Share

8| Celah Pertama

Author: Lefkilavanta
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-02 13:00:41

Akhir pekan datang dengan langit cerah yang terlalu tenang untuk niat Luna yang sekelam itu.

Dia berdiri di depan cermin kamar kecilnya, menatap pantulan wajahnya sendiri. Gaun biru tua yang membalut tubuh mudanya dengan potongan sederhana, tidak mencolok, tetapi elegan.

Rambutnya ditata setengah terurai, jatuh lembut di bahu–cara yang dulu sering Yulinda pilih ketika masuk perkuliahan, sebelum dunia berubah. Cara yang sama yang sukses membuat Darian jatuh hati padanya hingga mengejarnya mati-matian.

Ia memulas lipstik tipis, bukan warna yang berani. Namun, polesan itu akan menarik seseorang untuk menatapnya lebih lama–Darian Wiratama.

“Hari ini aku bukan Luna,” gumamnya pelan. “Aku Yalinda … yang belum mati.”

Ia mengecek jam tangan. “Tepat.” Dia sudah memperhitungkan semuanya.

–dan Luna berangkat.

$$$

Hampir satu jam berlalu, jalanan Jakarta macet kalau akhir pekan. Luna sampai ditujuannya.

Apartemen Lion berdiri di kompleks elit yang sama dengan unit gedung Darian tinggal. Jaraknya terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Luna melangkah masuk lobi dengan tenang, sesekali melirik jam tangan murahan miliknya untuk menghitung waktu.

Ia menekan tombol lift, pintu terbuka. Dengan siap, dia masuk ke dalam lift.

Beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka. Namun, Luna tak kunjung keluar. Dia menahan pintu lift dengan tangannya.

“Satu ….” Bibirnya menghitung dengan tatapan mata yang terkunci pada jam tangan di pergelangan tangannya. “Dua ….” Dia menghitung lagi. “Dan … saatnya!”

Dia keluar dari pintu Lift. Jam menunjukkan pukul 08.46 menit. Langkahnya tidak tergesa, begitu tenang dan santai.

“Dia akan keluar,” gumam Luna pada dirinya. “Dia pasti akan keluar.”

Tepat sasaran.

Seseorang keluar dari unit apartemennya. Seulas senyum melengkung di bibir Luna. Sesegera mungkin, dia mengubah fokus. Merogoh ponsel di tas kecilnya. Langkahnya berubah. Sedikit ceroboh dan terburu-buru untuk memastikan aktingnya berhasil dan terlihat natural.

Luna menunduk, pura-pura fokus pada layar ponselnya. Ia bisa merasakan keberadaan lelaki itu tanpa menoleh—aroma parfumnya, langkah kakinya yang tenang dan percaya diri. Aura seseorang yang terbiasa memiliki segalanya.

–dan semua tepat sesuai yang Luna inginkan. Dia menabrak Darian, bukan tanpa sebab. Alasannya adalah disengaja. Topeng Luna membawanya datang kemari, setiap langkah telah diperhitungkan dengan cermat. Sesuai dengan perkiraan dan dugaan, hal yang tidak bisa diubah dari Darian adalah jadwal dan waktu aktivitasnya.

Bahunya menyenggol dada Darian. Ponselnya terlepas dari genggaman dan jatuh ke lantai dengan suara pelan.

“Aduh.”

“Maafkan aku,” ucap Luna refleks. “Aku tidak sengaja.”

Darian refleks menunduk. “Tidak apa—”

Tangannya terulur untuk mengambil ponsel itu bersamaan dengan tangan Luna.

Kulit bertemu kulit. Sentuhan singkat, ringan, dan rapi. Namun, itu cukup untuk mengatakan bahwa Darian telah menggigit umpan pertamanya.

Luna berdiri, berpura-pura merapikan gaunnya. Tangannya lembut menyentuh kain yang membalut tubuhnya.

Darian membeku, lalu mendongak.

–dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun … ekspresi wajahnya kehilangan kendali.

Luna mengangkat wajahnya perlahan. Senyumnya muncul samar, tidak penuh. Cara tersenyum yang dulu selalu membuat Darian merasa ingin melindungi, bukan memiliki.

Darian mengulurkan tangan, memberikan ponsel Luna.

“Terima Kasih,” ucap Luna lembut. Senyum tak pernah absen dari bibir ranumnya.

Darian menatapnya terlalu lama.

Matanya menyusuri detail tanpa sadar—warna cat kuku yang bersih dan netral. Rambut yang ditata sederhana, tidak berlebihan. Gaun itu. Cara bahunya sedikit menegang saat gugup palsu.

Kemudian … mata itu. Caranya menatap. Hitam, jernih, dan tenang. Mata yang familiar untuk Darian.

“Sama-sama,” ucap Darian. Napasnya tertahan sesaat.

Luna membungkuk, lalu berpaling dengan perlahan.

“Nama kamu ….” Suaranya serak tanpa ia sadari. Dia menghentikan Luna pergi tanpa menyentuhnya. Dan itu yang Luna inginkan.

Luna menoleh. “Luna,” jawabnya ringan. “Luna Asteria.”

“Kita pernah bertemu, ‘kan?” tanya Darian, tatapannya seolah menelanjangi gadis itu. “Wajahmu tidak asing untukku.” Darian mencoba tenang. Namun, Luna paham betul lelaki itu sedang gugup. Sama persis pertemuan mereka 12 tahun yang lalu kiranya.

Sungguh mudah memancing buaya keluar dari sarangnya dengan aroma daging yang sama.

Luna berpura-pura berpikir, padahal setiap momen ia tangkap dengan rapi. Ia ingat dan ia jadikan rencana untuk hari ini. “Di sekolah?”

Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap Darian. Tatapannya polos, tidak menuntut. Cara yang sama Yalinda lakukan ketika masih muda—sebelum ia belajar bahwa dunia tidak seindah itu.

“Benar. Kamu dari SMA Candramaya.” Darian langsung menebak. Sedangkan Luna hanya mengangguk pelan, rapi dan penuh pesona.

“Soal tabrakan tadi, aku minta maaf, Pak Darian,” lanjut Luna.

Dari tersenyum tanpa ia sadari. “Kamu tahu namaku?”

“Orang hebat yang sering muncul di televisi. Siapa yang tidak kenal?” Luna menyanjung dengan rapi. Umpan kedua, Darian suka pujian.

Darian mengangguk, masih terpaku. “Iya. Tentu.”

“Ngomong-ngomong kenapa kamu ke sini?” tanya Darian, sekarang langkahnya semakin dekat tanpa ia sadari. Seolah suara lembut Luna yang menariknya.

Luna menunjuk pintu salah satu unit apartemen. “Temanku tinggal di sini.”

“Oh,” ucap Darian datar. Pandangan matanya terus tertuju pada Luna. Semuanya membuat dia jatuh pada pandangan pertama.

“Luna?” Suara seseorang membuyarkan akting panggungnya hari ini.

Luna dan Darian menoleh secara bersamaan. Lion berdiri di ujung lorong, jaket tipis ada di pundaknya. Sial sekali, padahal pertunjukan panggung Luna belum sepenuhnya selesai.

Mata remaja itu langsung menangkap pemandangan yang asing–Luna dan Darian dari jarak yang terlalu dekat, dan cara Darian menatapnya.

“Dia temanku,” ucap Luna pada Darian. “Yang tinggal di sini. Seperti yang aku katakan tadi. Pak Darian.” Senyum akrab tersemat di akhir kalimat. Penutup panggung yang sempurna.

Darian akhirnya berkedip, seolah tersadar dari ilusi yang terlalu nyata. Pandangannya beralih ke Lion. Lalu ia hanya mengangguk, berpaling dari Luna kemudian. Tanpa kata pria itu meninggalkan Luna begitu saja.

Lion berpapasan dengan Darian, tetapi ia tidak menoleh maupun menyapa. Semuanya terasa asing jika bukan tentang Yalinda. Mereka hanya manusia yang kebetulan tinggal di apartemen elit yang sama.

“Kamu datang tepat waktu,” ucap Lion ketika berhasil menjangkau gadis itu.

Luna hanya manggut-manggut, lalu memimpin jalan. Langkah mereka tenang. Tidak ada yang membuka suara hingga Luna berdiri di depan sebuah pintu apartemen. Tanpa kata, dia menunggu Lion membuka pintu.

“Aku memang suka tepat waktu,” jawab Luna asal.

“Luna,” panggil Lion pelan.

Luna menoleh. Tatapannya polos tanpa makna.

“Dari mana kamu tahu nomor unit apartemenku?” tanya Lion berdiri di sampingnya.

“Huh?” Lalu gadis itu terdiam. Alisnya terangkat bersamaan.

Lion mengerutkan dahi. “Aku tidak pernah memberi tahu nomornya padamu.”

Hening cukup lama. Luna tak lolos dari pertanyaan Lion kali ini.

“Aku bertanya padamu, dari mana kamu tahu nomor tempat tinggalku?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kembalinya Janda Wiratama   94| Remember Me!

    Sejak malam di mana bara api menghanguskan sejarah hidupnya, eksistensi Luna di dalam dinding megah mansion Wiratama merayap bagai racun yang tak kasat mata.Ia tidak meledak-ledak. Tidak pula menuntut perhatian. Ia merayap lewat celah-celah terkecil yang selama ini diabaikan oleh Selena—sudut-sudut rumah yang kehilangan jiwa.Pagi itu, Luna menuruni anak tangga dengan balutan pakaian sederhana berwarna netral.Rambut pendeknya dibiarkan tergerai natural, membingkai garis rahangnya yang tegas. Di tangan kanannya, sebuah buku catatan kulit kecil tergenggam.Langkahnya terhenti di ruang keluarga yang lapang. Seorang pelayan paruh baya tengah berdiri di samping vas kristal besar, mengganti tumpukan bunga segar yang menghiasi sudut ruangan.

  • Kembalinya Janda Wiratama   93| Seporsi Kekalahan

    Luna tidak langsung menjawab.Tatapannya terpaku pada layar ponsel Darian. Rekaman CCTV itu memperlihatkan dirinya berdiri di ruang tengah rumah, menyalakan api, lalu berjalan keluar tanpa sedikit pun menunjukkan kepanikan.Tidak ada yang bisa disangkal.Ia memang pelakunya.“Kamu ingin menjelaskan sesuatu?” tanya Darian.Luna mengangkat wajah. Pria itu berdiri beberapa langkah di hadapannya, masih mengenakan kemeja kerja dengan lengan tergulung sampai siku. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak bisa dibohongi.Darian sedang menguji dirinya.“Kalau aku bilang itu bukan aku, kamu akan percaya?”“Tidak.”“Kalau begitu, untuk apa bertanya?”Darian meletakkan ponselnya di atas meja. “Aku hanya ingin tahu alasanmu.”Luna menarik napas perlahan. “Aku sudah bilang, Pak Darian. Aku tidak punya rumah lagi. Sekarang aku tinggal di sini.”“Itu bukan alasan untuk membakar rumah sendiri.”“Rumah itu sudah tidak punya siapa-siapa.” Luna menatapnya lurus. “Tidak ada yang akan kehilangan apa pu

  • Kembalinya Janda Wiratama   92| Simpang Jalan

    Lion menegakkan tubuhnya seketika. Darian berdiri beberapa meter dari mereka dalam balutan kemeja gelap. Tatapan matanya bergulir dari Lion ke Luna, lalu mengunci pada jemari Lion yang berada di dekat pintu."Aku tidak ingat pernah memberi izin bagi tamu luar untuk berkunjung di jam seperti ini," ucap Darian dingin.Lion menatap Darian dengan kebencian yang telanjang. "Aku juga tidak ingat harus meminta izin padamu hanya untuk memastikan seseorang belum tewas di rumah ini."Darian menyipitkan matanya bahaya. "Jaga bicaramu, Anak Muda.""Atau apa? Kamu mau mengusirku?" Lion tertawa sinis. "Baguslah. Setidaknya aku tidak perlu menghirup udara di tempat yang mungkin menjadi lokasi pembunuhan berikutnya."Wajah Darian mengeras kaku.Luna menyela cepat, "Lion, pergi dari sini sekarang!"Lion menoleh pada Luna dengan tatapan terluka. "Jadi kamu memilih bertahan di sampingnya?""Aku tidak memilih siapa pun!""Lalu kenapa kamu membiarkan pria ini mengurungmu?!""Aku tidak dikurung!""Kalau be

  • Kembalinya Janda Wiratama   91| Rantai Predator

    Darian menundukkan kepalanya sedikit, mengunci pandangan mereka. “Aku akan mencari tahu apa yang membuat gadis sepertimu rela menghancurkan hidupnya sendiri hanya untuk menjangkauku.”Luna tersenyum getir. “Kalau begitu, silakan cari tahu sampai tuntas, Pak Darian.”Ia menggeser tubuhnya, hendak meraih gagang pintu. Namun suara Darian menghentikan pergerakannya.“Jangan pernah menyalakan api yang tidak sanggup kamu padamkan sendiri, Luna.”Luna menoleh. Darian berdiri di bawah pendar lampu kamar, bayangan wajahnya jatuh kusam di dinding beton.“Api tidak pernah memilih siapa yang pantas dibakar. Begitu pula orang-orang yang sedang kamu coba permainkan di rumah ini.”

  • Kembalinya Janda Wiratama   90| Medan Perang Yang Gelap

    “Kenapa kamu terlihat begitu tenang dan berdiri menyaksikan rumahmu terbakar di CCTV... tepat setelah kamu menyulutkan api dari dalam?”Kalimat itu meluncur bagai bilah belati dingin. Di balik pintu, keheningan membeku, hanya diselingi napas berat Darian dan bunyi gesekan gagang pintu yang kembali diputar kaku.Luna memandang korek api gas di tangannya. Benda kecil berjelaga itu mendadak terasa bagai barang bukti pembunuhan yang tertangkap basah.“Buka pintunya, Luna.”Suara Darian tidak melengking. Justru ketenangan ekstrem itulah yang membuat bulu kuduk Luna meremang. Ia pernah mendengar oktaf suara itu sebelumnya—suara seorang pria yang sedang menahan amarah murni, bukan karena ragu untuk menghancurkan, melainkan sedang menimbang bagian mana yang harus dilumatkan terlebih dahulu.Luna buru-buru menyusupkan korek api itu ke dasar tas, menyapu telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin ke kain rok seragam, lalu melangkah menuju pintu.Ia menarik gagangnya.Darian berdiri menju

  • Kembalinya Janda Wiratama   89| Bidak Catur

    Darian akhirnya membawa Luna ke mansion mewahnya, bukan karena ia menelan bulat-bulat kebetulan tragis ini. Insting penguasanya membaca ketenangan ekstrem yang ditunjukkan gadis itu saat menyaksikan rumahnya hangus menjadi abu.Begitu melangkah melewati lobi mansion yang megah, Darian memerintahkan staf rumah tangga untuk menyiapkan kamar tamu di lantai bawah. Namun, Luna menyela pelan."Bolehkah aku menggunakan kamar di sayap atas yang menghadap ke taman belakang?"Darian menghentikan langkahnya di anak tangga, menoleh penuh selidik. "Kenapa harus kamar itu?""Aku menyukai pemandangannya," sahut Luna santai.Darian menatapnya kaku. Kamar yang ditunjuk Luna berbatasan langsung dengan lantai sayap tua mansion—bagian terlarang yang menyimpan ruang kerja milik mendiang ayah Yalinda, area yang sebelumnya telah Darian larang untuk dimasuki siapa pun."Kamu tidak pernah berkunjung ke mansion ini sebelumnya," bisik Darian curiga. “Dari mana kamu tahu?”"Memangnya aku harus pernah berkunjung

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status