Beranda / Urban / Kembalinya Kaisar Abadi / Apakah kamu ayahku?

Share

Apakah kamu ayahku?

Penulis: Mr. Mystery
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-01 22:37:38

Ini tidak masuk akal!!!

"Kiara..." Suara wanita yang datang dari belakang Arya segera membangunkannya dari lamunan. Namun, itu juga kembali membuatnya terdiam, tak bisa berkata-kata.

"Mama!" Kiara, gadis kecil itu langsung berteriak dan memanggil seorang wanita di samping Arya. "Akhirnya Mama pulang! Aku sangat merindukanmu!"

Arya melihat sosok yang datang itu, dan perasaannya menjadi campur aduk. Karena wanita yang tampak berusia awal dua puluhan dan memiliki tinggi 165 cm dengan wajah cantik dan lembut ini memiliki perawakan yang tumpang tindih dengan adik perempuannya di masa lalu.

"Aruna... Apakah itu kau?" Suara Arya tampak serak dan gemetar.

"Siapa kau!?" Aruna langsung waspada dan menempatkan Kiara di belakangnya.

Menatap sosok pria dengan jubah putih dan rambut hitam panjang di depan rumahnya, wajah Aruna tiba-tiba menjadi dingin.

"Mama, Mama... Om ini mau menculikku!" Ditambah dengan kata-kata Kiara ini, wajah Aruna langsung menjadi sedingin es saat menatap Arya.

"Ini..."

Untuk kesekian kalinya selama ribuan, Kaisar Abadi benar-benar tercengang dan tak berdaya dalam menghadapi situasi.

"Kau adalah..." Aruna mulai menatap pria di depannya dengan teliti.

Melihatnya dari atas ke bawah, menyaksikan wajah pemuda yang tampak berusia 25 tahun, terlihat tampan dan tampak berwibawa, Aruna merasa seperti pernah melihatnya. Tapi ia ragu, karena orang ini memakai pakaian yang aneh.

Mulai dari rambut panjangnya yang sampai ke pinggang, rambut hitam legam layaknya rambut wanita, Aruna ragu—apakah pria ini sedang bermain kostum?

Lihat saja jubah putih dengan ornamen aneh di sekujur tubuhnya?

Jika dilihat lebih teliti, pria ini tampaknya adalah orang gila atau seorang penggemar anime yang sedang bermain kostum!

Tapi yang janggal adalah, apa yang dia lakukan di sini? Apakah seperti yang dikatakan Kiara sebenarnya, pria ini berencana untuk menculik putrinya? Tapi itu tidak masuk akal, bukan?

Pada saat yang sama Aruna memeriksanya, Arya juga mulai memperhatikan adik perempuannya yang tidak pernah dia lihat selama lima ribu tahun ini. Sambil tersenyum, dia tampak senang saat mengetahui ekspresi Aruna yang tampaknya menyadari sesuatu.

Akan tetapi, kata-kata yang datang selanjutnya kembali membuat Arya terdiam.

"Aku tidak tahu siapa dan apa tujuanmu ke mari, tapi sepertinya kau hanya orang malang yang sedang membutuhkan uang." Sambil berbicara, Aruna tiba-tiba mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dan menyodorkannya ke arah Arya.

"Ini, ambil. Gunakan uang itu untuk mencari makan dan segera pulang. Jangan sampai orang tuamu mengkhawatirkanmu!"

Arya sungguh tak bisa berkata-kata saat mendengar perkataan adiknya, apalagi saat menyaksikan selembar uang yang disodorkan kepadanya.

Gadis ini, apakah dia tidak menyadari siapa dirinya? Beraninya dia?

"Mama, Mama!" Sebelum Arya sempat berbicara, gadis kecil itu tiba-tiba memanggil Aruna dengan tatapan cemberut. "Kenapa Mama memberi Om ini uang? Bukankah tadi Ara bilang kalau Om ini mau menculikku?"

Mendengar pertanyaan itu, wajah Aruna langsung melembut, dan sambil tersenyum mulai menjawab, "Ara, dia bukan orang jahat. Lihat pakaian dan rambutnya. Dia mungkin sedang tersesat atau mungkin ditinggalkan oleh teman-temannya saat sedang menghadiri acara tertentu. Oleh sebab itu, dia berniat mencari seseorang untuk meminta atau meminjam uang agar bisa kembali pulang."

"Ingat, saat ada seseorang yang membutuhkan pertolongan, asalkan dia bukan orang jahat, kita harus membantunya selagi bisa, oke?"

"Hmm..." Mata Kiara tampak berkedip, mencoba memahami apa yang Aruna ajarkan sebelum akhirnya mengangguk mengerti.

"Oke!" Tapi dengan wajahnya yang polos, entah dia mengerti atau tidak, hanya Tuhan yang tahu.

Kedua orang dewasa di sana hanya tersenyum dan menatap gadis itu dengan kasih sayang. Bahkan Arya tidak bisa menahan rasa gembiranya saat menyaksikan putri kecilnya terlihat sangat manis.

"Anak pintar..." kata Aruna sambil tersenyum dan mengelus kepalanya.

Kemudian kembali melihat ke arah Arya, dia kembali menyodorkan lembaran uang kepadanya.

"Sebelum aku berteriak meminta bantuan, cepat ambil uang ini dan pergi dari sini!"

Untuk kali ini, Arya tiba-tiba tersenyum. Menatap wanita yang terlihat tegas dan tampak berwibawa di depannya, dia tidak marah, tapi malah terkekeh pelan.

"Kacang polong, apakah menurutmu aku harus menerima uang itu atau tidak?"

"Kacang... Kacang polong..." Mendengar nama itu, tubuh Aruna tiba-tiba gemetar.

Saat menatap wajah Arya yang kini sedang tersenyum lembut kepadanya, tiba-tiba matanya mulai berkaca-kaca. Mulutnya bergerak-gerak, mencoba untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya.

"Ada apa?" Ketika menyaksikan adik perempuannya mulai tergagap, Arya mulai tersenyum lebar, dan menatapnya dengan tatapan geli.

Sambil melipat kedua lengannya di dada, Arya kembali bertanya dengan nada menggoda, "Lupa pada monyet besar yang selalu kau ikuti sepanjang waktu?"

Seketika itu juga, kertas dan tas di tangan Aruna langsung jatuh ke tanah. Dan tanpa sepatah katapun, dia langsung menerjang tubuh Arya. Memeluknya dengan erat, dan mulai terisak.

"Kakak!!"

"Huu.. aku merindukanmu! Kemana saja kau selama ini? Kau pergi tanpa bilang-bilang selama lima tahun... Kupikir, kupikir kau sudah mati... Woow..."

Citra wanita yang tegas dan berwibawa beberapa saat lalu seketika menghilang. Sambil menangis dan berkata dengan nada yang tidak jelas, Aruna terus memeluk kakak laki-lakinya dengan erat, takut bahwa semuanya adalah mimpi!

Kacang polong dan monyet besar. Itu adalah panggilan mereka selama bertahun-tahun di masa lalu, dan hanya adik dan kakak serta keluarganya yang mengetahuinya.

Jadi, setelah Arya memanggilnya dengan sebutan "kacang polong", panggilan yang sudah tidak dia dengar selama bertahun-tahun, otak Aruna langsung kosong.

Ditambah dengan Arya sendiri yang menyebut dirinya sebagai "monyet besar" panggilan yang dia berikan sejak berumur enam tahun, Aruna tidak lagi ragu-ragu, dan sangat yakin bahwa orang aneh di depannya adalah kakak laki-lakinya.

Kakak laki-laki yang hilang lima tahun lalu!

Arya tersenyum senang, dan sedih saat melihat adik perempuannya memeluk dirinya dengan sangat erat. Dia tahu bahwa sepertinya sejak dirinya pergi, gadis kecil ini telah banyak menderita.

Lihat saja tubuhnya yang tampak kurus di pelukannya!

Sambil mendesah dan mengelus kepalanya dan mengacak-ngacak rambutnya seperti di masa lalu, Arya berkata, "Ceritanya panjang. Tapi... Aku sudah pulang...."

"Umm... Umm..." Aruna hanya mengangguk dan terus memeluknya, tampaknya tidak berniat untuk melepaskannya.

Hal itu membuat Kiara, gadis kecil yang tak jauh dari keduanya merasa aneh. Menyaksikan ibunya yang selama ini terlihat galak, lembut dan tegar tiba-tiba memeluk orang asing, gadis itu tidak mengerti apa yang terjadi. Apalagi saat menyaksikan ibunya menangis tersedu-sedu seperti saat dirinya sedang menangis?

Apakah Om ini menyakiti ibunya?

Kiara memiringkan kepalanya, dan kemudian berjalan ke arah Arya sambil menarik-narik jubahnya.

"Paman, tolong lepaskan ibuku! Jangan sakiti Mama, Ara janji tidak akan nakal lagi..." Sambil berbicara, kedua matanya mulai basah oleh air mata.

"Oh..."

Hal itu segera membangunkan Aruna, dan buru-buru melepaskan pelukannya dengan rasa malu. Tapi sebelum dia sempat untuk membujuknya, Arya sudah mengambil gadis kecil itu, dan menggendongnya dengan penuh kasih sayang.

"Tidak, tidak. Ayah tidak melakukan apapun! Jangan menangis, Kiara adalah anak yang baik di dunia..." Sambil berbicara, Arya dengan lembut mengelus air matanya, membuat gadis kecil itu tiba-tiba berhenti, dan menatapnya dengan mata melebar.

"Ayah?" Kiara tiba-tiba berhenti melihat sosok Arya di hadapannya dengan tatapan terlihat harapan, ketakutan dan antispasi di kedua matanya.

"Apakah Paman adalah ayahku?"

Pertanyaan dan tatapan itu membuat Kaisar Abadi yang telah berusia lebih dari lima ribu tahun merasa sedih dan gelisah. Pada akhirnya, dia hanya bisa mengangguk dengan berat tanpa berkata-kata.

Karena baginya sekarang, melakukan tugasnya sebagai seorang ayah lebih penting dan berharga daripada janji omong kosong belaka.

"Horee!" Sontak Kiara berteriak senang, dan kini gantian memeluk leher Arya!

"Akhirnya aku punya ayah! Ara tidak lagi menjadi anak yang tidak memiliki ayah! Tidak ada lagi yang bisa mengejek Ara tidak memiliki ayah!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Penangkapan

    Sedangkan untuk Arya, dia masih tetap duduk di meja makan dengan ekspresi tenang dan tanpa kekhawatiran, hanya sedikit mengerutkan keningnya.Melihat beberapa moncong senapan diarahkan kepada dirinya, sebenarnya Arya sama sekali tidak khawatir, karena bagaimanapun, senjata api tidak akan bisa melukai tubuh abadinya.Arya tidak senang karena mereka tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya secara paksa, membuat putri kecilnya menjerit ketakutan dan panik. Terlebih lagi, motif penangkapan ini sangat tidak masuk akal.Menghajar dan melakukan kekerasan terhadap tujuh orang siang tadi? Bukankah itu adalah saat dia mengalahkan orang-orang suruhan Danan?Tidak, sebenarnya itu pembelaan diri, bukan?Membela diri saat ada seseorang yang akan mencelakainya dianggap sebagai pelanggaran?! Dikategorikan sebagai kekerasan dan penganiayaan secara sepihak?Sejak kapan pembelaan diri terhadap penganiayaan dianggap sebagai kejahatan?Tapi Arya juga tahu apa yang terjadi, dan tidak bisa untuk tidak menarik sudu

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Keras kepala

    "Tentu saja. Bukankah ayah memang seorang pahlawan?" Arya tersenyum dan menjawab dengan bangga. Sekalipun dia tidak bisa mengatakan dirinya sebagai seorang "pahlawan" yang sesungguhnya, dia bisa menjadi pahlawan bagi putrinya sendiri, bukan? "Benar!" Kiara mengangguk dan menjawab, "Ayah memang pahlawan yang kuat, berani dan bisa sulap! Menghilangkan orang-orang jahat itu secara ajaib!" "Jadi, apakah Ara suka sulap?" "Ya, Ara sangat suka! Ara juga ingin melihat sulap lagi. Ayah, bisakah ayah melakukan sulap lagi?" "Tentu," Arya mengangguk dan menurunkannya ke lanti. "Tapi karena hari sudah siang, kita harus makan siang dulu. Lalu mandi dan belajar." "Hmmp!" Ekspresi gadis kecil itu langsung cemberut dengan menggelembungkan kedua pipinya, tampak kesal dan tidak puas. Saat Arya melihatnya seperti itu, dia tidak bisa untuk terkekeh lucu, dan membawanya masuk ke rumah dengan berkata, "Nanti, setelah makan siang, mandi dan belajar, nanti malam ayah akan menunjukkan sulap yang hanya b

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Sulap

    "Uhuk... uhuk..." Tak lama kemudian, pria tua yang sebelumnya tak sadarkan diri itu tiba-tiba berbatuk dan membuka matanya. "Benar-benar berhasil!" "Sungguh luar biasa!" "Hanya dengan memegang pergelangan tangan dan memejamkan mata, pemuda barusan berhasil menyembuhkan stroke tiba-tiba! Ini pasti ilmu sihir!" ... Semua orang terkejut dan berkata dengan ketidakpercayaan. Ketika pria tua itu memahami apa yang terjadi, wajahnya berubah dan dia buru-buru menoleh ke sekelilingnya. "Siapa yang menolongku barusan!?" "Dia..." Orang-orang di sana mulai melihat sekeliling, mencoba mencari keberadaan Arya, tapi sosok ayah dan putrinya telah menghilang dari pandangan semua orang. "Kakek! Dia ayah teman baruku! Namanya Arya! Dia yang menyembuhkan kakek barusan!" "Arya?" Pak tua Hale bergumam dan mulai mengingat namanya. Di saat yang bersamaan, Arya dan Kiara sudah berjalan pulang, dan gadis kecil itu selalu menatap ayahnya dengan mata berbinar sepanjang jalan. Penuh dengan kata-kata puj

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Apapun demi putrinya

    Siang hari.Setelah Arya berhasil membuat kesepakatan awal dengan Evelyn, dan berbelanja beberapa bahan makanan dan hal-hal lainnya, dia kembali ke TK, bersiap-siap untuk menjemput putrinya pulang. Pukul 11 siang, anak-anak akhirnya keluar dari ruang kelas, dan berjalan keluar. Dari kejauhan, Arya melihat jika putrinya sedang berjalan dan bergandengan tangan dengan seorang gadis seusianya. Berjalan saling bahu-membahu, berbincang dan tertawa, tampak akrab sebagai seorang teman. Arya cukup senang dan tersenyum saat melihat putrinya tampak tersenyum dan ceria daripada pagi hari tadi. "Ayah!" Ketika Kiara melihat sosok Arya, dia segera berteriak dan berlari ke arahnya dengan senyum lebar. Bersamaan dengan teman wanita kecilnya, dua mahkluk kecil itu tiba-tiba di depan Arya dengan Kiara mulai memperkenalkan teman serta dirinya. "Ayah, ini Viona, temanku yang baru pindah sekolah pagi ini. Viona, ini ayahku yang aku ceritakan sebelumnya! Ayah yang kuat dan keren seperti pahlawan!" "B

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Negosiasi sepihak

    Orang yang datang bukan orang lain, dia adalah Arya itu sendiri. Memasuki ruang kantor dengan hanya mengenakan kaos dan celana panjang hitam, tampak biasa tanpa menggunakan aksesori apapun, Evelyn yang melihatnya langsung tahu bahwa pria yang berusia pertengahan dua puluhan tahun ini adalah orang aneh yang sedang bermain-main.Tidak lagi melihat atau memperhatikannya, Evelyn juga segera berkata, "Segera keluar dari sini!" Arya sama sekali tidak menghiraukan perintahnya. Dia hanya mulai berjalan ke arah sofa yang ada di sana, dan mulai duduk dengan ekspresi tenang dan santai. Tidak lupa juga menuangkan kopi yang telah di persiapkan, dan meminumnya untuk dirinya sendiri. Seolah-olah dia adalah pemilik kantor itu. Ketika Evelyn melihatnya, dia benar-benar menjadi sangat marah. Diam-diam tangannya mulai membuka laci meja kantornya, dimana senjata api berupa pistol selalu tersimpan di dalamnya. "Apakah kau pemilik perusahaan ini?" Arya tidak peduli dengan apa yang wanita itu pikirkan a

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Rencana untuk mencari uang

    Ketika hanya tersisa dua orang, Yuna akhirnya melihat ke arah Arya dan mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri. "Saya Yuna, wali kelas yang mengajar Ara. Saya mendengar bahwa sebelumnya anda menghilang, dan tidak sempat untuk menemui Ara. Melihatmu sekarang, sepertinya anda telah kembali." Arya juga mengalaminya, dan menjawab, "Itu cerita masa lalu. Mulai sekarang aku yang akan selalu mengantarnya ke sekolah. Tolong perhatikan putriku. Jika terjadi sesuatu, jangan ragu untuk menghubungiku." Di saat Yuna mendengar jawaban itu, dia sedikit memperhatikan ekspresi tulus Arya dan menemukan bahwa sepertinya rumor jika Ara tidak diinginkan oleh orang tuanya adalah rumor yang tak berdasar. Wanita itu mengangguk, berjanji dan menambahkan, "Sebelum itu, saya meminta agar Tuan Arya lebih memperhatikan Ara. Saya tidak berhak mengomentari cara anda mendidiknya, tapi saya menemukan bahwa Kiara adalah anak yang pendiam, pemalu dan sulit bergaul dengan teman-teman seumurannya. Jika bisa,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status