MasukIni tidak masuk akal!!!
"Kiara..." Suara wanita yang datang dari belakang Arya segera membangunkannya dari lamunan. Namun, itu juga kembali membuatnya terdiam, tak bisa berkata-kata. "Mama!" Kiara, gadis kecil itu langsung berteriak dan memanggil seorang wanita di samping Arya. "Akhirnya Mama pulang! Aku sangat merindukanmu!" Arya melihat sosok yang datang itu, dan perasaannya menjadi campur aduk. Karena wanita yang tampak berusia awal dua puluhan dan memiliki tinggi 165 cm dengan wajah cantik dan lembut ini memiliki perawakan yang tumpang tindih dengan adik perempuannya di masa lalu. "Aruna... Apakah itu kau?" Suara Arya tampak serak dan gemetar. "Siapa kau!?" Aruna langsung waspada dan menempatkan Kiara di belakangnya. Menatap sosok pria dengan jubah putih dan rambut hitam panjang di depan rumahnya, wajah Aruna tiba-tiba menjadi dingin. "Mama, Mama... Om ini mau menculikku!" Ditambah dengan kata-kata Kiara ini, wajah Aruna langsung menjadi sedingin es saat menatap Arya. "Ini..." Untuk kesekian kalinya selama ribuan, Kaisar Abadi benar-benar tercengang dan tak berdaya dalam menghadapi situasi. "Kau adalah..." Aruna mulai menatap pria di depannya dengan teliti. Melihatnya dari atas ke bawah, menyaksikan wajah pemuda yang tampak berusia 25 tahun, terlihat tampan dan tampak berwibawa, Aruna merasa seperti pernah melihatnya. Tapi ia ragu, karena orang ini memakai pakaian yang aneh. Mulai dari rambut panjangnya yang sampai ke pinggang, rambut hitam legam layaknya rambut wanita, Aruna ragu—apakah pria ini sedang bermain kostum? Lihat saja jubah putih dengan ornamen aneh di sekujur tubuhnya? Jika dilihat lebih teliti, pria ini tampaknya adalah orang gila atau seorang penggemar anime yang sedang bermain kostum! Tapi yang janggal adalah, apa yang dia lakukan di sini? Apakah seperti yang dikatakan Kiara sebenarnya, pria ini berencana untuk menculik putrinya? Tapi itu tidak masuk akal, bukan? Pada saat yang sama Aruna memeriksanya, Arya juga mulai memperhatikan adik perempuannya yang tidak pernah dia lihat selama lima ribu tahun ini. Sambil tersenyum, dia tampak senang saat mengetahui ekspresi Aruna yang tampaknya menyadari sesuatu. Akan tetapi, kata-kata yang datang selanjutnya kembali membuat Arya terdiam. "Aku tidak tahu siapa dan apa tujuanmu ke mari, tapi sepertinya kau hanya orang malang yang sedang membutuhkan uang." Sambil berbicara, Aruna tiba-tiba mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dan menyodorkannya ke arah Arya. "Ini, ambil. Gunakan uang itu untuk mencari makan dan segera pulang. Jangan sampai orang tuamu mengkhawatirkanmu!" Arya sungguh tak bisa berkata-kata saat mendengar perkataan adiknya, apalagi saat menyaksikan selembar uang yang disodorkan kepadanya. Gadis ini, apakah dia tidak menyadari siapa dirinya? Beraninya dia? "Mama, Mama!" Sebelum Arya sempat berbicara, gadis kecil itu tiba-tiba memanggil Aruna dengan tatapan cemberut. "Kenapa Mama memberi Om ini uang? Bukankah tadi Ara bilang kalau Om ini mau menculikku?" Mendengar pertanyaan itu, wajah Aruna langsung melembut, dan sambil tersenyum mulai menjawab, "Ara, dia bukan orang jahat. Lihat pakaian dan rambutnya. Dia mungkin sedang tersesat atau mungkin ditinggalkan oleh teman-temannya saat sedang menghadiri acara tertentu. Oleh sebab itu, dia berniat mencari seseorang untuk meminta atau meminjam uang agar bisa kembali pulang." "Ingat, saat ada seseorang yang membutuhkan pertolongan, asalkan dia bukan orang jahat, kita harus membantunya selagi bisa, oke?" "Hmm..." Mata Kiara tampak berkedip, mencoba memahami apa yang Aruna ajarkan sebelum akhirnya mengangguk mengerti. "Oke!" Tapi dengan wajahnya yang polos, entah dia mengerti atau tidak, hanya Tuhan yang tahu. Kedua orang dewasa di sana hanya tersenyum dan menatap gadis itu dengan kasih sayang. Bahkan Arya tidak bisa menahan rasa gembiranya saat menyaksikan putri kecilnya terlihat sangat manis. "Anak pintar..." kata Aruna sambil tersenyum dan mengelus kepalanya. Kemudian kembali melihat ke arah Arya, dia kembali menyodorkan lembaran uang kepadanya. "Sebelum aku berteriak meminta bantuan, cepat ambil uang ini dan pergi dari sini!" Untuk kali ini, Arya tiba-tiba tersenyum. Menatap wanita yang terlihat tegas dan tampak berwibawa di depannya, dia tidak marah, tapi malah terkekeh pelan. "Kacang polong, apakah menurutmu aku harus menerima uang itu atau tidak?" "Kacang... Kacang polong..." Mendengar nama itu, tubuh Aruna tiba-tiba gemetar. Saat menatap wajah Arya yang kini sedang tersenyum lembut kepadanya, tiba-tiba matanya mulai berkaca-kaca. Mulutnya bergerak-gerak, mencoba untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. "Ada apa?" Ketika menyaksikan adik perempuannya mulai tergagap, Arya mulai tersenyum lebar, dan menatapnya dengan tatapan geli. Sambil melipat kedua lengannya di dada, Arya kembali bertanya dengan nada menggoda, "Lupa pada monyet besar yang selalu kau ikuti sepanjang waktu?" Seketika itu juga, kertas dan tas di tangan Aruna langsung jatuh ke tanah. Dan tanpa sepatah katapun, dia langsung menerjang tubuh Arya. Memeluknya dengan erat, dan mulai terisak. "Kakak!!" "Huu.. aku merindukanmu! Kemana saja kau selama ini? Kau pergi tanpa bilang-bilang selama lima tahun... Kupikir, kupikir kau sudah mati... Woow..." Citra wanita yang tegas dan berwibawa beberapa saat lalu seketika menghilang. Sambil menangis dan berkata dengan nada yang tidak jelas, Aruna terus memeluk kakak laki-lakinya dengan erat, takut bahwa semuanya adalah mimpi! Kacang polong dan monyet besar. Itu adalah panggilan mereka selama bertahun-tahun di masa lalu, dan hanya adik dan kakak serta keluarganya yang mengetahuinya. Jadi, setelah Arya memanggilnya dengan sebutan "kacang polong", panggilan yang sudah tidak dia dengar selama bertahun-tahun, otak Aruna langsung kosong. Ditambah dengan Arya sendiri yang menyebut dirinya sebagai "monyet besar" panggilan yang dia berikan sejak berumur enam tahun, Aruna tidak lagi ragu-ragu, dan sangat yakin bahwa orang aneh di depannya adalah kakak laki-lakinya. Kakak laki-laki yang hilang lima tahun lalu! Arya tersenyum senang, dan sedih saat melihat adik perempuannya memeluk dirinya dengan sangat erat. Dia tahu bahwa sepertinya sejak dirinya pergi, gadis kecil ini telah banyak menderita. Lihat saja tubuhnya yang tampak kurus di pelukannya! Sambil mendesah dan mengelus kepalanya dan mengacak-ngacak rambutnya seperti di masa lalu, Arya berkata, "Ceritanya panjang. Tapi... Aku sudah pulang...." "Umm... Umm..." Aruna hanya mengangguk dan terus memeluknya, tampaknya tidak berniat untuk melepaskannya. Hal itu membuat Kiara, gadis kecil yang tak jauh dari keduanya merasa aneh. Menyaksikan ibunya yang selama ini terlihat galak, lembut dan tegar tiba-tiba memeluk orang asing, gadis itu tidak mengerti apa yang terjadi. Apalagi saat menyaksikan ibunya menangis tersedu-sedu seperti saat dirinya sedang menangis? Apakah Om ini menyakiti ibunya? Kiara memiringkan kepalanya, dan kemudian berjalan ke arah Arya sambil menarik-narik jubahnya. "Paman, tolong lepaskan ibuku! Jangan sakiti Mama, Ara janji tidak akan nakal lagi..." Sambil berbicara, kedua matanya mulai basah oleh air mata. "Oh..." Hal itu segera membangunkan Aruna, dan buru-buru melepaskan pelukannya dengan rasa malu. Tapi sebelum dia sempat untuk membujuknya, Arya sudah mengambil gadis kecil itu, dan menggendongnya dengan penuh kasih sayang. "Tidak, tidak. Ayah tidak melakukan apapun! Jangan menangis, Kiara adalah anak yang baik di dunia..." Sambil berbicara, Arya dengan lembut mengelus air matanya, membuat gadis kecil itu tiba-tiba berhenti, dan menatapnya dengan mata melebar. "Ayah?" Kiara tiba-tiba berhenti melihat sosok Arya di hadapannya dengan tatapan terlihat harapan, ketakutan dan antispasi di kedua matanya. "Apakah Paman adalah ayahku?" Pertanyaan dan tatapan itu membuat Kaisar Abadi yang telah berusia lebih dari lima ribu tahun merasa sedih dan gelisah. Pada akhirnya, dia hanya bisa mengangguk dengan berat tanpa berkata-kata. Karena baginya sekarang, melakukan tugasnya sebagai seorang ayah lebih penting dan berharga daripada janji omong kosong belaka. "Horee!" Sontak Kiara berteriak senang, dan kini gantian memeluk leher Arya! "Akhirnya aku punya ayah! Ara tidak lagi menjadi anak yang tidak memiliki ayah! Tidak ada lagi yang bisa mengejek Ara tidak memiliki ayah!""Mencoba bersaing denganku menggunakan energi internal?" Arya hampir kembali tertawa terbahak-bahak saat mendengar tantangan Dermott. Tapi dia terlalu malas untuk meladeni, dan hanya mengangkat tangannya dengan sebuah raungan berat yang tiba-tiba. "Rroooaaarr!" Bukan hanya terdengar berat, ruangan itu juga membuat siapapun yang mendengarnya merasa pusing dan beberapa langsung pingsan. "Bom!" Diiringi oleh raungan dan tekanan besar yang menyebar ke segala arah, sosok besar seukuran tong air, dan kepala sebesar mobil muncul di hadapan Dermott. "Mustahil!" Ketika Dermott dan siapapun yang di sana melihatnya, mereka hampir tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Karena sosok besar, panjang sekitar sepuluh meter, berwarna biru, oleh nyala api adalah seekor Naga! Lengkap dengan sisik dan empat kaki di sepanjang tubuhnya. Sementara kepalanya yang seukuran mobil kecil juga memiliki dua tanduk, lengkap dengan dua kumis di moncongnya. Sedangkan untuk mulutnya yang kini terbuka, gigi-g
"Hmp?" Alis Serena seketika berkerut dengan ekspresi tidak senang, dan marah saat samar-samar mendengar nada penghinaan Arya. Tapi wanita itu masih berusaha tenang dan tersenyum tipis sambil bertanya, "Apa maksud Grandmaster Anan?" "Apakah ini semua rencana yang telah kau persiapkan untukku?" tanya Arya kembali, sambil mengangkat selembar kertas di tangannya. "Apa yang kau katakan?" Serena tampak terkejut, dan tidak mengerti dengan apa yang Arya maksud. Arya tersenyum kecil, dan kemudian mengangkat kertas itu di depannya. "Bam." Diiringi suara ledakan kecil, kobaran api merah tiba-tiba muncul dari telapak tangannya, melahap seluruh kertas itu menjadi abu dalam sekejap. "Kau... Apa yang sedang kau lakukan?!" Serena mundur satu langkah refleks, matanya melebar. Karena keterkejutannya, dia bahkan tidak sempat memikirkan bagaimana Arya melakukannya, yang keluar dari mulutnya hanya pertanyaan penuh amarah. Arya masih tersenyum tenang dan sama sekali tidak mengubah ekspresinya.
Selesai Serena menyelesaikan kata-katanya yang terang-terangan ditujukan kepada Arya itu, Thalya langsung menjadi sangat marah terhadapnya. Wanita ini, bukan hanya sekadar mengajak para ahli seniman beladiri dan Grandmaster, tapi juga membawa-bawa hukum negara. Mempersiapkan semuanya sedemikian rupa agar Arya tidak memiliki celah untuk melawannya. Menggunakan kekuatan untuk melawan, ada puluhan ahli beladiri dan seorang Grandmaster yang akan menghadangnya. Menggunakan hukum untuk melawan, Serena sudah memiliki para penegak hukum dan bahkan pejabat negara di belakangnya. Jadi, apapun yang akan Arya lakukan, dia tidak akan bisa melakukan apapun saat wanita licik ini melakukan penjarahan dan pembunuhan di halaman belakang rumahnya. Akan tetapi, saat Thalya dan Robert yang sangat marah saat mengetahui rencana itu, mereka berdua menemukan jika Arya masih tetap tenang dan bahkan mulai
Ketika semuanya kembali tenang, dan duduk di tempatnya, Dermott akhirnya tersenyum ringan, dan diam-diam memerintahkan seniman beladiri yang ia bawa untuk mundur. Dia juga melakukan hal yang sama, namun ia tidak turun atau pergi menjauh dari Serena. Melainkan berdiri dua meter darinya, layaknya seorang pengawal yang berjaga-jaga dari setiap ancaman yang tidak diinginkan. Tapi mungkin Dermott terlalu khawatir, karena setelah apa yang terjadi barusan, tidak ada lagi orang yang berani bertindak ceroboh. Sekalipun para seniman beladiri ini sangat menginginkan Pil Esensi seperti seekor semut yang menyukai madu, mereka tidak lagi bertindak ceroboh seperti sebelumnya. Tidak, setelah mengetahui kekuatan Keluarga Coldway yang sebenarnya. Puluhan ahli beladiri internal dan lima Master Gang Qi ditambah dengan seorang Grandmaster sebagai pemimpin, itu adalah kombinasi kekuatan yang menakutkan bagi siapapu
"Seratus juta tiga kali!" "Apakah tidak ada yang menawar lagi?" Melihat keheningan yang terjadi, Serena mulai mengetok palu lelang dan mengesahkan kemenangan Declan. "Selamat kepadamu karena telah mendapatkan apa yang kau inginkan!" Namun, nada selamat yang Serena katakan terdengar agak dingin dan acuh tak acuh terhadap tunangannya. "Haha!" Anehnya, Declan sama sekali tidak marah dan bahkan tertawa terbahak-bahak saat mendapatkan respon dingin semacam itu. Dia juga mulai berdiri dan tersenyum penuh cinta dan kelembutan saat menatap Serena di sana. "Seratus juta dolar bukanlah apa-apa bagiku!" "Tapi memberikan hadiah yang berharga untuk calon istriku adalah suatu keharusan!" "Jadi tolong, terima ungkapan kasih sayangku yang tak seberapa itu. Ambil Pil Yuan atau apalah itu untuk dirimu sendiri. Aku yakin, dengan kamu meminumnya, kamu akan menjadi lebih cantik dan luar biasa daripada sebelumnya!" Serena mendengus dingin, dan tidak repot-repot untuk membalasnya. Tap
"Sejujurnya aku juga tidak tahu banyak, tapi deskripsinya yang luar biasa masih membuatku penasaran. Jadi, kenapa kita tidak melihatnya secara langsung?" Selesai Serena berkata, seorang relawan, seorang wanita paruh baya di usia lima puluhan tahun tiba-tiba berjalan ke arah panggung. Wanita paruh baya itu, dengan wajah keriput, rambut kusam, dan kulit yang kering dengan sorot mata yang kemerahan, terlihat tidak sehat dan sakit-sakitan berjalan ke arah samping Serena. Kemudian berdiri di hadapan semua orang untuk bisa melihatnya dengan jelas, jika wanita itu benar-benar wanita paruh baya yang kurang sehat. Setelah itu, Serena mulai berkata, "Aku yakin semua orang tahu, bahwa relawan kita benar-benar tidak sedang baik-baik saja, kan?" Hampir semua orang mengangguk setuju, dan yakin bahwa wanita paruh baya yang terlihat biasa-biasa saja, dan bahkan tidak terawat saat hanya mengenakan pakaian casual itu memang tidak sedang baik-baik saja. "Pil Yuan Kecil..." Serena mulai berbicara,







