Home / Urban / Kembalinya Kaisar Abadi / Masa lalu yang kelam

Share

Masa lalu yang kelam

Author: Mr. Mystery
last update publish date: 2026-02-05 00:31:47

Pukul 11 malam.

Saat Kiara sudah tertidur di kamar setelah puas bermain dengan Arya, kakak adik itu duduk di ruang tamu saling berhadap-hadapan.

Arya yang kini sudah berganti pakaian kaos dan celana biasa sedang duduk tegak, menatap adik perempuan di depannya yang sedang menunduk sambil memegangi cangkir teh di tangannya. Tampak gugup dan tidak tahu dari mana harus memulai.

"Haaahh..." Menghela napas pelan, Arya mencoba untuk tidak memaksanya, dan mulai membuka pembicaraan, "Apa yang terjadi? Kiara... Dia anakku yang dilahirkan Lana, kan?"

Aruna mengangguk berat membenarkan, tapi tidak menjelaskan lebih jauh.

Alis Arya sedikit berkerut, dan akhirnya dia bertanya lebih banyak lagi, "Lalu, bagaimana dia bisa memanggilmu 'mama'? Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana Lana dan kedua orang tua kita? Kenapa di sini hanya ada kau seorang? Apa yang sebenarnya terjadi setelah aku menghilang?"

Aruna mengangkat kepalanya, menatap kakak laki-lakinya yang kini menatapnya dengan curiga dan khawatir. Wanita itu merasa sedih sebelum menjawab, "Kakak, haruskah kau bertanya begitu banyak sekaligus?"

"Yah..." Arya terkejut, dan sambil tersenyum meminta maaf, mencoba untuk bertanya lebih pelan, "Jelaskan saja, apa yang terjadi sejak aku menghilang."

Mendengar pertanyaan itu, Aruna tampak menarik napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara, "Apa yang bisa terjadi selain kita segera berusaha untuk mencari keberadaanmu?"

Arya terdiam, dan terus melihat Aruna agar terus menjelaskan.

"Pada saat itu, kami sekeluarga panik saat mendengar bahwa kau menghilang di pegunungan. Bahkan ibu tidak mau makan dan tidur. Pada akhirnya ayah menggunakan semua koneksi dan kekayaannya untuk mencarimu sendiri ke sana. Menyewa pemandu paling handal, dan sebagainya."

"Segala cara sudah ayah lakukan, termasuk setiap jasad yang saat ini masih membeku di sana, tapi keberadaanmu tidak pernah ditemukan. Seolah-olah kau menghilang!"

Arya mengangguk, tidak berkomentar dan tahu bahwa mustahil menemukannya saat itu, karena sebenarnya dia sudah pergi ke dunia lain, jadi mustahil menemukan dirinya.

"Setelah berminggu-minggu dan berbulan-bulan mencarimu tanpa hasil, ayah akhirnya menyerah, dan merelakan kepergianmu, berharap keajaiban akan datang. Namun, sesuatu terjadi lagi," Aruna tiba-tiba berhenti di sini, dan mulai menatap Arya dengan pandangan marah dan benci.

Membuat Arya terkejut dan bingung saat melihat kebencian di kedua matanya.

"Tiga bulan setelah kepergianmu, Kakak ipar tiba-tiba datang dengan membawa seorang bayi yang baru berusia beberapa bulan. Dia mengatakan bahwa itu adalah anakmu, dan meminta keluarga kita untuk merawatnya. Setelah menyerahkan Kiara, kakak ipar langsung pergi, dan sampai sekarang tidak tahu di mana keberadaannya!"

"Apa katamu?" Alis Arya berkerut tiba-tiba saat mendengar cerita itu. "Menghilang tanpa jejak sampai sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi?"

Aruna menggelengkan kepalanya tidak tahu, dan terus melanjutkan ceritanya, "Setelah itu, ayah dan ibu menjadi semakin panik. Jadi keduanya mulai mencari tidak hanya kamu, tapi juga kakak ipar. Tapi sebuah kecelakaan tiba-tiba terjadi, yang mengakibatkan kedua orang tua kita tewas dalam kecelakaan itu."

"Mati? Ayah dan ibu sudah mati?" Wajah Arya sedikit pucat saat mendengarnya.

Tujuan awalnya kembali untuk melihat keluarganya tampaknya sia-sia. Orang tua yang ingin dia lihat sebenarnya sudah mati. Bahkan Lana, wanita yang dia rindukan selama ribuan tahun dalam kesepian tidak diketahui di mana keberadaannya.

Aruna mengangguk, dan terus menjelaskan dengan mata yang mulai memerah, "Setelah ayah dan ibu pergi, perusahaan yang ayah bangun juga bangkrut. Pada akhirnya, semuanya hilang. Tersisa hanya aku dan bayi Kiara yang masih kecil. Pada saat itu, aku... Aku masih berusia lima belas tahun. Baru di bangku SMA. Dengan hanya aku seorang yang menjaga Kiara, pada akhirnya aku... aku..."

Aruna tidak bisa lagi melanjutkan ceritanya, karena air mata sudah jatuh membasahi pipinya, dan suara isak tangisnya tidak bisa lagi ditahan. Bagaimanapun, sekuat apapun Aruna, dia baru berusia dua puluh tahun.

Mengingat saat-saat dia masih berusia lima belas tahun melihat satu persatu keluarganya pergi dan tidak pernah kembali, itu adalah trauma yang sulit untuk dilupakan. Belum lagi perjuangan yang harus dilakukan gadis berusia lima belas tahun saat merawat bayi yang baru berusia beberapa bulan.

Perjuangan semacam itu, jika Aruna tidak memiliki hati sekeras batu, mustahil ada seorang gadis yang masih bisa bertahan sampai sekarang.

"Kacang polong..." Setelah Arya melihatnya, dia merasa bersalah, dan berjalan ke sisinya.

Mengelus kepalanya dan mencoba menenangkannya, Arya tahu bahwa sepertinya gadis kecil yang di masa lalu selalu mengikutinya sudah terlalu menderita. Menceritakan kisah kelam masa lalu hanya akan membawa kembali trauma padanya.

"Maafkan aku. Aku telah membuatmu dan kedua orang tua kita menderita. Mulai sekarang aku janji, tidak akan pergi lagi."

Aruna hanya mengangguk, dan membenamkan wajahnya di dada Arya, menangis tersedu-sedu, dan tidak bicara lagi.

Di saat yang sama, Arya mulai berpikir bahwa tampaknya ada banyak cerita yang terjadi sejak dirinya menghilang. Kejadian demi kejadian tampak berurutan, dan bukan secara kebetulan.

Jika dia ingat dengan benar, waktu dia jatuh dari sebuah tebing saat mendaki gunung Himalaya sebenarnya juga bukan karena kebetulan. Tapi ada seseorang yang mendorongnya secara sengaja, seolah-olah memang ada yang berniat untuk mencelakainya.

Kemudian serangkaian kejadian demi kejadian setelahnya juga terlalu kebetulan, bukan?

Bagaimana jika semuanya sudah direncanakan seseorang? Hanya saja, siapa yang melakukan semua itu? Dan apa motifnya?

Alis Arya berkerut, dan berpikir jika apa yang terjadi di masa lalu seperti yang dia pikirkan, dia tidak akan ragu menunjukkan, apa akibatnya jika ada seseorang yang berani menyakiti keluarganya!

"Bam! Bam! Bam!" Suara pintu yang digedor dari luar membubarkan pikiran Arya.

"Aruna! Buka pintunya! Aku tahu kau ada di dalam!"

Mendengar suara itu, Aruna yang ada di pelukan Arya tiba-tiba berhenti, dan melihat ke arah pintu dengan wajah gelisah.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Arya tidak tahan untuk tidak bertanya saat melihat kegelisahan di wajah adiknya.

"Itu... Yah, tidak ada apa-apa!" Tidak menjawab, Aruna mencoba untuk tidak terlalu khawatir, dan menghapus air matanya sebelum membuka pintu.

Di sana, dua orang pria kuat, tampak garang penuh tato dan tindik berdiri di depan pintu dengan keadaan sempoyongan. Tanpa permisi, keduanya mulai memasuki rumah dengan wajah sombong dan jijik. Terutama saat mereka melihat ke arah Arya.

"Ck ck ck... Kupikir kau wanita baik-baik, ternyata kau membawa seseorang lelaki ke rumahmu! Beh, sungguh wanita sok polos!" Salah seorang dari keduanya tiba-tiba mencibir.

"Aku sudah berkali-kali berkata, jika kau mau mendapatkan penghasilan lebih banyak, pergi saja ke barku, aku jamin mendapatkan penghasilan semalam 10 juta bukanlah hal yang mustahil. Tapi kau menolak, dan sekarang kau malah bawa pria lain ke rumahmu diam-diam. Sungguh munafik!"

Wajah Arya berkerut, dan berubah menjadi dingin saat melihat kedua preman yang jelas-jelas bukan teman Aruna.

Wajah Aruna juga menjadi dingin, dan menatap keduanya dengan mata jijik sebelum berkata, "Apa yang kalian lakukan saat ini? Bukankah aku sudah bilang bahwa aku akan mencicil hutangnya akhir bulan ini? Datang malam-malam seperti ini, apa kalian tidak takut aku akan berteriak minta tolong?"

"Hahaha!" Bukannya takut, kedua orang yang sepertinya debt collector itu malah tertawa terbahak-bahak.

Menatap Aruna yang marah dengan nada menggoda dan lucu, keduanya mulai mencibir, "Berteriak lah! Bagaimanapun, semua orang tahu, bahwa kau adalah jalang yang telah melahirkan di usia lima belas tahun!"

"Apa yang kami takutkan jika kau berteriak? Jika seandainya kau benar-benar berteriak, bukankah mereka hanya akan berpikir bahwa kau hanya sedang melayani seseorang! Bukankah itu yang kau lakukan sekarang?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Kejeniusan Kiara

    Tak ada pilihan, Arya mulai mengarang kebohongan bahwa hilangnya dirinya adalah setelah kecelakaan mendaki gunung lima tahun lalu, ia di selamatkan oleh penduduk setempat, dan mengalami hilang ingatan. Baru beberapa bulan ini akhirnya ia mengingat kembali siapa dirinya, dan memutuskan untuk kembali. Lalu tiba-tiba menemukan jika dia telah memiliki seorang putri yang berusia lima tahun. Sedangkan untuk Lana, Arya samar-samar dan tidak jelas hanya mengatakan jika wanita itu memiliki hal-hal penting yang harus di selesaikan, dan tidak bisa merawat Kiara. Dia juga tidak menjelaskan kenapa dan kemana Lana pergi. Saat ini, dirinya sedang mencoba untuk mencarinya. Tentu saja, saat Gavin mendengar cerita itu, dia sama sekali tidak mempercayai kebohongan tak masuk akal semacam itu. Tapi sebagai orang yang paling mengenal Arya, Gavin tahu bahwa temannya ini jarang berbohong jika bukan karena sesuatu yang serius. Dan karena Arya tidak mengatakan yang sejujurnya, Gavin tahu bahwa Arya masih m

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Reuni

    Pagi hari keesokan harinya. Arya yang telah memberikan alamat hotelnya kepada Gavin sedikit terkejut saat melihatnya datang pagi-pagi sekali. Intinya bukan pada waktu ia datang, melainkan penampilannya yang lesu dengan kelompok mata yang hitam, tampak tidak tidur semalaman. Bahkan dari balik kacamatanya, Arya bisa melihat matanya yang merah dan berair. "Ada denganmu?""Ahaha, memang apa yang terjadi padaku? Bukankah aku hanya datang ke tempatmu?" Gavin tampak sama sekali tidak peduli dengan tatapan aneh Arya, dan begitu saja masuk ke dalam. Menyaksikan hotel tempat ia tinggal, diam-diam dia mengangguk dan tampak puas, apalagi saat ia menyaksikan beberapa botol minuman dan cemilan yang telah Arya persiapan di ruang tamu. "Aku tidak menyangka bahwa orang hemat dan pelit sepertimu di masa lalu akan bisa menikmati hidup dengan baik di masa sekarang. Tampaknya lima tahun ini kau tidak hanya menghilang tiba-tiba, tapi juga telah melakukannya banyak hal. Sungguh membuatku kagum." Arya

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Gavin Rowan

    Lana Wijaya. Meskipun ingatan Arya sedikit kabur, wanita itu memang wanita dengan temperamen dan sosok yang luar biasa dalam ingatannya. Bahkan juga bertahan selama beberapa ribu tahun di dunia lain. Kini, setelah ia kembali tapi belum sempat melihat atau menemukan keberadaannya, Arya tidak tahu, seperti apa dia sekarang? Apakah wanita itu masih baik-baik saja? Ataukah sedang dalam keadaan yang membutuhkan genting dan sangat membutuhkan bantuan? Arya tidak tahu, dia hanya tahu bahwa perjalanannya kali ini adalah untuk mencari keberadaannya. Pertanyaan karyawan itu juga sekali lagi mengingatkan dirinya untuk segera mencari keberadaan Lana agar tidak menyesal dikemudian hari. "Tuan, apakah anda baik-baik saja?" Karyawan toko itu tidak bisa untuk tidak bertanya dengan khawatir saat melihat Arya tiba-tiba terdiam cukup lama, dan tampak tidak berada di tempatnya. Pertanyaan itu segera membuat Arya sedikit terkejut dan tersadar sebelum tiba-tiba tersenyum. "Tidak ada apa-apa. Aku ha

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Cemilan seharga jutaan dolar

    Gadis kecil itu juga tidak bisa menahan senyumannya dan terlihat cukup bangga dengan dirinya sendiri. Tanpa ragu-ragu ia juga mulai bertanya pada Robert, "Kakek Viona, apakah aku lebih cantik dan menggemaskan daripada Viona?" "Hehehe..."Pria tua yang tampak jauh lebih sehat dan baik daripada sebelumnya itu tiba-tiba terkekeh dan tersenyum. Tapi dia tidak menjawabnya dengan jelas selain penjelasan yang abu-abu. "Kalian berdua adalah mahkluk yang menggemaskan. Seperti seekor kupu-kupu dan bunga teratai. Sangat indah dan enak di pandang bersama-sama." "Hmp!" Kiara tampak cemberut dan tidak puas dengan jawaban itu. Mengetahui jawabannya tidak memuaskan gadis kecil itu, Robert hanya bisa terkekeh pelan dan memberikan beberapa bungkusan yang telah ia persiapkan sebelumnya. "Lihat, kakek memberikan beberapa camilan, dan permen untuk Ara. Apakah kamu suka?" "Camilan?" Gadis kecil itu segera bersemangat dan tanpa ragu-ragu mengambil bungkusan yang Robert berikan. Tanpa sedikitpun rasa

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Perubahan Kiara

    "Baiklah, ayah salah! Lain kali jika ada kesempatan, ayah akan membawa Ara dalam perjalanan, oke?" "Benarkah?" Ekspresi Kiara tampak sedikit melunak dan penuh harap saat mendengar kata-kata itu. Dengan anggukan berat dan senyum senang, Arya segera berkata, "Benar sekali. Tapi sebelum itu, Ara harus belajar dulu di sekolah dengan baik. Ketika waktu liburan tiba, ayah berjanji akan mengajak Ara jalan-jalan keluar negeri." "Sekolah?" Wajah Kiara kembali cemberut dan bahkan dengan kesal mulai berkata, "Apa bagusnya sekolah? Selain Viona, semua orang di sekolah tampak bodoh dan menyebalkan! Selain bermain dan berlarian ke sana sini dan membuat para guru kesusahan, apa bagusnya sekolah. Bahkan mereka tidak bisa membaca dan berhitung." "Hah?" Arya tiba-tiba mengubah wajahnya dan bertanya dengan serius, "Bukankah kamu masih berada di taman kanak-kanak? Apa salahnya bermain dan belajar di saat yang sama? Bisakah kau berhitung dan membaca? Bukankah itu ajaran sekolah dasar?" "Apa susahny

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Pil yang berharga

    Dua hari kemudian. Kelompok Hans, Wira dan Ryan yang telah kembali tidak bisa untuk tidak melihat kepergian mobil Arya dengan beberapa pemikiran di kepala. Khusus untuk Wira, ekspresi dan cara memandangnya benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat daripada di awal. Dia bahkan tidak bisa untuk tidak berbicara kepada Ryan, "Muridku, kau benar-benar tidak bisa melepaskan kesempatan ini. Dengan kekuatan dan pandangan yang Master Arya tunjukkan sebelumnya, kau benar-benar telah menemukan jackpot sebagai pendukung keluargamu. Dengan mengikuti dan melakukan apa yang Master Arya inginkan, aku yakin masa depanmu dan masa depan keluargamu akan tidak terbatas." Ryan yang berada di samping dan mendengarkan penjelasan itu mengangguk berat, dan sangat setuju dengan apa yang Wira bicarakan. Sejak awal, sejak Arya menyembuhkan penyakit kakeknya, dan semua hal yang ia lakukan di kota ini, Ryan sudah yakin dengan kekuatannya. Apalagi setelah perjalanan ini. Setelah semua kekuatan menakjub

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status