Share

Sulap

Author: Mr. Mystery
last update publish date: 2026-02-13 16:12:23

"Uhuk... uhuk..." Tak lama kemudian, pria tua yang sebelumnya tak sadarkan diri itu tiba-tiba berbatuk dan membuka matanya.

"Benar-benar berhasil!"

"Sungguh luar biasa!"

"Hanya dengan memegang pergelangan tangan dan memejamkan mata, pemuda barusan berhasil menyembuhkan stroke tiba-tiba! Ini pasti ilmu sihir!"

...

Semua orang terkejut dan berkata dengan ketidakpercayaan.

Ketika pria tua itu memahami apa yang terjadi, wajahnya berubah dan dia buru-buru menoleh ke sekelilingnya.

"Siapa yang menolongku barusan!?"

"Dia..." Orang-orang di sana mulai melihat sekeliling, mencoba mencari keberadaan Arya, tapi sosok ayah dan putrinya telah menghilang dari pandangan semua orang.

"Kakek! Dia ayah teman baruku! Namanya Arya! Dia yang menyembuhkan kakek barusan!"

"Arya?" Pak tua Hale bergumam dan mulai mengingat namanya.

Di saat yang bersamaan, Arya dan Kiara sudah berjalan pulang, dan gadis kecil itu selalu menatap ayahnya dengan mata berbinar sepanjang jalan. Penuh dengan kata-kata pujian dan sebagainya.

"Ayah benar-benar pahlawan! Berhasil menyembuhkan kakek Viona!"

Arya tersenyum, mengelus kepalanya dengan bangga atas pujian yang di terima, tapi kemudian dia tiba-tiba berhenti, dan mulai melirik sekelilingnya. Memeriksa bangunan-bangunan tua yang tidak jauh dari kontrakannya dengan kesadaran spiritualnya, wajahnya menjadi berkerut tidak senang.

Karena tak lama kemudian, tujuh orang pria dewasa, bertubuh besar, bertato dan bertampang garang mulai keluar.

Sambil membawa beberapa sajam, salah seorang preman, bertubuh besar dan garang yang memiliki bekas luka di wajahnya mulai berjalan ke arah Arya.

Pria botak yang tampaknya menjadi pemimpin mereka selangkah demi selangkah mendatanginya dan berhenti tiga meter di depannya. Lalu menatapnya dari atas ke bawah, dia mulai menyeringai lebar.

"Apa kau yang bernama Arya?"

Alis Arya berkerut tidak senang, tapi sebelum dia menjawab, Kiara langsung bertanya, "Benar, dia ayahku, namanya Arya, seorang pahlawan. Dan siapa Paman?"

Untuk ukuran gadis kecil, dia memang polos, dan tidak menyadari senjata tajam yang di bawa oleh orang-orang di sekitarnya. Saat Kiara mendengar ada orang yang menanyakan tentang ayahnya, gadis itu langsung menjawab dengan bangga, apalagi sesaat sebelumnya Arya berhasil menyelamatkan seseorang.

"Aku? Hehehe..." Tapi, seringai dan tatapan tajam dari pemimpin preman itu segera membuat Kiara takut.

"Aku adalah orang yang akan menghajar ayahmu! Mematahkan tanga dan kakinya, sehingga dia tidak bisa lagi menggendong dan melindungimu. Bagaimana, apakah kau suka itu, gadis kecil?"

"Aahh!"

Kiara langsung menjerit ketakutan, dan bersembunyi di balik punggung Arya sambil menutup matanya.

"Hmm?" Ketika Arya melihatnya, wajahnya menjadi sangat dingin saat melihat orang-orang di sekitarnya.

Tapi dia tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menggendong Kiara ke pelukannya. Lalu mengelus rambutnya dengan lembut, dan bertanya, "Ara, apakah kamu bisa berhitung satu sampai seratus?"

"Berhitung?" Kiara mulai membuka matanya, dan menatap Arya dengan tatapan bingung sebelum mengangguk.

"Jika begitu, ayo kita bermain sulap."

"Sulap?" Ara memiringkan kepalanya dengan penasaran, tapi saat melihat pria garang melalui sudut matanya, dia segera menggelengkan kepalanya.

"Ara takut--"

"Jangan khawatir..." Arya segera menenangkannya dan tersenyum lembut. "Dengan ayah di sini, semuanya akan baik-baik saja. Tapi Ara harus menutup mata dan berhitung satu sampai seratus, agar orang-orang jahat ini menghilang. Bagaimana?"

"Benarkah?" Mata Kiara berbinar, dan tanpa menunggu jawaban dari Arya, gadis kecil itu sudah menutup matanya sambil mulai berhitung.

"1..."

"Hmp..."

Saat Kiara mulai berhitung, senyum di wajahnya langsung menghilang.

Mengalihkan pandangannya pada orang-orang yang mengelilinginya, tatapan Arya menjadi dingin.

Tanpa sepatah katapun, sosoknya tiba-tiba menghilang dari pandangan semua orang, dan saat muncul lagi, suara keras tiba-tiba terdengar bersamaan dengan suara jeritan.

"Argh!"

Salah seorang preman yang dekat dengan Arya tiba-tiba menjerit, dan terlempar ke belakang beberapa meter, menabrak sebuah bangunan dua suara "bang" keras sebelum akhirnya jatuh ke tanah, dan tidak lagi bersuara.

"Kau--"

Sebelum pria botak dengan bekas luka itu menyelesaikan kata-katanya, sosk Arya kembali menghilang dari pandangannya.

Lalu dengan empat kali lima kali suara teredam, lima pria yang sebelumnya tampak masih berdiri dan bertampang garang tiba-tiba sudah tergeletak di tanah. Mengerang atau tidak sadarkan diri.

"Ini--" lagi, sebelum pria botak itu menyelesaikan keterkejutannya, kata-katanya kembali berhenti.

Bukan karena keterkejutan atau hal lainnya dia berhenti berbicara, melainkan karena ada seseorang yang mencekik lehernya dan mengangkatnya ke udara, membuatnya tidak bisa berkata-kata selain perasaan tercekik.

Sementara di depannya, wajah dingin dan tanpa emosi Arya sedang menatapnya dengan pandangan acuh tak acuh.

Mengangkat pria dewasa sebesar 100 kg hanya dengan satu tangan, Arya yang masih menggendong Kiara mulai bertanya, "Apakah orang yang mengirimu adalah Danan?"

Wajah pria botak itu berkerut dan berubah. Dia mencoba untuk berbicara, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan Arya, dia malah menemukan jika cengkramannya menjadi lebih kuat.

Bahkan oksigen yang masuk ke kerongkongannya mulai tersumbat.

"Jika kau tidak ingin lehermu patah, sebaiknya kau menjawab pertanyaanku dengan jujur!" Kata-kata dingin yang penuh niat membunuh ini segera menghentikan usahanya.

Entah apa yang terjadi, tapi saat pria botak itu mendengar kata-kata Arya, hatinya seketika menjadi dingin, dan bahkan punggungnya mulai basah.

"Aku tanya sekali lagi, apakah orang yang mengirimu kemari adalah Danan?"

Untuk kali ini, pria botak itu buru-buru mengangguk dan menjawab dengan jujur.

"Jadi benar-benar dia?"

Sejujurnya Arya sudah menebaknya, karena bagaimanapun, sejak dia kembali ke bumi, dia hanya memiliki gesekan dengan orang-orang suruhan Danan. Tapi saat dia benar-benar mengetahuinya, dia masih merasa sedikit aneh.

Sebelumnya, karena berbagai alasan, dia hanya memberikan peringatan saat Danan mengirim dua debkolektor ke rumahnya untuk mengganggu adik dan putrinya.

Tapi pria itu tidak mengingat peringatannya, dan malah mengirim orang lain?

Dan kali ini, orang yang dia kirim bukan hanya orang biasa, tapi juga orang-orang dari dunia bawah. Bahkan pria botak yang memimpin mereka ini sebenarnya adalah orang yang telah mengotori tangannya dengan darah.

Jika seandainya Arya adalah orang biasa, dia mungkin sudah terbaring tak berdaya di tanah sekarang!

Dan pria bernama Danan ini, apakah dia benar-benar ingin mencari masalah dengan dirinya? Kaisar Abadi?

Arya merasa ini adalah hal baru yang entah telah berapa lama tidak dia rasakan lagi.

"90..."

"Hmmp?" Mendengar jika hitungan Kiara hampir sampai, Arya melepaskan cengkraman tangannya.

Tapi dia tidak memberikan kebebasan pada preman yang telah menakut-nakuti putrinya itu dengan mudah, dan menggerakkan tangan kanannya.

"Klik... Klik.. klik..."

Suara beberapa tulang patah terdengar, tapi sebelum pria botak itu bisa berteriak dan menjerit, Arya menendang wajahnya, membidik tepat di mulutnya, dan mengirimnya terbang ke belakang sejauh beberapa meter.

Lalu menabrak sebuah tembok dengan keras, dan jatuh ke tanah dengan suara yang terdengar aneh sambil meronta-ronta kesakitan.

"Aku akan memberikan peringatan terakhir! Sebaiknya kau sampaikan agar Danan tidak lagi menggangguku, jika tidak, aku yang akan mendatanginya sendiri!"

Setelah mengatakan peringatan yang benar-benar terakhir kalinya itu, Arya tidak repot-repot lagi dengan mereka, dan pergi begitu saja.

Ketika hitungan Kiara akhirnya sampai ke seratus, dan kembali membuka matanya, dia melihat pintu rumah kontrakannya, dan merasa terkejut karena orang-orang yang menakutkan sebelumnya telah tiada.

"Ayah?"

Menoleh ke arah wajah Arya, gadis kecil itu tiba-tiba bersorak, "Sulap yang hebat! Kita sudah sampai di rumah! Dan orang-orang jahat itu telah menghilang!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Teror

    Arya, satu-satunya orang yang masih belum tidur dan sedang berlatih saat itu tiba-tiba membuka matanya. Menoleh ke arah luar villa, dan melihat beberapa orang muncul di dengan senjata api dan pengepungan dari segala arah, wajahnya menjadi sangat dingin. "Lima puluh orang dengan senjata api yang mungkin tentara bayaran, dan lima seniman beladiri energi gelap sebagai pemimpinnya..." Tiba-tiba ekspresi Arya menjadi sedikit santai, dan bahkan mulai terkekeh. "Tampaknya kali ini mereka datang lebih banyak daripada sebelumnya. Bahkan juga ada seorang seniman beladiri Gang Qi." Kesadaran Arya jatuh pada Danu yang berjalan bersama dengan Bramasta di barisan belakang. Merasakan energi internalnya yang tampak berkali-kali lipat lebih kuat daripada Marta sebelumnya, Arya tampak sedikit tertarik sebelum akhirnya menyeringai. "Ini waktu yang tepat untuk mencoba Formasi Lima Elemen Agung." Dengan tenang dan bahkan sedikit antispasi, Arya mengambil pelat formasi dan mulai mengendalikan selur

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Formasi Lima Elemen Agung

    Karena Arya sudah mengajari gadis kecil itu kultivasi, bukan hal yang mustahil dia bisa melihat apa yang terjadi. Dan dengan bakatnya, melihat dan membedakan energi spiritual di langit dan bumi adalah hal yang mudah.Oleh karena itu, dia tampak bersemangat saat menyaksikan gelembung udara itu mulai bermunculan dan menumpuk di seluruh villa.Dia juga mulai membuka mulutnya untuk menelan gelembung-gelembung yang sebenarnya adalah energi spiritual."Gelembung-gelembung udara?""Berwarna-warni seperti pelangi?"Tapi Aruna dan Selina yang menyaksikan gadis kecil itu tampak bingung dan bertanya-tanya tentang apa yang Kiara katakan.Ketika keduanya melihat Kiara mulai membuka dan menutup mulutnya seolah-olah sedang memakan sesuatu, mereka berdua tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh ke arah Arya.Arya hanya tersenyum tipis tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.Formasi Lima Elemen Agung.Bukan hanya sekadar formasi pengumpulan qi, tapi juga sejenis formasi pertahanan, pengalihan, da

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Burung kecil

    "Woow!" Saat Kiara melihatnya, dia tidak bisa untuk tidak berseru kagum. "Burung kecil biru yang sangat cantik!!" Arya mengangguk dan tampak puas dengan apa yang ia ukir. Phoenix Biru. Burung yang melambangkan kesucian dan kehormatan, itulah yang sedang Arya buat untuk putrinya. Dan ini bukan sekedar kalung ukiran burung Phoenix biasa. "Apakah Ara suka?" "Suka!" Gadis kecil itu segera menganggukkan kepalanya. "Ara sangat menyukainya. Burung kecil ini terlihat sangat cantik dan lucu!" "Lucu?" Arya tersenyum tipis saat mendengar kata-kata itu, tapi dia tidak menjelaskan lebih jauh, dan hanya berkata, "Burung ini namanya Phoenix, bukan burung kecil." "Tapi itu terlihat kecil dan berwarna biru." Kata Kiara bingung. "Lupakan saja!" Tidak ingin lagi mengatakan lebih jauh, karena masih belum waktunya, Arya hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut. Lalu menggigit jarinya sendiri, dan meneteskan darahnya ke arah ukiran burung Phoenix itu. Saat itu juga, ketika darah

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Ancaman lain

    "Uhm..." Adhiguna sedikit terdiam sebelum buru-buru mengangguk. "Benar sekali! Dengan adanya tuan Danu di sini, semuanya akan segera berakhir!" Bramasta juga setuju dan menambahkan. "Hehe..." Danu tiba-tiba terkekeh dengan suara dingin dan menatap kedua orang di depannya itu dengan jijik. "Kalian berdua memang orang yang tidak tahu malu saat mencoba untuk menjilat seseorang." Adhiguna dan Bramasta segera tersenyum canggung saat mendengar kata-kata sinis itu. Tapi mereka juga tidak bisa membantah, karena kenyataannya, mereka memang bergantung pada keluarga Wijaya agar bisa sampai ke posisi. Tanpa sedikitpun merasa malu, Adhiguna juga mulai berkata, "Tuan Danu pasti tahu sendiri, kan? Ini semua adalah tugas yang diberikan oleh Keluarga Wijaya, jadi kami hanya bisa menurutinya. Tapi siapa yang tahu, bahwa semuanya akan menjadi seperti ini. Bahkan Tuan Raka mengatakan bahwa ini adalah kesempatan terakhir sebelum beliau akan mengambil tindakan sendiri. Jika seandainya kali ini akan gag

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Riskan

    Arya tidak menunggu jawaban mereka.Dia berdiri dari tempat duduknya dan berkata dengan nada ringan, "Aku tidak memaksa kalian untuk memberikan jawaban sekarang. Yang jelas, jika kalian menemukan informasi apa pun, kalian bisa memberitahuku."Arya berbalik untuk pergi, tapi Thomas tiba-tiba berdiri dan berkata, "Tuan Arya, tunggu sebentar."Thomas berjalan keluar sebentar sebelum kembali dengan sebuah kunci mobil di tangannya."Tuan Arya," kata Thomas sambil mengulurkan kunci itu, "ini adalah kunci mobil Audi R8. Ini adalah sedikit kebaikan dari keluarga kami. Semoga Tuan Arya berkenan menerimanya."Arya melirik kunci mobil itu selama beberapa saat.Audi R8, mobil sport mewah dengan harga miliaran.Bukan hadiah yang kecil.Tapi Arya tidak menolak. Dia mengambil kunci itu dan mengangguk ringan. "Terima kasih."Setelah Arya pergi, suasana di ruang tamu menjadi sangat tegang.Thomas adalah orang pertama yang membuka suara dengan wajah pucat dan penuh kekhawatiran."Ayah," katanya dengan n

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Permintaan Arya

    Ryan mengangguk berat, dan menambahkan dengan ekspresi hormat dan serius di wajahnya, "Mereka benar-benar bukan manusia! Dikatakan mereka juga bisa hidup lebih dari seratus tahun!""Seratus tahun?"Robert, Thomas, Leonard, dan Katheryn yang ada di sana mulai saling memandang dengan kengerian di kedua mata masing-masing.Sebuah senjata hidup yang susah dibunuh dan bahkan bisa hidup selama seratus tahun? Ketika mereka berempat memikirkannya, mereka tidak bisa untuk tidak buru-buru menggelengkan kepala.Itu terlalu jauh! Mereka bahkan sama sekali tidak berani memikirkannya!Hanya Arya yang masih tenang dan dengan sangat ringan mengangguk, sama sekali tidak terkejut atau terlalu banyak bereaksi.Karena dia yakin, bahwa dengan adanya Grandmaster yang setara dengan Pelatihan Qi tingkat keenam dalam namanya, pasti ada tingkatan yang lebih tinggi sampai ke Pelatihan Qi tingkat kesembilan.Hanya saja, dengan energi internal mereka yang jauh lebih lemah dan kotor daripada yang diolah oleh seora

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Berbakti

    "Maaf sekali," dengan senyum sopan, Aruna berkata, "Kakakku sedang ada urusan lain, jadi dia tidak bisa mengantar Ara ke sekolah. Jika Anda punya waktu, Anda bisa datang ke rumah kami nanti."Thomas mengangguk dan tersenyum, tapi sebelum dia bisa membuka mulutnya, Robert segera berkata, "Tidak, tid

    last updateLast Updated : 2026-04-04
  • Kembalinya Kaisar Abadi   Membangkitkan garis keturunan

    Di villa 01.Arya yang sedang berada di kamar mandi dan menyaksikan putrinya berendam di genangan air berwarna hijau kehitaman tampak mengerutkan keningnya."Apa barusan?"Tidak tahu apa yang terjadi, tapi Arya merasa bahwa sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Hanya saja, apa itu?"Ayah! Ayah!"Pan

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Kembalinya Kaisar Abadi   Aruna dalam bahaya

    Aruna tampak bimbang dan terdiam.Karena seperti yang telah Sonya katakan, jika seandainya bar yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya untuk bertahan hidup ini ditutup, Aruna tidak tahu harus bagaimana lagi.Jangankan membayar hutang yang berjumlah ratusan juta, bahkan mungkin untuk bertahan h

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Kembalinya Kaisar Abadi   Teror

    Karena saat Arya mengulurkan tangannya, tubuh Doyle tiba-tiba melayang ke arah Arya, seolah-olah ada magnet yang menariknya. Bahkan jika dia menolak dan mencoba untuk bergerak atau melarikan diri, dia sama sekali tidak bisa menahan tubuhnya untuk terus terbang ke arah Arya, seolah-olah ada tangan t

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status