LOGIN“Gadis itu milik kami,” gumam salah seorang pembunuh. “Jangan harap bisa selamat hidup-hidup.”
Asterion menangkap pisau kecil yang dilemparkan dengan tangan kosong, kemudian membengkokkannya dengan sangat mudah. Kekuatan fisiknya sangat kuat, berbanding terbalik dengan kondisi tubuhnya yang tampak seperti remaja biasa. “Kalian ingin membunuhku?” tanya Asterion dengan nada sinis. “Mimpi,” lanjutnya lagi. Tatapan mata para pembunuh itu melebar. Mereka tampaknya tertipu oleh penampilan luar Asterion. Mereka saling pandang satu sama lain sebelum akhirnya menghilang seperti asap. Suasana kembali sunyi, hanya tersisa hembusan angin malam yang berhembus dingin di atas atap-atap reyot Black Hollow. Asterion berdiri tenang, sementara beberapa sosok berjubah hitam mengepung mereka dari segala arah. Mereka menyembunyikan hawa keberadaan mereka dengan sangat lihai, langkah kaki mereka hampir tanpa suara, ciri khas pembunuh terlatih. “Mau bermain petak umpet denganku?” tanya Asterion mencibir. Jumlah mereka lima orang, terlalu banyak untuk perkelahian biasa di kawasan kumuh, dan terlalu terorganisir untuk sekadar perampok. Asterion menghela nafas pelan. Dalam kepalanya ia sudah bisa menebak dimana saja tempat para pembunuh itu bersembunyi. “Tidak berubah,” gumamnya. “Dunia bawah selalu bergerak lebih cepat dari yang terlihat.” Asterion masih diam sembari menunggu para pembunuh itu membuat langkah terlebih dahulu. Luna berdiri di belakangnya, tidak panik sedikit pun, seolah sudah sangat yakin akan kemenangan mereka. “Kau bisa menang?” tanya Luna datar. Wajah putihnya terlihat dingin seperti putri es, namun Asterion masih merasa jika gadis itu sedikit mengkhawatirkan keadaannya. Asterion tersenyum tipis. “Aku sudah mati sekali. Jadi … aku tidak terlalu takut jika harus mati untuk yang kedua kali,” jawab Asterion dengan sedikit menyeringai. Salah satu pembunuh melangkah maju. “Menyingkir! Sialan!” umpatnya sambil melemparkan banyak pisau lipat beracun. “Kami tidak punya urusan denganmu.” Asterion tidak menjawab, sebaliknya, ia melangkah satu langkah ke depan. Itu sudah menjadi jawaban. Ia dengan cepat mengambil ranting kering yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri, dan langsung menangkis semua pisau beracun itu dengan sangat mudah, bahkan ia sengaja menangkap salah satu pisau dan melemparkannya kembali ke arah sang pembunuh. Lemparan itu dengan tepat menancap di dahi pembunuh itu, membuatnya tewas seketika. “Cari mati.” Serangan datang tanpa aba-aba. Dua pembunuh menyerbu bersamaan dari kiri dan kanan. Gerakan mereka cepat, terlalu cepat untuk manusia biasa di distrik kumuh, namun bagi Asterion, gerakan itu terasa lambat, ingatan pertempuran puluhan tahun kembali mengendalikan tubuh mudanya. Ia menunduk menghindari tebasan pertama, tangannya menangkap pergelangan lawan kedua, memutar tubuhnya, lalu menggunakan momentum musuh sendiri untuk melemparkannya ke tanah. Retakan tulang langsung terdengar di telinganya. “Dua tumbang,” gumam Asterion pelan. Pembunuh lain mencoba menusuk dari belakang, namun Asterion memutar tubuhnya terlebih dahulu. Sikunya dengan cepat menghantam leher lawan, tubuh itu langsung jatuh tanpa perlawanan. Dua orang tersisa, mereka justru ragu untuk melawan, namun Itulah kesalahan terbesar. Asterion langsung menyerang lebih dulu. Langkahnya ringan, hampir seperti bayangan. Dalam beberapa detik, salah seorang pembunuh langsung tumbang dengan leher yang patah. Yang terakhir mundur satu langkah. “Kau bukan orang biasa …,” bisiknya. Asterion menatapnya dengan pandangan remeh, seolah mereka bukanlah lawan yang pantas untuknya. Semuanya langsung tumbang hanya dalam satu kali serangan. “Benar,” jawab Asterion dengan tatapan tajam. Tubuhnya langsung bergerak dan menghantamkan satu pukulan terakhir untuk mengakhiri pertarungannya. Pembunuh terakhir itu pun tewas dengan luka menganga di area dadanya. Suasana sunyi kembali memenuhi hawa di gang sempit itu. Luna menatap tubuh-tubuh yang tergeletak dengan tatapan lega. “kau membunuh mereka tanpa ragu,” ucapnya dengan nada lembut. Membuat Asterion mengernyit heran, nada suara gadis itu sama sekali tidak cocok dengan raut wajah datar yang ia tampilkan. Seseorang mungkin akan mengira jika Luna adalah boneka hidup. “Jika aku ragu, yang mati adalah kita,” jawab Asterion sekenanya. Ia berjongkok, memeriksa tubuh para pembunuh itu, dan mendapati sebuah simbol pada setiap pakaian mereka. Matanya menyipit, ia mengenal simbol itu dengan sangat baik, bahkan dulu ia juga pernah memakainya dengan sangat bangga. Lambang ular hitam yang melingkar. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih keras. Emosinya sedikit terpancing. “Organisasi Serpens ….” Di kehidupan sebelumnya, kelompok ini baru muncul bertahun-tahun kemudian, dan saat kelompok ini dibentuk, ia masihlah seorang pemula. Kelompok itu adalah pembunuh elit yang bekerja langsung untuk bangsawan tingkat tinggi. Kenapa mereka sudah dibentuk dan bergerak sekarang? Dan kenapa targetnya Luna? Takdir benar-benar berubah. Asterion menyadari jika waktu yang ia punya ternyata lebih pendek dari yang ia kira. “Apa mereka mencariku?” tanya Luna. Asterion berdiri. Menatap Luna dengan pandangan bingung, dulu ia sama sekali tidak pernah bertemu dengan Luna. Gadis itu seolah datang dari dunia yang lain. Begitu sangat asing untuknya. “Ya,” jawab Asterion. Ia hanya menebak berdasarkan ucapan yang dilontarkan para pembunuh bayaran itu. “Kenapa?” tanya Luna lagi, ia terlihat seolah penasaran, walau Asterion merasa ia hanya sedang berpura-pura, karena wajahnya masih saja datar seperti sebelumnya. Seperti tidak memiliki ekspresi sama sekali. Asterion diam sejenak. Ia juga tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. “Aku juga ingin tahu,” gumam Asterion pelan. Dalam pikirannya, Asterion memikirkan berbagai kemungkinan yang mungkin saja bisa terjadi karena perubahan perilaku yang ia lakukan, apalagi energi spiritual Luna terlalu besar,dan juga murni, seolah sesuatu disegel di dalam dirinya. Organisasi sebesar Serpens tidak akan bergerak tanpa alasan. Ini bukan kebetulan. Ini pasti ada alasan dibaliknya. Malam itu mereka akhirnya bersembunyi di penginapan tua yang hampir runtuh. Asterion tidak tidur, ia duduk di dekat jendela sambil mengamati jalanan dan bangunan di sekitarnya. Ia berjaga-jaga jika ada pembunuh lain yang muncul. Di kehidupan sebelumnya, kelengahan berarti kematian. Luna duduk di sudut ruangan, ia memeluk lututnya karena angin dingin yang menusuk kulit membuatnya susah untuk tidur. “Asterion.” Panggil Luna dengan suara pelan. Mata gadis itu masih terbuka lebar walau malam sudah semakin larut. Tubuhnya yang mungil terlihat sedikit menggigil kedinginan. “Hmm …,” jawab Asterion. Suaranya sedikit tersamarkan dengan suara berisik orang di luar sana. “Kau kelihatan seperti kakek tua,” ucap Luna, Ia menatap Asterion sambil tersenyum tipis. Asterion menoleh ke arah Luna, tatapannya tertuju pada baju tipis yang dikenakan oleh gadis itu, ia sama sekali tidak peduli dengan ucapan yang dilontarkan Luna padanya. Ia melihat ke sekelilingnya dan menemukan mantel bekas yang tergantung di sudut ruangan. Ia segera mengecek kondisi mantel itu sebelum melemparkannya pada Luna. “Pakai ini,” ucap Asterion sambil melempar mantel itu, setelahnya ia kembali duduk di tempatnya semula. Luna menangkap mantel itu dalam sekali tangkap, kemudian memakainya. Tubuhnya terasa lebih hangat sekarang. “Terimakasih.” Tatapan Luna kembali tertuju pada Asterion. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Tatapannya sangat dalam sampai orang tidak akan tau apa yang tengah ia pikirkan. Kalimat itu membuat Asterion terdiam, perasaan asing muncul di hatinya, sudah lama sekali sejak seseorang mengatakan hal seperti itu padanya. Dikehidupan sebelumnya, ia hanyalah sebuah alat untuk tujuan pemiliknya. Sebuah bayangan yang mengikuti kemana cahaya membawanya pergi. Asterion masih mengedarkan pandangan ke luar jendela. Ia berpikir lama sebelum menjawab ucapan Luna padanya. “Jangan terlalu percaya padaku.”“Kenapa menatapku?” tanya Nathan.“Aku bisa saja ikut, asal dia juga ikut.” Ellen mengarahkan jari telunjuknya pada Nathan.“Aku?” tanya Nathan sambil menunjuk ke arah wajahnya sendiri. “Apa hubungannya kau ikut dengan aku?” tanyanya lagi. Ellen tidak memperdulikan pertanyaan Nathan, seolah itu semua tidak penting, ia justru menatap Asterion lekat-lekat. Mencoba menerka reaksi yang akan ia berikan.“Hey, kenapa kau mengabaikanku?” tanya Nathan lagi.“Apa Anda yakin Nona?” kali ini kedua pengawal yang tadinya diam ikut bicara.Ellen melirik ke arah mereka, dan menberi isyarat dengan matanya. Sementara Nathan yang melihat itu merasa sangat kesal. Victor hanya bisa tersenyum tipis, ‘Tuan Mudanya memang tidak pernah menang melawan perempuan, terutama Nona Cloe’.“Apa rencanamu?” kali ini Asterion yang bertanya langsung pada Nathan.“Yah … sebenarnya aku juga tidak tau,” jawab Nathan sekenanya. Asterion memang menawarinya untuk ikut bergabung sebelumnya, dan sebagai imbalan, ia mendapatkan
Saat sedang berduka, Asterion kembali sambil membawa orang asing bersamanya. Ia melemparkan orang yang sudah babak belur itu di lantai begitu saja, tanpa peduli dengan suasana yang ada di sana. “Brakkkkk ….” “Astaga!” teriak Nathan. “Kau membuatku kaget,” lanjutnya lagi. Wajahnya masih dipenuhi airmata, tidak jauh berbeda dengan Victor yang juga ada di sebelahnya. Asterion menatapnya dengan bingung, lalu pandangannya beralih ke arah tiga orang yang masih terlihat pingsan itu. “Kenapa kau tidak membuka matamu saja, bukankah kau sudah bangun dari tadi?” tanya Asterion dingin. “Ternyata kau cukup cerdas juga,” gumam perempuan Elf yang tadinya pingsan. Matanya terlihat begitu sinis, sementara Asterion balas memelototinya. Gadis Elf itu sedikit takut, dan mengubah Ekspresi wajahnya dengan cepat. “Aku hanya merasa tidak pas saja waktunya jika langsung bangun.” Gadis Elf itu berusaha menjelaskan lagi kalimatnya, wajahnya sedikit memerah karena malu. “Permisi, apa kalian tida
Asterion hanya diam di tempatnya, ia tidak menyangka akan bertemu dengan wanita itu secepat ini, padahal ia belum memikirkan cara bagaimana bisa menemukan Wanita dengan julukan "silent death" itu. "Lama tidak bertemu," ucap Asterion tanpa sadar.Wanita itu menatap Asterion waspada. Alisnya mengernyit, ia baru saja bertemu dengan pria itu tapi ia sepertinya sudah lama mengenalnya. Nathan memandang mereka secara bergantian, ‘apa ia satu satunya orang di sana yang tidak tau apa apa’ pikirnya saat itu.“Siapa kau?” tanya wanita itu waspada. Ia mengarahkan panahnya pada Asterion disusul dengan dua orang lainnya yang juga mengarahkan panahnya pada Nathan. Membuat pria itu reflek mengangkat kedua tangannya.“Ada apa ini?” tanya Nathan bingung. Hanya dia di sana yang merasa sedikit terancam, ia memang terpesona oleh paras wanita elf yang cantik itu, tapi dia juga bisa merasakan aura energi spiritualnya sedikit berada di bawah Asterion. Ia berharap mereka tidak bermusuhan, karena jelas Ia aka
“Apa katamu?”Victor melotot ke arah Gustave, meski pria itu lebih tua, namun Victor seolah akan kehilangan semua kewarasannya. Ia tau Tuan Muda yang ia layani akan segera menjadi rakyat biasa, tapi kenapa sekarang? Dimana Nona Cloe? Dia bahkan tidak ada di kediaman. Apa dekrit Kaisar sudah turun? Bukankah mereka masih memiliki waktu satu minggu untuk bersiap? Kepala Victor penuh dengan pertanyaan pertanyaan yang tak kunjung ia temukan jawabannya.“Ini adalah perintah terakhir Tuan Count.” Gustave menarik nafas panjang sebelum akhirnya menghembuskannya dengan sangat berat. “Tuan Count sudah menghapus nama Tuan Muda Nathan dari daftar keluarga, sementara Nona Cloe akan segera menjadi pengikut Gereja Suci sebagai Holly Knight. Nama Edinburgh akan ditangguhkan, dan akan diberikan pada keturunan keluarga lain jika ada, dengan ini Kaisar tidak akan pernah mengusik keluarga ini lagi. Ia juga tidak akan bisa menyentuh Tuan Muda.”Gustave berbicara panjang lebar. Mencoba memberi penjelasan y
“Apa semua itu benar?” tanya seorang pria paruh baya. Pria itu duduk diatas kursi ukiran yang sangat mewah, di depannya terlihat banyak dokumen yang bertumpuk. dia adalah Kepala Keluarga Edinburgh sekarang, Edison Duarte Edinburgh. Cloe menatapnya penuh harap. karena kejadian tak terduga yang menimpa keluarganya, sekarang mereka sudah terancam akan pencopotan gelar bangsawan sekaligus penyitaan aset mereka, dan jika Kaisar telah meninggalkan mereka. Maka semuanya masuk akal.“Jika kita meminta bantuan pada Gereja suci, maka kita harus menyerahkan segala harta yang kita miliki untuk disumbangkan.” Edison tampak mimbang nimbang. “Jika kita hanya memberikan sesuatu yang murah, mereka akan mengabaikan kita.” Edison menatap Cloe dengan perasaan gamang.“Ayah aku tidak masalah jika harus tinggal di Gereja untuk kegiatan amal atau menjadi Biara wati sekalipun.” Wajah Cloe tampak tenang. ia seperti sudah siap dengan semua yang akan terjadi. “Tapi bagaimana dengan Nathan?” tanya Cloe agak sed
“Maaf mengatakan ini, tapi sepertinya keluargamu akan segera dieksekusi.”“Prang ….!”Nathan menjatuhkan cangkir teh yang ada di tangannya. Matanya melotot ke arah Asterion. Seolah merasa ada yang salah dengan pendengarannya, ia mencoba untuk kembali bertanya.“Apa katamu?” Nathan bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan ke arah Asterion dengan wajah tak percaya. Mencengkram kerah Asterion dan mentapnya tajam, “siapa kau sebenarnya?” tanyanya menuntut, nada suaranya berbeda dari sebelumnya. Lebih tajam dan ia agak sedikit meninggikan suaranya.“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, tapi aku bisa membantumu untuk keluar dari masalah itu,” jawab Asterion meyakinkan. Ia tidak ingin melawan. Ia membiarkan Nathan untuk menenangkan diri sejenak. Setelah dirasa cukup tenang Asterion mulai menjelaskan sedikit tentang apa yang ia ketahui, tentu ia menyimpan bagian tentang kebangkitan dan sejenisnya. Nathan mendengarkan dengan seksama, sesekali ia menutup mulutnya karena terkejut. ia tidak mn







