Share

Bab 1402

Author: Imgnmln
last update Last Updated: 2025-09-14 10:45:28

Roh yang tadinya selalu berbisik di telinga batinnya, kini telah membisu. Ketakutan yang murni dan dingin mulai menjalari tulang punggung Ryuki. Ia gemetaran.

Di atas singgasananya, mata batu sang raja duyung menatap zirah putih itu dengan ekspresi yang aneh—sebuah campuran antara keterkejutan dan kekaguman, seolah baru saja bertemu dengan seorang kawan lama.

"Kak Nathan, apa... apa yang terjadi?" bisik Prisly, menarik Nathan dari lamunannya. Ia tidak mengingat apa pun, hanya perasaan aneh setelah memeluk sosok Sarah.

"Tidak apa-apa," Nathan menenangkannya dengan suara pelan. "Tetaplah di sampingku. Jangan takut."

Prisly mengangguk, dan zirah di tubuhnya perlahan-lahan memudar, kembali menyatu dengan kulitnya. Melihat zirah itu menghilang, mata Sancho berkilat dengan api keserakahan yang membara. Sekarang ia tahu mengapa tendangannya tadi gagal. Zirah itu... adalah harta karun yang tak ternilai.

Sementara kerumunan masih terpesona, Nathan bergerak. Dengan satu ledakan kecepatan, ia me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1597

    “Sekarang enyah,” lanjut Nathan dingin. “Jangan rusak pemandanganku. Kalau tidak, jangan salahkan aku.”Wajah Edrin menghitam. “Nathan,” katanya rendah, “Jangan terlalu meremehkan orang lain. Dengan kekuatanmu sekarang, kamu bahkan tidak punya kualifikasi untuk melawan Martial Shrine.”Nathan menyeringai. “Tidak punya kualifikasi? Kalau begitu kenapa kamu datang ke sini?”Tatapannya menusuk. “Jangan kira aku tidak tahu busuknya Martial Shrine. Kalian hanyalah kumpulan manusia yang dikendalikan roh spiritual.”Beberapa orang langsung tersedak napas. “Dan kalau tebakanku benar,” lanjut Nathan, “Di dalam tubuhmu juga ada roh itu, bukan?”Edrin tidak menjawab.Nathan melanjutkan dengan nada datar namun mematikan. “Setelah aku menyerap habis semua bangkai tua yang bertahan ribuan tahun itu, aku ingin lihat apa lagi yang bisa kalian lakukan.”Rahasia itu terlempar ke udara.Aula bergemuruh.“Omong kosong!” bentak Edrin. “Sepertinya aku perlu mengajarimu cara berbicara!”Aura Edrin meledak d

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1596

    Tak lama kemudian, Kaidar masuk ke aula. Di belakangnya, seorang pemuda berpakaian kasual melangkah masuk. Namun posisi mereka berbicara jelas, Kaidar berdiri setengah langkah di belakang pemuda itu, seperti seorang pengawal.Tatapan Nathan langsung tertuju ke depan, sorot matanya dingin. “Kaidar, untuk apa Martial Shrine datang ke sini? Kalau ingin membuat kekacauan…”Nada suaranya menajam. “Aku pastikan namamu terhapus dari dunia ini hari ini juga.”Kaidar hendak membuka mulut, tapi pemuda di sampingnya mengangkat tangan untuk menghentikannya.“Kau Nathan?” Suaranya datar. “Namaku Edrin. Mulai hari ini, aku Ketua Martial Shrine. Kaidar sudah tidak lagi memegang kendali.”Beberapa orang menarik napas tajam.Edrin melanjutkan tanpa tergesa. “Aku tahu ada kesalahpahaman panjang antara Martial Shrine dan Tuan Nathan. Karena itu, hari ini aku datang untuk meredakan ketegangan.”Ia tersenyum tipis. “Sekaligus mengucapkan selamat atas berdirinya klanmu di usia muda dan aku membawa hadiah.”

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1595

    Nathan duduk di meja Raze dan rombongannya.Meja itu dipenuhi talenta muda dari berbagai provinsi. Entah teman atau calon lawan, Nathan ingin mengenal mereka. Di dunia ini, informasi sering kali lebih berbahaya daripada teknik.Begitu ia duduk, Raze menatapnya dengan ekspresi masam. “Nathan,” katanya sambil mendengus, “Kau ini tidak adil.”Nathan mengangkat alis. “Dalam hal apa?”“Kau bukan hanya jenius generasi muda,” lanjut Raze setengah bercanda, setengah serius, “Kau juga dikelilingi wanita-wanita yang… luar biasa.”Ia melirik ke arah meja wanita itu. “Kalau aku punya setengah saja dari keberuntunganmu, aku rela menukar sebagian kekuatanku.”Rasa cemburu menghantui pikiran Raze.“Mereka hanya teman,” jawab Nathan singkat.Namun bahkan ia sendiri tahu bahwa kata itu terdengar lemah.Sheerena duduk dengan tenang, tapi auranya tetap mencuri perhatian. Setiap gerakannya alami, bersih, hampir seperti sosok suci yang tersesat di dunia fana. Rebecca dan Sienna dengan kekuatan pemikat mer

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1594

    “Oh, aku tahu,” jawab Chelsea cepat. “Nathan sering menyebut namamu.” Ia merapat sedikit. “Soal teman atau bukan, siapa tahu nanti kita jadi satu keluarga.”Wajah Sheerena memanas. Namun alih-alih menjauh, ia justru tersenyum lebih lembut.“Ayo,” lanjut Chelsea sambil menariknya masuk. “Aku ingin belajar darimu. Kau pasti punya rahasia merawat diri.”Nathan berdiri di tempatnya, menatap punggung dua wanita itu.Di kejauhan, beberapa tamu memperhatikan dan tersenyum.Nathan memilih diam.Bukan karena tidak ingin bicara, melainkan karena setiap celah yang ia siapkan langsung ditutup oleh Chelsea. Gadis itu bicara nyaris tanpa jeda, nadanya ringan, tapi setiap kalimat seperti dorongan kecil yang memaksa Nathan terus mundur.“Nathan,” ucap Sheena sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi, “Ternyata selama ini kamu masih memikirkan kakakku.”Nathan menoleh.“Kalau begitu,” lanjutnya tanpa perubahan ekspresi, “Kenapa setelah sekian lama kamu tidak pernah datang ke Sekte Bloody?”Nathan menarik

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1593

    Mereka bukan tamu biasa. Semua nama itu berasal dari keluarga yang naik terlalu cepat dalam beberapa tahun terakhir dan dikenal karena kekuatan, bukan hubungan.Nathan menyipitkan mata, ia tak mengenal mereka.Nalan melangkah mendekat, suaranya nyaris berbisik. “Mereka datang bukan untuk memberi selamat, hati-hati.”Nathan mengangguk pelan. Apa pun niat mereka, hari ini ia tak bisa mengusir siapa pun. Ini adalah hari kelahiran klan dan semua mata sedang menatapnya. Ia melangkah maju untuk menyambut.Chelsea mengikuti di belakangnya, langkahnya ringan, tapi matanya tajam.Di kejauhan, beberapa tamu tersenyum, senyum yang sama sekali tidak membawa niat baik.“Nathan, selamat atas berdirinya Klan Draken Ascalon.”Suara itu datang lebih dulu daripada langkahnya.Raze berdiri di depan gerbang, senyum tipis tergantung di bibirnya.Nathan berhenti dan Chelsea berdiri di sampingnya.“Terima kasih,” jawab Nathan singkat. Tatapannya menyapu wajah Raze dengan cepat. Ada sedikit kekakuan di matan

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1592

    Ia menatap Seiji lurus-lurus. “Jika ingin belajar darinya, kalian harus menantangnya secara pribadi. Apakah dia menerima atau menolak, itu di luar kewenangan saya. Saya tidak akan memaksa siapa pun demi menjaga muka politik.”Nada suaranya datar, tapi tegas.Seiji mengangguk dalam. “Dengan pernyataan Tuan Ryujin, kami sudah cukup puas. Kalau begitu, kami pamit.” Ia berdiri, memberi hormat singkat.Tujuan kunjungannya memang hanya itu, mendengar sikap resmi Ryujin. Tanpa kejelasan ini, campur tangan pemerintah bisa menjadi masalah besar di kemudian hari. Rombongan Solara pun meninggalkan aula.Sementara Ryujin tetap duduk di tempatnya, matanya menyipit tipis.Di luar sana, badai kecil sedang bergerak menuju satu nama yang sama.***Pagi itu, Moniyan terasa berbeda.Udara dipenuhi hiruk-pikuk yang jarang terlihat, para praktisi bela diri dari berbagai wilayah berdatangan, membawa rasa ingin tahu dan kewaspadaan sekaligus. Sejak matahari terbit, satu kabar telah menyebar ke seluruh Marti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status