Home / Fantasi / Kembalinya Sang Puteri Phoenix / Bab 36 -Teka Teki Terlarang

Share

Bab 36 -Teka Teki Terlarang

Author: Wei Yun
last update publish date: 2026-07-13 23:48:20

Pintu Paviliun Yue Hua terkunci rapat dari luar. Di luar sana, seisi Istana Xiang Xi mungkin sedang gempar oleh penyelidikan pembunuhan, namun di dalam kamar ini, waktu seakan berhenti.

​Lian Xue melangkah mendekati meja riasnya, berniat menenangkan denyut nadinya yang berpacu dengan menyisir rambut.

Namun, begitu tangannya terangkat, seluruh gerakannya mendadak lumpuh. Di antara botol porselen minyak wangi dan kotak perhiasannya yang biasanya tertata rapi, tergeletak beberapa lembar kertas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 84- Pengawal Sang Putri

    ​Shen Yang menatap dalam-dalam manik mata Lian Xue yang dipenuhi kecurigaan. Tangan tegapnya terangkat perlahan, mengabaikan rasa nyeri yang menusuk di bahunya, lalu menangkup lembut kedua pipi memanas sang Putri. ​"Hanya itu yang bisa kujawab untuk saat ini, Lian Xue," tutur Shen Yang parau namun mantap. Ia mengusap pipi Lian Xue dengan ibu jarinya. "Tapi setidaknya, setelah ini kau tidak akan merasa kesepian atau terancam lagi. Aku telah meminta Feng Lian untuk tinggal dan menemanimu." ​Mendengar nama wanita asing itu diucapkan oleh bibir suaminya, darah Lian Xue seketika mendidih. Wajahnya yang semula merona berubah kaku dan memerah akibat amarah yang kembali membuncah. ​"Apa maksudmu?!" cecar Lian Xue dengan nada naik satu oktaf. "Memintanya tinggal? Apakah Jenderal Shen Yang berencana membawa wanita itu ke kediaman kita dan menambah selir lagi?!" ​Shen Yang menyunggingkan senyum tipis, sebuah binar kelakar yang amat jarang menghiasi paras tegapnya. Tanpa melepaskan tangkupann

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 83- Satu Malam Tanpa Keangkuhan

    ​Lian Xue duduk di tepi ranjang Shen Yang sambil memegang cawan porselen berisi racikan obat herbal yang pekat dan beraroma menusuk. Dengan perlahan, ia menyangga tengkuk tegap Shen Yang dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengarahkan sendok kayu ke bibir suaminya yang masih memucat pasi. ​Napas Shen Yang terdengar terengah berat, setiap tegukan obat terasa teramat menyiksa dada tegapnya yang dipenuhi belitan kain kasa. Sebagian cairan pahit itu bahkan sempat meleleh keluar dari sudut bibirnya. ​Lian Xue dengan telaten mengusap lelehan obat itu menggunakan saputangan sutranya, matanya yang biasa dingin kini dipenuhi binar kelembutan nan cemas yang tak sanggup lagi ditutup-tutupi. ​"Minumlah sedikit lagi, Shen Yang ..., " bisik Lian Xue lembut di dekat telinga suaminya. "Jangan biarkan racun itu memenangkan tubuhmu." ​Wanita muda berpakaian hitam yang berdiri di sudut ruangan menatap pemandangan itu sejenak tanpa mengutarakan sepatah kata pun, lalu melangkah keluar memb

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 82 - Antara Amarah dan Cinta

    ​Gelombang cemburu dan kecemasan yang membakar dada melumpuhkan seluruh rasionalitas Lian Xue dalam sekejap. Tanpa memedulikan etika seorang Putri Kekaisaran, Lian Xue mengamburkan langkahnya membelah ruangan, menargetkan sosok wanita muda berambut panjang yang terikat rapi dengan pakaian serba hitam tersebut. ​Dengan amarah yang membuncah, Lian Xue mencengkeram bahu wanita asing itu dan menariknya secara kasar hingga tubuh ramping sang wanita kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di atas lantai batu. ​"Apa yang kau lakukan pada suamiku?!" bentak Lian Xue dengan suara nyaring nan gemetar, matanya menyala-nyala menatap tajam ke arah wanita yang baru saja disentuhnya. ​"Putri! Tahan amarahmu!" seru A'Ning di ambang pintu dengan wajah pucat pasi. ​Namun, wanita bergaun sutra tipis ringkas itu tak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dari posisi tersungkurnya di lantai, ia perlahan menegakkan tubuh, mengibaskan helai rambut panjangnya ke belakang. Sebuah senyuman tipis nan te

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 81 - Penyelamat Asing

    ​Hujan anak panah kian gencar menghujam dari balik rimbunnya pepohonan lembah. Di tengah kepungan maut, Shen Yang memutar pedang panjangnya dengan kecepatan luar biasa, memotong setiap bilah anak panah tajam yang mengincar nyawanya. Namun, pandangannya terus terikat pada bayangan Lian Xue yang terbawa kuda liar mendekati tebing jurang. ​"Lian Xue!" teriak Shen Yang murka, suara baritonnya membelah gemuruh pertempuran. ​Kehilangan fokus sejenak menjadi celah yang fatal. JLES! Sebuah anak panah menembus paha kirinya, disusul tancapan anak panah kedua yang merobek pundak kanannya. Shen Yang meringis rendah, lututnya tertekuk menghantam tanah. Darah pekat segar menyembur membasahi jubah hitamnya. ​"Habisi dia! Jangan biarkan sang Jenderal bernapas!" seru pemimpin pembunuh seraya melompat dari dahan pohon. ​Saat puluhan pembunuh berdarah dingin melompat turun dari dahan pohon dengan pedang terhunus siap mengakhiri nyawanya, mendadak lima sosok berpakaian serba hitam melompat membel

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 80 - Hujan Panah di Bukit Minglian

    ​Sinar matahari pagi menerobos masuk melewati celah perapian Paviliun Bukit Minglian, namun Lian Xue sama sekali belum memejamkan matanya. Hati dan pikirannya berkecamuk hebat, meratapi kejadian tengah malam saat ciuman Zhao Tian melumpuhkan seluruh kesadarannya.​Bodoh! Bodoh sekali! maki Lian Xue pada dirinya sendiri sambil meremas selendang sutranya.​Mengapa ia bisa dengan mudah terpedaya oleh pria itu? Dan yang lebih membingungkan, mengapa tak ada sedikit pun rasa bersalah di dalam dadanya pada Shen Yang? Justru, ada bagian dalam dirinya yang seolah menikmati sensasi itu, mungkin sebagai bentuk pelampiasan atas kekesalannya pada sang Jenderal.​Meski dilanda kantuk yang luar biasa, Lian Xue memaksa tubuhnya bangkit. Ia memoles wajah pucatnya agar tampak normal, lalu melangkah keluar untuk memenuhi janji menemani Shen Yang menuju lembah di bawah bukit.​Mereka menunggangi kuda masing-masing, melintasi jalan setapak tanpa dikawal satu pun pengawal pribadi. Untuk pertama kalinya, Li

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 79 - Cemburu Sang Jenderal, Kecupan Sang Bayangan

    ​Malam kembali menyelimuti Paviliun Bukit Minglian dengan hawa dingin yang menusuk. Di dalam ruang makan utama, suasana canggung begitu kental hingga denting sumpit porselen pun terdengar amat nyaring. ​Lian Xue duduk berhadapan dengan Shen Yang. Namun, apapun yang dilakukan sang Jenderal selalu tampak salah di mata Lian Xue. "Makanlah ini," ujar Shen Yang seraya meletakkan potongan daging rusa terbaik ke mangkuk istrinya. "Kau butuh tenaga setelah demam semalam." Lian Xue mendorong mangkuknya pelan dengan jari lentiknya. "Terlalu berminyak. Aku tidak selera." ​Shen Yang memanggil pelayan. "Tambah kayu di perapian. Hawa malam ini makin dingin." ​"Jangan," potong Lian Xue cepat, melirik dingin ke arah Shen Yang. "Asapnya membuat dadaku sesak. Kau sengaja ingin membuatku terbatuk lagi?" ​Shen Yang menarik napas panjang, memilih meletakkan sumpitnya. "Lian Xue, ada apa denganmu malam ini?" ​"Tidak ada," sahut Lian Xue singkat seraya melirik gelisah ke sekeliling jendela balkon.

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 1 - Cangkir Beracun, Kesempatan Kedua

    "Shen Yang! Shen Yang! " Lian Xue menggoyangkan tubuh laki-laki yang kini tergeletak kaku di atas meja setelah menenggak arak pernikahan mereka. Namun Shen Yang tidak merespon. Lian Xue memeriksa nafas dari Shen Yang. Tidak ada embusan nafas dari hidungnya. Bibirnya mulai menghitam. Lian Xue t

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 6 - Secangkir teh penekan Kasim

    Suara langkah kaki Kasim Zhang menggema di selasar kayu Paviliun Lily. Saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan, aroma dupa cendana seolah memudar, digantikan oleh hawa otoritas yang kaku. Kasim kepercayaan kaisar itu membungkuk dalam, memberikan hormat yang sempurna kepada Selir Agung Wei. ​"

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 5 - Air Mata sang Selir

    Pintu kayu berukir itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Selir Wen yang melangkah masuk dengan tergesa. Guratan kecemasan tak mampu disembunyikan dari wajahnya yang pucat. Ia mengenakan jubah sutra berwarna hijau zamrud, warna penuh ketenangan, namun pagi ini tampak kontras dengan kegelisahan

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 4 - Kilau Emas, Hati yang Panas

    Angin pagi membawa aroma dupa cendana menyusup melalui jendela Paviliun Shengde, namun kehangatan sinar matahari tidak mampu mencairkan suasana yang mendadak beku. Di atas meja perjamuan, piring-piring porselen berisi hidangan mewah seolah kehilangan daya tariknya saat Kasim Zhang melangkah maju.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status