Home / Urban / Kembalinya Nona Muda yang Terbuang / Bab 70 - Langit yang Runtuh

Share

Bab 70 - Langit yang Runtuh

Author: Erchapram
last update publish date: 2026-05-16 20:00:45

“Flare! Lepaskan flare sekarang!”

Suara pilot tenggelam di tengah deru mesin yang dipaksa belok tajam. Dari jendela kabin, kilatan cahaya menyembur keluar. Umpan panas diluncurkan untuk mengelabui rudal yang terus menempel di belakang.

Ledakan pertama terjadi terlalu dekat. Badan helikopter miring hampir empat puluh lima derajat. Tubuh Nayaka di atas tandu terpental ke sisi, rasa nyeri di perut naik sampai pandangan kabur sesaat.

“Nyonya, tetap di pos
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 200 - Epilog: Di Bawah Langit yang Terbuka

    Pukul 06.00 pagi. Matahari Surabaya yang cerah menyinari gerbang kayu besar Menteng, membuat kayu tua itu terlihat lebih hangat dan hidup. Nayaka berdiri di sana, menyentuh permukaan kayu yang kini tidak lagi menyimpan kunci tersembunyi. Tidak ada lagi sensor yang mendeteksi setiap orang yang mendekat. Tidak ada lagi sistem Vanguard yang bekerja di bawah lantai rumah ini. Semuanya sudah mati, semuanya sudah kembali jadi rumah biasa. Di sampingnya, Lucien Ashford tidak lagi pakai jam tangan taktis atau baju khusus untuk bergerak cepat. Ia pakai kemeja katun biasa, menatap jalanan Menteng yang tenang. Mereka baru pulang dari Bandung dua hari lalu, dan kepulangan ini terasa berbeda. Ini bukan kembali ke markas, tapi pulang ke tempat di mana mereka bisa jadi diri sendiri tanpa memikirkan ancaman. "Auroran sudah sampai di penginapan terakhirnya di pesisir Selatan," kata Lucien pelan, memecah keheningan pagi. "Dia kirim foto terakhi

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 199 - Titik Nadir di Balik Kabut Gunung

    Pukul 05.00 pagi. Udara pegunungan Bandung terasa dingin dan segar, jauh dari asap kendaraan dan bau laut yang dulu selalu membawa rahasia pelabuhan. Di teras villa keluarga Rio, Nayaka mematikan dupa kecil. Ia tidak lagi memandangi cakrawala untuk mencari ancaman. Ia hanya melihat kabut yang perlahan turun, menutupi batang-batang kopi di kejauhan. Hidup yang dulu penuh hitungan risiko dan probabilitas, kini hanya berjalan mengikuti napas yang tenang. Lucien Ashford keluar dari pintu kayu dengan langkah ringan. Ia tidak lagi pakai kemeja dengan saku tersembunyi untuk senjata atau ponsel enkripsi. Ia pakai jaket wol tebal, dan di tangannya ada dua cangkir kopi Arabika hasil panen Rio minggu lalu. "Rio bilang panen kali ini yang terbaik dalam sepuluh tahun," kata Lucien pelan sambil menyerahkan kopi ke Nayaka. "Dia tidak takut lagi pada tengkulak yang dulu sering curang. Sepertinya stabilitas yang kita tinggalkan di pelabuhan mu

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 198 - Residu Terakhir yang Tersapu Angin

    Pukul 06.00 pagi. Surabaya terasa lebih jernih dari biasanya. Di kediaman Menteng, pagi tidak lagi dimulai dengan suara radio atau perintah taktis yang harus dienkripsi. Nayaka berdiri di teras paviliun, memakai sweter rajut longgar yang hangat di tengah embun yang masih menempel di daun mawar. Ia menyesap teh melati pelan-pelan, membiarkan aromanya menenangkan saraf yang dulu selalu siaga. Di sampingnya, Lucien Ashford melipat koran biasa. Bukan laporan intelijen, tapi berita soal pembangunan ruang terbuka hijau di kota. Ia terlihat berbeda. Garis tegang di pelipisnya sudah hilang, diganti ekspresi yang lebih terbuka dan tenang. Rumah ini bukan lagi benteng yang terisolasi. Setelah setahun melewati masa sulit, rumah ini akhirnya jadi tempat mereka bisa berlabuh. "Auroran sudah sampai di puncak bukit area perkebunan," kata Lucien sambil menatap gerbang kayu Menteng yang terbuka lebar. "Dia kirim pesan singkat. Katanya tidak ad

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 197 - Sisa Jejak di Balik Pintu Kayu

    Pukul 05.00 pagi. Langit timur di atas Menteng mulai oranye, memberi cahaya lembut pada mawar putih yang baru ditanam di bekas pos jaga lama. Nayaka berdiri di teras paviliun, menghirup udara pagi yang segar. Tidak ada lagi bau logam dari perangkat elektronik panas, tidak ada lagi rasa waspada. Ia tidak lagi mengecek ponsel enkripsinya, karena benda itu sudah lama tidak ada. Ia juga tidak lagi memikirkan faksi Kebayoran Baru. Bagi mereka, faksi itu sudah jadi masa lalu yang memudar. Lucien Ashford keluar dari paviliun dengan langkah tenang, membawa dua cangkir kopi yang masih mengepul. Ia pakai kemeja katun ringan, terlihat seperti orang biasa yang sedang libur panjang, bukan orang yang pernah mengendalikan arus komoditas maritim terpenting di Indonesia. Ia meletakkan kopi di meja marmer, lalu berdiri di samping Nayaka, membiarkan keheningan pagi menyatukan mereka. "Auroran telepon dari stasiun," bisik Lucien. "Dia bilang akan

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 196 - Cahaya di Balik Pintu yang Tak Lagi Terkunci

    Pukul 06.00 pagi, langit Surabaya cerah tanpa awan, membentang biru pucat di atas atap Menteng. Nayaka keluar ke beranda samping, merasakan embun tipis di daun mawar taman. Ia tidak lagi meraba saku kardigan untuk memastikan ponsel enkripsi ada di sana. Hidupnya sudah berubah. Tidak ada lagi alarm darurat tengah malam, tidak ada lagi deret angka terenkripsi yang harus dipecahkan cepat untuk memprediksi langkah faksi lawan. Lucien Ashford menyusul dari belakang, membawa nampan berisi kopi panas dan roti panggang. Ia tidak lagi berjalan waspada seperti orang yang memikul rahasia negara. Langkahnya ringan, seolah menikmati kebebasan yang setahun terakhir hanya jadi angan. "Auroran sudah bangun," bisik Lucien sambil meletakkan nampan di meja marmer. "Dia di perpustakaan, lagi mengemas kamera analognya. Katanya cahaya pagi ini paling bagus buat menangkap detail dedaunan di kebun kopi nanti."

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 195 - Cakrawala di Balik Jendela yang Terbuka

    ​Pukul lima pagi. Sisa kabut tipis masih menempel di pucuk-pucuk mahoni, membiarkan cahaya pertama hari ini membiaskan warna keemasan yang lembut di permukaan kolam air mancur Menteng. Nayaka berdiri di sana, membiarkan jemarinya menyentuh permukaan air yang tenang. Tidak ada lagi ritual pengecekan sistem keamanan sebelum matahari terbit, tidak ada lagi frekuensi radio yang harus dipindai untuk mendengarkan percakapan mencurigakan dari faksi lawan. ​Hening itu begitu murni, sehingga ia bisa mendengar suara langkah Lucien di kejauhan, pelan namun pasti, menapak di atas ubin teras. Ia tidak menoleh, karena ia tahu suaminya tidak sedang membawa beban berat di bahunya. Lucien berjalan dengan tubuh yang rileks, mengenakan sweter wol yang ia sukai saat pagi sedang dingin-dinginnya. Ia berdiri tepat di samping Nayaka, meletakkan secangkir kopi panas di atas meja marmer kecil yang mereka tempatkan di sana. ​"Auroran menelepon tadi malam," ujar Lucien setelah be

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 172 - Akar yang Menguat di Kedalaman Senja

    Pukul 19.00. Langit Menteng berubah menjadi biru tua yang bersih, tanpa polusi cahaya dari lampu reklamasi pelabuhan yang kini dikelola manajemen digital baru. Di paviliun samping, cahaya lampu dinding kuningan memancarkan rona keemasan hangat, menyorot panel kayu mawar tua dan lantai parket jati

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 166 - Jaringan yang Terkunci

    Roda mobil sedan hitam milik menteri teknis berhenti di pelataran luar ring satu pukul 19.15. Di bawah kanopi beton kediaman Menteng, Rio melangkah maju dengan teratur. Dua personel taktis Ashford membuka pintu kendaraan dengan gerakan senyap, memastikan tidak ada lensa jurnalis yang menembus pag

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 144 - Gelombang yang Pecah di Tepian

    Angin pagi dari pelataran Menteng udah berubah jadi angin siang. Udara jadi lebih gerah dan berat. Jam perunggu di ruang tengah nunjukin jam sembilan pas. Di beranda belakang, meja masih berantakan bekas rapat tadi pagi. Teh mint di teko tanah liat udah habis, gantinya wedang uwuh di cangkir pors

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 142 - Semburat Fajar di Beranda

    ​Cahaya matahari pagi yang bersih merayap naik menyusuri pilar-pilar batu alam di beranda belakang, menyapu sisa-sisa embun yang mengendap di pucuk daun melati. Pukul enam lewat tiga puluh menit, suasana rumah trah Wijaya terasa begitu tenang, sebuah keteduhan yang berbanding dengan gelombang kep

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status