Se connecter05
Jalinan waktu terus bergulir. Tanpa terasa, sudah hampir sebulan Zhao Yìchen tinggal di rumah Dante. Setiap pagi dia akan menyapu halaman depan dan belakang, meskipun telah dicegah Dante dan istrinya.
Menjelang siang, Zhao Yìchen akan belajar bahasa Indonesia pada Edelweiss, yang mengajari pria itu dengan sabar. Selain Edelweiss, Zhao Yìchen juga belajar pada Radeya dan Zakaria Ulhaq, ajudan kedua Dante, serta Naisha Istianti, ajudan Edelweiss.
Kendatipun belum terlalu lancar, tetapi Zhao Yìchen memberanikan diri untuk berbicara menggunakan bahasa Indonesia, terutama jika berhadapan dengan kedua anak Dante, serta ketiga pegawai di rumah. Jika salah penyebutan, maka Zhao Yìchen akan langsung mengubahnya dengan kalimat yang benar.
Pagi itu, Wirya mendatangi kediaman Dante guna mengajak Zhao Yìchen, menuju kantor PBK di kawasan Pancoran. Zhao Yìchen sangat senang dan segera berganti pakaian dengan setelan rapi.
Zhao Yìchen menaiki mobil MPV hitam yang disopiri asisten 1 Wirya, yakni Zikria Hafidz Shiddique. Zhao Yìchen duduk berdampingan dengan Wirya di kursi tengah, sambil mendengarkan percakapan pria itu, dengan Zikria dan Fikri Hizkia, sang asisten kedua.
Perbincangan menggunakan bahasa Mandarin itu berubah dengan bahasa Indonesia, karena Zhao Yìchen yang memintanya. Tawa pria berkemeja hijau muda itu menguar, ketika dicandai Wirya.
Setibanya di tempat parkir gedung belasan lantai, Zhao Yìchen turun dari mobil. Dia memakai topi bisbol biru tua berlogo PBK yang diberikan Fikri, untuk menutupi kepala depan yang rambutnya baru tumbuh sedikit.
Keempat orang itu mengayunkan tungkai menuju lobi utama. Zhao Yìchen kaget, karena semua orang memberi hormat pada Wirya dan kedua asistennya. Jika Wirya membalas penghormatan itu dengan anggukan, Zikria dan Fikri balas menghormat pada sesama pengawal tersebut.
Keempatnya memasuki lift khusus direksi dan komisaris. Tiba di lantai 3, pintu terbuka dan mereka keluar dari lift. Adegan penghormatan kembali berulang dan terus berlangsung hingga mereka tiba di ruang rapat kecil.
Zhao Yìchen mengikuti langkah Wirya untuk menyalami semua orang di ruangan itu. Setelahnya, Zikria dan Fikri keluar untuk bergabung dengan teman-teman mereka di tempat khusus tim asisten.
"Sudah lancar bahasa kami?" tanya Artio Laksamana Pramudya, komisaris 3.
"Sedikit," jawab Zhao Yìchen.
Artio yang akrab dipanggil Tio, memberikan lembaran kertas pada sang tamu. "Wirya bilang, kamu mau kerja, tapi karena kamu tidak bisa pakai laptop, dia ingin menempatkanmu di perpustakaan," terangnya.
"Ya, tadi Wirya ... ada cerita ... di mobil," tukas Zhao Yìchen dengan terbata-bata.
"Tugasmu cukup sulit, Yìchen. Yakni, merapikan semua file dari tahun pertama PBK berdiri, yaitu sekitar 5 tahun lalu. Meskipun kami memiliki back up data, tapi berkas itu jauh lebih lengkap," papar Tio.
"Supaya lebih gampang, data per tahun itu disusun berdasarkan abjad, Ko," usul Alvaro Gustav Baltissen, komisaris 4, sekaligus Adik ipar Tio. "Kalau dirunut dari bulan, akan membingungkan, karena per tanggalnya bisa dobel data," sambungnya.
"Kalau menemukan data yang sama persis, copy-annya alias yang ada tanda titik merah, dihancurkan di mesin dan tampung di kantong sampah. Nanti OB yang urus pembakarannya," pungkas Alvaro.
"Bule, dia bingung, itu," seloroh Wirya.
"Elu pakai bahasa yang rumit, Bang. Dia jadi sulit mencernanya," cakap Yanuar Kaisar, komisaris 5.
"Rumit pegimane?" tanya Alvaro.
"Entuh. Elu pakai kata dobel, sama copy-an," jelas Yanuar.
"Iya, yak? Lupa gue."
"Pikun gue pindah ke elu."
"Ambil lagi, Yan. Gue butuh space buat nyimpan nope cewek cantik dan seksi."
Pekikan protes terdengar dari ketujuh komisaris lainnya. Zhao Yìchen mengulaskan senyuman lebar, karena menyukai cara bercanda para lelaki tersebut.
***
Selama beberapa minggu berikutnya, Zhao Yìchen akan tiba pagi-pagi di kantor PBK, dengan menumpang ke ojek online yang dipesankan Edelweiss, karena Zhao Yìchen belum pandai meggunakan ponselnya.
Sepanjang pagi hingga siang, Zhao Yìchen akan sibuk memilah banyak berkas di sisi kiri ruang perpustakaan. Menuruti saran Alvaro, Zhao Yìchen menyusun ulang semua data itu berdasarkan abjad.
Bila makan siang tiba, Zhao Yìchen akan turun ke lantai 1. Dia melenggang ke area belakang yang merupakan deretan warung makan dengan berbagai menu khas Indonesia.
Zhao Yìchen mencoba semua menu itu secara bergantian. Sebelum dia memutuskan makanan favorit, serta beberapa kudapan tradisional yang menjadi kesukaannya.
Karakter Zhao Yìchen yang ramah dan gesit, menjadikannya cepat populer sebagai pegawai baru yang rajin. Selain itu, aksen bicaranya yang unik membuat pria asli Tiongkok itu gampang dikenali, walaupun dia mengenakan masker.
"Ko, sudah makan?" tanya Jauhari Devanka, calon direktur keuangan PBK, yang memasuki perpustakaan sambil membawa tas belanja.
"Belum. Aku baru mau turun," jelas Zhao Yìchen.
"Aku beli sate. Ini bagian Koko." Jauhari meletakkan beberapa wadah makanan ke meja. Kemudian dia duduk di sofa panjang hitam.
"Itu, apa?" tanya Yichen sembari berpindah duduk ke kursi tunggal.
"Tongseng," jawab Jauhari sembari membuka plastik di mangkuk styrofoam di meja. "Satunya lagi, sop," lanjutnya.
"Enak yang mana?"
"Dua-duanya enak. Hanya beda di kuah. Tongseng lebih kental dan berbumbu tajam."
Zhao Yìchen mencoba kedua makanan itu, lalu dia manggut-manggut. "Kamu benar, ini enak semua. Boleh aku minta sedikit?"
"Bayar."
Zhao Yìchen tersenyum. "5 sen?"
"Mainanku tail emas. Bukan sen."
Keduanya terkekeh, sebelum berhenti nyaris bersamaan. Mereka bersantap sambil berbagi makanan. Jauhari sempat berhenti mengunyah untuk menjawab panggilan dari atasannya.
"Bang W, lucu," ucap Jauhari sambil meletakkan ponselnya di meja.
"Kenapa?" tanya Zhao Yìchen.
"Dia lupa, kalau tugasku sebagai asisten, sudah diserahkan ke Zikria. Di ingatannya, aku masih asistennya."
Zhao Yìchen menyunggingkan senyuman, lalu dia berkata dalam bahasa Tiociu. "Dia sering cerita. Harusnya nelepon Zikria, Faidhan, Gwenyth, atau Fikri, tapi yang dihubunginya itu kamu, Dimas, Harun, Santos, dan Deswin."
"Ya. Dimas dan yang lainnya juga cerita hal yang sama," cakap Jauhari dalam bahasa serupa. "Kalau lagi kumpul semua asisten dan mantan, kami pasti tertawa dengan tingkah Bang W," lanjutnya.
"Kalian sepertinya sangat akrab."
Jauhari mengangguk mengiakan. "Kami jadi asisten beliau nyaris bersamaan waktunya. Jadi sering bekerjasama dan akrab sekali. Bagiku dan Harun, Dimas sama yang lainnya adalah Adik kami."
"Saat jadi asistennya, kamu sama siapa?"
"Berdua sama Harun. Setelah kami merengek, karena kebanyakan kerjaan, akhirnya Bang W merekrut Dimas, Santos, dan Deswin."
"Setelah itu, siapa lagi?"
"Yang sekarang, plus Khairani." Jauhari terdiam sesaat, lalu dia berkata dalam bahasa Indonesia. "Sebetulnya, aku datang ke sini, mau pamitan sama Koko."
"Pamit?"
"Ya. Dua hari lagi aku mau berangkat ke Australia. Mengawal Avreen, keponakannya Pak Sultan."
"Ehm, berarti dia sepupunya Mayuree?"
"Betul. Avreen dan kedua sahabatnya, tahun depan mau melanjutkan kuliah pascasarjana di Sydney. Aku mengantarnya ke sana untuk meninjau beberapa universitas yang bagus."
"Kamu dinas sendiri?"
"Enggak. Ada Nuriel, Ikram dan Chalid. Mereka ajudan keluarga Pramudya."
"Berapa lama kamu di sana?"
"Sekitar sebulan."
Zhao Yìchen manggut-manggut. "Semoga lancar."
"Aamin."
Zhao Yìchen mengamati pria berlesung pipi yang tengah mengemasi banyak wadah styrofoam. Zhao Yìchen tertegun, saat merasa hatinya tidak nyaman. Namun, dia tidak bisa mencegah pria itu berangkat, dan hanya mampu berdoa supaya tidak ada hal buruk yang akan terjadi, pada Jauhari serta rekan-rekannya.
102Sepanjang hari itu, suasana rumah Wirya terlihat tegang. Meskipun ketiga bocah tidak diberitahu tentang kabar dari tanah suci, tetap saja mereka gelisah. Bayazid dan Marwa kesulitan untuk terlelap. Sedangkan Zayd berulang kali merengek, sambil memanggil bundanya. Hal itu menjadikan semua orang dewasa di rumah juga makin cemas. Merasa lelah untuk mencoba tidur, akhirnya Zhao Yìchen bangkit berdiri dan jalan keluar kamar depan. Dia tertegun melihat Rangga dan Fikri, yang tengah mengaji di ruang tengah dengan suara pelan. Zhao Yìchen berpindah ke dapur guna membuat teh. Dia terkejut menyaksikan Harsaya keluar dari kamar belakang, sembari menggendong Zayd yang masih merengek. "Sini, Pak. Biar aku yang gendong," ucap Zhao Yichen sembari mengulurkan tangannya.Harsaya memindahkan sang cucu yang memeluk leher Zhao Yìchen dengan erat, sembari menempelkan kepalanya ke pundak kiri sang om. Harsaya tercenung kala Zhao Yìchen mengusap rambut dan punggung Zayd, sebelum menotok belakang le
101Jalinan waktu terus bergulir. Sore itu, Zhao Yìchen dan banyak anggota keluarga Adhitama lainnya, tengah berada di terminal keberangkatan luar negeri, khusus untuk jemaah haji ONH plus plus. Mereka hendak mengantarkan Wirya dan Delany, yang akan berangkat ke tanah suci, bersama Zulfi, Sabrina, Alvaro, Mayuree, Yanuar, Malanaya, Zein dan Hendri. Serta beberapa asisten mereka. Zhao Yìchen memandangi perempuan berjilbab putih, yang tengah memeluk Bayazid, Marwa, dan Zayd. Isakan Delany nyaris tidak berhenti, dan itu membuat semua pengantar turut terharu. Setelah Delany menjauhkan diri, Rangga segera menggendong Zayd. Delany berpindah untuk menciumi pipi Tadya, anak Rangga, dan Dilbaz. Perempuan bermata sipit itu kembali sesenggukan dalam pelukan Irshava, dan Zaheera, istri Rangga, yang telah pulang dari London dan menetap di Jakarta bersama sang suami, sebelum lebaran kemarin. Kala Delany berpindah untuk menyalaminya dengan takzim, Zhao Yìchen memeluk adiknya yang kembali terisak
100 Embusan napas hangat Zhao Yìchen menyentuh tengkuk Elma, yang seketika membuka mata. Elma membiarkan lelakinya terus mencumbu, dan dia sangat menikmatinya.Elma memutar badan ke belakang dan mengusap wajah suaminya, sesaat sebelum Zhao Yìchen menyatukan bibir mereka. Cecapan lembut dilancarkan sang penyintas waktu, sembari meraba tubuh istrinya dengan pelan. Gumaman yang terdengar dari mulut Elma menjadikan hasrat lelakinya kian mencuat. Namun, Zhao Yìchen tidak mau terburu-buru dan bergerak lambat sembari menghafal lekuk badan pasangannya.Satu helai kain terlepas dan disusul helaian lainnya. Keduanya terus saling mencumbu sembari menunggu hati siap untuk menyatu. Elma mengusap rambut dan punggung lelakinya, sambil membalas ciuman Zhao Yìchen dengan hangat. Elma memekik tertahan ketika tangan pria tersebut membelai area bawah tubuhnya dengan pelan, dan menimbulkan sensasi yang menyenangkan. Tangan kanan Zhao Yichen bermain dengan cukup lincah. Dia mempraktikkan semua ilmu ber
99 Pesta usai menjelang magrib. Zhao Yìchen dan Elma memasuki ruang ganti khusus pengantin di seberang ballroom. Mereka bergantian mandi dan bertukar baju. Kemudian keduanya menunaikan salat Magrib berjemaah. Menjelang jam 7 malam, pasangan tersebut keluar dari ruang ganti. Zhao Yìchen menyeret dua koper ukuran sedang, dan memberikan benda-benda itu pada petugas hotel, guna diantarkan ke kamar pengantin di lantai lima. Pasangan pengantin baru itu berpindah ke ballroom yang masih ramai orang, terutama tim HWZ dan PBK. Mereka bersantap terlebih dahulu, sebelum mendatangi setiap meja guna beramah tamah. "Ko, Ari video call," cakap Yusuf sambil memberikan ponselnya. Zhao Yìchen menarik tangan kiri Elma agar mendekat. Keduanya melambaikan tangan kanan yang dibalas orang-orang di Sydney dengan hal yang sama. "Selamat menempuh hidup baru, Koko dan Kak Elma," ujar Avreen. "Selamat menikah, dan semoga samawa," tambah Jauhari. "Makasih, Ari dan Avreen," jawab Zhao Yìchen. "Kak Elma, man
98Tim pemusik bergegas menuruni tangga untuk menempati deretan kursi terdepan. Sementara tim penari berpencar ke empat arah. Fikri dan Rinjani mengarahkan pasangan pengantin untuk duduk di bangku dekat keyboard, guna menonton drama dari dekat. Khalayak berseru kala beberapa orang muncul dari pintu kiri. Disusul sekelompok orang lainnya yang hadir dari pintu kanan. Mereka mendekati kedelapan penari, lalu serentak berpose bak model. Alvaro dan Yanuar maju berbarengan dari dua sisi. Musik remix menghentak terdengar dari pengeras suara, dan keduanya bertarung menggunakan jurus bela diri andalan masing-masing. Pekikan hadirin mengiringi langkah kedua pria yang meneruskan berantem pura-pura, hingga musik berganti dan mereka kembali ke kelompok masing-masing. Haryono, Edwin, Galang, dan Yoga, membungkukkan badan, supaya bisa menjadi tumpuan kaki Aswin serta Nugraha, yang naik sambil dipegangi keempat penari pria.Dari sisi kanan, Hisyam lari kencang, lalu melompat dan menendangi gabus si
97Alunan lagu. berirama khas Sunda dimainkan dengan apik oleh tim musik. Kenzo Darka, salah satu artis penyanyi Indonesia yang juga tergabung di grup 1 PCD, muncul dari pintu kiri. Sedangkan Nandira hadir dari pintu kanan. Kedua penyanyi memamerkan suara emas mereka, sembari terus melangkah hingga tiba di tengah-tengah panggung. Lagu pertama usai, dan musik berganti dengan irama gambus. Kenzo dan Nandira mendendangkan wedding nasheed, yang disambung dengan lagu Arab berirama cepat. Kedelapan penari muncul dengan mengenakan kostum beraneka warna. Deswin yang berpasangan dengan Zivara, tampil enerjik dengan tarian modern. Disusul Yusuf dan Irshava yang menampilkan tarian perut, yang menjadikan khalayak heboh. Seusai lagu, Kenzo berpindah mendekati tim musik. Dia menggantikan posisi Panglima, yang beralih mengambil gendang yang talinya diselempangkan ke leher. Sementara Nandira berpindah ke dekat Trevor, sembari bersiap untuk menjadi penyanyi lagi. Musik berubah menjadi lagu khas Ind
27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den
18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed
13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila
12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg







