Mag-log in“ … jangan terlalu percaya padaku,” ucap Asterion sambil menatap kosong pemandangan diluar jendela.
Ia teringat seberapa kejam apa yang ia lakukan. Ia menghabisi orang lain tanpa pandang bulu, dan semua itu atas perintah dari orang itu. Ia mengira semua yang ia lakukan adalah demi kebenaran dan kelangsungan hidupnya. Jika ia tidak bertindak kejam, maka orang lain akan meremehkannya dan menghancurkannya lebih dulu. Luna menggeleng kecil, walaupun ia tidak bisa melihat raut wajah Asterion sekarang, ia seolah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Asterion. Dengan percaya diri Luna mendekat ke arah Asterion, memeluk punggung itu dengan lembut, seolah mencoba menenangkan. “Instingku tidak pernah salah,” ucap Luna. Kalimat itu membuat Asterion tidak bisa berkata apa-apa. Ia melepaskan pelukan luna perlahan, dan berbalik menatap kedua mata emasnya dengan penuh rasa penasaran. Entah apa yang ada di dalam kepala gadis itu, ia bahkan mengikutinya tanpa rasa takut sedikitpun. “Sebelum kau mengatakan omong kosong padaku, lebih baik kau pikirkan bagaimana nasibmu,” Sindir Asterion sambil menempelkan telunjuknya di dahi Luna, kemudian mendorongnya menjauh. Membuat gadis itu sedikit terhuyung ke belakang. Sedikit ekspresi kesal mulai terlihat dari raut wajah Luna yang putih pucat, akhirnya ia sedikit terlihat lebih hidup dari sebelumnya. Gadis itu berbalik dan kembali ke tempatnya semula dengan langkah yang dibuat-buat. Sikap Luna yang sedikit merajuk itu justru terlihat lucu dimata Asterion. “Dasar bocah,” gumamnya pelan. Asterion memalingkan muka, dan kembali menatap ke luar jendela sepanjang malam. Keesokan paginya, Asterion mulai bergerak. Jika Serpens sudah turun tangan, maka ia harus mempercepat rencananya. Targetnya adalah Kitab Ilahi. Artefak yang tersembunyi di reruntuhan kuil tua di luar kota, dalam kehidupan sebelumnya, ia hampir mati untuk mendapatkannya, sekarang ia tahu semua jebakan di sana. Namun satu masalah muncul, Asterion melirik sekilas ke arah Luna, Ia tidak bisa membawa Luna ke tempat berbahaya itu, atau … mungkin justru harus, karena tampaknya bahaya akan terus mengejar mereka kemanapun mereka pergi. “Apa kita akan pergi?” tanya Luna. Asterion mengangguk. “Kita dari kota hari ini.” “Petualangan?” tanya Luna penasaran “Lebih seperti bertahan hidup,” jawab Asterion sambil mengasah sebuah pisau lama yang ia temukan tadi malam, setelah merasa cukup, pisau kecil itu kemudian diikat di pinggangnya, ia juga merampok beberapa koin emas dari para pembunuh tadi malam. “Kamu tunggu disini, aku akan pergi sebentar.” Asterion menutupi kepala Luna dengan jubah tidur semalam. Ia tersenyum dan segera pergi entah kemana. Luna belum sempat menjawab, tapi Asterion sudah lebih dulu menghilang dari pandangannya. “Dasar bodoh,” cibir Luna pelan. Ia tersenyum kecil sambil mengusap lembut jubah yang diberikan oleh Asterion. Ketika Asterion kembali, ia tidak datang sendirian, melainkan bersama dengan sebuah kereta kuda yang sudah tua. “Ayo naik,” ucap Asterion memberi aba-aba. Luna segera bangkit dari tempatnya duduk dan masuk ke dalam kereta kuda yang dibawa oleh Asterion. “Kau bisa mengendarainya?” tanya Luna agak tidak percaya. “Lihat saja sendiri,” jawab Asterion malas menjelaskan. “Ow,” ucap Luna agak cemberut. Asterion mulai menjalankan keretanya dengan santai. Saat mereka meninggalkan Black Hollow, Asterion bisa merasakan perubahan halus pada sekitarnya. Beberapa tatapan mengikuti mereka. Informasi tentangnya sepertinya sudah menyebar. ternyata pertarungan semalam bukan tanpa saksi, ada yang masih bisa lolos dari indranya. Informasi mulai beredar lagi di dunia bawah, jauh lebih cepat dibanding kehidupan sebelumnya, dan itu bukanlah hal baik, apalagi ia harus membawa Luna bersamanya. Karena semakin cepat ia dikenal, semakin cepat musuh lamanya akan menemukannya, termasuk pria yang membunuhnya. Majikannya dahulu. Untunya mereka belum mengetahui namanya, dan mungkin mereka hanya mengenal Luna sebagai suatu target yang susah untuk dibunuh. Asterion mengepalkan tangan. Ia menyobek kain di bajunya dan menutupi separuh wajahnya dengan menggunakan kain itu. Sementara ia akan menggunakan itu sebagai penyamaran. “Kali ini,” bisiknya pelan, “aku yang akan lebih dulu menemukanmu.” Ia belum boleh ketahuan sebelum semua tujuannya tercapai. Perjalanan menuju reruntuhan kuil memakan waktu setengah hari. Saat matahari mulai terbenam, siluet bangunan batu kuno muncul di kejauhan. Udara di sekitarnya terasa berat, energi spiritual kuno berdenyut lemah dari kejauhan. Luna tiba-tiba merasa sesak, seolah ada energi yang memaksa masuk ke dalam tubuhnya. “Ada sesuatu di sana,” katanya pelan sembari memegangi ujung pakaian Asterion. Asterion menatap tajam ke arah yang ditatap oleh Luna. “Kau bisa merasakannya?” tanyanya memastikan. Luna mengangguk, menandakan jika ia paham sepenuhnya. “Itu … memanggilku.” Jantung Asterion berdegup keras. Di Kehidupan sebelumnya, hanya dia yang bisa merasakan resonansi Kitab Ilahi, namun sekarang, Luna juga merasakannya, dan itu tidak seharusnya terjadi. Ia menatap gadis itu lama. Untuk pertama kalinya, sebuah kemungkinan yang mengerikan muncul di pikirannya. Mungkinkah, pertemuan mereka bukan kebetulan, mungkin sejak awal takdir mereka memang saling terikat. Asterion menatap reruntuhan di depan. Langit mulai berubah menjadi gelap, Ia tersenyum tipis. “Baiklah,” ucapnya, “Kita lihat, rahasia apa yang menunggu kita di sana.” Asterion memarkirkan keretanya di tempat yang tidak mudah terlihat, setelah itu ia turun dan membantu Luna untuk turun juga dari kereta. “Kita sampai,” gumam Asterion. Reruntuhan kuil itu berdiri sunyi di tengah hutan tandus. Pilar-pilar batu retak menjulang seperti tulang belulang raksasa yang telah lama mati. Lumut menutupi ukiran ukiran kuno yang tampak pada pilar-pilah batu tersebut, sementara angin membawa bisikan samar yang membuat udara terasa berat. Asterion berhenti beberapa langkah sebelum mencapai tangga menuju pintu masuk reruntuhan itu. Ia mengenali tempat ini dengan sangat baik. Di kehidupan sebelumnya, ia hampir kehilangan nyawanya di sini, tertipu oleh jebakan spiritual yang bahkan para ksatria kerajaan pun gagal melewatinya. Namun kali ini berbeda, Ia tahu setiap langkah yang harus dihindari dan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia menghafal semua isi tempat itu seperti baru mengunjunginya kemarin malam. “Apa tempat ini berbahaya?” tanya Luna sedikit takut, ini kali pertamanya memasuki sebuah bangunan kuno. Asterion tersenyum tipis. “Sangat.” Meski Asterion mengatakan jika tempat itu menakutkan, tetapi ia bisa melihat ekspresi percaya diri yang ditunjukan oleh Asterion, hal itu membuatnya tidak takut, dan sedikit penasaran. “Sepertinya begitu,” ucap Luna sambil menatap sekeliling. Jawaban itu membuat Asterion menghela napas kecil, gadis kecil ini benar-benar tidak normal. Mereka menuruni tangga perlahan. Saat kaki Asterion menyentuh lantai kuil, udara mulai berubah. Denyut energi spiritual langsung menekan dari segala arah. Bagi orang biasa, tekanan ini cukup untuk membuat mereka pingsan, tapi untuk Asterion, ia tetap bisa berjalan dengan santai. Asterion menoleh cepat ke arah Luna untuk memastikan keadaan gadis kecil itu. Tak disangka, Luna masih bisa berdiri tegak, tanpa kesulitan sedikit pun. “ … menarik,” gumamnya. Rasa penasarannya pada Luna semakin besar, siapa sebenarnya gadis itu.Asterion bergerak dengan cepat menembus dinginnya malam, dua bilah pedang pendek sudah siaga di tiap genggaman tangannya. Ia berlari di atas atap-atap rumah tanpa meninggalkan suara sedikitpun. Gerakannya sangat halus hingga angin di sekelilingnya terasa begitu samar, Kemampuannya semakin meningkat dibanding dengan kehidupan lamanya, apalagi ia telah mendapatkan banyak energi spiritual baru. Sementara itu, di sebuah area lapang di sudut kota. Dua kelompok saling berhadapan. Mereka semua berdiri membawa senjata masing-masing. Suasana tegang menyelimuti udara di sekitar mereka. “Hei bajingan kecil. Lebih baik kau menyerah dan bawa kumpulan tidak berguna ini pergi dari kota. Bangsawan jatuh sepertimu yang tidak pernah merasakan kerasnya dunia, mencoba untuk merangkak menjadi gangster? Jangan mimpi.” Berthold sang ketua geng itu melontarkan ejekan. Suara tawa menggelegar di sekitar mereka. “Bukankah kita akan tau siapa pecundangnya jika pedang kita beradu!” ungkap Nathan, ia tak terpro
Setelah orang-orang itu pergi, Asterion mengajak Luna untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Sekarang tujuan mereka adalah kota pelabuhan di ujung barat kekaisaran.Sebuah kota yang sangat ramai, dan dipenuhi oleh hiruk pikuk manusia dengan segala kebisingannya. Butuh waktu setengah bulan perjalanan hingga mereka bisa mencapai kota pelabuhan itu. Selama perjalanan Asterion terus melatih dirinya, sementara Luna sibuk membiasakan diri dengan suasana baru di sekitarnya. Sebelum mencapai kota, mereka singgah di sebuah kedai kecil di pinggir jalan. Asterion ingin mencari informasi sekaligus melihat situasi di dalam kota saat ini. “Ingat kata-kataku, di depan orang lain kau harus memanggilku kakak, oke?” ucap Asterion mengingatkan. Luna memutar matanya malas, ia sudah sering mendengar kalimat itu keluar dari mulut Asterion. “Aku tau,” jawabnya malas. Asterion memelototinya. Luna segera meralat ucapannya. “Aku tau, kakak,” ucapnya dengan penuh penekanan. Asterion mengangguk puas. Me
Dikehidupan sebelumnya, ia membutuhkan waktu berbulan-bulan pelatihan untuk menahan tekanan ini, sementara Luna melakukannya secara alami. Semakin banyak pertanyaan muncul, dan semakin sedikit jawaban yang ia miliki.Bagian dalam kuil sangat gelap. Asterion menyalakan obor yang tergeletak di lantai, obor itu masih bisa menyala, cukup untuk penerangan mereka berdua.“Jangan jauh-jauh dariku!” seru Asterion memperingatkan. “Aku tau,” jawab Luna. Ia segera memposisikan dirinya di belakang Asterion, mengikuti setiap langkahnya agar tidak terpisah. Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat yang ingin mereka tuju. Asterion bisa melewati segala jebakan yang ada di depan matanya, bahkan mengalahkan beberapa penjaga yang menghalangi mereka, sampai akhirnya Asterion dan Luna tiba di bagian utama dari reruntuhan itu. Di sana tidak hanya ada sebuah cahaya redup aneh yang menerangi ruangan, tapi juga terdapat sebuah buku yang melayang di atas sebuah altar. “Akhirnya,” gumam Ast
“ … jangan terlalu percaya padaku,” ucap Asterion sambil menatap kosong pemandangan diluar jendela. Ia teringat seberapa kejam apa yang ia lakukan. Ia menghabisi orang lain tanpa pandang bulu, dan semua itu atas perintah dari orang itu. Ia mengira semua yang ia lakukan adalah demi kebenaran dan kelangsungan hidupnya. Jika ia tidak bertindak kejam, maka orang lain akan meremehkannya dan menghancurkannya lebih dulu. Luna menggeleng kecil, walaupun ia tidak bisa melihat raut wajah Asterion sekarang, ia seolah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Asterion. Dengan percaya diri Luna mendekat ke arah Asterion, memeluk punggung itu dengan lembut, seolah mencoba menenangkan. “Instingku tidak pernah salah,” ucap Luna. Kalimat itu membuat Asterion tidak bisa berkata apa-apa. Ia melepaskan pelukan luna perlahan, dan berbalik menatap kedua mata emasnya dengan penuh rasa penasaran. Entah apa yang ada di dalam kepala gadis itu, ia bahkan mengikutinya tanpa rasa takut sedikitpun. “Sebelum
“Gadis itu milik kami,” gumam salah seorang pembunuh. “Jangan harap bisa selamat hidup-hidup.”Asterion menangkap pisau kecil yang dilemparkan dengan tangan kosong, kemudian membengkokkannya dengan sangat mudah. Kekuatan fisiknya sangat kuat, berbanding terbalik dengan kondisi tubuhnya yang tampak seperti remaja biasa.“Kalian ingin membunuhku?” tanya Asterion dengan nada sinis. “Mimpi,” lanjutnya lagi. Tatapan mata para pembunuh itu melebar. Mereka tampaknya tertipu oleh penampilan luar Asterion. Mereka saling pandang satu sama lain sebelum akhirnya menghilang seperti asap. Suasana kembali sunyi, hanya tersisa hembusan angin malam yang berhembus dingin di atas atap-atap reyot Black Hollow. Asterion berdiri tenang, sementara beberapa sosok berjubah hitam mengepung mereka dari segala arah. Mereka menyembunyikan hawa keberadaan mereka dengan sangat lihai, langkah kaki mereka hampir tanpa suara, ciri khas pembunuh terlatih.“Mau bermain petak umpet denganku?” tanya Asterion mencibir.
Bau lembap dan busuk menusuk hidungnya. Asterion membuka mata dengan napas tersendat, seolah paru-parunya baru saja berhenti dipaksa kembali bekerja setelah lama mati. Langit kelabu menggantung rendah di atas kepalanya, tertutup asap tipis dari cerobong-cerobong reyot kawasan kumuh. Suara gaduh memenuhi telinganya. Pedagang berteriak, anak-anak menangis, logam beradu, dan langkah kaki orang-orang yang hidup tanpa harapan.Ia membeku.“ … Ini ….” Tangannya gemetar saat menyentuh tanah berlumpur di bawahnya.Dingin. Nyata, bukan akhirat, bukan mimpi. Ingatan terakhirnya muncul seperti pisau yang ditarik perlahan dari luka lama. Pedang menusuk dadanya. Darah hangat mengalir. Tatapan pria yang ia percaya sepenuh hati, tuannya sendiri. Menatap tanpa emosi saat ia mati. Pengkhianatan.Asterion menarik napas panjang, lalu tertawa pelan. Tawa itu kering dan tanpa kebahagiaan. Ia meraba tubuhnya dengan penuh semangat. Hangat tubuh yang ia rasakan bukanlah kebohongan. “Aku … hidup,” ungkap Ast







