แชร์

Bab 5 - Air Mata sang Selir

ผู้เขียน: Wei Yun
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-29 11:11:10

Pintu kayu berukir itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Selir Wen yang melangkah masuk dengan tergesa. Guratan kecemasan tak mampu disembunyikan dari wajahnya yang pucat.

Ia mengenakan jubah sutra berwarna hijau zamrud, warna penuh ketenangan, namun pagi ini tampak kontras dengan kegelisahan yang memancar dari matanya.

​"Mohon maaf jika kunjunganku yang mendadak ini mengganggu pembicaraan Kakak Wei dan Tuan Putri," ucap Selir Wen sambil memberikan penghormatan yang sempurna, menekuk lututnya dengan gemetar yang halus.

​Selir Agung Wei tersenyum ramah. Topeng istananya telah terpasang kembali dengan sempurna, menyembunyikan apa yang ia diskusikan bersama keponakannya. "Sama sekali tidak, Wen Yue. Silakan duduk. Kami baru saja menikmati teh pagi sambil berbincang santai. Mari, hangatkan dirimu."Kilau Emas, Hati yang Panas

​Lian Xue tetap duduk diam, jemarinya melingkari cangkir porselen yang sudah mendingin. Matanya tak lepas memperhatikan setiap gerak-gerik wanita di hadapannya. Pikirannya mengolah informasi mengenai latar belakang Selir Wen.

Selir Wen menguasai ilmu pengobatan selama berabad-abad. Jika ada seseorang yang bisa memasukkan sesuatu ke dalam tubuh ayahnya tanpa terdeteksi, seperti racun yang bekerja lambat atau ramuan yang memicu serangan jantung, maka Selir Wen adalah tersangka utama dalam daftar Lian Xue.

​"Kau pasti mendengar berita semalam," suara Selir Wen pecah, memecah keheningan yang canggung. "Semalam memang adalah malam giliranku melayani Yang Mulia."

​Lian Xue mengeratkan genggamannya. "Aku mendengar Ayah jatuh sakit di paviliunmu, Selir Wen. Apa yang sebenarnya terjadi?"

​Selir Wen menatap Lian Xue dengan mata berkaca-kaca. "Aku hanya memberikan ramuan ginseng yang biasa aku buat untuk Kaisar. Demi Langit, aku tidak menambahkan apa pun dalam minuman Yang Mulia! Namun, tak berapa lama setelah meminum ramuan itu, Yang Mulia mengeluh pusing dan mual. Wajahnya memucat hebat."

​Selir Wen mulai terisak, bahunya berguncang. Di tengah isakannya, Selir Agung Wei bangkit dan memeluk wanita itu. Sebuah pemandangan yang membuat Lian Xue termenung.

Ia menyadari bahwa ibunya benar telah membawa serta bibinya ke dalam lingkaran istana belakang. Di tempat yang penuh dengan belati tersembunyi ini, jika bukan kepada saudara sedarah atau kawan lama yang setia, kepada siapa lagi seseorang bisa mengadu?

​"Tenanglah, Wen Yue. Kau tidak perlu khawatir selama kau benar dan tidak melakukan kesalahan apa pun," ucap Selir Agung Wei dengan nada menenangkan, meski matanya menatap kosong ke arah jendela. "Yang Mulia saat ini dalam kondisi baik. Tadi kami baru saja menyelesaikan makan pagi bersama."

​"Tapi masalahnya tidak berhenti di situ, Kak Wei," Selir Wen mengangkat wajahnya, menyeka air mata dengan saputangan sutra. "Aku mendengar kabar bahwa Kasim Zhang akan melakukan pemeriksaan menyeluruh atas semua bahan yang aku gunakan untuk minuman Yang Mulia. Ia sepertinya akan melibatkan Biro Penyelidik Istana. Aku ... aku harus bagaimana?"

​Mendengar nama "Biro Penyelidik Istana", jantung Lian Xue berdegup lebih kencang. Itu berarti Shen Yang akan turun tangan. Sebagai pimpinan tertinggi biro tersebut, Shen Yang dikenal sebagai pria yang dingin, tak kenal ampun, dan sangat teliti. Jika ada satu butir bubuk asing saja yang ditemukan di paviliun Selir Wen, maka nyawa wanita ini berada di ujung tanduk.

Selir Wen menatap Lian Xue dengan pandangan memelas. "Tuan Putri, di istana ini, kebenaran sering kali bisa diputarbalikkan. Aku mendengar bahwa saat sampai di kamarnya semalam, Yang Mulia malah memanggil Selir Wu untuk merawatnya. Padahal, seharusnya akulah yang mendampingi beliau jika terjadi sesuatu di paviliunku. Atau setidaknya Selir Agung yang mendampingi."

​Ia menjeda, menarik napas panjang yang sesak. "Semalam, setelah Kaisar kembali ke kamarnya, Kasim Zhang menyuruhku tidak keluar dari kamar. Sebenarnya aku ke sini pun melanggar perintahnya. Aku tak tahu ke mana lagi harus bercerita. Sungguh Kak Wei, Tuan Putri, aku tidak ada niat buruk apa pun pada Yang Mulia."

​Lian Xue membatin. Selir Wu lagi. Mengapa ayahnya justru memanggil selir tingkat rendah yang paling pendiam dan jarang menonjolkan diri itu?

Dalam pikirannya sedikit tersirat mungkinkah Selir Wu ini ada hubungannya dengan Pei Zhen?

​Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, seorang dayang Selir Agung masuk dengan tergesa dan bersujud di ambang pintu. "Mohon ampun, Selir Agung. Kasim Zhang telah tiba di depan paviliun. Beliau membawa titah untuk menjemput Selir Wen."

​Selir Wen sontak berdiri, wajahnya kini benar-benar putih seputih kertas. Ia jatuh berlutut di depan Selir Agung Wei meratapi nasibnya. "Kakak Wei! Tuan Putri! Tolong lindungi aku! Jika aku dibawa sekarang, mereka akan langsung menggeledah keluargaku. Ini bisa menjadi kehancuran bagi klan Wen!"

​Lian Xue terdiam, memperhatikan perubahan drastis pada wajah bibinya. Selir Agung Wei yang sedari tadi menunjukkan simpati dan kelembutan, mendadak berubah. Wajahnya mendingin seolah membeku. Tak ada lagi senyum yang tersisa. Matanya menatap Selir Wen dengan tatapan yang sulit diartikan, antara kewaspadaan dan penilaian dingin.

​"Wen Yue," suara Selir Agung Wei kini terdengar berwibawa, jauh dari kesan lembut seorang kakak. "Jika Biro Penyelidik sudah dilibatkan, maka perlindungan pribadiku tidak akan banyak berguna jika bertentangan dengan hukum kekaisaran."

​Lian Xue merasa ada yang tidak beres. Perubahan sikap bibinya begitu cepat. Apakah bibi tahu sesuatu yang tidak aku ketahui? Ataukah bibi sedang berusaha menyelamatkan diri sendiri agar tidak terseret dalam pusaran tuduhan ini?batin Lian Xue.

​"Bibi ...." Lian Xue memulai, mencoba mencairkan suasana.

​"Biarkan Kasim Zhang masuk," potong Selir Agung Wei tanpa menoleh pada keponakannya. "Aku akan bicara dengan Kasim Zhang dulu sebelum membawa Selir Wen ke Biro Penyelidik Istana.”

​Lian Xue memandang Selir Wen yang kini bersimpuh pasrah. Di luar, langkah kaki Kasim Zhang seolah beradu dengan suara detak jantung Lian Xue yang semakin kencang.

Ia menyadari satu hal, permainan ini jauh lebih besar dari sekadar sakit ayahnya, tapi melibatkan intrik antar para selir.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 98 - Awal Langkah Ke Beixian

    ​Shen Yang terpaku. Sentuhan lembut dahi Lian Xue yang membasah oleh air mata, berpadu dengan bisikan mantap yang lolos dari bibir ranum sang Putri Kekaisaran, meruntuhkan sisa dinding pertahanan di dalam dadanya. Rasa bersalah atas rahasia belasan tahun yang disimpannya perlahan terkikis habis, berganti menjadi kepasrahan dan rasa kepemilikan yang amat mendalam. ​"Lian Xue ..., " bisik Shen Yang parau, suaranya bergetar berat menahan gejolak emosi yang membuncah. Pria tegap itu menangkup kedua pipi halus istrinya, menatap dalam-dalam ke dasar manik mata bening yang kini bersinar penuh keteguhan. "Beixian bukan sekadar medan pertempuran biasa. Jalur menuju ke sana dipenuhi oleh racun dendam dan mara bahaya yang bisa merenggut nyawa kapan saja." ​Lian Xue menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Jemari lentiknya kian meremas bahu tegap Shen Yang. ​"Ke mana pun suamiku melangkah—baik itu menuju kejayaan ataupun ke dalam neraka pertempuran—di situlah tempatku b

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 97 - Satu Jiwa Membela Tanah Air

    ​Shen Yang merengkuh pinggang Lian Xue, mendudukkan istrinya di atas pangkuannya dengan kelembutan yang teramat sangat. Pria tegap itu berusaha menenangkan hati Lian Xue yang kini sedang berkecamuk hebat. Air mata perlahan mulai menetes dari sudut manik bening sang Putri Kekaisaran, membasahi pipinya yang halus. Namun, di balik lelehan bening itu, matanya menatap tajam pada suaminya, seolah menuntut penjelasan mutlak atas seluruh teka-teki yang menyiksa jiwanya. ​"Kau ingin tahu siapa aku sebenarnya, bukan?" bisik Shen Yang serak, membelai lembut helai rambut Lian Xue yang terurai. "Kau pasti ingat cerita yang selama ini bergulir di istana ... tentang seorang bayi laki-laki yang ditemukan di tengah hutan oleh Ayahandamu saat perburuan musim semi. Lalu bayi itu dirawat, diasuh, dan dididik oleh Kaisar hingga tumbuh menjadi seorang petarung tangguh." ​Lian Xue tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan di dalam kungkungan dada tegap suaminya. Napasnya masih tersengal menahan gejola

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 96- Bawah Bayang-Bayang Takdir

    ​Shen Yang membisu sejenak. Jemari kasarnya yang semula mengusap pelan punggung tangan Lian Xue mendadak mengendur. Ia menghembuskan napas berat yang sarat akan beban rahasia, lalu menarik perlahan tangannya dari lingkaran lengan sang Putri. Pria tegap itu bangkit dari tepi ranjang, membelakangi Lian Xue seraya menatap kegelapan di balik jendela ukir Penginapan Anggrek Merah.​"Aku akan memerintahkan Feng Lian dan pengawal terbaik untuk mengantarmu kembali ke istana pagi ini," ujar Shen Yang dingin, nada suaranya kembali datar dan kaku bagai dinding batu.​Lian Xue terperanjat. Ia seketika menegakkan tubuhnya di atas ranjang, menarik kain selimut untuk menutupi dadanya seraya menatap punggung tegap suaminya dengan binar mata tak percaya.​"Apa maksudmu, Shen Yang?" pangkas Lian Xue cepat, suaranya meninggi menahan rasa terkejut yang teramat sangat. "Setelah apa yang terjadi di antara kita semalam ... kau ingin mengusirku kembali ke dinding istana yang dingin itu?"​"Ini bukan pengu

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 95 - Dilema Sang Jenderal

    ​Desahan pasrah Lian Xue bergema membelah keheningan kamar Penginapan Anggrek Merah. Dinding-dinding kayu tua di lantai teratas menjadi saksi bisu bagaimana pertahanan dingin sang Putri Kekaisaran runtuh total di bawah kendali mutlak suaminya. ​Shen Yang merapatkan tubuh tegapnya, menatap lurus sepasang mata bening istrinya yang kini berselimut kabut gairah. Pria itu menyapu sisa peluh halus di dahi Lian Xue dengan usapan jemari kasarnya yang hangat, membimbing wanita itu memasuki pusaran rasa yang kian pekat. ​"Tatap aku, Lian Xue," perintah Shen Yang serak, nada suaranya mengalun bagai titah yang tak sanggup ditolak. "Jangan alihkan pandanganmu sedikit pun." ​Lian Xue mencengkeram bahu kekar Shen Yang yang menopang tubuh di sisi kepalanya. "Shen Yang ... kau ...." ​Kalimat sang Putri terputus kaku saat Shen Yang menyatukan kembali keintiman mereka secara utuh. Sebuah desahan panjang lolos dari bibir Lian Xue, disusul kehangatan intens yang seketika menjalar merayapi seluruh p

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 94 - Kelicikan Sang Jenderal

    ​Di balik kibasan selimut tebal yang ditarik cepat, Shen Yang melucuti gaun sutra tipis yang melekat pada tubuh istrinya dengan gerakan yang sangat tangkas. Hanya dalam hitungan detik, kain merah marun itu terlepas dari tubuh Lian Xue, menyisakan kehangatan kulit di balik temaram pendar lilin. Tanpa membuang waktu, Shen Yang menyentak hanfu hitamnya sendiri, membiarkan jubah itu terlempar ke sudut peraduan.​Lian Xue tertawa pelan, suara manjanya terdengar bergetar di dalam keheningan kamar.​"Jenderal Shen ...," bisiknya seraya membelai bahu tegap suaminya, "aku tidak tahu kalau jemari pimpinan Biro Penyelidik begitu terlatih untuk melucuti pakaian dalam sekejap mata."​Shen Yang menyunggingkan senyum miring. Sepasang mata elangnya menatap lurus paras ayu yang kini berpasrah penuh di bawah kungkungannya.​"Aku biasa melucuti senjata tawanan di medan perang dalam waktu cepat," kelakar Shen Yang dengan suara bariton yang serak dan rendah, "apalagi hanya melucuti pakaian istriku sendir

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 93 - Malam Pembayaran di Batas Kota

    ​Shen Yang membatu seketika. Manik mata elangnya yang remang oleh pengaruh arak, menatap paras cantik yang kini terpampang nyata hanya sejengkal di hadapan wajahnya. Rona merah di pipi Lian Xue, binar mata beningnya yang hangat, serta helaan napas halus yang menyapu permukaan bibirnya bukanlah ilusi dari mimpi mabuknya. ​"Lian ... Xue?" bisik Shen Yang parau, suaranya bergetar antara percaya dan tidak. ​"Ya, ini aku, Suamiku," balas Lian Xue lembut. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman paling manis yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya. ​Jemari tegap Shen Yang yang semula hendak menolak tubuh di pangkuannya perlahan mengendur. Kesadaran sang Jenderal berangsur pulih, digantikan oleh kehangatan pekat yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya. Tanpa ragu lagi, Shen Yang merangkulkan kedua lengan kekarnya di pinggang ramping Lian Xue, menarik tubuh istrinya kian erat dan menempel rapat tanpa celah di atas pangkuannya. ​"Bagaimana bisa kau ...." Shen Yang tidak

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 6 - Secangkir teh penekan Kasim

    Suara langkah kaki Kasim Zhang menggema di selasar kayu Paviliun Lily. Saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan, aroma dupa cendana seolah memudar, digantikan oleh hawa otoritas yang kaku. Kasim kepercayaan kaisar itu membungkuk dalam, memberikan hormat yang sempurna kepada Selir Agung Wei. ​"

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 4 - Kilau Emas, Hati yang Panas

    Angin pagi membawa aroma dupa cendana menyusup melalui jendela Paviliun Shengde, namun kehangatan sinar matahari tidak mampu mencairkan suasana yang mendadak beku. Di atas meja perjamuan, piring-piring porselen berisi hidangan mewah seolah kehilangan daya tariknya saat Kasim Zhang melangkah maju.

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 3 - Interogasi Malam Pertama

    "Tuan Putri, bangunlah! Selir Agung memintamu dan Jenderal Shen untuk hadir dalam perjamuan makan pagi bersama Kaisar."Suara lembut A'Ning, dayang pribadinya, perlahan membangunkan Lian Xue. Ia mengerjap, menarik kesadarannya. Saat matanya terbuka sempurna, ia tersentak menyadari sekelilingnya. In

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 1 - Cangkir Beracun, Kesempatan Kedua

    "Shen Yang! Shen Yang! " Lian Xue menggoyangkan tubuh laki-laki yang kini tergeletak kaku di atas meja setelah menenggak arak pernikahan mereka. Namun Shen Yang tidak merespon. Lian Xue memeriksa nafas dari Shen Yang. Tidak ada embusan nafas dari hidungnya. Bibirnya mulai menghitam. Lian Xue t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status