Share

Bab 3

Penulis: Yunita
Beberapa saat kemudian, Moses memanggilku dan meminta mengambilkan baju tidurnya.

Aku mengambil satu set pakaian, lalu mendorong pintu kamar mandi.

Begitu melihatku masuk, Moses buru-buru membalikkan ponselnya. Dengan rambut dan wajah yang masih basah, dia tersenyum kepadaku.

“Terima kasih.”

Begitu selesai berbicara, dia segera menutup pintu kembali.

Aku tidak langsung pergi.

Beberapa detik kemudian, suara dari dalam kembali terdengar. Suara tawa Valen menggema dari ponsel.

“Haha ... kenapa kita berdua seperti sedang berselingkuh?”

Nada suara Moses terdengar santai, “Memangnya kamu belum tahu sifat sahabatmu? Dia terlalu sensitif.”

Valen mendengus pelan, lalu berkata dengan nada menggoda, “Cepat perlihatkan perut berototmu lagi. Aku belum puas melihatnya.”

Moses berpura-pura kesal, “Dasar perempuan mesum!”

....

Aku tidak mendengarkan percakapan mereka lebih lama lagi.

Saat Moses kembali ke kamar, 1 jam telah berlalu.

Pipinya tampak sedikit memerah, dan sorot matanya begitu terang, seolah menyimpan bara yang belum padam.

Jelas terlihat suasana hatinya telah terusik oleh hasrat.

Bahkan sebelum lampu dipadamkan, dia sudah lebih dulu memelukku.

Aku mengangkat tangan untuk menghentikannya, “Di rumah sudah tidak ada kondom.”

Moses tertegun. Tanpa berpikir panjang, dia langsung berkata, “Valen bilang masa suburmu belum tiba, jadi tidak apa-apa.”

Aku menatapnya tajam. Rasa jijik sekilas melintas di mataku.

“Bahkan urusan hubungan kita berdua pun kamu ceritakan padanya?”

“Bukan begitu.” Moses segera menyangkal.

Dia mengusap rambutnya dengan gusar. Namun ketika melihat tatapanku, dia tahu bahwa sudah tidak bisa mengelak lagi.

Dia berkata dengan nada yang terdengar canggung, “Dia juga bukan orang lain.”

Tatapanku perlahan tertuju pada wajahnya. Cara berbicara, ekspresi wajah, bahkan sikapnya ... semuanya menunjukkan bahwa dia selalu memihak Valen.

Untuk sesaat, aku bahkan merasa ... akulah orang luar di antara mereka.

Sampai pada titik ini, aku sudah tidak sanggup lagi tidur seranjang dengannya.

“Pergilah tidur di kamar tamu.”

Moses tercengang. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Hanya karena ini? Aku datang jauh-jauh untuk menemuimu, lalu kamu menyuruhku tidur di kamar tamu?”

Aku menatapnya dengan tenang, “Jadi, alasanmu datang menemuiku hanya untuk melampiaskan hasrat?”

Moses membalas tatapanku dalam diam. Jelas terlihat bahwa dia juga mulai marah.

Aku segera merasa ... mungkin inilah saat yang tepat untuk mengakhiri hubungan kami. Aku pun membuka mulut, namun sebelum sempat berbicara, dia sudah lebih dulu membanting pintu dan pergi.

Aku kembali menutup mulutku, lalu mematikan lampu dan tidur.

Malam itu aku justru tidur dengan sangat nyenyak.

Ketika terbangun dalam keadaan setengah sadar, Direktur Franco telah mengirimkan tiket pesawat kepadaku.

[Besok siang. Jangan sampai terlambat ….]

Aku membalasnya singkat.

[Baik ….]

Kemudian bangkit dari ranjang dan bersiap mencuci muka.

Namun, ketika membuka pintu kamar mandi ... teriakan seseorang tiba-tiba terdengar dari dalam.

Aku tertegun.

Saat hendak menutup kembali pintu itu, Moses bergegas melewatiku dan langsung menutup pintu rapat-rapat.

“Kenapa tidak mengetuk pintu dulu?!” Nada suaranya terdengar tajam.

Saat ini … aku benar-benar merasa seolah-olah dirikulah orang asing di rumah ini.

“Kenapa Valen ada di sini?”

Moses menjawab dengan santai, “Dia merindukanmu.”

Selama 2 tahun menyewa rumah ini, Valen tidak pernah sekalipun datang. Namun begitu Moses ada di sini, tiba-tiba saja dia ingin menemuiku.

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi.

Valen keluar dari kamar mandi dan hanya menyapaku singkat sebelum duduk di meja makan.

Moses meletakkan sepiring telur mata sapi di hadapannya.

Begitu menggigitnya, mata Valen langsung berbinar.

“Kamu memang paling mengertiku. Sengaja membuatkan telur setengah matang untukku.”

Moses mengangkat alis sambil tersenyum. Suasana hatinya tampak sangat baik.

Kemudian dia mendorong piring lain ke arahku, “Jangan berkata bahwa aku pilih kasih. Punyamu juga sudah kubuat.”

Namun tanganku yang menggenggam garpu tidak kunjung bergerak. Karena aku sama sekali tidak makan telur setengah matang.

Selama 6 tahun bersama ... dia bahkan masih belum mengingat hal sesederhana itu.

“Kak Moses, nanti bantu menaikkan peringkat gameku, ya.” Valen mengangkat kaki dan menyenggol kaki Moses dengan manja.

“Kemampuanmu terlalu buruk. Aku tidak mau.”

“Jika benar-benar sahabat, masa bantuan sekecil ini saja tidak mau membantu?”

Semakin berbicara, Valen semakin bersemangat.

Dia langsung duduk di samping Moses dan paha mereka saling bersentuhan.

Saat bergerak, pakaian Valen sedikit bergeser sehingga bagian dadanya tampak terbuka.

Kepalaku langsung berdengung. Dia tidak mengenakan bra.

Wajah Moses tampak sedikit memerah, diam-diam menggeser tubuhnya sedikit menjauh.

Rasa mual langsung memenuhi tenggorokanku.

Aku meletakkan garpu di atas meja dengan pelan. Lalu menoleh kepada Valen yang masih bersikap genit.

“Apa aku pernah memberitahumu ... bahwa kita sudah tidak berteman lagi?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 7

    Moses mengangkat kepalanya. Wajahnya pucat pasi.Pandangannya tampak berkunang-kunang hingga harus diam cukup lama sebelum akhirnya mampu menegakkan tubuhnya.“Aku menghormati keputusanmu dan tidak akan datang mengganggumu lagi. Namun ... aku akan terus menunggumu.”Sorot matanya masih menyimpan rasa keras kepala yang begitu kukenal.Aku mengernyit dan hendak mengatakan sesuatu untuk membujuknya.Namun Moses tidak memberiku kesempatan. Dia berbalik dan membuka pintu.Punggungnya yang tinggi tegap menghilang perlahan di balik malam, sosoknya tampak begitu kesepian.Setelah hari itu, Moses benar-benar menepati ucapannya. Dia tidak pernah datang mencariku lagi.Sebulan kemudian, justru Valen yang meneleponku.“Apa sebenarnya yang kamu katakan padanya?!”Suaranya terdengar begitu panik dan kehilangan kendali.“Kenapa dia memblokir semua kontakku? Bahkan alamat rumahnya juga sudah pindah. Kamu yang sudah tidak menginginkannya. Kenapa masih tidak mau melepaskannya?”Di akhir kalimat, suarany

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 6

    Irama kehidupan di Rivelle jauh lebih santai daripada yang kubayangkan.Selain jam kerja yang cukup padat, waktu luangku benar-benar bisa dinikmati dengan sesuka hati.Aku sering bepergian mengelilingi berbagai negara di Arhco di hari liburku. Di sana, aku juga berkenalan dengan beberapa teman baru.Meski berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, mereka semua ramah dan hangat.Bahkan mereka membantuku melatih kemampuan berbahasa Rivelle dengan antusias.Suatu hari, seorang gadis Rivelle bernama Diana berkata kepadaku, “Jika ingin segera lancar berbahasa Rivelle, carilah pacar orang Rivelle.”Seorang pemuda Rivelle yang duduk di samping langsung mengangkat tangan, “Minnie, aku bersedia!”Ucapan itu membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.Aku pun berpura-pura berpikir sejenak sebelum menjawab, “Akan kupertimbangkan.”Namun, sepertinya Tuhan tidak rela melihatku bahagia.Malam itu, ketika pulang ke rumah, aku melihat Moses sedang berjongkok menungguku di depan pintu.Entah suda

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 5

    “Minnie, kamu pergi ke mana? Kenapa pemilik rumah bilang kamu sudah pindah? Pindah ke mana? Kenapa tidak menungguku?! Aku sudah menunggumu selama tiga jam!”Nada suaranya dipenuhi rasa kecewa, marah, dan tidak puas.Setelah dia meluapkan semua emosinya, aku segera berkata, “Moses, hari itu aku menunggumu selama 10 jam. Aku meneleponmu 30 kali. Di tengah salju dan udara sedingin itu, kakiku sampai mengalami radang dingin. Tahukah kamu bagaimana perasaanku saat itu?”Di seberang telepon, Moses terdiam. Yang terdengar hanyalah napasnya yang semakin berat.Aku memandangi jalanan Rivelle di hadapanku, lalu merapatkan mantel yang kukenakan.“Dalam perjalanan pulang, sopir taksi bercerita bahwa beberapa hari sebelumnya telah terjadi kasus pemerkosaan di terminal itu. Kamu tinggal di kota yang sama. Mustahil tidak mengetahuinya.”Ketika mengingat kembali kejadian itu, mataku mulai terasa panas.“Namun, kamu tetap membiarkanku sendirian di sana selama 10 jam. Saat itu aku mengira sesuatu telah

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 4

    Valen tertegun di tempat. Wajahnya tampak canggung, seolah tidak menyangka aku akan terang-terangan memutuskan hubungan dengannya.Moses mengernyit, “Kalian bertengkar? Sejak kapan?”Aku menatapnya dan menjawab dengan jelas, “4 hari yang lalu. Saat dia ingin ikut bersamaku menemuimu, lalu kutolak.”Karena itulah dia merasa tidak terima. Sebagai balasannya, dia lebih dulu datang menemui Moses.“Hanya karena itu?”Ekspresi Moses masih dipenuhi ketidakpercayaan.Padahal, bukan hanya sekali ini. Selama hampir setahun terakhir, Valen selalu mencari cara untuk mengganggu waktu berdua antara aku dan Moses.Setiap kali aku hendak pergi menemuinya, Valen selalu menahanku. Kadang dia memintaku menemaninya bepergian, kadang mengaku sakit dan membutuhkan bantuanku.Saat aku dan Moses membeli cincin pasangan pun, dia sengaja membeli cincin yang hampir sama dan mengenakan di jarinya.Aku bukan orang bodoh.Karena itu, aku memilih memutuskan hubungan dengannya secara terhormat. Namun, aku tidak perna

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 3

    Beberapa saat kemudian, Moses memanggilku dan meminta mengambilkan baju tidurnya.Aku mengambil satu set pakaian, lalu mendorong pintu kamar mandi.Begitu melihatku masuk, Moses buru-buru membalikkan ponselnya. Dengan rambut dan wajah yang masih basah, dia tersenyum kepadaku.“Terima kasih.”Begitu selesai berbicara, dia segera menutup pintu kembali.Aku tidak langsung pergi.Beberapa detik kemudian, suara dari dalam kembali terdengar. Suara tawa Valen menggema dari ponsel.“Haha ... kenapa kita berdua seperti sedang berselingkuh?”Nada suara Moses terdengar santai, “Memangnya kamu belum tahu sifat sahabatmu? Dia terlalu sensitif.”Valen mendengus pelan, lalu berkata dengan nada menggoda, “Cepat perlihatkan perut berototmu lagi. Aku belum puas melihatnya.”Moses berpura-pura kesal, “Dasar perempuan mesum!”....Aku tidak mendengarkan percakapan mereka lebih lama lagi.Saat Moses kembali ke kamar, 1 jam telah berlalu.Pipinya tampak sedikit memerah, dan sorot matanya begitu terang, seol

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 2

    Ketika sedang menunggu air hangat, Valen kembali memperbarui unggahannya di media sosial.[Mencoba teh susu yang sedang viral. Sahabat baikku rela mengantre selama 1 jam untuk membelikannya. Rasanya biasa saja. Aku hanya meminum seteguk, sisanya kubungkus untuk seseorang ….]“Seseorang” yang dimaksud jelas adalah Moses, yang tersenyum tipis ke arah kamera.Aku sama sekali tidak pernah menyangka. Pacarku yang sangat menjaga kebersihan, bahkan enggan menggunakan gelas yang sama denganku, ternyata bersedia meminum minuman yang telah disentuh perempuan lain.Aku mengembuskan napas pelan, lalu menyukai unggahan itu.Setelah itu, aku menelepon atasanku, “Direktur Franco, saya berubah pikiran. Apakah proyek itu masih bisa saya ambil?”Nada suara di seberang telepon terdengar terkejut, tetapi lebih banyak mengandung rasa lega.“Akhirnya kamu sadar juga. Jika proyek ini berhasil diselesaikan dengan baik, begitu kembali kamu akan langsung naik dua tingkat jabatan.”“Lagipula kamu hanya tinggal s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status