MasukLaura bersandar malas pada kursi di belakangnya sambil menatap Richard yang duduk di hadapannya. Dia baru saja menjemput Richard pulang dari sekolah dan membawanya ke sebuah restoran untuk makan bersama. Hari sudah menjelang sore dan Laura seharusnya sudah bersiap untuk menghadiri pesta ulang tahun salah satu temannya. Hanya saja, berkat bantuan Richard dan upaya tutup mulut remaja satu ini yang sejujurnya agak sulit untuk dipercaya oleh Laura, mereka bisa keluar rumah dengan sukses tanpa ketahuan saat kejadian kemarin malam.Yeah, sosok yang memergoki mereka adalah Richard. Remaja itu baru saja pulang dari rumah temannya dan menyadari keanehan yang terjadi di rumahnya. Richard sudah curiga jika ada seseorang yang masuk ke dalam rumah mereka dan tujuan orang itu masuk ke kamar orang tuanya. Maka dari itu ketika Richard berada di dalam kamar orang tuanya, remaja itu langsung menyalakan lampu utama di dalam kamar sambil memegang tongkat baseball takut jika orang jahat yang datang. Te
Laura melangkahkan kakinya ke area parkir menuju mobilnya. Sementara Kevin sudah pergi lebih dulu karena ada urusan yang harus dikerjakan oleh pria itu.Saat kaki wanita itu sudah mendekat ke arah mobilnya, tiba-tiba saja sebuah tangan menariknya, kemudian menghimpit di antara mobil di belakangnya, membuat Laura bersiap melayangkan tinju. Namun, tinjunya justru tertahan di udara karena tangan besar pria itu lebih dulu menahannya.Laura sedikit membelalakkan matanya saat melihat kehadiran sosok yang tidak disangkanya muncul di hadapannya dalam kondisi seperti ini."Bernard? Apa yang kamu lakukan?" Laura bertanya dengan nada sedikit marah karena merasa terkejut atas tindakan tiba-tiba yang dilakukan oleh pria ini.Terlihat rahang Bernard mengeras. Tatapan tajam yang ditujukan kepadanya membuat Laura menelan ludah dengan susah payah.Seram sekali ekspresi wajah pria ini, pikir Laura di dalam hati."Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba muncul di sini? Tidak bisakah kamu muncul dengan cara yang
Laura saat ini sedang bersantai bersama Kevin menikmati kopi yang disajikan oleh pelayan.Kevin tertawa mendengar celoteh Laura yang menurutnya sangat lucu, terutama ketika menceritakan pengalaman masa kuliahnya."Andai saja aku tahu kalau bebek yang diberikan oleh paman di sebelah adalah bebek milik nenek itu, aku pasti tidak akan mau menerimanya." Laura cemberut mengingat kejadian masa lalu saat ia mengikuti masa pelatihan kuliah di sebuah desa.Laura yang mudah berbaur tentu disambut hangat oleh para penduduk sehingga ia terkadang menerima buah-buahan ataupun sayuran yang diberikan oleh mereka.Saat itu Laura tidak tahu ketika salah satu paman di sana memberinya bebek panggang yang ia terima dengan senang hati. Tidak tahunya, bebek panggang itu berasal dari bebek hidup milik salah seorang nenek paling galak di desa tersebut yang disembelih oleh paman itu."Apakah kamu masih menyalahkan paman itu sampai sekarang?"Laura terkekeh lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku hanya merasa
Audi kembali meletakkan tabletnya di atas lantai. Tatapannya tidak pernah lepas dari brankas baja raksasa yang berdiri kokoh di hadapan mereka.Wanita itu mengusap wajahnya perlahan, berusaha menenangkan pikirannya sebelum kembali bekerja."Kalau lapisan terakhir ini gagal, semua sistem akan mengulang dari awal," ucap Audi dengan suara pelan.Laura yang berdiri di sampingnya menganggukkan kepala. "Berapa peluang kita?"Audi tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak menunjukkan rasa percaya diri. "Lima puluh persen.""Kenapa hanya lima puluh?""Karena aku belum pernah bertemu sistem keamanan seperti ini."Laura tidak lagi bertanya. Ia memilih mengarahkan cahaya senter tepat ke permukaan brankas agar Audi bisa melihat setiap detail dengan jelas.Di bagian bawah keypad digital terdapat sebuah lubang kecil yang sebelumnya tidak begitu terlihat. Audi segera berjongkok. Jari-jarinya menyentuh bagian itu dengan sangat hati-hati."Ada apa?" tanya Laura."Aku menemukan sesuatu."Wan
Malam mulai menyelimuti kota ketika sebuah mobil hitam berhenti beberapa meter dari rumah mewah milik Edward.Lampu rumah masih menyala, tetapi suasana begitu sunyi. Tidak ada suara televisi, tidak ada percakapan, bahkan para pelayan yang biasanya berlalu-lalang juga tidak terlihat.Laura melepaskan sabuk pengamannya lalu menatap rumah yang pernah ia tinggali selama bertahun-tahun itu.Rumah yang menyimpan terlalu banyak kenangan pahit. "Apakah kamu sudah siap untuk misi kita malam ini? Jangan menyia-nyiakan kerja keras Jason untuk kini." Audi menolehkan kepalanya mentap Laura yang mengangguk pelan."Kita mulai sekarang." Keduanya segera turun dari mobil.Audi membuka tas ranselnya yang berisi sebuah tablet, beberapa alat elektronik berukuran kecil, serta seperangkat alat pembuka kunci digital.Berbeda dengan Laura yang hanya membawa senter kecil dan sarung tangan hitam.Mereka memasuki pekarangan melalui pintu samping. Pintu itu memang selalu digunakan oleh para petugas kebersihan
"Terima kasih karena kamu sudah membelaku," kata Richard saat mereka tiba di depan rumah.Mereka masih berada di dalam mobil dan belum keluar. Laura juga tidak berniat turun dari mobil karena ia harus bertemu dengan Audi untuk membahas beberapa hal."Tidak perlu berterima kasih padaku. Kebetulan aku sedang menganggur dan tidak memiliki pekerjaan.""Bukankah kamu dosen?""Apakah kamu tidak tahu jika aku sedang diskors untuk beberapa hari ini?""Mengapa?"Laura mengangkat bahunya dan menjelaskan secara singkat tentang masalah yang menimpanya yang melibatkan salah satu mahasiswinya."Hidupmu terlalu banyak masalah," komentar Richard, membuat Laura mendelik."Kamu saja yang banyak diam, hidupmu juga tidak jauh dari masalah," balas perempuan itu. "Sudah, kamu turun sana. Aku masih ada urusan lain.""Kamu tidak ingin tinggal di sini beberapa hari? Papa, Mama, dan Alena tidak ada di sini.""Mungkin nanti malam aku akan pulang. Aku kasihan sekali denganmu karena kamu terlihat seperti anak tan
Laura turun dari mobilnya sambil melangkah masuk ke dalam rumah besar 2 lantai yang sudah ditempatinya beberapa waktu ini. Laura baru saja melewati pintu utama ketika melihat kain-kain yang cukup merusak pemandangan berserakan di lantai.Warnanya merah mencolok, membuat sakit mata bagi yang memand
Matahari sudah mulai tampil dengan pesona cahaya yang menyinari bumi. Celah cahaya memasuki jendela melalui pantulan kaca dengan hordeng yang tidak tertutup rapat. Sementara di sebuah tempat tidur berukuran king size dengan sprei berwarna putih, sepasang laki-laki dan perempuan masih terlelap den
"Bagaimana dengan taruhan kita malam ini? Kira-kira siapa yang akan menjadi gadis tidak perawan malam ini?" Seorang perempuan dengan kulit eksotis mengenakan rok pendek setengah paha dan baju tanktop terbuka, berdiri sambil memegang botol minuman di tangan kanannya.Gadis itu menatap teman-temanny
Sebuah tamparan renyah terdengar di sebuah ruangan dengan kehadiran 4 orang yang menyaksikan adegan tersebut. Sosok pria paruh baya dengan kacamata yang menghiasi wajahnya, menatap tajam pada putrinya yang nyaris membuat malu di depan keluarga besar mereka. Edward, tidak menyangka jika putriny







