Share

9| Jejak Yalinda

Penulis: Lefkilavanta
last update Tanggal publikasi: 2026-08-02 19:00:09

Dia hanya duduk, tetapi manik matanya menyapu setiap sudut ruangan yang mengurungnya dari dunia siang ini. Apartemen Lion. Hingga pandangan mata tertuju pada sebuah vas bunga kecil di dekat pintu masuk. Dia tahu darimana asal vas bunga itu. Ya, Yulinda yang memberikannya sebagai hadiah ulang tahunnya tahun lalu.

“Kenapa kamu meletakkannya di sana?” tanya Luna sembari menunjuk vas kecil itu.

Lion menoleh, seolah tak acuh sejenak dia mengabaikan pertanyaan Luna.

Luna mencebik kesal. “Kamu mengabaikan pertanyaan tamumu?”

“Kamu saja mengabaikan pertanyaanku tadi,” jawab Lion sembari menurunkan beberapa buku dalam dekapannya. Meletakkan itu di atas meja kaca yang membatasi interaksinya dengan Luna.

Helaan napas Luna terdengar jelas. “Aku bilang aku mencari tahu sebelum datang ke sini.”

Ya, itu adalah alasannya. Meskipun Lion menatapnya curiga, mau tak mau pemuda itu menyerah pada dirinya sendiri. Dia enggan berdebat, terlalu malas untuk meladeni Luna yang merusak akhir pekannya.

Menit demi menit berlalu, apartemen itu memenjarakan mereka dari dunia luar.

Lion menyalakan televisi tanpa suara. Tangannya sibuk membuka buku, tetapi matanya beberapa kali melirik ke arah Luna.

Gadis itu mulai bosan. Tidak duduk seperti tamu kebanyakan. Ia berdiri, berjalan pelan, lalu berhenti di dekat meja dapur kecil yang menyatu dengan ruang tengah.

“Aku boleh ambil apel?” tanyanya sambil menunjuk mangkuk buah.

Lion mengangguk singkat.

Luna mengambil satu apel. Ia mencuci buah itu, lalu mengambil pisau kecil.

Lion hendak kembali pada bukunya–hingga tangannya berhenti bergerak. Dia tak sengaja melihat bagaimana Luna mengupas apel itu … terlalu rapi dan familiar. Kulitnya terkelupas panjang tanpa terputus, spiral sempurna, persis seperti —Lion buru-buru menggeleng kecil, memaksa pikirannya diam. Yalinda mati malam itu. Semua tentangnya harus dia kubur sebagai saksi bisu yang tak pernah boleh bicara.

Luna kembali, menyodorkan apel kupas itu ke piring. Ia menggigitnya perlahan, lalu tersenyum kecil seolah mengingat sesuatu yang menyenangkan.

“Kamu tidak suka apel dikupas?” tanyanya tiba-tiba.

Lion mendongak. Menatap wajah Luna. Sebenarnya dari dekat, dia adalah gadis yang cantik, anggun, dan bersih. Matanya besar seperti rusa, senyumnya melengkung bulan sabit dengan lesung pipi yang menggemaskan. Siapa pun bisa jatuh hati hanya dalam sekejap pandang. Apalagi Luna memakai riasan hari ini, bukan seperti Luna yang polos.

“Aku hanya tidak ingin makan.” Lion menjawab seadanya.

Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya. “Aku ambil air dingin,” ucapnya.

Luna manggut-manggut. Hari mulai siang, segelas air dingin mungkin tepat membasahi tenggorokannya.

“Kamu suka apa?” tanya Lion dari dapur. “Air dingin atau sirup dingin?”

Luna menoleh, menatap punggung Lion. “Sirup jeruk tanpa gula,” ucapnya.

Tangan Lion berhenti di udara. Ketika dia menoleh, Luna kembali disibukkan dengan buku-buku di atas meja.

–dan sekali lagi, kebiasaan itu mirip seseorang.

Sepersekian detik kemudian, Lion kembali. Membawa nampan dengan dua sirup di atasnya. Meletakkan gelas pertama di depan Luna.

Gadis itu tidak langsung meminumnya. Luna meniup permukaan minuman itu dengan pelan, dua kali, lalui satu embusan panjang. Gerakan kecil, hampir tidak berarti. Namun, Lion merasa dadanya ditekan sesuatu yang tak kasat mata. Tenggorokannya seperti kering kerontang, berkali-kali ia mengulum ludah tetapi sensasi kering itu tak kunjung hilang. Anehnya, sekali hatinya mulai resah.

“Kenapa kamu meniupnya?” tanya Lion.

Luna memicingkan mata. “Entahlah. Seperti kebiasaan sejak kecil,” katanya kemudian meneguk sirup itu.

Lion terus menatapnya. Semua yang Luna lakukan hari ini seolah nostalgia baginya terhadap seseorang. Yulinda.

Lamunannya tersentak ketika bel pintu terbuka. Lion hendak berdiri, tetapi Luna menghalangi. “Biarkan aku. Tuan rumah duduk saja.”

Remaja itu tak menolak, toh juga, hanya tentang membuka pintu. Ia mempersilakan Luna melakukan apa yang dia mau.

Saat Luna membuka pintu, seorang perempuan berdiri di sana. Tinggi, ramping, mengenakan gaun putih kasual yang terlalu mahal untuk sekadar berkunjung. Rambutnya panjang bergelombang rapi, senyum manis terpasang sempurna.

Selena.

Matanya menyapu Luna dari kepala hingga kaki dalam sepersekian detik–penilaian yang cepat, tajam, dan penuh perhitungan.

“Oh, tuan rumahnya ada?” tanya Selena ramah. “Aku sedikit terkejut ada gadis yang membuka pintu. Aku hampir berpikir salah rumah. Kamu pasti pacarnya, ya?”

Luna menatapnya, diam. Pikirannya kembali pada malam itu, bagaimana Selena menyaksikan kematiannya. Senyuman itu adalah neraka balas dendam untuknya.

“Halo?” Dia membuyarkan lamunan Luna. “Aku datang untuk ini ,” ucapnya sembari menyodorkan undangan krem berlapis emas. “Bisa tolong berikan ini pada tuan rumah. Boleh ibunya atau anak laki-laki yang tinggal di sini.”

Luna menerima amplop itu. Jarinya menyentuh kertas tebak berlogo elegan–logo yang ia kenal di luar kepala.

Tak lama Lion muncul di balik punggung Luna. “Ada apa?” tanya Lion pelan, menatap kedatangan Selena dengan dingin.

Selena mengambil undangan dari tangan Luna, lalu menyerahkan itu pada Lion. “Aku akan menikah dengan tetangga samping unitmu, Tuan Darian. Kamu pasti mengenalnya.” Senyum ramah tak pernah absen dari bibir merah meronanya.

“Aku ingin mengundang kamu dan ibumu. Kita tetangga,” ucapnya lagi.

Luna terdiam, matanya terus menatap undangan dalam genggaman tangan Lion. Sedangkan Lion hanya mengangguk tanpa ekspresi yang berarti. “Terima kasih.”

“Datang, ya,” imbuh Selena lagi.

Suara lembut Selena mencabik-cabik hati Luna. Dadanya seolah terbakar gosong oleh amarah.

Selepas menyelesaikan kalimatnya, Selena berpamitan dengan anggun dan halus. Hampir membuat Luna muntah di tempat. Semua perangainya di depan publik hanya topeng yang ia kenakan setelah membunuh Yalinda malam itu.

Pintu ditutup, Lion berpaling dari Luna.

“Lion,” panggil Luna lagi.

Remaja itu berhenti, menoleh padanya. Memandang Luna yang tiba-tiba pucat pasi. “Kenapa dengan suaramu?”

“Kamu sakit?” Lion bertanya lagi. Luna tak begitu sebelumnya, tepat sebelum Selena datang.

Luna mengabaikan pertanyaan dari Lion. Sejenak gadis itu menatap undangan di genggaman tangan Lion, lalu memberanikan diri menatap sepasang mata elang remaja itu.

“Biarkan aku yang datang bersamamu,” ucap Luna.

Lion mengerutkan dahi. “Apa maksudmu ….”

“Pernikahan itu,” balas Luna lagi. Jari jemarinya mengepal kuat. “Biarkan aku datang bersamamu.”

Dahi lelaki itu berkerut. “Apa yang sebenarnya ….”

“Lagian kamu juga ngga akan datang sama mama kamu. Mama kamu juga engga akan punya waktu untuk Darian. Dia membencinya setelah Darian mencurangi bisnisnya dan mengambil kliennya.”

Lion masih diam.

“Hubungan kamu sama mama kamu juga tidak sebaik itu untuk bisa datang ke pernikahan tetanggamu. Jadi biarkan aku datang sama kamu,” ucap Luna berentetan. Dia lepas kendali tanpa dia sadari.

Kerutan samar memenuhi dahinya. “Kamu memaksaku untuk bertemu di akhir pekan di rumahku dengan jam aneh yang kamu tentukan. Sekarang kamu mau datang ke pernikahan bersamaku?”

Luna mengangguk mantap.

Lion berjalan mendekatinya. “Dari mana … asal kalimatmu barusan itu?”

Luna terdiam. Mengulum ludahnya sendiri.

“Jangan abaikan pertanyaanku kali ini, Luna! Siapa kamu sebenarnya? Sejauh mana kamu tahu tentangnya?”

Luna memalingkan wajah. “Darian … maksudku, Pak D-Darian itu terkenal dan semua ….”

“Bukan soal bajingan itu!” Lion meninggikan suara.

Keduanya saling menatap.

“Soal istrinya. Yalinda. Siapa kamu sebenarnya?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
honeybee202024
eh Lion Deng hehe
goodnovel comment avatar
honeybee202024
KAKSJSKSKSJKSJSK, INI TANPA JADI FILM UDAH KEDENGERAN TERIAKNYA LIAN🫠
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kembalinya Janda Wiratama   93| Seporsi Kekalahan

    Luna tidak langsung menjawab.Tatapannya terpaku pada layar ponsel Darian. Rekaman CCTV itu memperlihatkan dirinya berdiri di ruang tengah rumah, menyalakan api, lalu berjalan keluar tanpa sedikit pun menunjukkan kepanikan.Tidak ada yang bisa disangkal.Ia memang pelakunya.“Kamu ingin menjelaskan sesuatu?” tanya Darian.Luna mengangkat wajah. Pria itu berdiri beberapa langkah di hadapannya, masih mengenakan kemeja kerja dengan lengan tergulung sampai siku. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak bisa dibohongi.Darian sedang menguji dirinya.“Kalau aku bilang itu bukan aku, kamu akan percaya?”“Tidak.”“Kalau begitu, untuk apa bertanya?”Darian meletakkan ponselnya di atas meja. “Aku hanya ingin tahu alasanmu.”Luna menarik napas perlahan. “Aku sudah bilang, Pak Darian. Aku tidak punya rumah lagi. Sekarang aku tinggal di sini.”“Itu bukan alasan untuk membakar rumah sendiri.”“Rumah itu sudah tidak punya siapa-siapa.” Luna menatapnya lurus. “Tidak ada yang akan kehilangan apa pu

  • Kembalinya Janda Wiratama   92| Simpang Jalan

    Lion menegakkan tubuhnya seketika. Darian berdiri beberapa meter dari mereka dalam balutan kemeja gelap. Tatapan matanya bergulir dari Lion ke Luna, lalu mengunci pada jemari Lion yang berada di dekat pintu."Aku tidak ingat pernah memberi izin bagi tamu luar untuk berkunjung di jam seperti ini," ucap Darian dingin.Lion menatap Darian dengan kebencian yang telanjang. "Aku juga tidak ingat harus meminta izin padamu hanya untuk memastikan seseorang belum tewas di rumah ini."Darian menyipitkan matanya bahaya. "Jaga bicaramu, Anak Muda.""Atau apa? Kamu mau mengusirku?" Lion tertawa sinis. "Baguslah. Setidaknya aku tidak perlu menghirup udara di tempat yang mungkin menjadi lokasi pembunuhan berikutnya."Wajah Darian mengeras kaku.Luna menyela cepat, "Lion, pergi dari sini sekarang!"Lion menoleh pada Luna dengan tatapan terluka. "Jadi kamu memilih bertahan di sampingnya?""Aku tidak memilih siapa pun!""Lalu kenapa kamu membiarkan pria ini mengurungmu?!""Aku tidak dikurung!""Kalau be

  • Kembalinya Janda Wiratama   91| Rantai Predator

    Darian menundukkan kepalanya sedikit, mengunci pandangan mereka. “Aku akan mencari tahu apa yang membuat gadis sepertimu rela menghancurkan hidupnya sendiri hanya untuk menjangkauku.”Luna tersenyum getir. “Kalau begitu, silakan cari tahu sampai tuntas, Pak Darian.”Ia menggeser tubuhnya, hendak meraih gagang pintu. Namun suara Darian menghentikan pergerakannya.“Jangan pernah menyalakan api yang tidak sanggup kamu padamkan sendiri, Luna.”Luna menoleh. Darian berdiri di bawah pendar lampu kamar, bayangan wajahnya jatuh kusam di dinding beton.“Api tidak pernah memilih siapa yang pantas dibakar. Begitu pula orang-orang yang sedang kamu coba permainkan di rumah ini.”

  • Kembalinya Janda Wiratama   90| Medan Perang Yang Gelap

    “Kenapa kamu terlihat begitu tenang dan berdiri menyaksikan rumahmu terbakar di CCTV... tepat setelah kamu menyulutkan api dari dalam?”Kalimat itu meluncur bagai bilah belati dingin. Di balik pintu, keheningan membeku, hanya diselingi napas berat Darian dan bunyi gesekan gagang pintu yang kembali diputar kaku.Luna memandang korek api gas di tangannya. Benda kecil berjelaga itu mendadak terasa bagai barang bukti pembunuhan yang tertangkap basah.“Buka pintunya, Luna.”Suara Darian tidak melengking. Justru ketenangan ekstrem itulah yang membuat bulu kuduk Luna meremang. Ia pernah mendengar oktaf suara itu sebelumnya—suara seorang pria yang sedang menahan amarah murni, bukan karena ragu untuk menghancurkan, melainkan sedang menimbang bagian mana yang harus dilumatkan terlebih dahulu.Luna buru-buru menyusupkan korek api itu ke dasar tas, menyapu telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin ke kain rok seragam, lalu melangkah menuju pintu.Ia menarik gagangnya.Darian berdiri menju

  • Kembalinya Janda Wiratama   89| Bidak Catur

    Darian akhirnya membawa Luna ke mansion mewahnya, bukan karena ia menelan bulat-bulat kebetulan tragis ini. Insting penguasanya membaca ketenangan ekstrem yang ditunjukkan gadis itu saat menyaksikan rumahnya hangus menjadi abu.Begitu melangkah melewati lobi mansion yang megah, Darian memerintahkan staf rumah tangga untuk menyiapkan kamar tamu di lantai bawah. Namun, Luna menyela pelan."Bolehkah aku menggunakan kamar di sayap atas yang menghadap ke taman belakang?"Darian menghentikan langkahnya di anak tangga, menoleh penuh selidik. "Kenapa harus kamar itu?""Aku menyukai pemandangannya," sahut Luna santai.Darian menatapnya kaku. Kamar yang ditunjuk Luna berbatasan langsung dengan lantai sayap tua mansion—bagian terlarang yang menyimpan ruang kerja milik mendiang ayah Yalinda, area yang sebelumnya telah Darian larang untuk dimasuki siapa pun."Kamu tidak pernah berkunjung ke mansion ini sebelumnya," bisik Darian curiga. “Dari mana kamu tahu?”"Memangnya aku harus pernah berkunjung

  • Kembalinya Janda Wiratama   88| Api Yang Tak Pernah Padam

    Api membumbung tinggi melahap bubungan kayu rumah tua miliknya. Suara kayu patah berderak hebat, pecahan kaca jendela meledak menghantam halaman, dan teriakan histeris para tetangga memecah keheningan malam.“Sebenarnya, kamu bisa saja menumpang tinggal di rumah pria itu. Tapi masalahnya, kalau kamu tidak punya tempat bernaung sama sekali ... situasinya jadi sedikit rumit.”Di seberang jalan, Luna berdiri mematung di bawah bayangan tebal. Wajahnya yang pucat tersiram pantulan pendar merah kobaran api. Tak ada air mata yang mengalir di pipinya. Tak ada teriakan meminta pertolongan.Di dalam genggamannya, layar ponsel menampilkan sebuah pesan anonim terakhir:“Gadis itu pintar bukan?”Luna mematikan layar ponselnya. Berselang menit, sebuah sedan hitam mewah mendadak berhenti keras di tepi jalan. Darian menerobos keluar dari pintu pengemudi, menatap horor pada kobaran api yang membakar rumah itu, sebelum matanya menemukan sosok Luna yang berdiri kaku di seberang jalan."Luna! Kamu tidak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status