เข้าสู่ระบบKeesokan harinya, Luna tiba di kafe yang telah ditentukan lima belas menit lebih awal.
Tempat itu cukup ramai, tetapi tidak terlalu bising. Beberapa orang duduk sambil bekerja menggunakan laptop, sementara pengunjung lain menikmati makan siang.
Luna memilih meja di sudut dekat jendela, membawa tas kecil berisi buku catatan dan ponsel khusus untuk menyimpan sa
Keesokan harinya, Luna tiba di kafe yang telah ditentukan lima belas menit lebih awal.Tempat itu cukup ramai, tetapi tidak terlalu bising. Beberapa orang duduk sambil bekerja menggunakan laptop, sementara pengunjung lain menikmati makan siang.Luna memilih meja di sudut dekat jendela, membawa tas kecil berisi buku catatan dan ponsel khusus untuk menyimpan salinan dokumen tanpa membawa berkas asli perusahaan.Pukul sebelas tepat, seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun dengan rambut sedikit berantakan, mengenakan kemeja gelap berlengan tergulung dan tas selempang usang, melangkah memasuki ruangan. Ia mengamati seisi kafe sebelum berjalan lurus menuju meja Luna.“Luna Asteria?”Luna mengangguk. “Raka Pra
Rapat internal tingkat direksi dimulai tepat pukul satu siang.Luna duduk di kursi sudut belakang ruangan, membawa buku catatan hitamnya. Di hadapannya, jajaran direktur dan kepala divisi duduk melingkar di meja rapat utama, termasuk Direktur Keuangan Wiratech Group—Prasetya. Pria paruh baya berusia lima puluhan itu tampak tenang membuka presentasi mengenai laporan anggaran proyek kuartal terakhir.Darian duduk di kursi kepala rapat, mengawasi jalannya diskusi dengan sorot mata dingin. “Silakan dilanjutkan, Pak Prasetya.”Prasetya mengangguk formal.“Secara garis besar, pengeluaran korporasi masih berada dalam koridor anggaran yang aman.”“Memang ada penyesuaian biaya di beberapa lini
Keesokan harinya, Luna tiba di kantor jauh lebih awal dari biasanya.Ia mengenakan kemeja putih berpotongan bersih, rok hitam selutut, serta sepatu hak rendah yang sama sekali tidak berisik saat menapaki lantai. Rambut pendeknya tertata rapi, membingkai wajahnya dengan aura profesional yang jauh melampaui usia aslinya sebagai seorang siswi SMA yang menjalani masa magang.Selepas menyapa beberapa staf administrasi di lobi utama, ia langsung melangkah menuju ruang sekretaris.“Pagi, Luna,” sapa seorang staf administrasi senior sambil menyodorkan beberapa map tebal ke atas mejanya. “Ini berkas-berkas yang harus disiapkan untuk rapat internal siang nanti. Pak Darian secara khusus meminta agar semuanya diperiksa ulang.”Luna menerima tumpukan dokumen t
Ia mengeluarkan sebuah foto lain dari map. Foto itu memperlihatkan Luna sedang berjalan bersama Darian di sebuah pusat perbelanjaan. Foto lain menunjukkan mereka berdua di pasar malam. Selena menatap foto tersebut cukup lama.“Darian tidak pernah memperlakukan orang lain seperti itu.”Perempuan di hadapannya tidak memberikan tanggapan.“Cari tahu siapa saja orang yang pernah dekat dengan Luna. Teman sekolah, keluarga, bahkan orang-orang yang bekerja bersamanya.”“Baik, Nyonya.”“Dan satu lagi.” Selena menutup map. “Cari tahu apakah dia pernah berhubungan dengan keluarga Yalinda.”Perempuan itu mengangguk. Selena menyandarkan tubuhnya. Ia belum memiliki bukti, tetapi nalurinya mengatakan bahwa Luna bukan sekadar gadis yang kebetulan masuk ke kehidupan mereka. Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Selena tidak akan membiarkan gadis itu mengancam posisinya.Menjelang siang, Luna kembali ke mansion karena jadwal kerjanya di perusahaan baru dimulai sore hari. Ia sengaja meminta izin kepada kep
“Kamu belum menjawab pertanyaanku.”Darian masih berdiri di belakang Luna. Tatapannya tertuju pada lorong yang menuju ruang kerja lama milik ayah Yalinda.Luna memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. “Aku hanya ingin mencari udara segar. Kamarku terasa pengap.”“Di dalam mansion sebesar ini, kamu harus berjalan sampai ke lorong tersebut untuk mencari udara?”Luna tersenyum tipis. “Ternyata Pak Darian sangat memperhatikan ke mana aku berjalan.”“Sulit untuk tidak memperhatikan seseorang yang selalu muncul di tempat yang tidak seharusnya.”Sindiran itu tidak membuat Luna gentar. Ia justru berbalik menghadap Darian.
Malam merayap pekat.Luna baru saja selesai membersihkan diri ketika ketukan tajam mengoyak pintu kamarnya. Ia menduga salah satu pelayan, tetapi begitu dibuka, Selena berdiri dengan mata bernyala.“Kita perlu bicara,” desis Selena tanpa menunggu izin, langsung menerobos masuk ke dalam kamar.Netra Selena menyapu sudut ruangan tersebut. Kamar di sayap atas mansion, menghadap langsung ke taman belakang, dan letaknya begitu dekat dengan ruang kerja lama ayah Yalinda—titik strategis yang memang sejak awal diincarnya.“Kamu semakin betah di rumah ini, rupanya,” sindir Selena tajam.Luna menyampirkan handuk kecil di pundaknya. “Bukankah itu bagus? Setidaknya aku tidak merepotkan siapa pun.







