Share

Bab 1486

Author: Imgnmln
last update publish date: 2025-10-28 17:23:39

Suara itu bagaikan sebuah vonis yang tak dapat dihindari.

Aura di tubuh Nathan meningkat, membuat udara di sekeliling mereka bergetar. Pemuda itu jatuh berlutut spontan, tubuhnya menggigil, matanya penuh ketakutan.

“K-kakak… aku benar-benar tidak tahu apa-apa…” katanya dengan suara parau. “Aku bersumpah, aku tidak tahu…”

Kerumunan terdiam. Tak seorang pun berani bergerak. Draven—simbol kekuasaan, penerus dewa mereka—kini bersujud di hadapan manusia yang menolak tunduk pada langit.

Dan di hati m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1965

    Mendengar pujian itu Nathan hanya tersenyum tipis.Ryujin melanjutkan. "Dan keberanianmu juga sama luar biasanya. Kau pergi sendirian ke Solara, menghancurkan empat Aula Dewa Arwah. Membunuh Severian, dan bahkan memaksa Octavius mengeluarkan dekret atas namamu."Ryujin menggeleng pelan sambil tertawa kecil. "Semakin lama, semakin sulit bagiku melihat batas kemampuanmu."Nathan mengangkat bahu. "Sebenarnya aku juga tidak berniat tinggal selama itu. Masalahnya, setelah urusan balas dendam selesai, orang-orang Solara terus mencari masalah. Jadi aku hanya menemani mereka bermain beberapa hari lagi."Sesaat aula menjadi sunyi."Hahaha!"Tiba-tiba Ryujin tertawa keras. "Tidak kusangka, kau masih bisa mengatakan hal semacam itu dengan wajah serius. Menghajar seluruh dunia bela diri Solara sampai kehilangan pemimpinnya, lalu menyebutnya bermain-main."Nathan hanya tersenyum tanpa membantah.Ryujin menggeleng sambil terus tertawa. "Sudahlah, malam ini kita tidak membicarakan urusan lain.""Ayo

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1964

    Setelah meninggalkan kediaman Bonang, Nathan sebenarnya berniat langsung kembali ke Klan Draken Ascalon.Namun baru beberapa langkah berjalan, seseorang tiba-tiba muncul dari arah depan, Paul muncul dengan tenang.Nathan tersenyum tipis. "Kapten Paul, bagaimana kondisi lukamu?"Paul langsung mengayunkan kedua tinjunya beberapa kali sambil terkekeh. "Sudah sembuh sejak lama. Bahkan kurasa sekarang aku jauh lebih kuat dibanding sebelumnya."Melihat kondisi Paul yang memang tampak prima, Nathan mengangguk lega. "Sudah larut malam begini. Ada urusan apa mencariku?""Tentu saja karena ada yang ingin menemuimu." Paul menyeringai."Tuan Ryujin sudah tahu kau kembali ke Moniyan. Beliau sengaja menyiapkan perjamuan khusus dan memintaku mengajakmu datang."Nathan sedikit terkejut. "Perjamuan?""Benar." Paul menepuk bahu Nathan. "Percayalah, tidak banyak orang yang mendapat perlakuan seperti ini.""Bahkan kalau dipikir-pikir, kau mungkin orang pertama yang diundang makan malam berdua langsung ol

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1963

    "Nathan..." Rebecca menyilangkan tangan di depan dada. "Kemampuanmu memang semakin hebat, ya?!"Mendengar suara yang seakan menyindir itu, Nathan berkedip. "Maksudmu?""Kau pergi ke Solara beberapa waktu saja, lalu pulang membawa gadis muda yang memanggilmu 'Master'."Nada suara Rebecca terdengar semakin dingin. "Hebat sekali!""Itu salah paham." Nathan buru-buru mengangkat kedua tangannya. "Kalian harus dengar penjelasanku dulu.""Simpan penjelasanmu." Sheerena akhirnya ikut berbicara.Sebagai orang yang paling berpengaruh di antara mereka, satu kalimatnya langsung membuat yang lain mengangguk setuju."Kita bicarakan di rumah."Sebelum Nathan sempat melanjutkan pembelaannya, beberapa gadis sudah menyeretnya menuju kendaraan yang telah disiapkan.Bonang yang melihat pemandangan itu langsung tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Nasibmu memang pantas begitu."Namun tawa itu tidak berlangsung lama.Seraphyne melangkah mendekat lalu menjepit telinga Bonang."Aduh! Aduh! Sakit!" Bonang langsun

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1962

    Nathan langsung memahami maksud sebenarnya. Beruntung yang dimaksud adalah bukan gadis kecil yang masih di bawah umur. Meski begitu, ia tetap menggeleng sambil tersenyum tipis. "Biarkan dia fokus menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu. Soal yang lain, kita bicarakan nanti."Mendengar jawaban itu, Alaric hanya bisa mengangguk meski sedikit kecewa.Tak lama kemudian Nathan menemui Haye dan bersiap meninggalkan Solara. "Haye, ikutlah kembali ke Northern bersama kami."Haye tertawa lebar sambil menggeleng. "Tidak perlu.""Sekarang kehidupanku di sini jauh lebih nyaman," senyumnya semakin lebar. "Setelah ini aku tidak perlu lagi berpura-pura menjadi ahli hebat. Meski kekuatanku biasa saja, seluruh dunia bela diri Solara tetap harus menghormatiku."Ia menunjuk Nathan. "Bagaimanapun juga, dewa yang mereka sembah sekarang adalah temanku."Nathan tidak bisa menahan senyumnya. "Tetap saja, aku berhutang banyak padamu."Tatapannya menjadi lebih serius. "Kalau bukan karena bantuanmu mendapat

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1961

    RAAAWWWRRR!Naga yang melayang di belakang Nathan tiba-tiba kembali mengeluarkan raungan mengguncang jiwa sebelum membuka mulut raksasanya dan menerjang lurus ke arah Octavius."T-tunggu! Aku setuju!" Octavius langsung kehilangan seluruh ketenangannya. Wajahnya memucat, tubuhnya gemetar hebat, bahkan celananya sudah basah tanpa sempat ia sadari."A-aku akan melakukannya! A-aku akan mengikuti semua keinginanmu!"Nathan menatapnya beberapa saat sebelum mengangkat satu tangan dengan tenang. Dalam sekejap, naga itu berhenti tepat di depan wajah Octavius lalu mundur kembali ke belakang."Bagus," Nathan kembali duduk santai. "Besok pagi, keluarkan titah kekaisaran dan umumkan ke seluruh Solara."Octavius mengangguk berkali-kali. "Aku akan menyiapkannya malam ini juga."Tatapan Nathan sedikit menyipit. "Aku harap kau tidak sedang berusaha mempermainkanku."Nada suaranya terdengar datar, tetapi tekanan yang terkandung di balik kalimat itu membuat jantung Octavius hampir berhenti berdetak."Ka

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1960

    "Apa yang kau lakukan di sini?" Octavius bertanya sambil bergerak perlahan ke arah samping.Di dekat sana terdapat tombol alarm darurat yang terhubung langsung ke seluruh pasukan pengawal istana. Namun sebelum tangannya sempat menyentuh tombol itu, suara Nathan kembali terdengar."Tidak ada gunanya," Nathan tetap duduk dengan santai. "Kalau kau menekan alarm itu, yang datang hanya lebih banyak orang untuk mati."Kalimat itu diucapkan dengan nada ringan, tetapi justru membuat punggung Octavius merinding."Aku datang bukan untuk membunuhmu," Nathan meletakkan gelas anggurnya di atas meja. "Aku hanya ingin berbicara."Kemudian ia mengangkat tangannya dan membuat gerakan mempersilakan. "Duduklah."Pemandangan itu terasa sangat aneh. Seolah-olah Nathan adalah tuan rumah sementara Octavius hanyalah tamu yang baru datang berkunjung.Octavius menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menarik kembali tangannya dari tombol alarm. Ia berjalan perlahan lalu duduk di hadapan Nathan dengan kewaspad

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1212

    Suara itu bukan lagi sebuah teriakan. Tapi guntur yang lahir dari paru-paru seorang dewa pendendam, sebuah gelombang sonik yang menggulung melintasi halaman dan menghantam gerbang. Beberapa penonton yang lebih lemah langsung ambruk, telinga mereka berdengung. Yang lain terhuyung mundur, wajah merek

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1130

    Di aula utama organisasi Matilda, suasana terasa dingin dan kaku saat seorang pria asing melangkah masuk.Dengan wajah sombong dan senyum yang tipis, pria itu menangkupkan kedua tangan dan memberi hormat dengan formalitas yang tidak tulus.“Soyir dari keluarga Wilford, Kota Hulmer, memberi salam ke

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1164

    Kaidar, melihat situasi memburuk, dia menggertakkan gigi. Wajahnya berubah gelap, dan dia berbalik ingin melarikan diri.“Saudara Nathan, dia kabur!” teriak Bachira.Dalam sekejap, Nathan melompat, tubuhnya melesat ke depan dan mendarat tepat di jalur pelarian Kaidar.Dengan Pedang Aruna di tangan,

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1204

    Di sana, bersandar santai di kusen pintu, berdiri sesosok pria. Hujan menempel di mantel panjangnya yang gelap, dan rambutnya sedikit basah. Wajahnya adalah wajah yang mereka kenal, namun sekaligus berbeda. Ada ketajaman baru di garis rahang dan matanya. Matanya tidak lagi membawa bara semangat yan

    last updateLast Updated : 2026-03-30
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status