Inicio / Fantasi / Kembalinya Sang Puteri Phoenix / Bab 74 - Harga Sebuah Sandiwara

Compartir

Bab 74 - Harga Sebuah Sandiwara

Autor: Wei Yun
last update Fecha de publicación: 2026-08-30 15:51:23

​Suara derap langkah kaki Lian Xue menyapu lorong beratap Paviliun Yue Hua dengan terburu-buru. Sesampainya di kamarnya, ia mendorong pintu kayu tebal dan menutupnya rapat-rapat. Lian Xue menyandarkan punggungnya di balik pintu, dadanya naik-turun memburu hebat.

​Telapak tangan kanannya masih menyengat panas—bekas tamparan keras yang ia layangkan tepat di pipi tegap Shen Yang.

​A'Ning yang bergegas mendekat dengan jubah bulu hangat terhenti seketika saat melihat binar mata sang Putri yang ber
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 77 - Kedatangan yang Tidak Diundang

    ​Cahaya fajar menerobos lewat celah jendela kayu Paviliun Bukit Minglian, membiaskan sinar keemasan yang hangat di atas lantai porselen. Lian Xue perlahan membuka matanya. Ia menghela napas panjang, tertegun merasakan kesegaran yang mendadak melingkupi seluruh tubuhnya. Rasa kebas, sendi yang ngilu, serta rasa terbakar akibat demam dan flu yang menyiksanya semalam kini telah lenyap tanpa bekas. ​Lian Xue mendudukkan tubuhnya di atas ranjangnya, memandangi telapak tangan kanannya yang terhampar kosong. Ia meraba permukaan kasur di sampingnya yang telah dingin. Ada kehangatan asing yang mendadak hilang dari genggaman jarinya. ​Pintu kamar terbuka pelan. A'Ning melangkah masuk membawa baki berisi cawan air hangat dan kain bersih. Begitu matanya menangkap sosok Lian Xue yang sedang duduk tegak, dayang setia itu mendadak menghentikan langkahnya, matanya membelalak penuh kejutan. ​"Putri!" seru A'Ning terperanjat, bergegas meletakkan baki di meja rias. "Bagaimana keadaan Putri? Semalam

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 76 - Penawar Sepi

    Sudah tiga hari Lian Xue mengasingkan diri di Bukit Minglian. Namun, bukannya ketenangan yang didapat, bayangan wajah tegas dan mata elang Shen Yang justru kian gencar bergentayang di benaknya. ​Siang itu, puncak kekesalannya membuncah. Lian Xue yang kehilangan kendali emosi membanting cangkir porselen hingga hancur berkeping-keping. "Kenapa wajah pria kaku itu terus muncul di kepalaku?!" desisnya murka pada kesendiriannya. Namun, saat berniat membereskan pecahan porselen itu, ujung jarinya tergores tajam hingga menyebarkan pendar darah segar di atas lantai. ​Melihat junjungannya yang kian tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaan, A'Ning yang tak tega. Ia berinisiatif mengajak Lian Xue melangkah keluar. "Putri, mari kita mencari bunga liar di lereng bukit. Udara luar mungkin bisa sedikit menyegarkan pikiranmu," bujuk A'Ning lembut. ​Lian Xue akhirnya mengangguk pasrah. Sayangnya, takdir seolah tak berpihak padanya. Baru saja mereka sampai di jalan setapak lereng bukit, lang

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 75 - Kebenaran yang Menyakitkan

    ​Matahari siang merambat naik di atas atap-atap Istana namun kehangatannya tak sedikit pun menyentuh dingin yang membeku di dalam Paviliun Yue Hua. Lian Xue duduk membisu di dekat meja teh, memandangi cangkir porselen yang airnya telah dingin sejak dua jam lalu. Paras ayunya pucat, sementara lingkar kehitaman di bawah matanya tak sanggup disembunyikan meski A'Ning telah memoleskan bedak tipis.​Keheningan pecah ketika A'Ning melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Derap langkah kaki dayang setia itu terdengar panik, raut wajahnya diliputi keterkejutan yang amat sangat.​"Putri!" seru A'Ning seraya berlutut di hadapan Lian Xue, suaranya bergetar hebat. "Ada ... ada kabar dari Paviliun Yang Hua."​Lian Xue menegakkan punggungnya, berusaha memulihkan kedinginannya yang tersisa. "Kabar apa lagi yang berembus dari paviliun Selir Wang?"​"Selir Wang jatuh sakit keras sejak pertengahan hari tadi, Putri!" jawab A'Ning cepat. "Tabib istana dikirim ke sana karena beliau mengalami demam tinggi da

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 74 - Harga Sebuah Sandiwara

    ​Suara derap langkah kaki Lian Xue menyapu lorong beratap Paviliun Yue Hua dengan terburu-buru. Sesampainya di kamarnya, ia mendorong pintu kayu tebal dan menutupnya rapat-rapat. Lian Xue menyandarkan punggungnya di balik pintu, dadanya naik-turun memburu hebat. ​Telapak tangan kanannya masih menyengat panas—bekas tamparan keras yang ia layangkan tepat di pipi tegap Shen Yang. ​A'Ning yang bergegas mendekat dengan jubah bulu hangat terhenti seketika saat melihat binar mata sang Putri yang berkaca-kaca serta perawakannya yang gemetar. ​"Putri ...," panggil A'Ning panik. "Apa yang terjadi? Wajah Putri—" ​"Tinggalkan aku sendiri, A'Ning," potong Lian Xue, suaranya parau dan hampir pecah. "Kunci pintu luar. Siapa pun ... siapa pun tidak boleh masuk malam ini." ​A'Ning membelalak halus, namun melihat ketegangan hebat yang meliputi junjungannya, ia hanya mampu membungkuk dalam lalu menyelinap keluar dengan seribu pertanyaan yang tertahan. ​Begitu keheningan malam melingkupi ruangan se

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 73 - Percikan Api Sandiwara

    ​Keheningan seketika melingkupi kamar utama Paviliun Yang Hua setelah pintu kamar Selir Wang tertutup rapat. Bau harum racikan herbal yang tumpah di atas lantai porselen bercampur dengan aroma minyak wijen yang membakar pelan di sudut ruangan. ​Lian Xue masih berada dalam posisi duduk di atas pangkuan tegap Shen Yang dengan gaun sutra mewahnya yang terhampar. Namun, begitu bayangan Wang Xu Lin menghilang, ketenangan palsu yang ditunjukkannya seketika runtuh. Dadanya naik-turun cepat, mencoba menata kembali deru napasnya yang memburu. Setiap hembusan napasnya serasa menyulut rasa panas yang masih menyisakan bekas di bibirnya yang sedikit membengkak. ​Tidak, aku tidak boleh terbawa perasaan, batin Lian Xue sambil berusaha meredakan debaran hebat dan gejolak asing yang merayapi seluruh persendiannya. ​Rencana awalnya amat sederhana dan dingin. Ia menggunakan keintiman palsu untuk meremukkan keangkuhan Wang Xu Lin, membalas taktik busuk wanita itu, dan mengusirnya dari ruang utama

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 72 - Ciuman di depan Selir

    ​Malam makin merambat meninggalkan desir angin dingin yang terus menggesek ranting bambu di luar Paviliun Yang Hua. Di dalam kamar utama, pendar lilin minyak wijen membiaskan bayangan bertumpuk di dinding porselen. Tumpukan berkas rahasia Biro Penyelidik mengepung meja kerja panjang yang sengaja ditata di tengah ruangan. ​Di sudut ruangan, Wang Xu Lin berdiri dengan jemari gemetar, memegang alu batu sambil menumbuk daun herbal pahit di atas cawan porselen. Bunyi tumbukan batu yang monoton menyatu dengan gemeretak giginya yang menahan kehinaan. Paras cantiknya kini pucat pasi, matanya berair oleh amarah yang dipaksa terendam saat menyaksikan sepasang suami istri di hadapannya. ​Lian Xue meletakkan cangkir teh porselennya dengan ketukan halus yang memecah keheningan. Sudut bibirnya terangkat tipis, memancarkan binar nakal dan berani yang belum pernah diperlihatkannya sebelumnya. Ia melirik Shen Yang yang tampak tekun membacakan gulungan berkas, wajah kaku suaminya terlihat begit

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 4 - Kilau Emas, Hati yang Panas

    Angin pagi membawa aroma dupa cendana menyusup melalui jendela Paviliun Shengde, namun kehangatan sinar matahari tidak mampu mencairkan suasana yang mendadak beku. Di atas meja perjamuan, piring-piring porselen berisi hidangan mewah seolah kehilangan daya tariknya saat Kasim Zhang melangkah maju.

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 2 - Takdir yang Bergeser

    Angin malam berdesir dingin, menyusup di antara celah jendela paviliun pengantin yang megah. Di dalam ruangan yang didominasi rona merah dan emas itu, suasana terasa mencekam. ​"Jangan pernah berani melakukan ritual penutup tanpa bersulang denganku!" seru Lian Xue dengan napas memburu. Jantungn

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 1 - Cangkir Beracun, Kesempatan Kedua

    "Shen Yang! Shen Yang! " Lian Xue menggoyangkan tubuh laki-laki yang kini tergeletak kaku di atas meja setelah menenggak arak pernikahan mereka. Namun Shen Yang tidak merespon. Lian Xue memeriksa nafas dari Shen Yang. Tidak ada embusan nafas dari hidungnya. Bibirnya mulai menghitam. Lian Xue t

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 3 - Interogasi Malam Pertama

    "Tuan Putri, bangunlah! Selir Agung memintamu dan Jenderal Shen untuk hadir dalam perjamuan makan pagi bersama Kaisar."Suara lembut A'Ning, dayang pribadinya, perlahan membangunkan Lian Xue. Ia mengerjap, menarik kesadarannya. Saat matanya terbuka sempurna, ia tersentak menyadari sekelilingnya. In

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status