Beranda / Fantasi / Kembalinya Sang Puteri Phoenix / Bab 88 - Pengakuan yang Terputus

Share

Bab 88 - Pengakuan yang Terputus

Penulis: Wei Yun
last update Tanggal publikasi: 2026-09-12 17:14:26

​Malam kian larut menyelimuti kompleks Istana Kekaisaran. Angin dingin berembus menembus celah-celah pilar kayu Paviliun Tian, membawa aroma embun malam yang menggigit.

Di dalam kamar utama yang luas, pendar lampu minyak temaram membiaskan bayangan Lian Xue yang tak kunjung beranjak dari tempat duduknya di dekat meja rias.

​A'Ning melangkah pelan mendekati ranjang tuan putrinya, memegang selembar jubah tebal berlapis bulu rubah. "Tuan Putri, angin malam semakin tajam. Sebaiknya Tuan Putri beri
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 95 - Dilema Sang Jenderal

    ​Desahan pasrah Lian Xue bergema membelah keheningan kamar Penginapan Anggrek Merah. Dinding-dinding kayu tua di lantai teratas menjadi saksi bisu bagaimana pertahanan dingin sang Putri Kekaisaran runtuh total di bawah kendali mutlak suaminya. ​Shen Yang merapatkan tubuh tegapnya, menatap lurus sepasang mata bening istrinya yang kini berselimut kabut gairah. Pria itu menyapu sisa peluh halus di dahi Lian Xue dengan usapan jemari kasarnya yang hangat, membimbing wanita itu memasuki pusaran rasa yang kian pekat. ​"Tatap aku, Lian Xue," perintah Shen Yang serak, nada suaranya mengalun bagai titah yang tak sanggup ditolak. "Jangan alihkan pandanganmu sedikit pun." ​Lian Xue mencengkeram bahu kekar Shen Yang yang menopang tubuh di sisi kepalanya. "Shen Yang ... kau ...." ​Kalimat sang Putri terputus kaku saat Shen Yang menyatukan kembali keintiman mereka secara utuh. Sebuah desahan panjang lolos dari bibir Lian Xue, disusul kehangatan intens yang seketika menjalar merayapi seluruh p

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 94 - Kelicikan Sang Jenderal

    ​Di balik kibasan selimut tebal yang ditarik cepat, Shen Yang melucuti gaun sutra tipis yang melekat pada tubuh istrinya dengan gerakan yang sangat tangkas. Hanya dalam hitungan detik, kain merah marun itu terlepas dari tubuh Lian Xue, menyisakan kehangatan kulit di balik temaram pendar lilin. Tanpa membuang waktu, Shen Yang menyentak hanfu hitamnya sendiri, membiarkan jubah itu terlempar ke sudut peraduan.​Lian Xue tertawa pelan, suara manjanya terdengar bergetar di dalam keheningan kamar.​"Jenderal Shen ...," bisiknya seraya membelai bahu tegap suaminya, "aku tidak tahu kalau jemari pimpinan Biro Penyelidik begitu terlatih untuk melucuti pakaian dalam sekejap mata."​Shen Yang menyunggingkan senyum miring. Sepasang mata elangnya menatap lurus paras ayu yang kini berpasrah penuh di bawah kungkungannya.​"Aku biasa melucuti senjata tawanan di medan perang dalam waktu cepat," kelakar Shen Yang dengan suara bariton yang serak dan rendah, "apalagi hanya melucuti pakaian istriku sendir

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 93 - Malam Pembayaran di Batas Kota

    ​Shen Yang membatu seketika. Manik mata elangnya yang remang oleh pengaruh arak, menatap paras cantik yang kini terpampang nyata hanya sejengkal di hadapan wajahnya. Rona merah di pipi Lian Xue, binar mata beningnya yang hangat, serta helaan napas halus yang menyapu permukaan bibirnya bukanlah ilusi dari mimpi mabuknya. ​"Lian ... Xue?" bisik Shen Yang parau, suaranya bergetar antara percaya dan tidak. ​"Ya, ini aku, Suamiku," balas Lian Xue lembut. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman paling manis yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya. ​Jemari tegap Shen Yang yang semula hendak menolak tubuh di pangkuannya perlahan mengendur. Kesadaran sang Jenderal berangsur pulih, digantikan oleh kehangatan pekat yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya. Tanpa ragu lagi, Shen Yang merangkulkan kedua lengan kekarnya di pinggang ramping Lian Xue, menarik tubuh istrinya kian erat dan menempel rapat tanpa celah di atas pangkuannya. ​"Bagaimana bisa kau ...." Shen Yang tidak

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 92 - Pengakuan di atas Pangkuan

    ​Lian Xue terdiam membisu di balik cadarnya. Kata-kata Shen Yang bergetar pelan di udara malam, meruntuhkan keangkuhan yang membentang kaku di dadanya. Pria tegap ini tampak begitu rapuh dan letih hanya karena memikirkan pertengkaran mereka. ​Secara naluri, rasa hangat yang sempat membeku di dalam dada Lian Xue mendadak mencair. Sang Putri memiringkan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka. Jemari lentiknya terangkat perlahan, mencoba membelai rahang tegap suaminya yang mengeras kaku. ​Namun, sebelum jemarinya sempat mengusap kulit hangat itu, Shen Yang dengan refleks menepis tangan Lian Xue secara halus namun tegas. Pria itu menggelengkan kepalanya tanpa memandang paras sang pemusik. ​"Hanya istriku yang boleh melakukannya," bisik Shen Yang serak, menengguk sisa arak di cawannya hingga tak berbekas. ​Dada Lian Xue berdesir hebat. Degup jantungnya berpacu liar di balik gaun sutra tipisnya. Ada rasa hangat yang membakar pipinya saat menyadari keteguhan hati suaminya. Dalam k

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 91 - Dua Jiwa di Perbatasan

    Perjalanan tiga hari membelah lembah terik dan perbukitan terjal akhirnya berujung di Kota Liangzhou—sebuah kota transit di ambang perbatasan utara yang selalu bising oleh lalu lalang pedagang lintas wilayah dan pengembara.​Kereta logistik berhenti di halaman belakang Penginapan Anggrek Merah, penginapan megah tiga lantai paling tersohor di pusat kota.​Lian Xue bergerak tanpa suara keluar dari dalam kereta logistik. Ia menyusup dalam senyap menyamar menjadi pelayan sebelum akhirnya mengetahui bahwa Shen Yang menempati salah satu kamar utama di lantai teratas.​Lian Xue tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang malam itu ditugaskan menghibur tuan di kamar utama tempat Shen Yang berada.​Dengan hati kesal karena merasa Shen Yang justru bersenang-senang dengan wanita penghibur, Lian Xue membayar dengan harga tinggi agar dapat menggantikan gadis itu untuk menghibur suaminya.​Lian Xue melangkah dengan hati-hati menyusuri koridor lantai tiga yang berselimut karpet tebal. Gaun sutra

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab -90 Menyusup di Balik Bayang

    ​Lian Xue bukanlah Putri Kekaisaran yang sudi duduk berdiam diri di atas ranjang Paviliun Tian, mengutuk nasib sembari menunggu kabar burung yang belum tentu kebenarannya. Jika Shen Yang berani meninggalkannya dengan beribu teka-teki, maka ia sendiri yang akan membongkar rahasia itu hingga ke akarnya.​Memanfaatkan kekacauan kecil saat rombongan pengangkut perbekalan bersiap di pelataran belakang, Lian Xue bertindak cepat. Ia menanggalkan gaun sutra mewahnya, menggantinya dengan hanfu kasar berwarna abu-abu kusam milik pelayan rendah. Rambut indahnya diikat sederhana di belakang tengkuk, dilapisi kain linen tipis. Dengan gerakan lincah yang tak pernah dibayangkan siapapun, Lian Xue menyusup ke balik penutup tebal kereta kuda logistik, menyembunyikan tubuh rampingnya di antara tumpukan karung gandum.​Bau apek kain gandum dan debu jerami menyengat hidungnya, namun Lian Xue mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Matanya mengintip melalui celah kecil di antara lipatan kain tebal penutup.​K

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 6 - Secangkir teh penekan Kasim

    Suara langkah kaki Kasim Zhang menggema di selasar kayu Paviliun Lily. Saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan, aroma dupa cendana seolah memudar, digantikan oleh hawa otoritas yang kaku. Kasim kepercayaan kaisar itu membungkuk dalam, memberikan hormat yang sempurna kepada Selir Agung Wei. ​"

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 5 - Air Mata sang Selir

    Pintu kayu berukir itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Selir Wen yang melangkah masuk dengan tergesa. Guratan kecemasan tak mampu disembunyikan dari wajahnya yang pucat. Ia mengenakan jubah sutra berwarna hijau zamrud, warna penuh ketenangan, namun pagi ini tampak kontras dengan kegelisahan

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 4 - Kilau Emas, Hati yang Panas

    Angin pagi membawa aroma dupa cendana menyusup melalui jendela Paviliun Shengde, namun kehangatan sinar matahari tidak mampu mencairkan suasana yang mendadak beku. Di atas meja perjamuan, piring-piring porselen berisi hidangan mewah seolah kehilangan daya tariknya saat Kasim Zhang melangkah maju.

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 3 - Interogasi Malam Pertama

    "Tuan Putri, bangunlah! Selir Agung memintamu dan Jenderal Shen untuk hadir dalam perjamuan makan pagi bersama Kaisar."Suara lembut A'Ning, dayang pribadinya, perlahan membangunkan Lian Xue. Ia mengerjap, menarik kesadarannya. Saat matanya terbuka sempurna, ia tersentak menyadari sekelilingnya. In

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status