Mag-log in"Tentu saja. Bukankah ayah memang seorang pahlawan?" Arya tersenyum dan menjawab dengan bangga.
Sekalipun dia tidak bisa mengatakan dirinya sebagai seorang "pahlawan" yang sesungguhnya, dia bisa menjadi pahlawan bagi putrinya sendiri, bukan? "Benar!" Kiara mengangguk dan menjawab, "Ayah memang pahlawan yang kuat, berani dan bisa sulap! Menghilangkan orang-orang jahat itu secara ajaib!" "Jadi, apakah Ara suka sulap?" "Ya, Ara sangat suka! Ara juga ingin melihat sulap lagi. Ayah, bisakah ayah melakukan sulap lagi?" "Tentu," Arya mengangguk dan menurunkannya ke lanti. "Tapi karena hari sudah siang, kita harus makan siang dulu. Lalu mandi dan belajar." "Hmmp!" Ekspresi gadis kecil itu langsung cemberut dengan menggelembungkan kedua pipinya, tampak kesal dan tidak puas. Saat Arya melihatnya seperti itu, dia tidak bisa untuk terkekeh lucu, dan membawanya masuk ke rumah dengan berkata, "Nanti, setelah makan siang, mandi dan belajar, nanti malam ayah akan menunjukkan sulap yang hanya bisa dilihat oleh Ara. Tapi jika Ara tidak mau, ayah tidak bisa melakukan apapun." "Ayah janji?" Kiara langsung bertanya dengan semangat saat mendengar kata-kata itu. Dan saat melihat anggukan Arya, gadis kecil itu langsung berlari ke dalam rumah. Lalu melemparkan tasnya ke sofa, dan dengan sendirinya mulai membuka pakaiannya, tampak tidak sabar dan tentu juga kesulitan saat mencoba untuk membuka pakaiannya sendiri. Tapi dengan ekspresi dengan panik dan tidak sabar, dia segera mendesak ayahnya, "Ayah, ayah! Ayo cepat! Bantu Ara buka baju, lalu mandi, makan siang, belajar dan akhirnya melihat sulap!" Melihatnya seperti itu, Arya hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan senyum geli, dan mulai membantunya membuka baju sekolahnya. Pada saat yang sama, ketika Arya dan putrinya sedang bersenang-senang, seorang pemuda gemuk, berusia akhir dua puluhan, tampak sombong dan angkuh mengubah ekspresinya. "Apa katamu!? Mereka semua di kalahkan? Bahkan bajingan itu mengatakan agar aku tidak menggangunya dan mengancam akan menemuiku sendiri?" Danan, pria yang sebelumnya mengirim beberapa berandalan untuk memberi pelajaran kepada Arya itu tampak terkejut dan mengubah wajahnya. Duduk di sebuah sofa mewah yang ada di sebuah villa, wajah berlemak Danan tampak murung. "Bukankah aku hanya ingin kalian memberi pelajaran pada satu orang? Tapi apa yang terjadi, orang-orang yang kalian kirim malah di hajar olehnya!" "Bagaimana cara kalian bekerja? Bukankah kalian semua membanggakan identitasmu sebagai orang-orang dunia bawah? Merampok, menculik, dan membunuh adalah keahlian semua? Tapi apa yang terjadi sekarang!!?" "Aku sudah memberi uang muka sebesar sepuluh juta kepadamu, tapi apa hasil akhirnya? Kelian semua malah di hajar, dan bahkan bajingan itu masih sempat untuk mengancamku? Apakah kalian semua bercanda?!" "Tuan muda Danan," seorang pria dengan suara tak berdaya terdengar dari balik telepon, "pria yang Anda minta untuk kita beri pelajaran sebenarnya bukan orang biasa! Kami sudah meminta Wajah Buruk Botak untuk menghajarnya, tapi dia malah dikalahkan dengan mudah. Anda tahu, Wajah Buruk berkepala Botak adalah mantan Petarung MMA, tapi dia sama sekali tidak bisa melawannya. Pria yang bernama Arya ini, dia pasti bukan orang biasa. Sebaik--" "Sampah!! Benar-benar sampah tak berguna!!" Sebelum pria di balik telepon itu menyelesaikan kata-katanya, Danan segera menutup panggilannya dengan sangat marah. Mengingat semua yang terjadi, dia tidak bisa untuk tidak menggertakkan giginya. Arya, entah apa yang terjadi, sehingga pria yang lima tahun dikabarkan menghilang itu tiba-tiba muncul, dan mengganggu semua rencananya sampai sejauh ini. Sebagai orang yang sejak lima tahun lalu ditugaskan untuk menargetkan Aruna, Danan tentu saja tahu siapa Arya. Tapi dia tidak menyangka bahwa bajingan yang dulu bukan siapa-siapa akan menjadi orang yang pandai bertarung. Bahkan jika Danan mengirim orang-orang kepercayaannya dari dunia bawah yang selama ini dia andalkan, bajingan bernama Arya malah menghajar mereka semua. Lebih menyebalkan lagi, Arya ini malah balik mengancamnya! Sebagai seorang tuan muda yang memiliki kekayaan dan kekuasaan yang selama ini bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan, bagaimana mungkin Danan bisa menerimanya? "Bajingan itu hanya orang biasa, berani-beraninya dia mengancamku, Danan Miwarsa? Tidak bisa dibiarkan!" Wajah berlemak Danan sangat murung, tapi sesaat kemudian tiba-tiba dia tersenyum dan mengingat sesuatu. Menatap ke layar ponselnya, dia mencari nama seseorang yang telah lama ia kenalnya, dan mulai meneleponnya. Ketika pihak lain menjawab, dia langsung berkata, "Arya Ananta, aku tidak menyukainya. Entah apa yang kau lakukan, aku akan memberimu seratus juta kali ini. Sebaiknya kau melakukannya dengan bersih dan rapi. Benar, seperti sebelumnya!" Setelah mengatakan itu, Danan langsung menutupnya dan tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi sebelumnya. Karena dia tahu, nasib Arya kali ini akan tamat. "Sekalipun aku tidak bisa menyentuhmu dengan kekerasan, bagaimana jika aku menggunakan cara lain? Aku ingin melihat, bagaimana kau akan mengatasinya kali ini? Hehehe... Arya, aku pasti akan membuatmu menangis dan berlutut memohon ampun padaku!" Kembali ke Arya, dia tidak tahu jika ada seseorang yang sedang menargetkannya, dia mungkin juga tidak akan pernah membayangkan apa yang sedang Danan rencakan. Untuk sekarang, dia hanya peduli pada putrinya sepanjang waktu. Termasuk memandikan, memberi makan, membantunya belajar dan bermain-main sepanjang sore, sebelum akhirnya Aruna pulang setelah bekerja seharian. Menambah keseruan sepanjang waktu, dengan Arya yang masih menunda-nunda untuk memberikan pertunjukan sulap kepada putrinya, karena dia sedang menunggu sampai malam hari tiba. Di mana dia sudah merencanakan masa depan putrinya sendiri. Namun, ketika hari mulai gelap dan tiga orang itu duduk di meja untuk makan malam, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kontrakan. "Tok... Tok... Tok..." "Ayah, biarkan Ara yang membuka pintu!" Kiara, yang hari ini tampak ceria segera bediri dan berkata kepada ayahnya. Pada saat itu, Arya yang belum menyadari apapun membiarkan putrinya yang bersemangat untuk membuka pintu hanya untuk terkejut saat mendengar jeritannya. "Aahh!!" Wajah Arya dan Aruna di ruang tamu berubah saat mendengar jeritannya. Tapi sebelum mereka berdua bereaksi, sekitar empat orang, berpakaian hitam, lengkap dengan helm dan rompi anti peluru bergegas masuk dari luar, dan mengelilinginya. "Jangan bergerak!" Sambil menodongkan senjata api tepat ke arahnya, salah seorang petugas polisi langsung berbicara kepadanya. "Tetap diam di tempat!" "Arya Ananta, kami menduga bahwa Anda telah melakukan kekerasan dan serangan siang tadi di jalan xxx. Korbannya tujuh orang, dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit." "Kami meminta agar anda tidak melawan, dan ikut kami ke kantor polisi untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut!" "Tindakan apapun akan membuat kami melakukan tindakan tegas!" "Ini..." Wajah Aruna seketika menjadi pucat dan gemeter saat mengetahui apa yang terjadi. Menyaksikan sekelompok polisi menodongkan senjata, dan bersiap-siap untuk menangkap kakak laki-lakinya, ketakutan dan keterkejutan membuatnya terdiam. "Ayah??" Kiara, gadis kecil yang tidak tahu apa yang sedang terjadi juga terkejut dan ketakutan saat melihat orang-orang aneh tiba-tiba masuk ke dalam dan mengancamnya.Arya tidak menunggu jawaban mereka.Dia berdiri dari tempat duduknya dan berkata dengan nada ringan, "Aku tidak memaksa kalian untuk memberikan jawaban sekarang. Yang jelas, jika kalian menemukan informasi apa pun, kalian bisa memberitahuku."Arya berbalik untuk pergi, tapi Thomas tiba-tiba berdiri dan berkata, "Tuan Arya, tunggu sebentar."Thomas berjalan keluar sebentar sebelum kembali dengan sebuah kunci mobil di tangannya."Tuan Arya," kata Thomas sambil mengulurkan kunci itu, "ini adalah kunci mobil Audi R8. Ini adalah sedikit kebaikan dari keluarga kami. Semoga Tuan Arya berkenan menerimanya."Arya melirik kunci mobil itu selama beberapa saat.Audi R8, mobil sport mewah dengan harga miliaran.Bukan hadiah yang kecil.Tapi Arya tidak menolak. Dia mengambil kunci itu dan mengangguk ringan. "Terima kasih."Setelah Arya pergi, suasana di ruang tamu menjadi sangat tegang.Thomas adalah orang pertama yang membuka suara dengan wajah pucat dan penuh kekhawatiran."Ayah," katanya dengan n
Ryan mengangguk berat, dan menambahkan dengan ekspresi hormat dan serius di wajahnya, "Mereka benar-benar bukan manusia! Dikatakan mereka juga bisa hidup lebih dari seratus tahun!""Seratus tahun?"Robert, Thomas, Leonard, dan Katheryn yang ada di sana mulai saling memandang dengan kengerian di kedua mata masing-masing.Sebuah senjata hidup yang susah dibunuh dan bahkan bisa hidup selama seratus tahun? Ketika mereka berempat memikirkannya, mereka tidak bisa untuk tidak buru-buru menggelengkan kepala.Itu terlalu jauh! Mereka bahkan sama sekali tidak berani memikirkannya!Hanya Arya yang masih tenang dan dengan sangat ringan mengangguk, sama sekali tidak terkejut atau terlalu banyak bereaksi.Karena dia yakin, bahwa dengan adanya Grandmaster yang setara dengan Pelatihan Qi tingkat keenam dalam namanya, pasti ada tingkatan yang lebih tinggi sampai ke Pelatihan Qi tingkat kesembilan.Hanya saja, dengan energi internal mereka yang jauh lebih lemah dan kotor daripada yang diolah oleh seora
"Tuan Arya, dia adalah Ryan Hale, adik laki-laki Thomas dan putra bungsu saya." Robert pertama-tama memperkenalkan pemuda berusia dua puluh lima tahun itu kepada Arya.Lalu menunjuk wanita yang berada di sampingnya. "Sedangkan dia adalah menantuku, Katheryn, istri dari Thomas serta ibu dari Viona, anda pasti mengenalnya."Arya mengangguk kepada keduanya sebagai salam."Sepertinya aku tidak perlu memperkenalkan diri, bukan?" Sementara Leonard mulai berkata untuk dirinya sendiri, karena mereka sudah bertemu sebelumnya.Tentu saja Arya tahu tentang Leonard Forst itu sendiri, namun dia masih melihat ke arah keluarga mereka dengan sedikit antisipasi. Tujuannya datang kemari sepertinya tepat."Mari masuk ke dalam," kata Robert sebelum akhirnya bersama-sama masuk ke dalam villa.Kemudian duduk di ruang tamu, Arya yang duduk di kursi utama mulai melirik keluarga Robert selama beberapa waktu sebelum akhirnya pandangannya jatuh ke Robert itu sendiri."Aku belum mengucapkan terima kasih atas ban
"Jika begitu," Thomas menoleh ke arah putrinya dan berkata, "segera masuk ke sekolah bersama Ara, ayah akan kembali pulang.""Oke!" kata Viona mengerti dan menggandeng tangan Kiara saat mengucapkan selamat tinggal kepada Arya."Selamat tinggal ayah!"Arya mengangguk ringan dan melambaikan tangannya sebelum berbalik untuk mengikuti Thomas."Tunggu!"Di sisi lain, Gina yang merasa diabaikan segera menghentikan keduanya."Aku belum selesai denganmu!" katanya kepada Arya sebelum menoleh ke arah Thomas. "Aku tidak tahu siapa kau, tapi sebaiknya kau jangan berteman dengan orang-orang miskin sepertinya. Sangat disayangkan jika orang yang terlihat berwibawa, kaya dan sukses sepertimu berteman dengan orang hina sepertinya."Orang hina?Ketika Thomas mendengar kata-kata itu, dia tidak bisa menahan diri untuk menoleh ke arah Arya dan Gina selama beberapa waktu.Dia tidak tahu siapa wanita ini, tapi dia sedikit panik saat mendengar kata-katanya, jadi dia buru-buru berkata, "Jika begitu, haruskah
"Menutup mata lagi?" Gadis itu kembali cemberut dan kehilangan semangatnya saat mendengar perintah itu.Tapi sulap masih membuatnya tidak bisa untuk tidak menurutinya dan menutup matanya lagi.Kemudian mengikuti perintah Arya, gadis kecil yang sedang menutup matanya itu tiba-tiba berseru, "Ayah, ayah! Ara melihatnya!""Apa yang Ara lihat?""Gelembung! Gelembung warna-warni seperti pelangi! Ada yang warna hijau, biru, merah, kuning dan putih! Banyak gelembung mengelilingi Ara!" jawab gadis kecil itu penuh semangat.Arya tidak bisa menahan senyumnya saat mendengar jawaban yang jelas-jelas menggambarkan sumber energi spiritual itu. Dan berbagai warna yang dapat Kiara lihat menandakan betapa besar bakatnya. Karena pada umumnya, seorang kultivator hanya bisa membedakan satu atau dua warna energi spiritual.Sedangkan putrinya sendiri, dia bisa membedakan lima warna yang artinya memahami lima elemen dasar hukum langit dan bumi.Tubuh Lima Elemen Bawaan, itu memang bukan sesuatu yang biasa-bi
Ekspresi wajah Arya menjadi serius saat mendengar pertanyaan itu.Sambil berjongkok, Arya mulai menjelaskan semuanya lebih jelas dan rinci. "Begini, Aruna memang bukan ibu kandung yang melahirkan Ara, dia adalah adik perempuan ayah. Tapi karena Aruna yang sudah merawat Ara sejak kecil dan selalu menyayangi Ara, jadi tidak apa-apa Ara memanggilnya mama, sebagai ibu pengganti ibu kandung.""Sedangkan Tante Eve sama sekali tidak boleh dipanggil mama, karena dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan Ara. Untuk ibu kandung Ara, orang yang melahirkan Ara, namanya adalah Lana Wijaya.""Lana Wijaya?" Kiara tiba-tiba mengingat sesuatu dan buru-buru bertanya, "Bukankah itu orang yang ayah katakan saat pertama kali bertemu dengan Ara?""Benar," akhirnya Arya bisa tersenyum dan mengangguk senang saat gadis kecil itu mulai mengerti."Lana Wijaya, itulah ibu kandung Ara yang melahirkan Ara.""Jadi Ara punya ibu?""Tentu saja Ara punya ibu!" Aruna ikut berbicara dan menambahkan, "Jika Ara tidak pun
Untuk saat ini, meskipun perasaan di hatinya sedikit berkurang karena telah menemui makam kedua orang tuanya, Arya tahu bahwa dia masih tidak bisa melakukan apa pun pada keluarga Wijaya.Tidak, bukannya tidak bisa, tapi Arya tidak ingin mereka menderita penderitaan yang biasa-biasa saja. Tidak sete
"Maaf sekali," dengan senyum sopan, Aruna berkata, "Kakakku sedang ada urusan lain, jadi dia tidak bisa mengantar Ara ke sekolah. Jika Anda punya waktu, Anda bisa datang ke rumah kami nanti."Thomas mengangguk dan tersenyum, tapi sebelum dia bisa membuka mulutnya, Robert segera berkata, "Tidak, tid
Di villa 01.Arya yang sedang berada di kamar mandi dan menyaksikan putrinya berendam di genangan air berwarna hijau kehitaman tampak mengerutkan keningnya."Apa barusan?"Tidak tahu apa yang terjadi, tapi Arya merasa bahwa sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Hanya saja, apa itu?"Ayah! Ayah!"Pan
Aruna tampak bimbang dan terdiam.Karena seperti yang telah Sonya katakan, jika seandainya bar yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya untuk bertahan hidup ini ditutup, Aruna tidak tahu harus bagaimana lagi.Jangankan membayar hutang yang berjumlah ratusan juta, bahkan mungkin untuk bertahan h




![MY CEO [Hate And Love]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)


