Share

Bab 4

Author: Yunita
Valen tertegun di tempat. Wajahnya tampak canggung, seolah tidak menyangka aku akan terang-terangan memutuskan hubungan dengannya.

Moses mengernyit, “Kalian bertengkar? Sejak kapan?”

Aku menatapnya dan menjawab dengan jelas, “4 hari yang lalu. Saat dia ingin ikut bersamaku menemuimu, lalu kutolak.”

Karena itulah dia merasa tidak terima. Sebagai balasannya, dia lebih dulu datang menemui Moses.

“Hanya karena itu?”

Ekspresi Moses masih dipenuhi ketidakpercayaan.

Padahal, bukan hanya sekali ini. Selama hampir setahun terakhir, Valen selalu mencari cara untuk mengganggu waktu berdua antara aku dan Moses.

Setiap kali aku hendak pergi menemuinya, Valen selalu menahanku. Kadang dia memintaku menemaninya bepergian, kadang mengaku sakit dan membutuhkan bantuanku.

Saat aku dan Moses membeli cincin pasangan pun, dia sengaja membeli cincin yang hampir sama dan mengenakan di jarinya.

Aku bukan orang bodoh.

Karena itu, aku memilih memutuskan hubungan dengannya secara terhormat. Namun, aku tidak pernah menyangka seseorang bisa setidak tahu malu itu.

Valen berdiri perlahan. Matanya mulai berkaca-kaca.

Dengan suara pelan dia berkata, “Maaf ... kalau begitu aku pergi.”

Terdengar bunyi keras saat kursi terguling. Moses tiba-tiba berdiri hingga kursinya terjatuh.

Dia melangkah ke depan dan berdiri melindungi Valen.

Dengan nada berat, dia berkata, “Kalau kamu mengusirnya, aku juga akan pergi.”

“Kalau begitu, pergilah.” Jawabanku begitu cepat. Wajahku tenang, bahkan nyaris tanpa emosi.

Ekspresi Moses membeku sesaat. Karena selama ini aku tidak pernah sekalipun mengusirnya. Bahkan setiap kali kami bertengkar, akulah yang selalu lebih dulu mengalah.

Namun kini ... aku benar-benar sudah lelah.

Moses tetap berdiri di tempat, menatapku dengan keras kepala. Rahangnya mengeras.

Valen mendengus pelan, lalu menggenggam tangannya dan menariknya ke arah pintu.

“Ayo kita pergi. Memangnya dia berhak memperlakukan kita seperti ini? Jika kamu terus membiarkannya bersikap seperti ini, nanti yang menderita itu kamu sendiri.”

Pada akhirnya, Moses benar-benar pergi bersamanya.

Aku akhirnya mengembuskan napas lega.

Aku berdiri, membuang telur di atas piring ke dalam tempat sampah, lalu kembali ke kamar untuk membereskan barang-barangku.

Malam harinya, saat hendak tidur, seorang sahabatku yang lain tiba-tiba mengirim pesan.

[Minnie! Cepat lihat apa yang berhasil kupotret!]

Aku segera membuka foto yang dikirimnya.

Di dalam foto itu, Moses dan Valen sedang berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan terkenal di Kota Mine.

Valen menggandeng erat lengan Moses. Tubuh mereka saling menempel, persis seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.

Mungkin ... jauh sebelum aku menyadarinya, mereka memang sudah seperti itu.

Sahabatku sangat marah.

[Benar-benar tidak tahu malu! Mereka terang-terangan mengkhianatimu. Padahal selama ini kamu sudah sangat baik kepada mereka. Aku benar-benar tidak bisa menerima ini ….]

Hatiku berdegup pelan. Saat hendak menghentikannya, tiba-tiba muncul panggilan video.

Aku segera mengangkatnya.

Di layar, sahabatku tampak sangat murka.

Dia langsung memaki mereka berdua, “Pasangan yang menjijikkan! Apa kalian tidak merasa bersalah kepada Minnie?”

“Moses, saat kamu tidak punya uang sepeser pun, siapa yang rela menghemat uang hidupnya sendiri demi membantumu?”

“Dan kamu, Valen! Benar-benar tidak tahu berterima kasih! Bukankah Minnie yang membantumu mendapatkan pekerjaan? Tanpa dia, apa kamu bisa masuk ke perusahaan sebagus itu?”

Wajah Valen tetap dingin.

Dia menjawab tanpa sedikitpun rasa bersalah, “Apa aku pernah memaksanya mencarikan pekerjaan untukku?”

“Cukup! Diam semuanya!”

Entah apa yang terjadi, Moses tiba-tiba berteriak. Dia menatap ke arah kamera dengan wajah yang berusaha tetap tenang.

“Minnie, kita harus berbicara. Kamu benar-benar salah paham. Besok pagi aku akan menemuimu dan menjelaskan semuanya.”

Sahabatku kembali memakinya, lalu langsung menutup panggilan itu.

Aku menghela napas pelan.

Setelah menenangkan sahabatku beberapa saat, aku pun berbaring dan tertidur.

Keesokannya aku masih harus menempuh penerbangan selama hampir 6 jam.

Ketika bangun, waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Aku sarapan sambil menunggu Moses datang untuk memberikan penjelasannya.

Namun 2 jam kemudian, dia tetap tidak muncul.

Perasaanku tetap tenang.

Aku menarik koper dan melangkah keluar rumah.

Tiba-tiba Moses menelepon. Nada suaranya terdengar tergesa-gesa.

“Minnie, aku akan menemuimu nanti sore. Valen tiba-tiba mengalami keracunan makanan. Aku harus mengantarnya ke rumah sakit.”

“Baik.”

Mungkin karena terlalu sering mengingkari janji, dia terdiam sejenak sebelum berkata dengan nada penuh penyesalan, “Tunggu aku. Aku akan menebus semuanya.”

Aku tidak menjawab dan langsung mengakhiri panggilan. Lalu memblokir dan menghapus seluruh kontaknya.

Setelah tertidur cukup lama selama penerbangan, akhirnya aku tiba di Rivelle.

Saat keluar dari bandara sambil menarik koper, telepon dari ibu pemilik rumah kontrakku berdering.

Nada suaranya terdengar cemas, “Minnie, ada seorang pria yang terus berdiri di depan rumahmu. Aku sudah berkali-kali memintanya pergi, tetapi dia tetap tidak mau. Apa sebaiknya aku menelepon polisi?”

Aku mengiyakan sambil menghentikan sebuah taksi.

Entah sudah berapa lama Moses menunggu di sana. Begitu mendengar suaraku dari telepon, dia segera merebut ponsel itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 7

    Moses mengangkat kepalanya. Wajahnya pucat pasi.Pandangannya tampak berkunang-kunang hingga harus diam cukup lama sebelum akhirnya mampu menegakkan tubuhnya.“Aku menghormati keputusanmu dan tidak akan datang mengganggumu lagi. Namun ... aku akan terus menunggumu.”Sorot matanya masih menyimpan rasa keras kepala yang begitu kukenal.Aku mengernyit dan hendak mengatakan sesuatu untuk membujuknya.Namun Moses tidak memberiku kesempatan. Dia berbalik dan membuka pintu.Punggungnya yang tinggi tegap menghilang perlahan di balik malam, sosoknya tampak begitu kesepian.Setelah hari itu, Moses benar-benar menepati ucapannya. Dia tidak pernah datang mencariku lagi.Sebulan kemudian, justru Valen yang meneleponku.“Apa sebenarnya yang kamu katakan padanya?!”Suaranya terdengar begitu panik dan kehilangan kendali.“Kenapa dia memblokir semua kontakku? Bahkan alamat rumahnya juga sudah pindah. Kamu yang sudah tidak menginginkannya. Kenapa masih tidak mau melepaskannya?”Di akhir kalimat, suarany

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 6

    Irama kehidupan di Rivelle jauh lebih santai daripada yang kubayangkan.Selain jam kerja yang cukup padat, waktu luangku benar-benar bisa dinikmati dengan sesuka hati.Aku sering bepergian mengelilingi berbagai negara di Arhco di hari liburku. Di sana, aku juga berkenalan dengan beberapa teman baru.Meski berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, mereka semua ramah dan hangat.Bahkan mereka membantuku melatih kemampuan berbahasa Rivelle dengan antusias.Suatu hari, seorang gadis Rivelle bernama Diana berkata kepadaku, “Jika ingin segera lancar berbahasa Rivelle, carilah pacar orang Rivelle.”Seorang pemuda Rivelle yang duduk di samping langsung mengangkat tangan, “Minnie, aku bersedia!”Ucapan itu membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.Aku pun berpura-pura berpikir sejenak sebelum menjawab, “Akan kupertimbangkan.”Namun, sepertinya Tuhan tidak rela melihatku bahagia.Malam itu, ketika pulang ke rumah, aku melihat Moses sedang berjongkok menungguku di depan pintu.Entah suda

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 5

    “Minnie, kamu pergi ke mana? Kenapa pemilik rumah bilang kamu sudah pindah? Pindah ke mana? Kenapa tidak menungguku?! Aku sudah menunggumu selama tiga jam!”Nada suaranya dipenuhi rasa kecewa, marah, dan tidak puas.Setelah dia meluapkan semua emosinya, aku segera berkata, “Moses, hari itu aku menunggumu selama 10 jam. Aku meneleponmu 30 kali. Di tengah salju dan udara sedingin itu, kakiku sampai mengalami radang dingin. Tahukah kamu bagaimana perasaanku saat itu?”Di seberang telepon, Moses terdiam. Yang terdengar hanyalah napasnya yang semakin berat.Aku memandangi jalanan Rivelle di hadapanku, lalu merapatkan mantel yang kukenakan.“Dalam perjalanan pulang, sopir taksi bercerita bahwa beberapa hari sebelumnya telah terjadi kasus pemerkosaan di terminal itu. Kamu tinggal di kota yang sama. Mustahil tidak mengetahuinya.”Ketika mengingat kembali kejadian itu, mataku mulai terasa panas.“Namun, kamu tetap membiarkanku sendirian di sana selama 10 jam. Saat itu aku mengira sesuatu telah

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 4

    Valen tertegun di tempat. Wajahnya tampak canggung, seolah tidak menyangka aku akan terang-terangan memutuskan hubungan dengannya.Moses mengernyit, “Kalian bertengkar? Sejak kapan?”Aku menatapnya dan menjawab dengan jelas, “4 hari yang lalu. Saat dia ingin ikut bersamaku menemuimu, lalu kutolak.”Karena itulah dia merasa tidak terima. Sebagai balasannya, dia lebih dulu datang menemui Moses.“Hanya karena itu?”Ekspresi Moses masih dipenuhi ketidakpercayaan.Padahal, bukan hanya sekali ini. Selama hampir setahun terakhir, Valen selalu mencari cara untuk mengganggu waktu berdua antara aku dan Moses.Setiap kali aku hendak pergi menemuinya, Valen selalu menahanku. Kadang dia memintaku menemaninya bepergian, kadang mengaku sakit dan membutuhkan bantuanku.Saat aku dan Moses membeli cincin pasangan pun, dia sengaja membeli cincin yang hampir sama dan mengenakan di jarinya.Aku bukan orang bodoh.Karena itu, aku memilih memutuskan hubungan dengannya secara terhormat. Namun, aku tidak perna

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 3

    Beberapa saat kemudian, Moses memanggilku dan meminta mengambilkan baju tidurnya.Aku mengambil satu set pakaian, lalu mendorong pintu kamar mandi.Begitu melihatku masuk, Moses buru-buru membalikkan ponselnya. Dengan rambut dan wajah yang masih basah, dia tersenyum kepadaku.“Terima kasih.”Begitu selesai berbicara, dia segera menutup pintu kembali.Aku tidak langsung pergi.Beberapa detik kemudian, suara dari dalam kembali terdengar. Suara tawa Valen menggema dari ponsel.“Haha ... kenapa kita berdua seperti sedang berselingkuh?”Nada suara Moses terdengar santai, “Memangnya kamu belum tahu sifat sahabatmu? Dia terlalu sensitif.”Valen mendengus pelan, lalu berkata dengan nada menggoda, “Cepat perlihatkan perut berototmu lagi. Aku belum puas melihatnya.”Moses berpura-pura kesal, “Dasar perempuan mesum!”....Aku tidak mendengarkan percakapan mereka lebih lama lagi.Saat Moses kembali ke kamar, 1 jam telah berlalu.Pipinya tampak sedikit memerah, dan sorot matanya begitu terang, seol

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 2

    Ketika sedang menunggu air hangat, Valen kembali memperbarui unggahannya di media sosial.[Mencoba teh susu yang sedang viral. Sahabat baikku rela mengantre selama 1 jam untuk membelikannya. Rasanya biasa saja. Aku hanya meminum seteguk, sisanya kubungkus untuk seseorang ….]“Seseorang” yang dimaksud jelas adalah Moses, yang tersenyum tipis ke arah kamera.Aku sama sekali tidak pernah menyangka. Pacarku yang sangat menjaga kebersihan, bahkan enggan menggunakan gelas yang sama denganku, ternyata bersedia meminum minuman yang telah disentuh perempuan lain.Aku mengembuskan napas pelan, lalu menyukai unggahan itu.Setelah itu, aku menelepon atasanku, “Direktur Franco, saya berubah pikiran. Apakah proyek itu masih bisa saya ambil?”Nada suara di seberang telepon terdengar terkejut, tetapi lebih banyak mengandung rasa lega.“Akhirnya kamu sadar juga. Jika proyek ini berhasil diselesaikan dengan baik, begitu kembali kamu akan langsung naik dua tingkat jabatan.”“Lagipula kamu hanya tinggal s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status