تسجيل الدخولLaura menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian mendesah untuk yang kesekian kalinya dalam beberapa jam terakhir.Sudah hampir empat jam ia berada di sini, namun sang pemilik apartemen tidak juga muncul.Rasanya Laura ingin segera pergi dari tempat ini, tetapi sudah ada pengawal yang berjaga di luar.Sudah beberapa kali Laura mengatakan bahwa ia ingin pulang, namun tidak diizinkan. Hal itu membuat Laura merasa bosan dan jenuh.Perempuan cantik itu berdiri, kemudian menghampiri kaca transparan yang menghadap langsung pada ratusan lampu yang menerangi malam di antara gedung-gedung yang berada di sekitarnya.Laura menghela napas dengan sebal. Setelah termenung selama sepuluh menit menatap langit malam, ia kembali ke sofa kulit yang tadi sempat didudukinya. Memainkan ponselnya dan melihat-lihat media sosial miliknya, Laura kembali merasa jenuh.Kantuk datang begitu saja, membuatnya menguap dan memilih untuk merebahkan tubuh di atas sofa.Tatapannya menerawang ke langit
Laura menatap kartu yang ada di tangannya dengan tatapan nelangsa dan kebingungan yang terlihat jelas dari raut wajahnya.Sudah hampir 30 menit perempuan cantik itu duduk menghadap cermin transparan besar yang mengarah ke taman samping rumah yang ditempatinya.Saat ini Laura memang sedang berada di rumah setelah pulang dengan perasaan lega karena sudah selesai bercerita dengan Audi.Tiba-tiba saja ia teringat dengan saran yang diberikan Audi untuk mengencani Bernard. Ini adalah saran gila yang rasanya sulit untuk diikuti. Namun, ada sedikit perasaan yang menggelitik dalam dirinya, di mana sisi lain dari dirinya menginginkan untuk melakukan pembalasan atas semua yang telah dilakukan Jackson padanya."Aku tidak pernah mencintainya ataupun menyukainya. Tapi mengapa dia tidak bisa memperlakukan aku layaknya manusia?" Laura bertanya pada dirinya sendiri dengan tatapan kosong. "Aku hanya ingin hidup dengan tenang dan nyaman. Tapi seolah-olah kalian selalu ingin aku melakukan sesuatu yang ti
Laura terduduk di sebuah kursi yang berada di sebuah kafe, tempat saat ini ia berada, sambil menunggu Audi yang baru saja mengirimkan pesan dan mengatakan jika saat ini dia sedang dalam perjalanan.Laura sudah 20 menit duduk di sini. Ia baru saja mengabari Audi lima menit yang lalu dan mengatakan ingin bertemu.Rasanya Laura benar-benar tidak habis pikir dengan jalan kehidupannya yang memang penuh dengan drama.Dulu, rasanya Laura tidak memiliki energi sama sekali untuk menghadapi dunia ini. Namun, setelah mengetahui banyak rahasia yang didapatkannya secara perlahan, Laura berusaha untuk bangkit dan keluar dari zona nyaman kehidupannya.Kedua tangannya bergerak mengusap pelan cangkir Americano yang sudah disajikan oleh pelayan. Pandangannya menerawang, mengingat-ingat kehidupan masa kecilnya sampai dewasa yang sepertinya memang tidak ada bahagianya sama sekali."Apa yang membuatmu berdiam diri di sini? Kenapa tidak membalas pesanku?"Laura mengerjap, tersadar dari lamunannya. Ia menol
Laura menyentuh pipinya yang terasa kebas dan perih akibat tamparan saat kakinya baru saja melangkah masuk ke dalam rumah.Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Jackson, suaminya sendiri.Ternyata pria itu sudah berada di dalam rumah saat ia baru saja melangkah masuk.Jackson melakukan kekerasan terhadapnya untuk yang kesekian kalinya. Baru tadi pagi Jackson menamparnya, dan ini kali kedua ia kembali mendapatkan tamparan dalam satu hari."Ada apa, Jackson? Kenapa kamu menamparku lagi?" Laura bertanya dengan tangan mengepal di sisi tubuhnya. Sementara satu tangannya lagi masih memegang pipi yang terasa kebas."Kamu bertanya ada apa denganku? Kamu seharusnya bertanya pada dirimu sendiri apa yang sudah kamu lakukan hari ini. Kamu bertemu dengan kakakku? Kamu berselingkuh dengannya? Kamu benar-benar tidak tahu malu." Jackson menatap marah pada Laura. "Perempuan murahan dan kesepian seperti kamu, mengapa harus mendekati kakakku?"Laura kebingungan. Dari mana pria ini tahu jika ia habis b
Laura melangkah keluar dari area kampus sambil menenteng tas di pundak kirinya, sementara satu tangannya memainkan kunci mobil.Langkah kakinya menuju area parkir untuk mengambil mobilnya. Jadwal mengajarnya hari ini hanya dua kelas, sehingga ia tidak perlu menghabiskan banyak waktu berada di kampus.Rencananya, ia akan pergi menemui Audi karena sahabatnya itu mengatakan ada hal penting yang harus dibahas.Bagi Laura, apa pun pembahasan Audi, meskipun terkadang di luar ekspektasinya, bukanlah masalah. Hanya Audi satu-satunya sahabat yang benar-benar mengerti dirinya.Baru saja Laura melangkahkan kaki berniat menghampiri mobilnya ketika seseorang menghadang langkahnya, membuat ia berhenti dan menatap pria bertubuh tinggi yang mengenakan kacamata hitam.Wajar saja mengenakan kacamata hitam di bawah terik matahari yang begitu terang. Terlalu terang hingga menyilaukan mata."Ada perlu apa?" Laura bertanya sambil memiringkan kepalanya.Laura tahu jika pria di hadapannya ini adalah asisten
Bernard duduk di kursi ujung dengan tenang sambil menatap ponselnya.Sementara itu, seorang karyawan wanita sedang mempresentasikan proyek yang akan mereka kerjakan dalam waktu 6 bulan mendatang setelah melakukan banyak observasi.Di dalam ruangan luas dengan meja berukuran panjang, ada lebih dari 36 orang yang duduk mengenakan setelan eksekutif terbaik mereka.Begitu juga dengan Bernard yang mengenakan pakaian serba hitam sebagai kostum favoritnya.Pria itu menatap ke arah layar, seolah sedang menatap proyek bernilai ratusan miliar. Keseriusannya menatap layar membuat beberapa karyawan yang berada di dekatnya semakin berkeringat dingin. Mereka tentu tidak luput dari aura dingin yang keluar dari tubuh pria itu.Rasanya menegangkan sekali mengikuti rapat seperti ini. Namun, masing-masing divisi memang harus menyiapkan satu perwakilan untuk mengikuti rapat.Andrew yang berdiri di belakang atasannya itu tidak bisa untuk tidak menggelengkan kepalanya melihat keseriusan bos mereka saat men







