LOGINDi belakang, Raze melangkah maju sambil mendengus. “Tidak dengar apa yang dia katakan?!”Whoosh!Beberapa anggota Keluarga Mordren langsung bergerak, mengepung para petinggi itu. Aura mereka menekan dari segala arah, situasi langsung berubah.Para petinggi Ordo Abyssal itu saling berpandangan. Wajah mereka yang tadi dingin kini mulai menunjukkan kegelisahan. Mereka bisa mengkhianati sekte, tapi menghadapi kematian langsung adalah hal yang berbeda.“Baik,” salah satu dari mereka akhirnya berkata. “Kami akan menyampaikan pesanmu.”Mereka perlahan mundur, langkah demi langkah terasa berat dan mencekam.Begitu jarak aman tercapai—Whoosh!Mereka berbalik dan masuk kembali ke dalam Sektor Bayangan.Hening~Barnet tiba-tiba berlutut.Brak!“Terima kasih, Tuan Nathan…” suaranya serak. “Tolong… selamatkan Ordo Abyssal. Banyak dari mereka dipaksa tunduk.”Nathan menatapnya sejenak, lalu menghela napas pendek. “Tanpa kau minta pun, aku akan melakukannya.”Tatapannya mengeras.Baginya, ini bukan
Nathan mengangkat jubah itu, rahangnya mengeras. “Brengsek!”Langkah kaki terdengar dari belakang.Bonang dan Raze muncul, wajah mereka serius.Nathan menoleh cepat. “Guru Bonang, periksa Seraphyne. Lihat apakah dia masih di dalam.”Bonang mengangguk dan langsung bergerak.Beberapa saat kemudian, ia kembali. “Tidak ada, dia sudah pergi.”Nathan menghela napas, tatapannya mengeras. “Kalau begitu, kita ke Ordo Abyssal. Aku ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.”Ia berbalik tanpa ragu.Raze juga memberi perintah pada orang-orang Keluarga Mordren untuk ikut bergerak.***Tak lama kemudian, mereka tiba di pintu masuk Sektor Bayangan Ordo Abyssal.Gerbang itu berpendar redup, seperti tirai cahaya yang menghubungkan dua dunia.Namun sebelum mereka masuk, dari dalam seseorang berlari keluar dengan angkahnya yang limbung. Darah membasahi tubuhnya.Bruak!Ia hampir terjatuh, namun tetap memaksakan diri berlari ke arah Nathan dan yang lain. Di belakangnya, beberapa sosok mengejar dengan kec
Nathan menyipitkan mata, ia langsung menangkap pola itu. “Teknik ruang?” gumamnya pelan.Kaidar tertawa. “Haha! Kau pikir hanya kau yang punya keistimewaan? Aku memiliki Entitas Abyss!”Tubuhnya semakin kabur.Namun—“Cih!” Raze mendengus dingin, tangannya bergerak cepat.Sebuah tali berkilau muncul, memancarkan cahaya keemasan yang menusuk mata.“Coba lari lagi.”Whoosh!Tali itu melesat.Seketika, cahaya keemasan membelah udara.CLANG!Tubuh Kaidar yang hampir menghilang langsung terseret kembali ke dimensi nyata. Tali itu melilit tubuhnya erat.Kaidar membelalak. “Segel Domain Penahan Roh?!”Suaranya dipenuhi keterkejutan.Raze tersenyum miring. “Kau masih mengenalinya? Bagus.”Aura dari artefak itu terus menekan, membuat pergerakan Kaidar terhambat total.“Artefak milik Keluarga Mordren tidak mudah kau lepas.”Di sisi lain, Bonang sudah bergerak cepat. Ia mengeluarkan beberapa Sigil, melemparkannya ke udara.“Cepat, segel ruangnya!”Nathan langsung paham, ia menggigit ujung jariny
Di luar kamar, sosok berjubah hitam berdiri diam. Aura kelam mengalir dari tubuhnya seperti kabut pekat.Di balik jubah itu, wajah Kaidar terlihat pucat. Matanya menyipit, menatap pintu di depannya.Krek…Pintu terbuka perlahan.Tatapannya langsung tertuju pada meja. Ginseng Panax itu benar-benar tergeletak begitu saja.Suara serak muncul dari dalam dirinya. “Bocah ini terlalu arogan.”Namun Kaidar tidak bergerak. Jantungnya justru berdetak lebih cepat. Ia sudah terlalu lama berhadapan dengan Nathan. Ia tahu pria itu bukan tipe ceroboh.Kalau sesuatu terlihat terlalu mudah, maka itu pasti jebakan.“Kenapa diam?” suara dalam tubuhnya mendesak. “Ambil Ginseng Panax itu. Sekalian bawa dia. Jangan rusak tubuhnya.”Kaidar mengernyit. “Tuan, aku merasa ada yang tidak beres.”“Dia sudah meminum Eliksir Penekan Energi. Sekarang dia tidak berbeda dari orang biasa.” Nada suara itu berubah dingin. “Atau… kau mulai takut?”Ucapan itu menusuk.Kaidar terdiam sesaat, lalu menghela napas. Ia melangk
Tak lama, dua anggota membawa sosok berjubah masuk ke aula. Wajahnya tertutup topeng.Semua orang langsung berlutut.“Pemimpin Ordo!”Suara mereka menggema.Namun Barnet tidak menunggu lama.Dengan satu gerakan cepat—Sret!Topeng itu terlepas, yang terlihat bukan wajah manusia. Melainkan tengkorak kering, kosong dan tak bernyawa.Suasana hening total.Beberapa orang mundur tanpa sadar. Ada yang menahan napas, ada pula yang gemetar.Kuro menatap pemandangan itu tanpa ekspresi. “Hm…” ia mendengus ringan. “Jadi sudah terbongkar.”Ia melangkah maju, aura gelap perlahan bangkit dari tubuhnya. “Kalau begitu, aku tidak perlu berpura-pura lagi.” Tatapannya menyapu seluruh ruangan. “Yang tunduk padaku… akan berjaya.”“Yang melawanku…”BAAM!Tekanan aura menghantam lantai. Retakan menyebar seperti jaring laba-laba.“Akan dilenyapkan.”Keheningan berubah menjadi ketegangan yang memuncak.Namun tak lama setelah itu, beberapa orang mulai bergerak. Satu per satu, mereka berdiri di belakang Kuro. I
“Saya memutuskan membentuk aliansi dengan Ordo Maledicta.”Ruangan langsung bergemuruh.“Kita berasal dari garis yang sama, tidak ada alasan saling membunuh,” lanjutnya. “Jika kita bersatu, tidak ada kekuatan yang mampu menghadapi kita. Pada akhirnya, dunia akan tunduk.”Pernyataan itu meledak seperti petir.“Aliansi?”“Ini terlalu berbahaya!”“Kita selalu menjaga jarak dari mereka!”Suasana aula menjadi riuh.Kuro tetap berdiri, tatapannya dingin, seolah keputusan itu sudah mutlak.Sejak awal, Ordo Abyssal dikenal sebagai faksi yang berbeda dari kelompok kegelapan lainnya. Mereka bukan tipe yang haus darah atau gemar menebar konflik. Justru sebaliknya, selama bertahun-tahun mereka memilih bersembunyi di balik Sektor Bayangan, menjaga jarak dari dunia luar, dan berfokus pada kultivasi dalam diam.Jarang sekali mereka turun tangan dalam urusan dunia fana. Bahkan ketika bentrokan antar klan memuncak, Ordo Abyssal tetap memilih menjadi pengamat, bukan pelaku.Namun justru karena itu, hub
"Nathan telah membantai belasan keluarga," jelas Kaidar, matanya berkilat cerdas. "Tidak peduli apa pun dendamnya, itu adalah kejahatan. Kita harus menghadap Tuan Ryujin, menuntut pihak pemerintah untuk menghukumnya secara resmi. Dengan begitu, kita tidak akan menjadi pembunuh, melainkan eksekutor
Roh yang tadinya selalu berbisik di telinga batinnya, kini telah membisu. Ketakutan yang murni dan dingin mulai menjalari tulang punggung Ryuki. Ia gemetaran.Di atas singgasananya, mata batu sang raja duyung menatap zirah putih itu dengan ekspresi yang aneh—sebuah campuran antara keterkejutan dan
"Huh!" Wajah Jazeer berubah menjadi merah karena marah. "Mulut gadis nakal ini terlalu rapat! Putranya telah menghancurkan salah satu lenganmu! Hari ini, aku akan membalaskan dendammu padanya!"Ia mengambil sebuah cambuk kulit khusus dari dinding, lalu mengayunkannya ke tubuh Brillie dengan kejam.
Di sebuah tempat di luar jangkauan waktu dan akal, Nathan terbaring di lantai pualam sebuah istana yang bermandikan cahaya lembut dan abadi.Darah yang mengering di sekujur tubuhnya tampak seperti peta penderitaan yang mengerikan. Ia tidak bergerak, napasnya begitu dangkal hingga nyaris tiada, tero







