INICIAR SESIÓNUdara di dalam kamar terasa semakin sesak.
Luna sudah beberapa kali mencoba memejamkan mata, tetapi bayangan pesan yang diterimanya terus berputar di kepala. Orang yang menerima uang itu sudah mati dan kamu salah langkah.
Siapa orang itu?
Apakah ia salah
Luna hampir menyunggingkan senyum miris. “Sepertinya Bapak sangat mencintainya.”“Sangat. Kalau sudah menetapkan suatu keinginan, mustahil mengubah pendiriannya.”“Apakah itu membuat Bapak membencinya? Terkadang?”“Seringnya membuatku jengkel.” Darian terkekeh kecil. “Tapi dia juga punya sisi rapuh. Kalau kami bertengkar hebat, dia akan diam-diam memasak makanan kesukaanku seolah tak terjadi apa-apa keesokan harinya.”Luna menatap kedua telapak tangannya sendiri. Itu fakta. Setiap kali ego mereka berbenturan, Yalinda selalu memilih mencairkan kebekuan lewat dapur, karena ia tak sanggup hidup dalam rumah yang membisu.“Dia juga suka mengomel,” tambah Daria
Luna menunduk. Ada sensasi aneh yang mencubit dadanya—bukan karena ia tersentuh oleh kebaikan itu, setidaknya itu yang berusaha ia yakini. Namun, kalimat Darian membawanya kembali terpental ke masa ketika ia masih menjadi Yalinda.Dulu, setiap kali Yalinda mengeluhkan beban kecil, Darian selalu sigap mencarikan jalan keluar.Pria itu pernah membatalkan rapat tender bernilai miliaran rupiah hanya untuk menemani Yalinda berobat saat demam.Pria itu pernah begitu peduli. Sampai akhirnya perhatian manis itu berkarat dan berubah menjadi racun mematikan. Setidaknya sebelum Selena merebut hatinya.“Kenapa?” tanya Darian ketika mendapati Luna membisu terlalu lama.
Udara di dalam kamar terasa semakin sesak.Luna sudah beberapa kali mencoba memejamkan mata, tetapi bayangan pesan yang diterimanya terus berputar di kepala. Orang yang menerima uang itu sudah mati dan kamu salah langkah.Siapa orang itu?Apakah ia salah satu bidak yang terlibat langsung dalam malam pembunuhan Yalinda?Atau justru seseorang yang selama ini berdiri tegak di dekat Darian, merajut benang-benang kebohongan di bawah hidung mereka?Luna mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang dingin. Ia tidak bisa terus-menerus membiarkan pikirannya digerogoti oleh asumsi tanpa ujung. Jika ia memaksa diri untuk tetap berbaring, kepalanya jus
“Jangan menganggap semua orang yang bekerja untuk Darian mengetahui apa yang sedang terjadi. Kita harus memisahkan orang yang terlibat dengan orang yang hanya menjalankan perintah.”Luna mengangguk. “Aku mengerti.”Raka berdiri dan merapikan tasnya. “Kalau kamu menemukan bukti yang menghubungkan keputusan pencairan dengan Darian, segera beri tahu aku. Itu bagian yang paling penting.”Luna berdiri menyusul. “Aku akan mencarinya.”Raka mengulurkan tangan. “Jaga dirimu.”Luna menyambut uluran tangannya. Namun, sebelum mereka berpisah, Raka sempat mengatakan sesuatu yang membuat langkah Luna tertahan.“Luna, aku t
Keesokan harinya, Luna tiba di kafe yang telah ditentukan lima belas menit lebih awal.Tempat itu cukup ramai, tetapi tidak terlalu bising. Beberapa orang duduk sambil bekerja menggunakan laptop, sementara pengunjung lain menikmati makan siang.Luna memilih meja di sudut dekat jendela, membawa tas kecil berisi buku catatan dan ponsel khusus untuk menyimpan salinan dokumen tanpa membawa berkas asli perusahaan.Pukul sebelas tepat, seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun dengan rambut sedikit berantakan, mengenakan kemeja gelap berlengan tergulung dan tas selempang usang, melangkah memasuki ruangan. Ia mengamati seisi kafe sebelum berjalan lurus menuju meja Luna.“Luna Asteria?”Luna mengangguk. “Raka Pra
Rapat internal tingkat direksi dimulai tepat pukul satu siang.Luna duduk di kursi sudut belakang ruangan, membawa buku catatan hitamnya. Di hadapannya, jajaran direktur dan kepala divisi duduk melingkar di meja rapat utama, termasuk Direktur Keuangan Wiratech Group—Prasetya. Pria paruh baya berusia lima puluhan itu tampak tenang membuka presentasi mengenai laporan anggaran proyek kuartal terakhir.Darian duduk di kursi kepala rapat, mengawasi jalannya diskusi dengan sorot mata dingin. “Silakan dilanjutkan, Pak Prasetya.”Prasetya mengangguk formal.“Secara garis besar, pengeluaran korporasi masih berada dalam koridor anggaran yang aman.”“Memang ada penyesuaian biaya di beberapa lini







