Share

Jejak Masa Lalu

Penulis: F Azzam
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-17 17:45:46

Hari-hari awal Aryan di rumah Mr. Horison terasa seperti sebuah petualangan yang tak terduga. Setiap pagi, ia terjaga di sebuah kamar yang luas, dikelilingi oleh barang-barang berharga yang tidak pernah ia bayangkan bisa ia miliki. Begitu banyak pilihan, begitu banyak kemungkinan.

Sesi pelatihan mulai berlangsung. Mr. Horison telah membentuk tim elit yang terdiri dari para penjaga terlatih dan master pertarungan, dan Aryan menjadi bagian dari mereka. Ia dilatih bukan hanya dalam teknik bertarung, tetapi juga dalam strategi, pengecekan keamanan, dan manajemen risiko. Di sinilah Aryan merasa bakatnya benar-benar bersinar. Ia sering kali keluar sebagai juara, mengalahkan lawan-lawannya dengan kecerdikan dan kombinasi gerakan yang membuatnya tak terduga.

Namun, saat hari-hari berlalu, dia merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Setiap kali ia berada di dekat Mr. Horison, seolah ada jari-jari tak terlihat yang menarik kembali kenangannya—kenangan yang selalu terlintas di sudut pikiran yang samar. Dan di saat itulah, satu kejadian tak terduga menghampirinya.

Suatu sore, saat pelatihan usai, Aryan berdiri sendiri di taman, merenungi keahliannya. Ia tak merasa bahwa ini adalah tempat yang seharusnya ia tempati. Dalam keheningan, ia mendengar suara berbisik yang samar; suara itu membuatnya menoleh ke belakang. Seorang wanita muda berdiri di sana, wajahnya tersemat senyum ramah namun misterius.

“Namaku Clara,” katanya, melangkah lebih dekat. “Aku datang untuk melihat bagaimana kesanmu di sini.”

Aryan tertegun. “Clara? Siapa kau?”

“Aku teman dari Mr. Horison,” jawab Clara, memperlihatkan kedekatan antara mereka. “Aku sudah mengenalnya sejak lama. Ada sesuatu yang berbeda dalam dirimu, Aryan.”

“Mungkin itu hanya bagian dari pelatihan,” Aryan berkata, tetapi hatinya berdebar mendengar kata ‘berbeda’.

“Tidak. Kau tahu, ada sesuatu yang menyeretku untuk mendekat. Seperti ada jejak karma yang membuatku ingin tahu lebih banyak tentangmu.” Clara mengamati Aryan dengan intens, seakan mencari-cari sesuatu di dalam dirinya.

Aryan menjawab dengan gelisah, “Aku sudah mencoba melupakan masa lalu. Apa yang kau cari mungkin tidak ada di sini.”

Clara tersenyum. “Kadang-kadang, masa lalu tidak bisa kita lupakan. Itu akan kembali dengan cara yang tak terduga.”

Dan saat Clara berbicara, jantung Aryan seakan berpacu cepat. Dia teringat akan masa-masa sulit yang membawanya ke titik di mana ia sekarang, mengenang orang-orang yang hilang dan petualangan yang belum sempat ia jelajahi.

“Saat kau bertarung, aku bisa merasakan semangat darimu. Seolah kau berjuang melawan sesuatu yang lebih dari sekadar lawan di depanmu,” Clara melanjutkan, membuat Aryan semakin bingung.

“Apakah kamu kenal dengan Mr. Horison?” tanyanya, ingin mencari tahu lebih dalam.

Clara mengangguk. “Ya, ia adalah orang yang selalu berusaha menjaga semua orang di sekitarnya. Dia memiliki banyak rahasia, tapi ada satu hal yang dia ingin kau tahu.”

“Apa itu?” Aryan bertanya, merasa petualangan semakin mendalam.

“Tanya dia tentang ‘hari yang hilang’, waktu ketika banyak hal berubah untuk orang-orang di sekitarnya. Semua itu terjadi sebelum kau muncul di sini,” kata Clara, suara berbisik namun penuh intensi.

“Hari yang hilang? Apa maksudmu?” tanya Aryan, hatinya bergetar mendengar frase itu.

Clara tersenyum samar, tetapi kemudian wajahnya tampak khawatir. “Hati-hati. Kebenaran kadang bisa sangat mengerikan dan menciptakan pilihan yang sulit.”

Tanpa menunggu jawaban Aryan, Clara melenggang pergi, meninggalkan rasa ingin tahu yang mendalam di dalam hati Aryan. Apa yang terjadi di masa lalu? Dan bagaimana itu berhubungan dengan dia? Rasa ingin tahunya kembali menyala, perlahan-lahan menggeser ketidakpastian dalam dirinya.

Beberapa hari kemudian, rencana pelatihan ditunda dan saatnya bagi Mr. Horison untuk memberikan arahan baru. Aryan dan tim elit berkumpul di ruang persidangan yang dikelilingi oleh lukisan bersejarah, dan di depan mereka berdiri Mr. Horison.

“Sebagian dari kalian mungkin pernah mendengar tentang rumor yang beredar, atau buang waktu dengan berbagai pertarungan sengit. Namun sekarang, kita akan melangkah ke tahap baru,” jelasnya, wajahnya serius. “Aku ingin kalian bersiap untuk sebuah misi.”

“Misi? Apakah ini berhubungan dengan keamanan?” tanya Aryan, penuh rasa ingin tahu, matanya tertuju pada Mr. Horison.

“Bukan hanya itu. Misi ini akan melibatkan penyusupan. Kita akan masuk ke wilayah yang sangat berbahaya untuk menyelidiki aktivitas ilegal yang bisa mengancam posisi kita,” jawab Horison lagi.

Saat para anggota tim berbicara di antara mereka tentang rencana misi, Aryan merasakan getaran dingin di punggungnya. Sesuatu di dalam hati menajamkan pengingat bahwa ini adalah kesempatan pertamanya untuk menemukan siapa dirinya yang sebenarnya.

“Dan bagi yang ingin terlibat—ini akan jadi ujian sejati dari keahlian kalian,” Horison menambahkan, menatap lurus ke arah Aryan. “Kau, Aryan, aku ingin agar kau mengawasi ini lebih dekat. Kau akan jadi mata dan telinga kita di sana.”

“Aku…? Kenapa aku?” Aryan merasa terkejut, tidak memiliki pengalaman dalam operasi seperti itu sebelumnya.

“Karena aku percaya. Kau memiliki naluri yang kuat dan kemampuan untuk melakukan ini,” jawab Mr. Horison, mengabaikan keraguan Aryan.

Dalam hati Aryan bergejolak. Dia merasakan bahwa ini adalah langkah yang akan membawanya lebih dekat untuk menemukan masa lalunya. Apakah dia mampu melewati semua ini?

“Baiklah. Aku akan melakukannya.” Aryan menjawab, menyerahkan pada takdir, kepada misi yang tak hanya sedang mengujinya, tetapi juga mempertemukannya kembali dengan bayang-bayang masa lalu yang mungkin membentuk dirinya.

Ketika malam tiba, seiring matahari tenggelam ke belakang gunung, Aryan merenungi langkahnya ke dalam kegelapan, tidak tahu bahwa penantian di balik pintu akan membuka kotak Pandora yang menyimpan rahasia lebih dari sekadar potensi yang hilang. Dia memasuki petualangan baru dengan langkah teken dan harapan di hati, menyadari bahwa kebenaran kadang-kadang lebih menakutkan daripada yang bisa ia bayangkan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Guncangan di Pesisir Utara

    Fajar yang seharusnya membawa ketenangan justru datang dengan aura kematian yang mencekam. Di cakrawala laut utara, kabut tebal perlahan tersibak oleh moncong-moncong kapal perang berwarna hitam legam tanpa nomor lambung. Itu adalah armada tempur organisasi Nebra. Mereka tidak datang untuk bernegosiasi; mereka datang untuk mengambil kembali aset mereka yang paling berharga: Protokol Alpha 9 yang ada di dalam tubuh Aryan. Aryan berdiri di atas tanggul pemecah ombak, menatap ribuan kilatan cahaya dari meriam laser kapal-kapal tersebut. Di belakangnya, Mayor Yudha sedang berteriak melalui radio, berusaha mengoordinasikan unit artileri pantai yang masih tersisa. "Jendral, mereka mulai mendarat! Unit amfibi mereka bukan manusia!" teriak Yudha. Dari balik ombak, muncul ratusan prajurit mekanik yang dikenal sebagai Nebra Reapers. Berbeda dengan Subjek Beta yang lincah, Reapers adalah tank berjalan yang dirancang untuk satu tujuan: penghancuran total. "Tahan posisi! Jangan menembak sampai

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Suara Kebenaran

    Gedung Televisi Pusat menjulang seperti menara pengawas di tengah ibu kota yang sunyi akibat jam malam. Di puncaknya, lampu sorot raksasa menyapu jalanan, mencari setiap gerak-gerik yang mencurigakan. Di dalam gedung itu, Silas telah menyiapkan panggung eksekusi. Tante Mira dirantai di kursi besi di tengah studio utama, dikelilingi oleh kamera yang siap menyiarkan "pengadilan pengkhianat" ke seluruh negeri dalam hitungan menit. Di luar gedung, Aryan berdiri di puncak gedung apartemen yang berseberangan. Angin kencang memainkan ujung jubah taktisnya. Di sampingnya, Mayor Yudha sedang menyiapkan senapan runduk dengan amunisi pengacau sinyal. "Jendral, sensor menunjukkan ada minimal lima puluh personel unit Penjagal di dalam. Plus, Subjek Beta yang kau lawan kemarin ada di lantai empat puluh," lapor Yudha melalui alat komunikasi. Aryan tidak merespons dengan kata-kata. Ia hanya memeriksa detak jantungnya yang kini berada di frekuensi rendah yang stabil. Alpha 9 di tubuhnya sudah tersi

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Hantu dalam Jaringan

    Malam di ibu kota tidak lagi terasa aman bagi mereka yang mengenakan lencana Dewan Pertahanan Nasional. Di bawah lampu-lampu neon yang berkedip, sebuah ketakutan baru mulai menyebar di kalangan militer. Mereka menyebutnya sebagai "Hantu Arkhana". Sebuah entitas yang menyerang tanpa suara, melumpuhkan sistem tanpa jejak, dan menghilang sebelum alarm sempat berbunyi. Di sebuah gudang tua yang menjadi markas sementara, Aryan duduk diam di tengah kegelapan. Satu-satunya cahaya berasal dari kabel-kabel optik yang tersambung dari pergelangan tangannya ke sebuah komputer pusat curian. Ia sedang melakukan penetrasi ke jaringan saraf logistik sektor tujuh. Matanya yang putih terang bergerak cepat, memproses ribuan baris data enkripsi per detik. "Tingkat keberhasilan infiltrasi: sembilan puluh delapan persen," gumam Aryan tanpa ekspresi. Mayor Yudha masuk membawa dua pucuk senapan serbu yang telah dimodifikasi. Ia menatap Aryan dengan ngeri sekaligus takjub. "Depo sektor tujuh itu dijaga ole

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Debu di Puncak Utara

    Suara ledakan bom termobarik yang dijatuhkan oleh angkatan udara Silas menggetarkan seluruh rangkaian pegunungan Utara. Puncak gunung yang semula kokoh seolah terkelupas, mengirimkan jutaan ton salju dan bebatuan jatuh menimbun lembah di bawahnya. Dari kejauhan, pemandangan itu tampak seperti kiamat kecil yang dibungkus dalam kabut api dan asap hitam. Di dalam ruang kendali jet tempur pemimpin, seorang pilot melapor dengan nada datar, "Target dihancurkan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang tersisa di area bunker." Silas, yang menyaksikan semuanya melalui transmisi satelit di kantor rahasianya, menyandarkan punggung ke kursi kulitnya. Senyum kemenangan menghiasi wajah tuanya. Baginya, Aryan Arkhana bukan lagi ancaman. Dengan hancurnya bunker itu, semua bukti pengkhianatannya di masa lalu terkubur bersama jasad sang Jendral. Silas segera menekan tombol interkom, memanggil staf medianya. "Umumkan kepada seluruh negeri," perintah Silas dengan nada yang dibuat sedih. "Jendral Aryan tel

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Bangkitnya Pasukan Bayang-Bayang

    Kegelapan di dalam bunker Arkhana terasa begitu padat, seolah-olah waktu telah berhenti berdetak di sana selama tiga puluh tahun. Namun, saat kaki Aryan melangkah melewati ambang pintu, deretan lampu neon biru di langit-langit menyala satu per satu, menciptakan lorong cahaya yang membentang jauh ke perut bumi. Suara gerbang raksasa di belakang mereka menutup dengan dentuman yang menggetarkan fondasi gunung. Mereka kini terperangkap di dalam benteng kuno yang menyimpan rahasia paling berbahaya dari klan Arkhana. "Aryan, lihat itu," bisik Clara sambil menunjuk ke arah aula besar di ujung lorong. Di sana, berderet rapi ratusan unit baju zirah mekanis yang dikenal sebagai Arkhana Sentinels. Baju zirah ini tidak digerakkan oleh mesin biasa, melainkan oleh sistem neuro-link yang hanya bisa dikendalikan oleh seseorang dengan protokol Alpha 9 aktif. Ini bukan sekadar gudang senjata; ini adalah pasukan pribadi yang siap meratakan kota dalam hitungan jam. Rahasia Tante Mira Saat Mayor Yudh

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Badai Merah di Puncak Utara

    Gema tawa Silas dari radio taktis milik Viktor Arkhana seolah memicu ledakan di dalam dada Aryan. Langit yang semula gelap kini terang benderang oleh ribuan lampu indikator merah dari drone tempur yang melayang rendah, mengepung area gerbang besi klan Arkhana. Salju yang turun deras mendadak menguap sebelum menyentuh tanah, kalah oleh panas energi biometrik yang terpancar dari tubuh Aryan yang kini berada pada level kritis. "Viktor, kau menjual darahmu sendiri demi janji seorang ular?" geram Aryan. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan dentuman rendah yang membuat bebatuan di sekitarnya bergetar. Viktor Arkhana jatuh terduduk, wajahnya yang penuh bekas luka bakar kini pucat pasi. "Dia bilang... dia bilang ini satu-satunya cara agar klan kita diakui kembali, Aryan! Aku lelah hidup sebagai tikus di dalam gua!" "Kau bukan tikus, Viktor. Kau adalah pengkhianat," desis Tante Mira. Ia sudah berada di posisi siaga, dua belati di tangannya berkilat memantulkan cahaya merah dari lang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status