Inicio / Fantasi / Kembalinya Janda Wiratama / 10| Mangsa Di Tepi Jalan

Compartir

10| Mangsa Di Tepi Jalan

Autor: Lefkilavanta
last update Fecha de publicación: 2026-08-03 13:00:05

"Aku penguntit! Aku stalking kamu! Karena aku suka kamu! Puas?"

Luna mengacak rambutnya sendiri begitu keluar dari kompleks apartemen Lion.  Langit Jakarta mulai berubah jingga. Akhir pekan membuat jalanan dipenuhi kendaraan. 

Langkahnya menghentak trotoar, sementara wajahnya memerah karena kesal.

"Dasar bocah menyebalkan," gerutunya pelan. "Pertanyaannya banyak sekali. Padahal dia lemah lembut sama Yalinda. Bagaimana bisa berubah jadi bocah setan kalau sama Luna?"

Ia menirukan suara Lion dengan nada mengejek. “Dari mana kamu tahu nomor unit apartemenku? Siapa kamu sebenarnya?”

"Yah, mana aku bisa jawab? Bilang kalau aku Yalinda?" Luna mendengus pelan. "Yang ada dia bisa tambah memakiku habis-habisan."

Ia menendang kerikil kecil di trotoar hingga memantul ke pinggir jalan.

"Aku penguntit ... aku menguntit kamu ... aku suka kamu ...." gumamnya lagi sambil memutar bola mata. "Alasan paling bodoh yang pernah aku buat seumur hidup."

Namun … itu satu-satunya jawaban yang bisa menyelamatkannya. 

Lion mempercayainya? Entahlah. Pemuda jangkung itu hanya diam, lalu mengambil tas Luna dan mengusirnya begitu saja.

Napas panjang keluar. "Aku harus lebih hati-hati mulai sekarang. Aku ngga boleh keceplosan lagi!"

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Nomor tak dikenal. Ia mengabaikannya. Panggilan kedua, dan ketiga. Lalu senyap begitu saja. Baru beberapa langkah meninggalkan kawasan apartemen, sebuah suara memanggil Luna dari belakang.

"Luna!"

Seorang remaja laki-laki berlari kecil menghampirinya. Tubuhnya tinggi kurus. Rambutnya berantakan. Seragam sekolah yang dikenakan sudah tidak rapi.

"Akhirnya ketemu juga."

Luna mengernyit. "Kamu siapa?" tanyanya pelan sembari menatap remaja itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, berusaha menggali informasi setidaknya untuk nama. 

Pemuda itu meringis heran.  "Kamu benar-benar lupa sama aku?"

Luna hanya diam.

"Aku Rio,” katanya sembari menepuk-nepuk dada. “SMA Nusantara. Katanya kamu menyukaiku.” 

Alisnya bertaut rapat, menciptakan kerutan dalam di antara kedua matanya. Nama itu sama sekali tidak membangkitkan ingatan. Luna Asteria menyukai pemuda ini? Sekali lagi … pemuda semacam ini? Dia lebih pantas disebut berandalan.

Luna menatapnya datar. Lalu, berkedip lambat dua kali. Tatapannya kosong dan kepalanya miring ke kiri, seolah otaknya baru saja mengalami kram mendadak. 

"Maaf.” Hanya itu yang lepas dari bibir Luna. “Kamu salah orang.”

Dari sekian banyak catatan di buku diary gadis muda ini, nama Rio tak pernah disebut sekali pun. 

Rio tersenyum pahit. "Aku tahu kamu berubah akhir-akhir ini,” ucapnya. “Aku cuma mau ngobrol sebentar." 

Dia menahan langkah kaki Luna, menarik pergelangan tangannya tiba-tiba. "Ada sesuatu yang harus aku kasih tahu."

Nada bicaranya terdengar sungguh-sungguh.

Luna menimbang sejenak. "Apa?"

"Bukan di sini," sahutnya singkat. Rio melirik kanan kiri. Seolah sedang memastikan sesuatu. "Ada orang yang ngikutin aku."

Kalimat itu membuat Luna sedikit waspada.

"Ayo, kita bicara di tempat lain."

Rio berjalan lebih dulu memasuki sebuah gang sempit di antara dua bangunan tua. Tak punya pilihan, juga sebab rasa penasaran yang memburu, Luna mengikuti beberapa langkah di belakang.

Gang itu sunyi. Baru beberapa meter berjalan, langkah Rio berhenti. Senyumnya menghilang.

"Maaf."

Belum sempat Luna bertanya, suara tepuk tangan terdengar dari balik dinding.

"Bagus. Aku sudah duga, Luna itu bodoh." Arumia muncul. Di belakangnya ada lima remaja lain.

Dua perempuan. Tiga laki-laki. Wajah mereka penuh seringai. Rio mundur pelan, berdiri di sisi Arumia.

Jantung Luna berdetak ugal-ugalan di dalam dada, menghantam rusuknya dengan siksaan rasa takut yang mendadak melumpuhkan.

"Jadi ini jebakan," gumam Luna.

Arumia tertawa jahat, suara yang mulai terdengar memuakkan. "Akhirnya otak lambatmu itu jalan juga. Lumayan pintar."

Luna buru-buru menoleh ke belakang. Dua remaja laki-laki bertubuh tegap sudah berdiri merapat, menutup rapat-rapat satu-satunya jalan keluar. Tidak ada celah.

"Kalian ... mau apa?" tanya Luna sambil melangkah mundur, matanya bergantian menatap Arumia dan dua remaja laki-laki itu.

Arumia melangkah mendekat, matanya berkilat dingin. "Kamu pikir dengan melawan sekali membuat kamu menang?" bisiknya tepat di depan wajah Luna. 

"Tahu tidak? Aku jauh lebih suka Luna yang nurut, pasrah, yang cuma bisa menangis di pojokan. Jangan memaksa dirimu untuk melawan, Luna."

PLAK! Tamparan keras mendarat mulus di pipi kiri Luna. 

Kepala Luna terlempar ke samping, rasa panas mendadak membakar kulitnya. Belum sempat ia menyeimbangkan tubuh, sebuah tendangan mentah dari Arumia menghantam perutnya.

"Ugh!" Napas Luna langsung putus. Tubuhnya meluruh, jatuh berlutut di atas tanah gang yang kotor. 

Gelak tawa berantai pecah memantul di dinding-dinding sempit itu.

"Sekarang lawan lagi, coba!" bentak Arumia puas. "Ayo, lawan!"

Satu anak laki-laki di belakangnya maju dan langsung menarik rambut Luna dengan kasar hingga wajah gadis itu mendongak paksa. 

Menyengat sakit di kulit kepala. Namun, reflek bertahan hidup Luna membakar amarahnya. Dengan sisa tenaga, Luna menghantamkan sikunya ke belakang, tepat meremukkan perut penyerangnya.

Anak itu mengaduh sambil melepaskan genggamannya. 

Luna bergerak cepat. Ia bangkit dan melayangkan tinju yang berhasil mendarat di wajah anak laki-laki lainnya.

Namun, jumlah mereka tidak seimbang.

Sebuah tendangan menyasar pinggang kanannya, disusul pukulan telak di bahu kiri. Seseorang mendorong tubuhnya dengan keras hingga punggungnya menghantam dinding bata. Kepalanya berdenging hebat, pandangannya sempat gelap berbayang.

Arumia kembali mendekat dengan senyum culas. "Tadi berani banget, ya? Merasa jagoan?"

Tamparan kedua mendarat, disusul pukulan di daerah pelipis. 

Kali ini Luna tidak tinggal diam. Ia membalas dengan tinju kanan lurus yang mendarat tepat di pipi Arumia. Gadis itu terjerat mundur dua langkah sambil memegang pipinya yang memerah.

Ekspresi Arumia mendadak berubah liar dan penuh dendam. "Pegang dia! Jangan biarkan dia bergerak!"

Empat orang sekaligus menerjang bersamaan. Tangan Luna ditarik ke belakang dan dikunci mati. Tubuhnya dipaksa kembali berlutut di tanah. Luna terus meronta, memutar badannya liar.

"Lepaskan! Lepaskan aku!"

"Diam, Bitch!" bentak Arumia. Ia maju lalu menarik kerah seragam Luna dengan sangat kasar.

Dua kancing paling atas seragam Luna terlepas dan mencelat ke tanah. Bagian atas pakaiannya terbuka, menyingkap kulit dada dan bagian dalam seragamnya.

Luna terperanjat hebat. "Arumia, jangan! Tolong, jangan!" 

Tangannya berusaha menepis meski terkunci rapat. Rasa panik yang murni merayapi seluruh pembuluh darahnya. "Tolong! Siapa saja, tolong!"

Tak ada suara yang menjawab. Gang sempit itu terlalu terisolasi dari keramaian jalan utama.

Salah satu remaja laki-laki di samping Arumia merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Kamera mengarah tepat ke arah Luna. 

"Wajahnya lihat sini, dong! Biar jelas!" katanya sambil tertawa menyeringai. "Ayo rekam yang bagus! Buka lagi kancingnya!"

Gelak tawa kembali pecah, terdengar begitu menjijikkan dan merendahkan.

Wajah Luna pucat pasi. Dia sudah berusaha melawan, entah bagaimana semua pukulan itu lepas begitu saja dari tubuh mungilnya. Setiap pukulan adalah amarah terpendam dari jiwa Yalinda dalam diri Luna. 

Seolah punya panggung, dia melepaskan semua amarahnya. 

Dengan sisa kekuatan penuh, Luna memutar kepalanya dan menggigit lengan laki-laki yang menahannya dari kanan sekuat tenaga.

Remaja itu menjerit kesakitan dan refleks melepaskan pegangannya. 

Menggunakan kebebasan singkat itu, Luna memutar tubuh, menghantamkan siku ke kepala anak di sebelahnya, lalu menendang tempurung lutut Arumia sekuat-kuatnya.

"Aaghh!" Arumia tersungkur ke tanah.

"Cepat tangkap dia! Jangan sampai lepas!" teriak Arumia histeris dari bawah.

Namun, Luna tidak menunggu. Ia membalikkan badan dan berlari sekuat tenaga tanpa berani menoleh lagi ke belakang.

Langkahnya limbung dan tidak stabil. Lututnya berdarah, sudut bibirnya robek meneteskan darah hangat, dan napasnya terasa putus-putus membakar tenggorokan. Di belakangnya, suara derap langkah dan teriakan masih bergema.

"Kejar dia!"

Luna terus memacu kakinya. Keluar dari gang sempit yang gelap, menembus kerapatan trotoar jalan raya. 

Di sekitarnya, kendaraan melintas begitu cepat tanpa peduli. Pandangan Luna mulai kabur oleh air mata dan rasa pusing yang melanda.

Ia mengangkat tangannya yang gemetar ke udara. "Tolong ... tolong saya ..." Sumpah, dia sudah berteriak. Namun, tenaganya habis.

Hingga pandangannya menangkap sebuah sedan hitam yang berhenti di lampu merah. Mobil mewah dengan kaca gelap yang pekat. Tanpa berpikir panjang, dengan sisa napas dan kesadaran yang tersisa, Luna menghampirinya.

Tangannya yang gemetar mengetuk kaca jendela pintu kemudi berkali-kali secara brutal.

"Tolong ... Tolong saya ... Tolong ...." rengeknya pasrah.

Kaca mobil itu berderit halus, turun perlahan-lahan. 

Luna masih menunduk sambil terengah-engah, memegangi dadanya yang naik-turun dan berusaha menutupi robekan kancing seragamnya.

"Pak ... Tolong ... Ada yang mengejar saya ..."

"Suruh dia masuk." Suara dari kursi penumpang terdengar begitu tenang, berat, dan dingin.

Luna mendongak, mengangkat wajahnya yang penuh luka. Seketika, seluruh tubuhnya membeku. Yang duduk di kursi kemudi itu … dia mengenalnya. 

Darian Wiratama.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
honeybee202024
wah, sungguh di luar rencana! tapi nice timing!🫠 makin lengket uhuy
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Kembalinya Janda Wiratama   84| Pasar Malam (2)

    "Apa bedanya? Kamu bayar uangnya, lalu ambil barangnya." "Itu namanya belanja, bukan menang." Darian menghela napas. Luna menyerahkan sisa sosisnya pada Darian, lalu membayar beberapa keping koin kepada penjaga stan untuk mengambil gelang-gelang plastik. "Perhatikan. Saya akan tunjukkan cara bermain yang benar." Lemparan pertama: meleset jauh. Lemparan kedua: membentur pinggir botol. Lemparan ketiga: jatuh menggelinding di tanah. Luna mengerutkan hidungnya sebal. Darian menahan tawa. "Katanya mau menunjukkan cara bermain yang benar?" Luna menatapnya tajam. "Diam." Darian tertawa kecil—sebuah tawa renyah tanpa topeng direktur yang jarang sekali didengar siapa pun. Luna sempat tertegun mendengarnya. Luna menarik napas, membidik sekali lagi. Kali ini, gelang plastiknya meluncur mulus dan melingkar sempurna di leher botol sasaran. "Berhasil!" serunya girang, mengangkat tangan ke udara sebelum menatap Darian dengan senyuman kemenangan. Darian menoleh pada penjaga stan. "Ambilkan

  • Kembalinya Janda Wiratama   81| Pasar Malam

    Pukul enam sore, Luna melangkah keluar dari lobi Wiratech dengan bahu yang terasa kaku dan punggung yang lelah. Sepanjang hari, jemarinya disibukkan oleh tumpukan berkas dan jadwal rapat yang disodorkan Darian, sementara kepalanya berputar hebat memikirkan rahasia kelam di balik mansion lama ayahnya.Begitu ia mencapai pelataran depan, langkah kakinya serta-merta terhenti.Sebuah sedan hitam mewah terparkir persis di dekat pintu keluar. Darian berdiri di samping kemudi, satu tangannya terselip santai di dalam saku celana, sementara jemari tangan lainnya menggenggam ponsel yang baru saja ia padamkan.Luna mengerutkan dahi, mendekat dengan waspada. "Pak Darian?"Pria itu mengangkat wajah, menatap lurus ke arahnya. "Akhirnya kamu keluar juga.""Kamu ... belum pulang?""Aku sedang menunggumu."Luna terdiam sesaat. Menunggunya? Untuk apa?Darian membuka pintu penumpang depan. "Kita makan malam bersama."Luna langsung menggeleng tegas. "Maaf, aku ada urusan lain.""Urusan apa?""Urusan pri

  • Kembalinya Janda Wiratama   82| Mata Pisau

    Ia mencatat semuanya menggunakan pulpen hitam dengan guratan tangan yang rapi, memberikan garis bawah kecil pada agenda yang membutuhkan lampiran dokumen pendukung.Darian yang kembali duduk di balik meja kerjanya mengamati gadis itu dari kejauhan. Awalnya, ia hanya ingin memastikan sekretaris baru ini tidak memicu masalah. Namun, beberapa menit berselang, perhatiannya justru terpaku pada kebiasaan kecil Luna.Setiap kali pikiran gadis itu berproses memecahkan masalah, jemarinya mengetukkan ujung pulpen dua kali ke atas permukaan meja.Ketuk, ketuk. Berhenti seketika. Lalu ketuk, ketuk lagi.Darian membeku.Yalinda memiliki kebiasaan identik itu. Dulu, ketika malam masih muda dan gadis itu mengerjakan tugas kuliahnya di meja makan rumah mereka, Yalinda akan mengetukkan pulpennya dua kali setiap kali menemui rumus yang rumit. Jika Darian mencoba mengganggunya saat itu, Yalinda akan mendongak galak dan berkata, "Tunggu sebentar. Aku sedang berpikir."Darian menatap Luna lebih tajam. Ti

  • Kembalinya Janda Wiratama   81| Meja Balas Dendam

    Pintu lift berdenging halus ketika terbuka, mempersembahkan koridor lantai teratas Wiratech Group yang diselimuti kemewahan dingin. Luna melangkah keluar dengan setelan kerja sederhana berwarna monokrom, rambut pendeknya dipangkas rapi membingkai tegas garis wajahnya, sementara sebuah map hitam legam tergenggam erat di tangan kanannya. Sepasang sepatu hak rendah mengetuk lantai marmer mengkilap dengan ritme teratur yang memantulkan ketenangan mutlak.Beberapa karyawan yang berpapasan menolehkan kepala. Sebagian berbisik-bisik di balik punggung, sementara yang lain terang-terangan memperhatikan transformasi drastis pada penampilan Luna. Namun, gadis itu bergeming. Tak ada sisa kerapuhan di matanya. Ia telah kehilangan rumah, kehilangan satu-satunya tempat bersandar di dunia, dan baru saja kehilangan sang nenek tercinta. Ia tidak lagi menyisakan apa pun untuk dicemaskan.Kini, jiwanya hanya dipenuhi oleh satu poros tunggal—menghancurkan orang-orang yang telah merenggut segalanya. Te

  • Kembalinya Janda Wiratama   80| Peluru

    Di ambang pintu, Selena berdiri mematung. Tatapan matanya yang tajam menelusuri wajah Luna, berhenti pada potongan rambut pendeknya yang tajam, lalu turun pada map berkas di dekapan gadis itu.Bukan pertengkaran kasar dengan suara melengking yang pecah, melainkan sebuah intimidasi senyap—perang psikologis yang udaranya mendadak dipenuhi bisa beracun.Selena melangkah satu pijakan maju, memangkas jarak. Dagu mewahnya terangkat anggun, namun ada guratan amarah terselubung di celah bibirnya. "Kamu masih punya nyali datang ke kantor suamiku?"Luna menyunggingkan garis bibir tipis—sebuah seringai dingin tanpa cela. "Sayang sekali. Mulai sekarang aku akan jadi jauh lebih sering datang ke sini."Alis Selena menukik tajam. Manik matanya mengunci map tebal di tangan L

  • Kembalinya Janda Wiratama   79| Medan Perang

    Wiratech Group berdiri megah merobek langit pagi, memantulkan silau matahari pada dinding-dinding kaca tebalnya yang dingin. Langkah kaki bersepatu tumit rendah itu bergema mantap di atas lantai marmer yang mengkilap. Rambut pendek barunya—pangkasan tajam yang membingkai rahang tegasnya—bergerak halus mengiringi setiap pijakan. Luna menghentikan langkah tepat di depan meja resepsionis bergaya minimalis.Seorang petugas wanita berseragam rapi menengadah, mengukir senyum formal yang dipaksakan. "Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa dibantu? Ada janji dengan siapa?"Luna menatap mata wanita itu tanpa kedipan, menyunggingkan garis bibir yang teramat tipis. "Darian Wiratama."Saat nama itu meluncur dari celah bibirnya, sebuah desiran dingin yang menusuk mendadak merayap naik dari ujung kakinya, merayapi tulang belakang hingga menjangkau dadanya. “Aku mendapat undangan khusus,” ucap Luna meletakkan kartu nama dia atas meja marmer. “Undangan pekerjaan di sini.”Rasa sesak yang membakar terin

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status