LOGIN84Suasana masjid yang sebelumnya hening, seketika berubah dengan dengungan kata hamdalah, dari orang-orang di ruangan itu. Mereka tampak senang setelah Zhao Yìchen usai mengucapkan syahadat, dan dianggap sah oleh imam utama masjid tersebut. Pria berbaju koko putih yang berhadapan dengan sang imam, menadahkan kedua tangan. Zhao Yìchen mengaminkan doa panjang pria tua berkopiah hitam itu, sembari mengucap syukur dalam hati, karena telah menjadi muslim.Setelahnya, Zhao Yìchen menyalami kedua orang tuanya. Dia mendekap Qianfan dan Nancy, sembari mendengarkan nasihat mereka. Kala memeluk Delany, Zhao Yìchen dan adiknya itu sama-sama menangis, sebelum mereka mengurai dekapan dan mengusap wajah masing-masing dengan saputangan."Selamat datang dan bergabung dengan kami, Ko," ucap Wirya, sebelum merunduk dan menyalami pria yang lebih tua itu dengan takzim."Makasih, W," sahut Zhao Yìchen sembari mendekap Adik iparnya tersebut, lalu dia menjauhkan diri guna berpindah untuk menyalami Dante, Zu
83Konvoi banyak mobil mewah berbagai tipe dan warna, melaju beriringan di jalan bebas hambatan menuju luar kota. Setiap mobil ditempeli stiker bergambar wajah Zhao Yìchen, sebagai penanda jika pria itulah yang hendak diantar ke Bandung, guna melamar kekasihnya. Zhao Yìchen yang berada di mobil MPV mewah milik Frederick, mendengarkan petuah Akong Bun, Papa dan mamanya, serta Frederick dan Tarissa. Semua orang di mobil kedua itu kaget, ketika ketiga mobil Jeep mewah melesat di lajur kanan, lalu para sopirnya melakukan manuver. "Mereka lagi berlatih?" tanya Frederick yang berada di kursi tengah bersama Tarissa. "Ya, Pak," jawab Mahesa, sembari terus mengemudi. "Mobil siapa itu?" desak Akong Bun, yang menempati kursi kiri depan."Bang Varo, Bang Yanuar, dan Kang Hendri," jelas Mahesa. "Sopirnya?" "Kurang tahu, Kong. Aku nggak sempat lihat datanya." "Varo dan Yanuar nyetir mobil mereka sendiri," terang Zhao Yìchen yang tengah berbalas pesan dengan Akhtar. "Zulfi nyetir mobil Hendr
82 Dua orang pria duduk saling berhadapan. Mereka sama-sama diam dan hanya mengamati lawan, sebelum memulai percakapan."Buat apa kamu ke sini?" tanya Banyu, sembari mengamati pria berambut gondrong, yang balik menatapnya dengan saksama. "Aku cuma mau nanya. Apa alasanmu melakukan itu pada Elma?" desak Zhao Yìchen. Banyu mendengkus. "Itu karena dia nolak balikan sama aku, dan itu juga karena dia milih kamu!" Zhao Yìchen tetap berusaha tenang meskipun sebenarnya dia ingin bangkit, dan memukuli pria di hadapannya itu sampai mati. "Kamu egois. Elma nggak akan berpaling ke aku, kalau bukan kamu duluan yang bikin masalah!" tegas Zhao Yìchen. "Aku nggak percaya! Bisa aja kalian juga sudah selingkuh duluan!" kukuh Banyu."Kami ketemu setelah kalian putus. Gimana kami bisa selingkuh duluan?" "Mana buktinya kalian baru kenal setelah aku dan dia bubar?" "Kamu bisa tanya ke para sahabatnya. Mereka yang bawa Elma ke Karimun Jawa, supaya dia bisa ngelupain kamu!" "Mereka itu pembual semua
81Zhao Yìchen memandangi puluhan bos tua dan muda, yang tengah mendengarkan presentasi ala Alvaro, yang menerangkan tentang kemajuan proyek bersama mereka di Spanyol. Setelahnya, giliran Wirya yang menyampaikan beberapa rencana proyek baru di Yunani dan 3 negara Eropa lainnya, yang akan dilaksanakan pada pertengahan tahun mendatang. Zhao Yìchen membatin, jika dirinya tidak akan bisa mencapai tingkatan kemampuan bicara seperti Alvaro dan Wirya. Zhao Yìchen bahkan tidak yakin bisa menyamai kemampuan tim Zikria, yang tengah berjuang keras untuk mengejar kehebatan para Abang mereka. Puluhan menit berlalu. Rapat telah usai. Para pengusaha senior telah kembali ke kantor masing-masing. Sedangkan sisanya memutuskan untuk tetap berada di ruang rapat kantor BHARATHAYA, guna bercengkerama bersama rekan-rekan mereka. Zhao Yìchen yang hendak kembali ke perpustakaan, dipanggil Tio dan diminta untuk duduk di kursi samping kanan, sang presiden komisaris Pramudya Grup tersebut. "Kata Wirya, Sabt
80Berita tertangkapnya Banyu, disambut gembira keluarga inti Elma dan semua sahabatnya. Perempuan itu mengucap hamdalah berulang kali, sebelum mendekap Zhao Yìchen. Bulir bening luruh dari sepasang mata Elma. Dia lega, karena Banyu telah ditangkap di Makassar, dan tengah dipindahkan ke Bandung. Selain itu, Elma juga senang, karena Zhao Yìchen tetap setia dan bersikeras untuk segera menikahinya. Zhao Yìchen memejamkan mata. Dia mengucap syukur dalam hati, karena akhirnya Elma bisa berperang melawan Banyu di pengadilan, guna menuntut keadilan. Zhao Yìchen bertekad untuk terus mendukung kekasihnya, hingga perjuangan Elma tuntas. Siang harinya, Elma diizinkan dokter untuk keluar dari rumah sakit. Erdian yang datang menjemput, mengantarkan Elma dan keluarganya ke Cimahi. Sedangkan Zhao Yìchen menumpang di mobil Yaslan, untuk menuju kediaman orang tua Hendri.Betapa terkejutnya Zhao Yìchen, saat tiba di sana, ternyata Dante dan beberapa anggota keluarga Adhitama telah datang sejak 1 jam
79Beberapa polisi wanita dari polsek setempat, menunggu pegawai yang tengah membuka pintu kamar, di salah satu hotel kawasan Lembang. Kemudian ketiga polwan itu merengsek memasuki kamar guna mengecek situasi. Salah seorang dari mereka menyambangi kasur dan memeriksa kondisi perempuan yang tertutupi selimut. Sedangkan kedua rekannya merekam video dan memotret seisi ruangan, sebagai bukti untuk kasus itu. Zein meminta izin pada kapolsek, yang akhirnya mengajak pria itu memasuki ruangan. Zein berdiri di ujung kasur dan menunggu sang polwan usai mengecek kondisi Elma. Hati Zein mencelos ketika melihat lebam di wajah, leher dan tangan Elma. Dia menunduk saat ketiga polwan menyibak selimut guna memeriksa apakah korban menderita luka lainnya. Seusai pemeriksaan, dua petugas lainnya masuk. Zein membantu memindahkan Elma ke tandu, lalu mengikuti langkah kapolsek dan kedua petugas ambulance yang menggotong tandu. Kelompok itu jalan cepat menuju mobil ambulance. Zein ikut masuk ke sana, se
27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den
18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed
13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila
12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg







