MasukRuangan megah itu bersinar dengan cahaya yang hangat, dikelilingi oleh lukisan-lukisan mahal dan perabotan mewah. Di tengah-tengah ruang tersebut, Aryan berhadapan muka dengan seorang pria bertubuh kekar bernama Jaka. Ia dikenal sebagai petarung terkuat yang sering diundang untuk menguji orang baru.
“Dengar. Aku suka mengakhiri pekerjaan cepat,” Jaka mengarahkan tatapan menantang ke arah Aryan. “Dan kau akan jadi salah satu pengalihan kerjaku hari ini.” Aryan menegakkan badannya, tanpa sedikit pun menunjukkan ketakutan. “Kalau itu yang kau mau,” jawabnya tegas. “Aku tidak akan menarik diri dari tantangan ini.” Tiga penjaga yang berdiri di samping menoleh, mengikuti sesi ini dengan antisipasi. Jaka melangkah maju dengan kecepatan luar biasa, mengeluarkan serangan tinju pertama. Aryan merespons dalam sekejap, menghindari serangan itu dengan gesit, lalu balas menyerang dengan uppercut yang kuat. Pukulan itu benar-benar mengenai rahang Jaka, membuatnya tersentak mundur. “Hei, bukan kebetulan kan?” Jaka kembali merangsek maju, kali ini dengan kombinasi serangan yang lebih terampil. Namun Aryan tetap sabar, membaca gerakan lawannya. Dalam sekejap, ia melakukan tendangan rendah, yang membuat Jaka terjatuh ke tanah. “Bisa dibilang, kau memang sosok yang lebih berbahaya—” Aryan menghentikan kalimatnya ketika dia melihat Jaka berusaha bangkit kembali. Bagaimana pun Jaka tampak kuat, Aryan sudah mengetahui bahwa ia harus mengakhiri ini lebih cepat. Ia menghindari serangan susulan dan bergerak cepat, melakukan putaran dan menyusup di belakang Jaka, lalu mendorongnya ke tanah dengan teknik kunci yang hemat gerakan. “Cukup!” Aryan berseru, mengatur napas dengan tenang sementara Jaka terengah-engah di bawahnya. Tatapan kagum mulai muncul di antara para penjaga dan dalam sekejap ruangan itu menjadi hening. Melihat lawan yang biasanya mendominasi dikalahkan dengan cepat mengubah semua ekspektasi di dalam pertarungan tersebut. Dari sudut ruangan, Mr. Horison—konglomerat yang dikenal berkat reputasinya yang kuat—duduk menonton. Ia menyaksikan setiap gerakan Aryan dan Jaka, seakan sebuah pertunjukan seni lukisan hidup yang menarik aliran napasnya. Mr. Horison merasa tertarik. Ketangguhan dan kecerdikan Aryan bukan hanya sebuah pertunjukan fisik, namun juga sesuatu yang membuat jiwanya tergerak. Dalam benaknya, ia mulai berfikir, “Aneh sekali—yang ini memiliki aura yang mirip dengan jendral yang sudah lama hilang dalam ingatanku.” Setelah berhasil menaklukkan Jaka, Aryan berdiri penuh percaya diri, berjalan dengan bebas sambil tetap memperhatikan dengan seksama ruangan di sekelilingnya. “Siapa yang selanjutnya?” seru Aryan, tidak terpengaruh oleh tatapan dari para penjaga lain. “Hebat!” Mr. Horison akhirnya berbicara menghargainya. “Aku rasa, di dunia ini, tidak banyak yang bisa melawan Jaka dalam satu duel.” Aryan menoleh, menyadari bahwa itu adalah suara dari tuan rumah. “Terima kasih, tuan,” jawabnya dengan tenang, meskipun di dalam hatinya masih terkejut dengan situasi yang baru saja berlaku. “Boleh tahu namamu?” Mr. Horison bertanya, memperhatikan wajah Aryan, mencari-cari sesuatu dalam ingatannya. “Aryan, tuan,” jawabnya langsung, serta memberi tanda hormat yang sederhana. “Menarik,” lirih Horison, menyelidiki lebih dalam. “Ada kesan yang membuatku teringat pada seseorang yang sudah hilang begitu lama. Namun tampaknya kau adalah orang yang berbeda.” Aryan merasa ada yang ganjil dengan tatapan mata Mr. Horison. Sementara itu, penilaian di sekelilingnya hanya sebatas prinsip pertarungan. Dia belum menyadari lebih dalam tentang siapa pria ini dan apakah ada hubungan yang lebih dalam. “Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, Aryan?” tanya Horison, tatapannya penuh rasa ingin tahu. “Apakah kau memiliki keinginan untuk bergabung dalam timku?” “Maksud anda?” Aryan mengerutkan dahi, merasakan momen keajaiban akan hal yang tak terduga ini. “Aku hanya ingin mencari pekerjaan, tuan. Pertarungan ini hanya serangkaian tugas.” “Oh, tapi apa kau tidak merasakan potensi yang lebih besar dari dirimu sendiri?” sambung Horison. “Mungkin kau tidak ingin terjebak menjadi buruh selamanya, bukan?” Aryan terdiam sejenak. Dia ingin menjawab, namun mengingat kehidupannya yang sulit, hatinya berjuang antara keraguan dan harapan baru. “Aku—aku tidak tahu,” ungkapnya jujur. “Aku tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Aku hanya ingin menemukan tempat di dunia.” “Yang sebelumnya kau miliki?” Horison tiba-tiba menambahkan, membuat Aryan terkejut. “Saya… bukan siapa-siapa. Saya tidak mengingat apapun,” Aryan menjawab, melihat kembali ke wajah tuan rumah dengan kerendahan hati. Hadirnya Mr. Horison dan tawarannya seperti magnet yang menarik Aryan ke dalam dunia yang sama sekali baru, dunia di mana kekuatan dan keberanian memiliki makna yang lebih mendalam. Namun, di sisi lain, wajahnya menyimpan teka-teki kosong tentang ingatan masa lalunya. Mr. Horison mencatat perubahan ekspresi di wajah Aryan. Mungkin ada serpihan kenangan yang menyangkut soal kedekatan antara mereka, dan di saat yang sama, ia hanya dapat berfikir bahwa ini adalah orang lain yang mirip dengan Sang Jenderal yang dia kenal. “Baiklah, Aryan. Mari kita bicarakan lebih lanjut tentang pekerjaan ini. Aku yakin kau bisa lebih dari sekadar buruh. Ketangguhanmu adalah kunci untuk memulai perjalanan yang lebih baik,” pelan namun tegas ia berkata, membuat Aryan terheran dengan tawaran yang menggiurkan ini. Dengan hal itu, Aryan merasa seperti berdiri di ambang peluncuran untuk memasuki petualangan hidup baru, sementara di balik layar, Mr. Horison mengintip masa lalu yang mungkin hanya satu langkah menjauh dari jangkauannya. Di luar sana, tantangan baru menunggu, dan Aryan siap dengan tanggung jawab barunya, bahkan jika ingatan akan jendral yang hilang masih berada di dalam benaknya yang samar.Fajar yang seharusnya membawa ketenangan justru datang dengan aura kematian yang mencekam. Di cakrawala laut utara, kabut tebal perlahan tersibak oleh moncong-moncong kapal perang berwarna hitam legam tanpa nomor lambung. Itu adalah armada tempur organisasi Nebra. Mereka tidak datang untuk bernegosiasi; mereka datang untuk mengambil kembali aset mereka yang paling berharga: Protokol Alpha 9 yang ada di dalam tubuh Aryan. Aryan berdiri di atas tanggul pemecah ombak, menatap ribuan kilatan cahaya dari meriam laser kapal-kapal tersebut. Di belakangnya, Mayor Yudha sedang berteriak melalui radio, berusaha mengoordinasikan unit artileri pantai yang masih tersisa. "Jendral, mereka mulai mendarat! Unit amfibi mereka bukan manusia!" teriak Yudha. Dari balik ombak, muncul ratusan prajurit mekanik yang dikenal sebagai Nebra Reapers. Berbeda dengan Subjek Beta yang lincah, Reapers adalah tank berjalan yang dirancang untuk satu tujuan: penghancuran total. "Tahan posisi! Jangan menembak sampai
Gedung Televisi Pusat menjulang seperti menara pengawas di tengah ibu kota yang sunyi akibat jam malam. Di puncaknya, lampu sorot raksasa menyapu jalanan, mencari setiap gerak-gerik yang mencurigakan. Di dalam gedung itu, Silas telah menyiapkan panggung eksekusi. Tante Mira dirantai di kursi besi di tengah studio utama, dikelilingi oleh kamera yang siap menyiarkan "pengadilan pengkhianat" ke seluruh negeri dalam hitungan menit. Di luar gedung, Aryan berdiri di puncak gedung apartemen yang berseberangan. Angin kencang memainkan ujung jubah taktisnya. Di sampingnya, Mayor Yudha sedang menyiapkan senapan runduk dengan amunisi pengacau sinyal. "Jendral, sensor menunjukkan ada minimal lima puluh personel unit Penjagal di dalam. Plus, Subjek Beta yang kau lawan kemarin ada di lantai empat puluh," lapor Yudha melalui alat komunikasi. Aryan tidak merespons dengan kata-kata. Ia hanya memeriksa detak jantungnya yang kini berada di frekuensi rendah yang stabil. Alpha 9 di tubuhnya sudah tersi
Malam di ibu kota tidak lagi terasa aman bagi mereka yang mengenakan lencana Dewan Pertahanan Nasional. Di bawah lampu-lampu neon yang berkedip, sebuah ketakutan baru mulai menyebar di kalangan militer. Mereka menyebutnya sebagai "Hantu Arkhana". Sebuah entitas yang menyerang tanpa suara, melumpuhkan sistem tanpa jejak, dan menghilang sebelum alarm sempat berbunyi. Di sebuah gudang tua yang menjadi markas sementara, Aryan duduk diam di tengah kegelapan. Satu-satunya cahaya berasal dari kabel-kabel optik yang tersambung dari pergelangan tangannya ke sebuah komputer pusat curian. Ia sedang melakukan penetrasi ke jaringan saraf logistik sektor tujuh. Matanya yang putih terang bergerak cepat, memproses ribuan baris data enkripsi per detik. "Tingkat keberhasilan infiltrasi: sembilan puluh delapan persen," gumam Aryan tanpa ekspresi. Mayor Yudha masuk membawa dua pucuk senapan serbu yang telah dimodifikasi. Ia menatap Aryan dengan ngeri sekaligus takjub. "Depo sektor tujuh itu dijaga ole
Suara ledakan bom termobarik yang dijatuhkan oleh angkatan udara Silas menggetarkan seluruh rangkaian pegunungan Utara. Puncak gunung yang semula kokoh seolah terkelupas, mengirimkan jutaan ton salju dan bebatuan jatuh menimbun lembah di bawahnya. Dari kejauhan, pemandangan itu tampak seperti kiamat kecil yang dibungkus dalam kabut api dan asap hitam. Di dalam ruang kendali jet tempur pemimpin, seorang pilot melapor dengan nada datar, "Target dihancurkan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang tersisa di area bunker." Silas, yang menyaksikan semuanya melalui transmisi satelit di kantor rahasianya, menyandarkan punggung ke kursi kulitnya. Senyum kemenangan menghiasi wajah tuanya. Baginya, Aryan Arkhana bukan lagi ancaman. Dengan hancurnya bunker itu, semua bukti pengkhianatannya di masa lalu terkubur bersama jasad sang Jendral. Silas segera menekan tombol interkom, memanggil staf medianya. "Umumkan kepada seluruh negeri," perintah Silas dengan nada yang dibuat sedih. "Jendral Aryan tel
Kegelapan di dalam bunker Arkhana terasa begitu padat, seolah-olah waktu telah berhenti berdetak di sana selama tiga puluh tahun. Namun, saat kaki Aryan melangkah melewati ambang pintu, deretan lampu neon biru di langit-langit menyala satu per satu, menciptakan lorong cahaya yang membentang jauh ke perut bumi. Suara gerbang raksasa di belakang mereka menutup dengan dentuman yang menggetarkan fondasi gunung. Mereka kini terperangkap di dalam benteng kuno yang menyimpan rahasia paling berbahaya dari klan Arkhana. "Aryan, lihat itu," bisik Clara sambil menunjuk ke arah aula besar di ujung lorong. Di sana, berderet rapi ratusan unit baju zirah mekanis yang dikenal sebagai Arkhana Sentinels. Baju zirah ini tidak digerakkan oleh mesin biasa, melainkan oleh sistem neuro-link yang hanya bisa dikendalikan oleh seseorang dengan protokol Alpha 9 aktif. Ini bukan sekadar gudang senjata; ini adalah pasukan pribadi yang siap meratakan kota dalam hitungan jam. Rahasia Tante Mira Saat Mayor Yudh
Gema tawa Silas dari radio taktis milik Viktor Arkhana seolah memicu ledakan di dalam dada Aryan. Langit yang semula gelap kini terang benderang oleh ribuan lampu indikator merah dari drone tempur yang melayang rendah, mengepung area gerbang besi klan Arkhana. Salju yang turun deras mendadak menguap sebelum menyentuh tanah, kalah oleh panas energi biometrik yang terpancar dari tubuh Aryan yang kini berada pada level kritis. "Viktor, kau menjual darahmu sendiri demi janji seorang ular?" geram Aryan. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan dentuman rendah yang membuat bebatuan di sekitarnya bergetar. Viktor Arkhana jatuh terduduk, wajahnya yang penuh bekas luka bakar kini pucat pasi. "Dia bilang... dia bilang ini satu-satunya cara agar klan kita diakui kembali, Aryan! Aku lelah hidup sebagai tikus di dalam gua!" "Kau bukan tikus, Viktor. Kau adalah pengkhianat," desis Tante Mira. Ia sudah berada di posisi siaga, dua belati di tangannya berkilat memantulkan cahaya merah dari lang







