Mag-log in“Flare! Lepaskan flare sekarang!”
Suara pilot tenggelam di tengah deru mesin yang dipaksa belok tajam. Dari jendela kabin, kilatan cahaya menyembur keluar. Umpan panas diluncurkan untuk mengelabui rudal yang terus menempel di belakang.Ledakan pertama terjadi terlalu dekat. Badan helikopter miring hampir empat puluh lima derajat. Tubuh Nayaka di atas tandu terpental ke sisi, rasa nyeri di perut naik sampai pandangan kabur sesaat.“Nyonya, tetap di posDengung panjang memenuhi telinga Lucien. Kata-kata Dokter Yan terasa seperti palu yang menghantam dadanya. Ia mencengkeram bahu Dokter Yan. Keras. Pria paruh baya itu meringis kesakitan. "Jangan berani bicara omong kosong! Lakukan sesuatu!" suara Lucien parau. Bergetar.Dokter Yan langsung menekan dada Nayaka di atas tandu. "Rio, siapkan tabung oksigen portable! Kita tidak bisa menunggu sampai rumah sakit. Pacu jantungnya di sini!"Rio bergerak cepat. Ia memasangkan masker oksigen ke wajah Nayaka yang sudah sedingin es. Angin kebun teh mengacak rambut panjangnya, menutupi wajah pucat tanpa riasan.Lucien berlutut di tanah berlumpur. Ia menggenggam tangan Nayaka yang terkulai di samping tandu, lalu menempelkannya ke pipi sendiri. Ketidakberdayaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya."Kamu wanita kuat, Aurora. Jangan kalah di tempat menjijikkan seperti ini," bisiknya. Matanya memerah. "Kamu mau lihat musuhmu hancur? Aku akan
“Flare! Lepaskan flare sekarang!”Suara pilot tenggelam di tengah deru mesin yang dipaksa belok tajam. Dari jendela kabin, kilatan cahaya menyembur keluar. Umpan panas diluncurkan untuk mengelabui rudal yang terus menempel di belakang.Ledakan pertama terjadi terlalu dekat. Badan helikopter miring hampir empat puluh lima derajat. Tubuh Nayaka di atas tandu terpental ke sisi, rasa nyeri di perut naik sampai pandangan kabur sesaat.“Nyonya, tetap di posisi!” Rio merangkak menahan tandu agar tidak keluar dari pintu yang sudah terbuka sedikit karena guncangan.Di bawah, bukit tempat Nayaka berpisah dengan Lucien sekarang seperti titik api di antara pohon pinus. Asap hitam terus naik, menutup semua yang masih bergerak.“Rudal kedua meleset. Kita harus naik ke atas awan.” Pilot menarik tuas penuh. Kabin bergetar, telinga Nayaka berdengung karena tekanan udara berubah mendadak.Di tengah guncangan, Dokter Y
Ledakan itu memecah subuh. Api melahap SUV pengawal di depan. Kaca depan mobil Lucien retak seribu. Pecahannya bertebaran.“Tiarap!”Lucien menekan kepala Nayaka ke bawah jok. Tubuhnya menutup wanita itu. Bau karet terbakar masuk ke kabin. Mesiu juga. Nafas jadi sesak.Rio membalas tembakan dari balik kemudi. “Tuan, jalan depan tertutup! Kita mundur ke lereng!” teriaknya sambil membanting setir.Mobil mundur cepat. Ban berdecit di aspal basah. Pecahan logam berserakan di jalan.Elena berdiri di atas gundukan tanah. Senapan laras panjang ada di bahunya. Ia tidak pakai topeng lagi. Wajahnya terlihat jelas dalam cahaya api. “Jangan tembak mobil tengah! Biar dia keluar sendiri!” perintahnya.Tembakan berhenti.Lucien melepas pelukan. Ia menatap Nayaka yang memegang pistol cadangan. Tangannya gemetar tapi tidak lepas.“Kau berdarah,” kata Lucien melihat dahi Nayaka.
Matahari baru saja muncul di ufuk timur. Namun ketenangan di kamar perawatan Nayaka sudah hilang.Lucien masih duduk di kursi samping ranjang. Matanya merah karena kurang tidur. Pesan di ponsel Nayaka tentang panti asuhan itu terus berputar di kepalanya.“Kau menyembunyikan sesuatu dariku, Aurora,” gumam Lucien pelan, hampir seperti suara bisikan angin.Nayaka bergerak sedikit. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Ia melihat Lucien menatapnya dengan pandangan yang sulit dibaca. Campuran antara protektif dan ragu.“Mengapa kau menatapku seolah aku ini orang asing?” tanya Nayaka, suaranya serak.Lucien segera mengubah ekspresinya. Ia meletakkan ponsel Nayaka kembali ke meja nakas. “Aku hanya sedang memikirkan cara membunuh Elena jika ia berani menampakkan diri lagi.”Nayaka terdiam. Ia tahu Lucien sedang berbohong. Ada sesuatu yang lebih besar mengganggu pikiran pria itu. Ia me
Dunia Nayaka berhenti.Wanita di depannya menatap tajam. Tatapan elang. Ciri khas orang-orang didikan faksi bayangan.Tanda lahir kecil di bawah mata kirinya itu nggak bisa salah.Elena. Rekan sekaligus rival yang seharusnya sudah mati di ledakan perbatasan. Mati sebelum Nayaka bangun di tubuh Aurora.“Kau terkejut, Nona Muda?” suara Elena mengejek. Masih sama. Masih akrab di telinga Nayaka.Nayaka nggak menurunkan pistolnya. Ujungnya tetap mengarah ke jantung Elena. Meski tangannya mulai berat. Nyeri di perut bawahnya makin menusuk.“Siapa kau? Kenapa kau menyerang suamiku?” suara Nayaka stabil. Meski keringat dingin sudah membanjiri punggungnya.Elena tertawa kecil. Kering. Tanpa emosi. “Suami? Oh, Aurora. Kau sungguh mendalami peranmu. Aku tidak menyerang Lucien Ashford. Aku hanya menjemput aset yang tertinggal.”Lucien bangkit dari lantai. Me
Jarum suntik itu masih menancap di bantal sutra. Cairan biru di dalamnya berkilau di bawah lampu kamar. Diam. Mematikan. Lucien langsung menarik Nayaka mundur. Tanpa banyak tanya, ia membawanya ke sudut ruangan yang paling jauh dari ranjang. “Rio, tutup semua ventilasi. Sekarang.” Suara Lucien datar. Tapi ada ketegangan di baliknya. Malam yang tadi tenang, kini terasa salah. Nayaka berdiri di tempat. Dadanya sesak, bukan karena takut. Marah. Tim taktis masuk tak lama setelahnya. Seragam hazmat lengkap, gerakan cepat dan terukur. Mereka mengambil serpihan drone dan jarum itu dengan penjepit baja, lalu menyimpannya ke dalam wadah kedap udara. Lucien tidak bergeser dari depan Nayaka. “Hasil analisisnya harus ada sebelum subuh,” katanya pelan. Ia menoleh sebentar. Ada sesuatu di matanya yang biasanya tidak pernah muncul. Bersalah. “Aku tidak seharusnya membawamu kembal







