Share

Bab 05

Penulis: Olivia Yoyet
last update Tanggal publikasi: 2026-02-17 13:43:24

05

Jalinan waktu terus bergulir. Tanpa terasa, sudah hampir sebulan Zhao Yìchen tinggal di rumah Dante. Setiap pagi dia akan menyapu halaman depan dan belakang, meskipun telah dicegah Dante dan istrinya. 

Menjelang siang, Zhao Yìchen akan belajar bahasa Indonesia pada Edelweiss, yang mengajari pria itu dengan sabar. Selain Edelweiss, Zhao Yìchen juga belajar pada Radeya dan Zakaria Ulhaq, ajudan kedua Dante, serta Naisha Istianti, ajudan Edelweiss. 

Kendatipun belum terlalu lancar, tetapi Zhao Yìchen memberanikan diri untuk berbicara menggunakan bahasa Indonesia, terutama jika berhadapan dengan kedua anak Dante, serta ketiga pegawai di rumah. Jika salah penyebutan, maka Zhao Yìchen akan langsung mengubahnya dengan kalimat yang benar. 

Pagi itu, Wirya mendatangi kediaman Dante guna mengajak Zhao Yìchen, menuju kantor PBK di kawasan Pancoran. Zhao Yìchen sangat senang dan segera berganti pakaian dengan setelan rapi. 

Zhao Yìchen menaiki mobil MPV hitam yang disopiri asisten 1 Wirya, yakni Zikria Hafidz Shiddique. Zhao Yìchen duduk berdampingan dengan Wirya di kursi tengah, sambil mendengarkan percakapan pria itu, dengan Zikria dan Fikri Hizkia, sang asisten kedua. 

Perbincangan menggunakan bahasa Mandarin itu berubah dengan bahasa Indonesia, karena Zhao Yìchen yang memintanya. Tawa pria berkemeja hijau muda itu menguar, ketika dicandai Wirya. 

Setibanya di tempat parkir gedung belasan lantai, Zhao Yìchen turun dari mobil. Dia memakai topi bisbol biru tua berlogo PBK yang diberikan Fikri, untuk menutupi kepala depan yang rambutnya baru tumbuh sedikit. 

Keempat orang itu mengayunkan tungkai menuju lobi utama. Zhao Yìchen kaget, karena semua orang memberi hormat pada Wirya dan kedua asistennya. Jika Wirya membalas penghormatan itu dengan anggukan, Zikria dan Fikri balas menghormat pada sesama pengawal tersebut.

Keempatnya memasuki lift khusus direksi dan komisaris. Tiba di lantai 3, pintu terbuka dan mereka keluar dari lift. Adegan penghormatan kembali berulang dan terus berlangsung hingga mereka tiba di ruang rapat kecil. 

Zhao Yìchen mengikuti langkah Wirya untuk menyalami semua orang di ruangan itu. Setelahnya, Zikria dan Fikri keluar untuk bergabung dengan teman-teman mereka di tempat khusus tim asisten. 

"Sudah lancar bahasa kami?" tanya Artio Laksamana Pramudya, komisaris 3. 

"Sedikit," jawab Zhao Yìchen. 

Artio yang akrab dipanggil Tio, memberikan lembaran kertas pada sang tamu. "Wirya bilang, kamu mau kerja, tapi karena kamu tidak bisa pakai laptop, dia ingin menempatkanmu di perpustakaan," terangnya. 

"Ya, tadi Wirya ... ada cerita ... di mobil," tukas Zhao Yìchen dengan terbata-bata. 

"Tugasmu cukup sulit, Yìchen. Yakni, merapikan semua file dari tahun pertama PBK berdiri, yaitu sekitar 5 tahun lalu. Meskipun kami memiliki back up data, tapi berkas itu jauh lebih lengkap," papar Tio. 

"Supaya lebih gampang, data per tahun itu disusun berdasarkan abjad, Ko," usul Alvaro Gustav Baltissen, komisaris 4, sekaligus Adik ipar Tio. "Kalau dirunut dari bulan, akan membingungkan, karena per tanggalnya bisa dobel data," sambungnya. 

"Kalau menemukan data yang sama persis, copy-annya alias yang ada tanda titik merah, dihancurkan di mesin dan tampung di kantong sampah. Nanti OB yang urus pembakarannya," pungkas Alvaro. 

"Bule, dia bingung, itu," seloroh Wirya. 

"Elu pakai bahasa yang rumit, Bang. Dia jadi sulit mencernanya," cakap Yanuar Kaisar, komisaris 5. 

"Rumit pegimane?" tanya Alvaro. 

"Entuh. Elu pakai kata dobel, sama copy-an," jelas Yanuar. 

"Iya, yak? Lupa gue." 

"Pikun gue pindah ke elu." 

"Ambil lagi, Yan. Gue butuh space buat nyimpan nope cewek cantik dan seksi." 

Pekikan protes terdengar dari ketujuh komisaris lainnya. Zhao Yìchen mengulaskan senyuman lebar, karena menyukai cara bercanda para lelaki tersebut. 

*** 

Selama beberapa minggu berikutnya, Zhao Yìchen akan tiba pagi-pagi di kantor PBK, dengan menumpang ke ojek online yang dipesankan Edelweiss, karena Zhao Yìchen belum pandai meggunakan ponselnya. 

Sepanjang pagi hingga siang, Zhao Yìchen akan sibuk memilah banyak berkas di sisi kiri ruang perpustakaan. Menuruti saran Alvaro, Zhao Yìchen menyusun ulang semua data itu berdasarkan abjad. 

Bila makan siang tiba, Zhao Yìchen akan turun ke lantai 1. Dia melenggang ke area belakang yang merupakan deretan warung makan dengan berbagai menu khas Indonesia. 

Zhao Yìchen mencoba semua menu itu secara bergantian. Sebelum dia memutuskan makanan favorit, serta beberapa kudapan tradisional yang menjadi kesukaannya. 

Karakter Zhao Yìchen yang ramah dan gesit, menjadikannya cepat populer sebagai pegawai baru yang rajin. Selain itu, aksen bicaranya yang unik membuat pria asli Tiongkok itu gampang dikenali, walaupun dia mengenakan masker. 

"Ko, sudah makan?" tanya Jauhari Devanka, calon direktur keuangan PBK, yang memasuki perpustakaan sambil membawa tas belanja. 

"Belum. Aku baru mau turun," jelas Zhao Yìchen. 

"Aku beli sate. Ini bagian Koko." Jauhari meletakkan beberapa wadah makanan ke meja. Kemudian dia duduk di sofa panjang hitam. 

"Itu, apa?" tanya Yichen sembari berpindah duduk ke kursi tunggal. 

"Tongseng," jawab Jauhari sembari membuka plastik di mangkuk styrofoam di meja. "Satunya lagi, sop," lanjutnya.  

"Enak yang mana?" 

"Dua-duanya enak. Hanya beda di kuah. Tongseng lebih kental dan berbumbu tajam." 

Zhao Yìchen mencoba kedua makanan itu, lalu dia manggut-manggut. "Kamu benar, ini enak semua. Boleh aku minta sedikit?" 

"Bayar." 

Zhao Yìchen tersenyum. "5 sen?" 

"Mainanku tail emas. Bukan sen." 

Keduanya terkekeh, sebelum berhenti nyaris bersamaan. Mereka bersantap sambil berbagi makanan. Jauhari sempat berhenti mengunyah untuk menjawab panggilan dari atasannya. 

"Bang W, lucu," ucap Jauhari sambil meletakkan ponselnya di meja. 

"Kenapa?" tanya Zhao Yìchen. 

"Dia lupa, kalau tugasku sebagai asisten, sudah diserahkan ke Zikria. Di ingatannya, aku masih asistennya." 

Zhao Yìchen menyunggingkan senyuman, lalu dia berkata dalam bahasa Tiociu. "Dia sering cerita. Harusnya nelepon Zikria, Faidhan, Gwenyth, atau Fikri, tapi yang dihubunginya itu kamu, Dimas, Harun, Santos, dan Deswin." 

"Ya. Dimas dan yang lainnya juga cerita hal yang sama," cakap Jauhari dalam bahasa serupa. "Kalau lagi kumpul semua asisten dan mantan, kami pasti tertawa dengan tingkah Bang W," lanjutnya. 

"Kalian sepertinya sangat akrab." 

Jauhari mengangguk mengiakan. "Kami jadi asisten beliau nyaris bersamaan waktunya. Jadi sering bekerjasama dan akrab sekali. Bagiku dan Harun, Dimas sama yang lainnya adalah Adik kami." 

"Saat jadi asistennya, kamu sama siapa?" 

"Berdua sama Harun. Setelah kami merengek, karena kebanyakan kerjaan, akhirnya Bang W merekrut Dimas, Santos, dan Deswin." 

"Setelah itu, siapa lagi?" 

"Yang sekarang, plus Khairani." Jauhari terdiam sesaat, lalu dia berkata dalam bahasa Indonesia. "Sebetulnya, aku datang ke sini, mau pamitan sama Koko." 

"Pamit?" 

"Ya. Dua hari lagi aku mau berangkat ke Australia. Mengawal Avreen, keponakannya Pak Sultan." 

"Ehm, berarti dia sepupunya Mayuree?" 

"Betul. Avreen dan kedua sahabatnya, tahun depan mau melanjutkan kuliah pascasarjana di Sydney. Aku mengantarnya ke sana untuk meninjau beberapa universitas yang bagus." 

"Kamu dinas sendiri?" 

"Enggak. Ada Nuriel, Ikram dan Chalid. Mereka ajudan keluarga Pramudya." 

"Berapa lama kamu di sana?" 

"Sekitar sebulan." 

Zhao Yìchen manggut-manggut. "Semoga lancar." 

"Aamin." 

Zhao Yìchen mengamati pria berlesung pipi yang tengah mengemasi banyak wadah styrofoam. Zhao Yìchen tertegun, saat merasa hatinya tidak nyaman. Namun, dia tidak bisa mencegah pria itu berangkat, dan hanya mampu berdoa supaya tidak ada hal buruk yang akan terjadi, pada Jauhari serta rekan-rekannya. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 130

    130Ustaz Sulaiman dan Ustaz Mawardi bergantian menyampaikan tausiah dengan topik yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Kemudian acara gunting rambut dimulai dan para tamu semuanya berdiri. Zhao Yìchen keluar dari dalam rumah sambil menggendong Nayara. Agung dan Nandi menyusul sambil membawa nampan berisikan gunting, serta mangkuk untuk menempatkan potongan rambut sang bayi. Zhao Yìchen mendatangi kedua Ustaz terlebih dahulu, kemudian dia bergeser ke kiri guna menyambangi Yayan, Qianfan, Wahyu, Maman, Akong Bun, Frederick, Frans, Finley, Katon, Sultan, Gustavo, Harsaya, Arsyad, Mulyadi, dan ditutup oleh Abdul Affan, ayahnya Zulfi. Selanjutnya, Zhao Yìchen berpindah ke barisan para Nenek, yang dimulai dari Nilam, dan diakhiri seorang perempuan berjilbab abu-abu mengilat, yang senada dengan gamisnya. "Mak, kapan datang?" tanya Zhao Yìchen, sebelum menyerahkan Nayara ke Nilam, lalu dia merunduk untuk menyalami sang pengarang buku, dengan takzim. "Sekitar 15 menit lalu," jawab Emak

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 129

    129Malam baru dimulai, tetapi di bawah tenda panjang itu telah banyak orang dengan berbagai aktivitas. Ada yang memasang hiasan di sepanjang tenda, ada yang memasang banyak kipas AC besar di puluhan titik. Ada pula yang hanya menonton sambil berbincang dengan berbagai topik. Zhao Yìchen tercenung kala puluhan ajudan berbadan jangkung, bekerjasama menggantungkan banyak balon di dalam dan luar rumah. Balon-balon itu berisikan kertas warna-warni dan nomor hadiah doorprize, sumbangan dari semua cucu serta menantu keluarga Adhitama.Zhao Yìchen tercenung saat Bayazid dan teman-temannya diangkat tim Zikria, supaya bisa duduk di pundak Hisyam, Qadry, Aditya, Chairil, Beni, Harun, Samudra, Mahesa, Xander, Dipta, Listu, Dimas, Ukky, Lazuardi, dan Santos, yang badannya menjulang semua. Para bocah itu menambahkan hiasan berupa foto Nayara dalam berbagai pose, yang telah dilaminating. Kemudian mereka bekerjasama mengangkat banner besar bertuliskan nama lengkap Nayara dalam huruf kaligrafi, yan

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 128

    128 Zhao Yìchen bernyanyi dan bergoyang sembari mengayun anaknya. Tanpa memedulikan tawa Nandi dan Agung yang melihat tingkahnya, Zhao Yìchen meneruskan aktivitasnya hingga Nayara merengek, karena menginginkan Mou-chan. Zhao Yìchen bergegas memasuki kamar utama di bagian belakang rumah. Dia memanggil Elma, yang keluar dari toilet dengan berjalan pelan. "Mou-chan, Naya mau nyusu," ucap Zhao Yichen. "Bentar, Ko. Aku minum dulu," kilah Elma sembari duduk di sofa tunggal, dan menggapai gelasnya dari meja. "Fu-chan, bukan Koko," tukas Zhao Yichen. "Kepanjangan," balas Elma, sambil meraih anaknya yang diulurkan sang suami. "Ya, udah. Fu aja." "Jadi kayak nyebut Kung Fu." Zhao Yìchen memandangi istrinya yang tengah mengulum senyuman. "Kamu senyum-senyum, gitu, hatiku mencair." "Jangan merayu. Fu mesti puasa 1 setengah bulan." "Bukannya 40 hari?" "Pas-kan aja jadi 45 hari." "Enggak mau!" "Sstt! Jangan naik suaranya. Naya kaget." Zhao Yìchen mengambil bantal khusus dan menyelipk

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 127

    127 Hari berikutnya. Ruang perawatan VIP yang ditempati Elma, dipenuhi banyak orang. Sebab tidak semua orang bisa tertampung, akhirnya banyak yang keluar dan berpindah duduk di deretan bangku selasar. Di dalam ruangan, semua orang bergantian menggendong bayi bertopi merah muda, yang tetap tertidur pulas walaupun berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Dante membaca doa, sebelum mengecup dahi keponakannya dengan hati-hati. Dia mengayun bayi sembari bernyanyi lagu Mandarin, dengan suara yang cukup merdu. "Ko, gantian. Aku dari tadi belum gendong," pinta Calvin. "Hati-hati, Vin. Ini bayi, bukan boneka," tukas Dante, sembari memindahkan bayi itu ke kedua tangan adiknya. Pintu terbuka dan Wirya memasuki ruangan bersama keluarganya. Mereka menyalami kedua orang tua Elma yang telah datang kemarin malam, kemudian mereka beralih bersalaman dengan keluarga Adhitama. "Siniin bayinya, Vin," ujar Wirya. "Bang, aku baru gendong semenit," rengek Calvin. "Kamu bisa gendong lagi nanti. Aku

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 126

    126Jalinan waktu terus berjalan. Hari perkiraan lahiran Elma yang kian dekat, menjadikan Zhao Yìchen gelisah. Pria itu makin cemas, ketika Elma mulai sering mengalami kontraksi palsu. Seperti pagi itu. Zhao Yìchen ragu-ragu untuk berangkat ke sekolah, tetapi akhirnya dia pergi juga untuk melaksanakan ujian akhir kejar paket B. Pria berkemeja putih itu menyetir sembari berzikir dalam hati. Selain melancarkan, Zhao Yìchen juga tengah mengamalkan wejangan dari Mulyadi, yang telah menerangkan kegunaan dari doa-doa pendek untuk menjaga keselamatan diri. Semua anggota Paguyuban Margalutu telah merasakan manfaat tersebut. Mereka sering mengalami berbagai kejadian yang sulit dijelaskan dengan logika. Seperti yang pernah dialami Izra dan Emyr, saat mereka masih berpangkat staf HWZ, dulu. Izra dan Emyr bertugas mengecek proyek di Lombok, yang telah nyaris rampung pengerjaannya. Mereka menyewa mobil untuk pergi meninjau lokasi lain yang ditawarkan rekanan. Emyr yang menjadi sopir, membaca

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 125

    125Elma berteriak mengelu-elukan kedua mempelai yang masih berdiri di panggung bulat. Elma nyaris melompat, sebelum akhirnya ingat jika dirinya sedang hamil.Elma tersenyum ketika melihat orang-orang di sekitarnya, yang melakukan berbagai macam gaya, guna mengekspresikan kegembiraan mereka akan pertunjukan fantastis tersebut. Akong Bun dan Kakek Edward yang menempati meja sebelah kanan, turut menyoraki Wirya dan Vanetta. Sedangkan ketiga anak Wirya jingkrak-jingkrak di dekat panggung, sebelum mereka dinaikkan petugas ring 1, supaya bisa bergabung dengan kedua orang tua mereka. "Ayah, keren!" puji Bayazid, seusai menerima mikrofon yang diberikan Satya dari tepi kanan panggung. "Mama juga, keren sekali," ungkap Marwa, sebelum dia mendekap Vanetta dari sisi kiri. "Xie-xie," balas Vanetta."Aku pengen bisa kayak tadi," papar Marwa."Nanti kita latihan, Kak. Selagi alatnya masih terpasang," cetus Vanetta. "Abang bisa parkour. Mau tunjukin di sini?" pinta Wirya sembari mengusap dahinya

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 90

    90Seunit mobil van hitam melintasi jalan raya. Sang sopir membelokkan kendaraan ke kiri dan berhenti di depan gerbang besar.Seorang penjaga keamanan mendekat dan menyapa sopir itu dengan ramah. Kemudian penjaga tersebut membukakan gerbang, dan mobil van melaju memasuki area perumahan elite di bara

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 87

    87Acara selamatan atas kebebasan Jauhari dimulai dengan pengajian. Ratusan jemaah masjid besar di Sydney, menghadiri acara tersebut atas undangan Bryan, yang cukup aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan di sana.Bryan yang menjadi mualaf sejak 2 tahun lalu, sering berdiskusi dengan Imam masjid at

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 86

    86Zhao Yìchen menciumi kedua pipi Zayd, sebelum memberikan bocah itu pada pengasuh. Zhao Yìchen memandangi adiknya yang tengah memberikan petuah pada Bayazid dan Marwa, yang membalas ucapan bundanya dengan anggukan. Sekian menit berlalu, Delany melenggang menuju pintu masuk terminal keberangkatan

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 85

    85"Kamu, bisa mijat atau apa, gitu?" tanya Zulfi. "Enggak bisa, Bang," beber Agung. "Belajar sama Koko, supaya tukang pijat kami bertambah. Itu dibutuhkan buat jadi bagian promosi. Sambil mijat, kamu pancing para bos supaya mau pakai tenaga sekuriti dan pengawal. Atau ikut nanam saham di proyek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status