MasukPukul 11 malam.
Saat Kiara sudah tertidur di kamar setelah puas bermain dengan Arya, kakak adik itu duduk di ruang tamu saling berhadap-hadapan. Arya yang kini sudah berganti pakaian kaos dan celana biasa sedang duduk tegak, menatap adik perempuan di depannya yang sedang menunduk sambil memegangi cangkir teh di tangannya. Tampak gugup dan tidak tahu dari mana harus memulai. "Haaahh..." Menghela napas pelan, Arya mencoba untuk tidak memaksanya, dan mulai membuka pembicaraan, "Apa yang terjadi? Kiara... Dia anakku yang dilahirkan Lana, kan?" Aruna mengangguk berat membenarkan, tapi tidak menjelaskan lebih jauh. Alis Arya sedikit berkerut, dan akhirnya dia bertanya lebih banyak lagi, "Lalu, bagaimana dia bisa memanggilmu 'mama'? Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana Lana dan kedua orang tua kita? Kenapa di sini hanya ada kau seorang? Apa yang sebenarnya terjadi setelah aku menghilang?" Aruna mengangkat kepalanya, menatap kakak laki-lakinya yang kini menatapnya dengan curiga dan khawatir. Wanita itu merasa sedih sebelum menjawab, "Kakak, haruskah kau bertanya begitu banyak sekaligus?" "Yah..." Arya terkejut, dan sambil tersenyum meminta maaf, mencoba untuk bertanya lebih pelan, "Jelaskan saja, apa yang terjadi sejak aku menghilang." Mendengar pertanyaan itu, Aruna tampak menarik napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara, "Apa yang bisa terjadi selain kita segera berusaha untuk mencari keberadaanmu?" Arya terdiam, dan terus melihat Aruna agar terus menjelaskan. "Pada saat itu, kami sekeluarga panik saat mendengar bahwa kau menghilang di pegunungan. Bahkan ibu tidak mau makan dan tidur. Pada akhirnya ayah menggunakan semua koneksi dan kekayaannya untuk mencarimu sendiri ke sana. Menyewa pemandu paling handal, dan sebagainya." "Segala cara sudah ayah lakukan, termasuk setiap jasad yang saat ini masih membeku di sana, tapi keberadaanmu tidak pernah ditemukan. Seolah-olah kau menghilang!" Arya mengangguk, tidak berkomentar dan tahu bahwa mustahil menemukannya saat itu, karena sebenarnya dia sudah pergi ke dunia lain, jadi mustahil menemukan dirinya. "Setelah berminggu-minggu dan berbulan-bulan mencarimu tanpa hasil, ayah akhirnya menyerah, dan merelakan kepergianmu, berharap keajaiban akan datang. Namun, sesuatu terjadi lagi," Aruna tiba-tiba berhenti di sini, dan mulai menatap Arya dengan pandangan marah dan benci. Membuat Arya terkejut dan bingung saat melihat kebencian di kedua matanya. "Tiga bulan setelah kepergianmu, Kakak ipar tiba-tiba datang dengan membawa seorang bayi yang baru berusia beberapa bulan. Dia mengatakan bahwa itu adalah anakmu, dan meminta keluarga kita untuk merawatnya. Setelah menyerahkan Kiara, kakak ipar langsung pergi, dan sampai sekarang tidak tahu di mana keberadaannya!" "Apa katamu?" Alis Arya berkerut tiba-tiba saat mendengar cerita itu. "Menghilang tanpa jejak sampai sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi?" Aruna menggelengkan kepalanya tidak tahu, dan terus melanjutkan ceritanya, "Setelah itu, ayah dan ibu menjadi semakin panik. Jadi keduanya mulai mencari tidak hanya kamu, tapi juga kakak ipar. Tapi sebuah kecelakaan tiba-tiba terjadi, yang mengakibatkan kedua orang tua kita tewas dalam kecelakaan itu." "Mati? Ayah dan ibu sudah mati?" Wajah Arya sedikit pucat saat mendengarnya. Tujuan awalnya kembali untuk melihat keluarganya tampaknya sia-sia. Orang tua yang ingin dia lihat sebenarnya sudah mati. Bahkan Lana, wanita yang dia rindukan selama ribuan tahun dalam kesepian tidak diketahui di mana keberadaannya. Aruna mengangguk, dan terus menjelaskan dengan mata yang mulai memerah, "Setelah ayah dan ibu pergi, perusahaan yang ayah bangun juga bangkrut. Pada akhirnya, semuanya hilang. Tersisa hanya aku dan bayi Kiara yang masih kecil. Pada saat itu, aku... Aku masih berusia lima belas tahun. Baru di bangku SMA. Dengan hanya aku seorang yang menjaga Kiara, pada akhirnya aku... aku..." Aruna tidak bisa lagi melanjutkan ceritanya, karena air mata sudah jatuh membasahi pipinya, dan suara isak tangisnya tidak bisa lagi ditahan. Bagaimanapun, sekuat apapun Aruna, dia baru berusia dua puluh tahun. Mengingat saat-saat dia masih berusia lima belas tahun melihat satu persatu keluarganya pergi dan tidak pernah kembali, itu adalah trauma yang sulit untuk dilupakan. Belum lagi perjuangan yang harus dilakukan gadis berusia lima belas tahun saat merawat bayi yang baru berusia beberapa bulan. Perjuangan semacam itu, jika Aruna tidak memiliki hati sekeras batu, mustahil ada seorang gadis yang masih bisa bertahan sampai sekarang. "Kacang polong..." Setelah Arya melihatnya, dia merasa bersalah, dan berjalan ke sisinya. Mengelus kepalanya dan mencoba menenangkannya, Arya tahu bahwa sepertinya gadis kecil yang di masa lalu selalu mengikutinya sudah terlalu menderita. Menceritakan kisah kelam masa lalu hanya akan membawa kembali trauma padanya. "Maafkan aku. Aku telah membuatmu dan kedua orang tua kita menderita. Mulai sekarang aku janji, tidak akan pergi lagi." Aruna hanya mengangguk, dan membenamkan wajahnya di dada Arya, menangis tersedu-sedu, dan tidak bicara lagi. Di saat yang sama, Arya mulai berpikir bahwa tampaknya ada banyak cerita yang terjadi sejak dirinya menghilang. Kejadian demi kejadian tampak berurutan, dan bukan secara kebetulan. Jika dia ingat dengan benar, waktu dia jatuh dari sebuah tebing saat mendaki gunung Himalaya sebenarnya juga bukan karena kebetulan. Tapi ada seseorang yang mendorongnya secara sengaja, seolah-olah memang ada yang berniat untuk mencelakainya. Kemudian serangkaian kejadian demi kejadian setelahnya juga terlalu kebetulan, bukan? Bagaimana jika semuanya sudah direncanakan seseorang? Hanya saja, siapa yang melakukan semua itu? Dan apa motifnya? Alis Arya berkerut, dan berpikir jika apa yang terjadi di masa lalu seperti yang dia pikirkan, dia tidak akan ragu menunjukkan, apa akibatnya jika ada seseorang yang berani menyakiti keluarganya! "Bam! Bam! Bam!" Suara pintu yang digedor dari luar membubarkan pikiran Arya. "Aruna! Buka pintunya! Aku tahu kau ada di dalam!" Mendengar suara itu, Aruna yang ada di pelukan Arya tiba-tiba berhenti, dan melihat ke arah pintu dengan wajah gelisah. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Arya tidak tahan untuk tidak bertanya saat melihat kegelisahan di wajah adiknya. "Itu... Yah, tidak ada apa-apa!" Tidak menjawab, Aruna mencoba untuk tidak terlalu khawatir, dan menghapus air matanya sebelum membuka pintu. Di sana, dua orang pria kuat, tampak garang penuh tato dan tindik berdiri di depan pintu dengan keadaan sempoyongan. Tanpa permisi, keduanya mulai memasuki rumah dengan wajah sombong dan jijik. Terutama saat mereka melihat ke arah Arya. "Ck ck ck... Kupikir kau wanita baik-baik, ternyata kau membawa seseorang lelaki ke rumahmu! Beh, sungguh wanita sok polos!" Salah seorang dari keduanya tiba-tiba mencibir. "Aku sudah berkali-kali berkata, jika kau mau mendapatkan penghasilan lebih banyak, pergi saja ke barku, aku jamin mendapatkan penghasilan semalam 10 juta bukanlah hal yang mustahil. Tapi kau menolak, dan sekarang kau malah bawa pria lain ke rumahmu diam-diam. Sungguh munafik!" Wajah Arya berkerut, dan berubah menjadi dingin saat melihat kedua preman yang jelas-jelas bukan teman Aruna. Wajah Aruna juga menjadi dingin, dan menatap keduanya dengan mata jijik sebelum berkata, "Apa yang kalian lakukan saat ini? Bukankah aku sudah bilang bahwa aku akan mencicil hutangnya akhir bulan ini? Datang malam-malam seperti ini, apa kalian tidak takut aku akan berteriak minta tolong?" "Hahaha!" Bukannya takut, kedua orang yang sepertinya debt collector itu malah tertawa terbahak-bahak. Menatap Aruna yang marah dengan nada menggoda dan lucu, keduanya mulai mencibir, "Berteriak lah! Bagaimanapun, semua orang tahu, bahwa kau adalah jalang yang telah melahirkan di usia lima belas tahun!" "Apa yang kami takutkan jika kau berteriak? Jika seandainya kau benar-benar berteriak, bukankah mereka hanya akan berpikir bahwa kau hanya sedang melayani seseorang! Bukankah itu yang kau lakukan sekarang?"Beberapa seniman beladiri yang melihat tawa Master Jaya tampak merasakan gejolak di hatinya. Grandmaster!? Itu adalah impian yang selama ini mereka dambakan, tapi hampir sembilan puluh persen seniman beladiri gagal untuk mencapainya. Tapi saat ini, sosok Master Jaya sebenarnya berhasil menerobos ambang batas, dan menjadi Grandmaster di hadapan semua orang. Bahkan jika keadaannya terlihat menyedihkan, aura yang sangat kuat dan terlihat mendominasi yang secara tak sadar ia keluarkan adalah sesuatu yang membuat siapapun merasa iri. Andai saja mereka bisa menggantikan sosok Master Jaya di sana. Tidak! Di saat semua orang sedang berpikir, mereka tidak bisa untuk tidak menoleh ke arah Arya yang masih berdiri di tempatnya dengan tenang, dan sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun di sana dengan mata panas. Pemuda ini, sebenarnya dia memiliki kemampuan untuk membantu seorang Master Gang Qi yang menerobos Grandmaster! Apa artinya ini? Bukankah berarti siapapun yang mengenal da
Cukup lama Master Jaya tertawa terbahak-bahak, ia akhirnya berhenti dan menatap Arya dengan tatapan seolah-olah melihat orang bodoh. Dengan ekspresi lucu, dan tampak jijik, ia berkata, "Bocah, aku tidak tahu dari mana kau berasal. Dibandingkan dengan orang lain, keberanianmu memang besar saat berani turun ke arena. Tapi, apakah kau tahu apa itu Grandmaster?" Master Jaya berhenti dan mulai memperhatikan sosok Arya dari atas kepala sampai ujung kaki selama beberapa waktu, sebelum akhirnya menggelengkan kepala. "Sebelum kau melukai dirimu sendiri, sebaiknya kau turun dan pulang ke rumah untuk melanjutkan game fantasimu." Arya tersenyum kecil, sama sekali tidak marah atau tersinggung atas penghinaan itu. Dalam diam, dia juga mulai berjongkok dan mengambil kerikil dari pecahan beton arena pertarungan itu, dan memainkannya menggunakan jari-jarinya. Merasa cukup puas dengan apa yang ia temukan, dia kembali berdiri dan menatap Master Jaya sambil tersenyum kecil. "Hmph?" Entah kenapa,
"Tidak mungkin!" Bahkan Master Adipura sendiri tercengang dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Karena saat ini, tepat di hadapannya, dia menyaksikan jika Gang Qi yang Master Jaya keluarkan bukan hanya lebih padat dan lebih kuat daripada miliknya sendiri, tapi jumlahnya juga sangat melimpah. Jika dirinya berhasil melapisi pisau khusus miliknya menggunakan Gang Qi sudah cukup mengesankan, maka Master Jaya yang tidak hanya melapisi seluruh lengannya dengan Qi, tapi juga seluruh tubuhnya, adalah tingkatan yang jauh berbeda. "Grandmaster!" Sebuah pemikiran tiba-tiba muncul di kepala Master Adipura, tapi dia kemudian buru-buru menggelengkan kepalanya dan menyangkal. "Mustahil! Auramu masih seorang Gang Qi. Tidak mungkin kau tiba-tiba menjadi seorang Grandmaster. Tapi kau memiliki jumlah Qi yang---" Adipura dan semua orang yang melihatnya di sana seketika berhenti dan mengubah ekspresi dengan ngeri dan hormat. "Jangan-jangan dia tidak jauh dari ambang batas Grandmaster?" "
Bukan hanya Master Adipura yang kini menjadi sangat serius, tapi Robert juga mulai pucat saat menyaksikannya. Terlebih saat menyaksikan jika Master Adipura juga mulai mengeluarkan aura di tubuhnya, dan menciptakan gelombang kejut di hadapan semua. "Bom." Dan dengan ledakan yang tiba-tiba terjadi, kedua sosok di atas arena tiba-tiba kabur, dan menghilang. "Bang" "Bang" ... Selain suara benturan keras tinju dengan tinju, dan kaki berhadapan dengan kaki yang terdengar, hampir tidak ada yang bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di atas arena. "Pertarungan ini..." Sekalipun Wira sudah berada di tingkat energi terang, dan hanya terpaut satu tingkat dari seorang Master Gangqi, dia masih tidak tahu apa yang terjadi. Dengan wajah pucat dan tatapan ngeri, dia mencoba untuk menoleh ke arah Arya untuk memeriksa, apakah pihak lain bisa melihatnya. Tapi betapa terkejutnya dia saat ia menyaksikan jika Arya tampak tidak peduli, atau bahkan kagum terhadap apa yang terjadi di arena
Beberapa waktu kemudian. Kelompok mereka akhirnya tiba di sebuah pulau tak berpenghuni di Selat Madura. Sebuah pulau kecil yang tak bernama, dan di jaga ketat oleh puluhan tentara dan polisi yang berjaga-jaga di sekitar pulau. Memiliki luas kurang dari sepuluh hektar, pulau itu tidak benar-benar kosong, karena di tengah pulau tersebut berdiri sebuah arena luas yang dikelilingi oleh bangku dan platform tempat orang-orang sudah berkumpul. Ketika kelompok Arya yang berjalan bersama dengan Kiara dan Thalya sisinya, Robert yang didampingi oleh Ryan dan Wira, serta Hans dan beberapa orang yang tidak dikenalnya sudah menunggu di sana untuk menyambutnya. "Master Arya, akhirnya anda datang." Sambut Robert sambil tersenyum dan menoleh ke arah Thalya serta Kiara yang menggendong Oyen dengan beberapa keraguan. Tahu apa yang pria itu pikirkan, Arya segera berkata, "Ada beberapa keadaan sehingga aku membawa Kiara bersamaku. Selain itu, Thalya adalah asisten yang bekerja secara pribadi d
Keesokan harinya. Dalam perjalanan laut menuju ke tempat Pertemuan Beladiri di adakan, Arya yang naik sebuah kapal pribadi meletakkan dokumen yang sebelumnya Thalya berikan, dan menoleh ke arah wanita itu. "Apakah kau yakin ini semua adalah hal yang benar?" Thalya yang berdiri di sampingnya mengangguk dan dengan tegas menjawab, "Tidak ada keraguan sama sekali. Aku sudah meminta bantuan beberapa orang yang kukenal, dan mereka menemukan hal yang sama. Laura ini memang bukan tipe wanita yang baik." "Laura dan ibunya, Brenda. Ibu dan anak ini sebenarnya bukanlah siapa-siapa lima belas tahun lalu. Bisa dikatakan, mereka juga orang yang kesulitan untuk hanya sekedar bertahan hidup. Lebih mengejutkan lagi, Brenda juga melahirkan tanpa seorang ayah." "Tapi kemudian dia menikahi Handrij yang saat itu seorang duda tanpa anak, dan akhirnya mulai merubah keadaan hidupnya. Dengan Handrij yang merupakan seorang pengusaha, bisa dikatakan kehidupan Brenda dan Laura akhirnya menjadi jauh lebih







