LOGINAngin malam berembus kencang, menggesekkan dedaunan dari rumput pagar di taman belakang sekolah.
Taman tua itu sepi, bekas lapangan basket tak terurus. Hanya diterangi satu lampu jalan yang berkedip suram. Di atas bangku semen yang retak, Lion duduk sendirian dengan kedua tangan terbenam di saku jaket hitamnya.
Ini file penting. Jangan buat macam-macam. Cari aku di b
Cengkeraman jemari Nenek di pergelangan tangan Luna begitu dingin dan kaku, menyerupai jepitan besi yang enggan melarikan cengkeramannya.Di bawah pijar lilin yang kian meredup, otot-otot di rahang Luna menegang hebat.Rasa penasaran yang membakar benaknya berbenturan keras dengan rasa takut yang sengaja ditanamkan perempuan tua di depannya.Luna menarik tangannya dengan satu hentakan kasar.“Apa yang Ibu lakukan sampai aku harus membencinya?” tanya Luna, suaranya parau menahan serakan emosi yang siap meledak di dada.Nenek tidak menjawab.Tanpa memedulikan tatapan Luna yang penuh tuntutan, jemarinya yang keriput justru bergerak cepat menyambar surat
Gelas di genggaman Luna nyaris hantam lantai kayu sebelum jemarinya mencengkeram erat pelipis porselen itu dengan ketakutan murni.Air di dalamnya berkecak, menetes membasahi punggung tangannya yang pucat.“Darian dan Yalinda ... membunuh Ibu?” bisik Luna. Suaranya serak, pecah di tengah keremangan dapur.Nenek tidak bergerak dari posisinya di depan foto. Lilin tua di meja mengerjap, memantulkan bayangan kelam di raut wajahnya yang keriput.“Dulu,” suara Nenek perlahan terangkat, berat oleh beban puluhan tahun yang membusuk, “Ada seorang wanita yang terpaksa menjual tubuhnya di tempat remang-remang. Rumah bordil pinggiran kota.”Luna meletakkan gelas itu perlahan ke atas meja kayu yan
Luna melangkah lunglai menyusuri koridor samping dekat area parkir.Dari arah berlawanan, Lion berjalan santai dengan tas ransel yang dicangklongkan di satu bahu. remaja itu menghentikan langkah tepat di depan Luna, menghalangi jalur jalannya.“Dapat jawaban dari nenekmu?” suara Lion datar, tanpa basa-basi.Pagi di sekolah itu diselimuti langit abu-abu yang menggantung rendah.Udara lembap sisa hujan semalam masih tertinggal di lorong-lorong beton, menciptakan aroma tanah dan semen basah yang dingin.Riuh suara langkah kaki siswa dan dentang bel pertama menyatu menjadi latar belakang yang samar bagi Luna.“Jangan bertanya. Aku sedang kesal.&rdqu
Aspal beton Jakarta yang bising perlahan berganti menjadi jalanan berbatu yang diapit kebun tebu dan pepohonan rimbun. Bau asap knalpot menyengat meluruh, digantikan aroma tanah basah, embun, dan bau sangit daun kering yang dibakar dari kejauhan.Kabut tipis merayap pelan menyelimuti pinggiran desa. Jalanan sempit hanya cukup untuk satu kendaraan, diapit deretan rumah panggung kayu tua berdinding anyaman bambu yang warnanya telah memudar dimakan usia. Di tempat ini, riuh kemewahan dan intrik panas ibu kota seolah-olah lenyap ditelan kegelapan malam. Hanya ada dengung jangkrik yang bersahut-sahutan di balik semak-semak dan dingin udara pegunungan yang menusuk hingga ke tulang.Luna melangkah pelan menelusuri jalan setapak berserapah tanah lembap. Setiap kali telapak sepatunya bergesek dengan batuan kerikil, ada memori asing yang samar-samar berdenyut di dalam pikirannya. Saraf-saraf tubuh ini seolah mengenali sudut-sudut gubuk kayu dan tajamnya aroma udara desa. Sebuah tempat yan
Angin malam berembus kencang, menggesekkan dedaunan dari rumput pagar di taman belakang sekolah.Taman tua itu sepi, bekas lapangan basket tak terurus. Hanya diterangi satu lampu jalan yang berkedip suram. Di atas bangku semen yang retak, Lion duduk sendirian dengan kedua tangan terbenam di saku jaket hitamnya.Ini file penting. Jangan buat macam-macam. Cari aku di belakang sekolah kalau ada apa-ada. Ya, Lion yang mengatakan itu padanya.Luna berlari kecil menghampirinya. Langkah kakinya memecah hening, memicu derap cepat jantungnya yang serasa hendak melompat keluar dari rongga dada.Tanpa basa-basi, tanpa sapaan pembuka, Luna berdiri tepat di depan Lion.Pandangann
Aroma parfum sintetis yang terlalu manis menyengat hidung Darian begitu dia melangkah melewati pintu utama griya megah itu.Jarum jam dinding berlapis emas menunjuk angka satu malam.Suasana rumah hening, tetapi bayangan di ujung tangga menunjukkan bahwa dia tidak sendirian.Selena berdiri di sana.Gaun tidurnya yang terbuat dari sutra merah melambai pelan tertiup pendingin udara. Kedua tangannya bersedekap di dada, mata tajamnya mengawasi setiap gerak-gerik Darian yang berjalan melintasi aula berlantai marmer.“Baru pulang?” tanyanya pelan. Dia menuruni anak tangga perlahan.Darian mengangguk sekali. Berjalan ke arah bar mini di pojok apartemennya.&n







