena memang keluarganya tahu Jackson memiliki IQ rendah. "Apa kamu melihat aku melakukan sesuatu pada kekasihmu ini, Jackson? Kamu hanya melihat sekilas dan kamu sudah menghakimi aku?" "Aku hanya melihat kamu menganiaya Ariana. Di sini kamu bersalah karena sebagai seorang istri dari Jackson seharusnya kamu tidak bersikap kasar pada wanitaku." Jackson berkata dengan nada dinginnya. "Laura, kamu harus ingat dengan posisimu. Kamu pikir, hanya karena aku menikah dengan kamu, aku akan mengabaikan Ariana? Kamu tidak berharga sampai aku harus mengorbankan perasaanku pada wanita yang aku cintai." Jackson mempererat pegangannya pada pundak Ariana sambil melemparkan tatapan tajamnya pada perempuan yang hanya berstatus sebagai istrinya. "Jackson, tidak apa-apa. Aku mengerti perasaan Laura. Aku juga bersalah karena tidak bangun pagi-pagi sekali untuk merapikan rumah. Seharusnya pakaian kita tidak berserakan di lantai ini, yang akan memancing emosi Laura." Ariana memegang tangan Jackson sambil menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. "Aku akan merapikan pakaian-pakaian ini." Terlihat Ariana tersenyum pedih, membuat Jackson semakin tidak tega. Segera tatapan pria itu langsung tertuju pada Ariana. "Kamu rapikan pakaian-pakaian kami. Aku tidak ingin sampai Ariana kelelahan," titahnya pada Laura. Laura menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi tidak percaya. "Kamu minta aku buat merapikan pakaian-pakaian kotor kamu dan perempuan murahan ini? Otak kamu ada di mana, Jackson?" Laura rasanya ingin marah dan berteriak pada pria ini. Satu tamparan mendarat di pipi Laura yang tentunya berasal dari Jackson. Laura menyentuh pipinya dan menatap tidak percaya karena Jackson sudah berani main tangan dengannya. "Lakukan apa yang aku perintahkan, Laura. Kalau tidak--" Jackson berdiri di hadapan Laura sambil menatapnya dengan tatapan tajam dan rahangnya yang mengeras. "Aku tidak akan memberikan jatah bulananmu lagi." Jackson berbalik pergi dan menggendong Ariana di kedua tangannya, membuat Laura tertunduk. Sementara Ariana diam-diam tersenyum senang berhasil membuat Laura ditampar oleh Jackson. Puas rasanya membuat perempuan itu teraniaya.Rumah besar yang biasanya diisi dengan anggota keluarga lengkap kini tampak lengang. Para petugas sudah pergi membawa barang bukti dan juga para tersangka yang mereka tangkap. Di rumah ini hanya menyisakan para pelayan, Richard, Laura, dan Audi. Para pelayan sudah membubarkan diri, menyembunyikan diri karena takut terlibat. Sementara Laura masih duduk di ruang tamu bersama Richard dan Audi setelah kepergian orang-orang itu. "Kamu akan menempati rumah ini. Rumah ini atas nama mamaku, bukan atas nama Edward. Jadi, pihak berwenang tidak akan menyita rumah ini. Paling sesekali mereka akan datang untuk melakukan pemeriksaan," kata Laura sambil menatap Richard. "Jika aku tinggal di rumah besar ini, bagaimana dengan biaya hidupku? Aku tidak punya uang untuk membayar konsumsi di rumah ini. Belum lagi pelayan yang perlu digaji." Richard terlihat pasrah dengan keadaan. Paling-paling nanti jika memang Laura ingin menendangnya dari kehidupannya, mungkin Richard akan memohon pada wanita sat
Laura melangkah menuju kamarnya, sebelum akhirnya perempuan cantik itu kembali dengan membawa beberapa berkas yang langsung dia tunjukkan pada Edward. Tim investigasi sedang mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Edward. Termasuk, memeriksa ruang bawah tanah di mana banyak sekali harta yang tersembunyi di dalamnya. "Kamu lihat ini. Ini adalah berkas medis kesehatan kamu. Dari tahun sebelum mamaku menikah denganmu, kamu adalah seorang pria yang tidak bisa memiliki keturunan. Ini adalah data lengkapnya." Laura menunjuk salah satu kertas di hadapan Edward yang dibaca pria itu dengan sangat teliti. "Kamu ingat saat itu mamaku harus pura-pura berada di luar negeri untuk melahirkan aku. Padahal mamaku tidak berada di luar negeri. Mamaku mengadopsi aku yang kebetulan saat itu masih bayi. Saat itu kamu tidak peduli dengan ibuku melahirkan atau tidak. Saat itu kamu sedang sibuk dengan selingkuhan kamu."Laura tidak lupa untuk menatap ke arah Lina yang kedua tangannya juga sudah diborgol. Edward
Laura turun dari mobilnya setelah tiba di bagian jalan menuju samping rumah tempat biasa ia masuk jika halaman depan rumahnya sedang dipadati banyak kendaraan atau orang-orang. Perempuan itu turun tidak sendiri melainkan bersama Audi.Saat mereka melangkah memasuki halaman samping rumah, kebetulan mereka bertemu dengan Richard yang berada di pintu bagian samping. Pemuda itu berdiri dengan tenang sambil melipat tangannya di dada, membuat Laura segera menghampirinya diikuti oleh Audi. "Mama, papa, dan Kak Alena sudah ditangkap. Saat ini mereka sedang di ruang tamu karena aparat kepolisian sedang mengumpulkan barang-barang bukti kejahatan mereka," kata Richard.Mendengar jika Lina juga masuk dalam daftar penangkapan, Laura dan Audi saling menatap. "Mamamu terlibat dengan masalah yang menimpa Edward juga?" Audi lah yang pertama bertanya, membuat Richard menggelengkan kepala."Mama dilaporkan oleh teman-teman sosialitanya karena menjual barang-barang palsu. Dari berlian sampai tas dan
"Alena, aku benar-benar tidak menyangka jika kamu ternyata sejahat ini. Aku benar-benar tidak bisa hidup dengan wanita yang penuh dengan dosa sepertimu." Jason menatap Alena dengan tatapan kecewa yang tidak bisa ditutupi. Ekspresi wajahnya terlihat sedih, membuat Alena panik. Skandal yang menimpa padanya tidak bisa ditutupi. Berusaha untuk dihapus namun tetap tidak bisa hingga membuat Alena merasa putus asa.Belum lagi Jason belum pernah memperkenalkannya dengan keluarganya yang berada di Brinetea, membuat Alena tidak bisa kehilangan Jason. "Jason, aku pasti akan menjelaskan padamu tentang semua ini. Ini semua fitnah untuk membuat nama baik papaku dan aku buruk. Percaya padaku, aku tidak pernah menyakiti orang." Alena berusaha untuk memegang tangan Jason, namun pria itu langsung melepaskannya sambil mundur selangkah. Jason menggelengkan kepalanya. "Keluargaku di Brinetea tidak akan bisa menerima skandal semacam ini, Alena. Mereka pasti tidak akan mengizinkan kamu masuk sebagai a
Laura mematikan sambungan telepon dengan rasa sebal karena Bernard lagi-lagi mengganggunya. Wanita itu bukannya tidak bahagia karena Bernard rajin berkomunikasi dengannya. Hanya saja ia merasa aneh karena seharusnya pria yang memiliki tanggung jawab penuh atas perusahaan disibukkan dengan pekerjaan, justru sibuk menghubunginya hanya untuk menanyakan hal-hal yang menurutnya tidak penting. Laura yang saat ini sedang bersantai menikmati hari-harinya karena tidak bisa lagi mengajar akibat skorsing yang diterima dari pihak kampus, membuatnya lebih santai. Membaca novel, berenang, menyiram tanaman, dan melakukan kegiatan-kegiatan kecil untuk mengisi hari-harinya itulah yang dilakukan oleh Laura selama beberapa hari ini. Wanita itu juga jarang keluar. Masih banyak wartawan yang berkeliaran mencari informasi tentangnya yang diduga melakukan perselingkuhan dengan sahabatnya sendiri. Ngomong-ngomong soal Kevin, pria itu tidak ada di negara ini. Dia sedang berada di luar negeri untuk memperi
Di dalam ruang rapat yang dihadiri lebih dari 20 orang yang duduk di kursi mereka masing-masing, terjadi ketegangan yang membuat beberapa orang berkeringat dingin. Hari ini atasan mereka tiba-tiba menghadiri rapat yang memang seharusnya di adakan untuk membahas proyek baru yang akan mereka buat. Biasanya, Bernard sebagai atasan mereka akan datang ketika semuanya sudah sempurna. Baru memulai saja pria itu sudah duduk di kursinya, mendengar dengan seksama presentasi dari karyawan yang sedang menyampaikan inspirasi mereka. Bernard juga sudah melihat proposalnya. Meskipun masih mentah, entah mengapa ia merasa jika proyek baru ini sepertinya cukup potensial dan sepertinya akan banyak digunakan oleh kaum manusia beberapa tahun mendatang. Bernard bukan kurang kerjaan hingga duduk di sini bersama karyawannya yang lain, membuat para karyawan ketakutan. Suasana hatinya sedang gembira hingga memutuskan untuk menghadiri rapat awalan seperti ini. "Nona Celine, apakah menurutmu ini akan berha
Matahari sudah mulai tampil dengan pesona cahaya yang menyinari bumi. Celah cahaya memasuki jendela melalui pantulan kaca dengan hordeng yang tidak tertutup rapat. Sementara di sebuah tempat tidur berukuran king size dengan sprei berwarna putih, sepasang laki-laki dan perempuan masih terlelap den
"Bagaimana dengan taruhan kita malam ini? Kira-kira siapa yang akan menjadi gadis tidak perawan malam ini?" Seorang perempuan dengan kulit eksotis mengenakan rok pendek setengah paha dan baju tanktop terbuka, berdiri sambil memegang botol minuman di tangan kanannya.Gadis itu menatap teman-temanny
Sebuah tamparan renyah terdengar di sebuah ruangan dengan kehadiran 4 orang yang menyaksikan adegan tersebut. Sosok pria paruh baya dengan kacamata yang menghiasi wajahnya, menatap tajam pada putrinya yang nyaris membuat malu di depan keluarga besar mereka. Edward, tidak menyangka jika putriny
Laura menatap acuh pada rombongan pria dan wanita yang saat ini sudah menunggu di bawah panggung mini yang disiapkan. Sementara di atasnya berdiri sepasang pengantin yang sudah sah menjadi suami istri hari ini. Sekelompok orang berdiri di depan panggung mini tentunya bukan tanpa alasan. Mereka men







