LOGIN"Ma, aku ada urusan sebentar, tetaplah di rumah," ucap Nathan dengan datar seraya berjalan meninggalkan kediamannya penuh amarah.
Ciiit …. Brak!Terdengar suara rem mobil yang nyaring, saat Nathan hendak menyebrang jalan keluar dari komplek itu, tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kencang, tabrakan pun tidak dapat dihindari. Nathan akhirnya tertabrak hingga terpental beberapa meter."Ah!"Tubuh Nathan berguling-guling di atas aspal, jika saja saat di penjara dia tidak belajar seni bela diri, mungkin dia sudah kehilangan nyawanya."A-aduh …." Nathan berusaha berdiri dan menyeimbangkan tubuhnya. "Sial! Lagi buru-buru gini!" Gerutunya dengan kesal.Tepat saat Nathan memaki dan berusaha bangkit berdiri, suara makian dapat terdengar. “Eh bego? Punya mata, gak? Nyebrang tuh pake mata!"Seorang gadis terlihat turun dari dalam mobil BMW, dia mengenakan rok berwarna putih, dan mengenakan sepatu hak tinggi, dia terlihat sangat cantik, dan menatap Nathan dengan tatapan kesal.Nathan mengernyitkan keningnya, sembari menahan tubuhnya yang terasa sakit, dia menggerutu. “Diantara kita, siapa yang tidak punya mata, hah? Jelas-jelas kamu yang menabrakku, kamu begitu cantik, tapi kenapa saat membuka mulutmu malah tercium semerbak sampah?” Nathan berkata dengan tegas kepada gadis itu.“Hah? Apa? Kamu berani memakiku?” Gadis itu menatap Nathan dengan emosi, dan tiba-tiba mengangkat kakinya dan hendak menendang Nathan.Gadis itu mengenakan sepatu hak tinggi, hak sepatu itu sangat runcing, kalau tendangan itu mengenai tubuh orang lain pasti akan langsung terluka.“Sarah, tunggu!” Melihat gadis itu melayangkan tendangannya ke arah Nathan, seorang pria paruh baya membuka pintu mobil dan turun dari mobil.Pria paruh baya itu terlihat acuh tak acuh. Wajahnya terlihat sedikit pucat, nafasnya terengah-engah. Setelah meneriakkan kalimat itu, dia langsung berpegangan pada pintu mobil dan menarik nafas dengan susah payah.“Pa, kenapa Papa turun!” Setelah melihat pria paruh baya itu, Gadis itu langsung bergegas menghampirinya dan memapahnya. "Ayo masuk lagi, tunggu di dalam."“Sara, ayo cepat kita ke rumah sakit, jangan menghabiskan waktu lagi,” Pria paruh baya itu berkata dengan lemas kepada gadis itu.Gadis itu mengangguk, dan kembali ke hadapan Nathan, dia mengeluarkan segepok uang dari tasnya dan melemparkannya pada Nathan. “Ambil uang itu, kita impas! Aku sedang buru-buru, ada nyawa yang harus diselamatkan!”'Nyawa?!' Nathan tidak mengambil uang itu, dia berdiri dan menatap pria paruh baya yang berada tidak jauh darinya dan berkata. “Tidak perlu ke rumah sakit, tidak akan sempat.”Selesai berkata, Nathan berbalik dan hendak pergi, dia bisa melihat kalau pria paruh baya ini sudah sekarat dan tidak akan sempat sampai ke rumah sakit.“Berhenti!” Gadis itu berteriak kepada Nathan dan menatapnya dengan jengkel. “Apa maksudmu, jelaskan maksud dari ucapanmu barusan atau jangan harap bisa pergi dari sini!”Disaat itu, pria paruh baya juga mengernyitkan keningnya dan berjalan tertatih menuju ke arahNathan.“Ayahmu punya penyakit tersembunyi yang akut, lukanya ada di paru-paru sebelah kiri, tidak sampai lima menit dia akan mengalami kesulitan bernafas dan mati lemas, dalam lima menit apakah kamu bisa sampai ke rumah sakit?” Nathan berkata dengan tenang sambil bertanya pada gadis itu.“Omong kosong! Jangan bicara sembarangan!” teriak Sarah dengan kesal.“Sarah ….” Pria paruh baya itu memanggil anaknya, lalu kembali melangkah beberapa langkah menuju Nathan, matanya penuh keterkejutan. “Nak, bagaimana kamu bisa mengetahui kalau paru-paru kiriku terluka?”Nathan menatap pria paruh baya itu dengan acuh. “Meskipun aku menjelaskannya, kamu tidak akan mengerti," ucap Nathan seraya membalikkan badannya. "Aku ada urusan penting, aku sedang terburu-buru.”“Uhuk! Uhuk!""Tunggu!" pria paruh baya itu memanggil Nathan, dia langsung melangkah menuju Nathan dan menarik lengannya. “Nak, kamu bisa mengetahui penyakitku, kamu pasti bisa menyembuhkannya juga, aku berharap kamu bersedia menyelamatkan nyawaku, berapapun harganya akan kubayar, ini adalah kartu namaku!” Pria paruh baya itu mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya kepada Nathan.Awalnya Nathan tidak ingin menerimanya, dan dia tidak peduli, tapi saat dia melihat nama yang tertera pada kartu nama itu, dia langsung melihatnya dan berkata. “Kevin Wibowo, Wibowo Enterprise ….”“Kamu bisa menemuiku melalui alamat itu,” Kevin berkata kepada Nathan.Tiba-tiba Nathan menitikan tangannya ke arah Kevin, dua jarinya menitik pada titik akupuntur pria paruh baya itu. Kecepatan Nathan sangat cepat, sehingga Kevin dan Sarah pun terkejut melihat itu.“Apa yang kamu lakukan?” Sarah buru-buru melangkah maju untuk menahan gerakan Nathan, tetapi semuanya sudah selesai.Namun, setelah Nathan menotok beberapa titik akupunktur Kevin, pria paruh baya segera merasa bahwa nafasnya lebih halus dan wajahnya jauh lebih cerah.Nathan berkata dengan ringan. "Aku hanya mengendalikan lukamu untuk sementara waktu. Butuh beberapa waktu untuk sembuh. Penyakitmu yang tersembunyi perlu disembuhkan secara perlahan karena sudah cukup lama!""Terima kasih, Nak, terima kasih banyak," Kevin melangkah maju dan meraih tangan Nathan dengan penuh semangat, terus-menerus berterima kasih padanya.Sarah sangat terkejut melihat wajah ayahnya yang jelas-jelas memerah dan tubuhnya jauh lebih baik."Aku terpaksa menyelamatkanmu karena aku tahu kamu sering melakukan perbuatan baik, dan kamu telah menyumbang banyak bantuan. Aku harus melakukan itu karena kamu adalah orang baik!" Alasan Nathan menyelamatkan Kevin adalah karena dia tahu bahwa Kevin adalah orang yang baik.Jika dia bertemu secara kebetulan dan tidak mengenalnya, Nathan tidak akan serta merta menyelamatkannya, apalagi Sarah baru saja berkata buruk padanya dan hampir menabraknya hingga mati.Ketika Kevin mendengar ini, dia sedikit malu. "Perbuatanmu jauh lebih baik dariku, kamu telah menyelamatkan hidupku!" Seru Kevin penuh semangat. "Katakan, apa pun yang kamu inginkan, akan aku beri. Oh ya, bagaimana jika kita makan terlebih dulu? Aku akan menunggumu di Hotel Northen, datanglah saat selesai dengan urusanmu.""Tidak, urusanku sangat penting, kamu tidak perlu menungguku," Nathan menggelengkan kepalanya dan menolak. "Aku akan menghubungimu nanti."Melihat penolakan Nathan, Kevin sedikit terkejut. Selama ini, sebagai seorang pengusaha besar di Northen, dia jarang sekali mengundang orang lain untuk makan bersama. Sekarang dia mengambil inisiatif untuk mengundang Nathan makan, dia tidak menduga Nathan akan menolaknya.Kevin memegang lengan Nathan dengan erat. "Baiklah kalau begitu, aku harap kita bisa bertemu lagi!"Nathan dapat melihat bahwa Kevin sangat ingin mengundang dirinya untuk makan, dari tatapan matanya, pria paruh baya itu ingin mengetahui lebih banyak tentang penyakit dan penyembuhan penyakitnya.Melihat Kevin yang tulus, Nathan mengangguk dan berkata. "Baiklah, aku akan menghubungimu nanti, aku harus pergi."Mendengar Nathan mengatakan ini, Kevin melepaskan tangannya. "Bagus, ketika kamu datang ke hotel Northen, sebut saja namaku."Nathan hanya mengangguk dan bergegas pergi ke kediaman Gunawan.***"Sherly! Sherly …." seru Nathan memanggil mantan tunangannya itu.Setelah beberapa kali memanggilnya, terlihat sosok wanita sekitar berumur 40 tahunan berjalan ke arahnya.'Nathan?!' gumam ibu Sherly, Catherine Wilson, melihat kedatangan pria itu, Catherine mengerutkan keningnya dengan kuat. "Nathan! Apa yang kamu lakukan disini?!""Kedatanganmu disini tidak diterima oleh siapapun!" seru Catherine dengan tegas. "Putriku akan menikah hari ini.""Menikah?" Nathan mengerutkan kening. 'Jadi, yang diucapkan pria itu benar?'"Di mana Sherly? Dengan siapa dia akan menikah? Aku ingin bertemu dengannya!" Nathan melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam Villa dengan wajah dingin."Berhenti!" Teriak Catherine menghentikan langkah kaki Nathan. "Apa kau sudah gila, hah?! Setelah dipenjara, apa kamu semakin sembrono dan tidak memiliki sopan santun?!" Maki wanita itu.Catherine menarik Nathan dengan putus asa. Tapi bagaimana dia bisa menandingi kekuatan Nathan, seluruh badannya diseret masuk ke dalam Villa.Saat Nathan berhasil menerobos masuk ke dalam Villa, dia melihat sosok wanita yang tidak asing di matanya, wanita itu mengenakan gaun pengantin putih, wajah yang dirias secara natural, membuatnya terlihat seperti dewi yang turun dari surga. Ketika dia melihat gadis itu, Nathan tiba-tiba berhenti."Sherly …." lirih Nathan tidak percaya. "Ada apa ini? Kenapa? Bisakah kamu menjelaskannya padaku?"Nathan terdiam, hatinya sesak, dia menunggu jawaban wanita itu. Matanya memancarkan kekecewaan yang mendalam.Tak lama kemudian, dia tiba di penjara bawah tanah Martial Shrine. Langkahnya bergema pelan di lorong gelap sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah sel.Di dalamnya, Sarah duduk dengan tenang. Saat melihat pria itu datang, alisnya langsung berkerut. Intuisinya mengatakan bahwa orang di depannya membawa niat buruk.Selama ditahan di tempat ini, Sarah memang tidak pernah disiksa. Bagaimanapun juga, darahnya merupakan sumber kultivasi yang sangat berharga. Tanpa izin dari yang mulia, tidak ada seorang pun yang berani menyentuhnya.Namun kali ini berbeda, tatapan Ksatria itu dipenuhi hawa dingin. Dia membuka pintu sel lalu mengikat tangan dan kaki Sarah dengan rantai.Perubahan itu membuat Sarah sedikit panik. Dia menatap pria itu dengan penuh kemarahan. Jika orang ini berani melakukan sesuatu yang tidak senonoh, dia sudah siap, lebih baik menggigit lidah dan mati daripada mengkhianati Nathan.Namun Ksatria itu sama sekali tidak berniat melakukan hal seperti itu. Dia justru mengeluarkan
Seraphyne hanya tersenyum tipis. “Coba tebak.”Nathan menyipitkan mata. “Orang-orangmu menanam mata-mata di Martial Shrine, bukan?”Hanya dengan cara itu Seraphyne bisa mengetahui berita ini secepat itu. Termasuk soal Sarah yang dipenjara di bawah Martial Shrine. Itu adalah rahasia besar.Namun Ordo Abyssal tetap mengetahuinya. Artinya, mereka pasti memiliki seseorang di dalam Martial Shrine. Dan orang itu jelas bukan orang sembarangan, statusnya pasti cukup tinggi.Seraphyne tetap tersenyum, ia tidak mengiyakan, namun juga tidak menyangkal. Mereka belum mencapai kesepakatan kerja sama dengan Nathan. Karena itu, ia tidak akan membuka semua kartu sekarang.Nathan menatapnya sebentar lalu berkata, “Baiklah. Lalu untuk apa kamu datang menemuiku?”Seraphyne bahkan menggunakan hubungan Bonang untuk menemuinya. Artinya, tujuan kedatangannya pasti penting.“Ketua kami sangat mengagumimu,” jawab Seraphyne. “Ia ingin mengundangmu mengunjungi Ordo Abyssal. Agar kamu melihat sendiri kekuatan kam
Begitu memasuki aula utama, Ksatria Neraka itu langsung berteriak, “Tetua pertama! Ada kabar bagus!”Bagaimanapun juga, para petinggi Martial Shrine sedang pusing memikirkan cara untuk menangkap Nathan. Namun tak disangka, Nathan justru mengirimkan tantangan sendiri. Seolah-olah ia datang menyerahkan diri.“Apa yang terjadi?” tanya Ksatria pertama.Ksatria kelima menyerahkan surat berwarna emas itu dengan wajah penuh kegembiraan. “Tetua pertama, lihat ini. Nathan benar-benar berani memprovokasi kita secara langsung. Bocah bodoh itu malah mempermudah urusan kita.”Ksatria pertama membuka surat itu dan membaca isinya. Tak lama kemudian, ia tertawa keras. “Karena dia sendiri yang mengantarkan nyawanya, jangan salahkan kita. Setelah besok, lambang di jubah hitam kita akan berubah menjadi emas!”Para Ksatria Neraka saling memandang dengan senyum dingin.***Klan Draken Ascalon.Kieran telah kembali dan melaporkan bahwa surat tantangan sudah disampaikan. “Kak Nathan,” katanya dengan serius.
Di depan gerbang Martial Shrine, dua penjaga berdiri dengan wajah dingin.Di hadapan mereka berdiri Kieran.“Ini wilayah penting Martial Shrine,” salah satu penjaga berkata dengan nada keras. “Tanpa izin, tidak ada yang boleh masuk.”Kieran menatap mereka dengan senyum mengejek. “Martial Shrine sebentar lagi akan runtuh, tapi kalian masih mau menjadi anjing penjaga di sini?” Ia menyilangkan tangan dengan santai. “Berapa banyak keuntungan yang diberikan Martial Shrine kepada kalian? Datang saja ke Klan Draken Ascalon. Aku bisa memberi kalian dua kali lipat.”Ucapan itu langsung membuat wajah penjaga berubah marah.“Berani sekali kamu berbicara seperti itu!”“Percaya atau tidak, kami bisa langsung melemparmu ke penjara bawah tanah!”Kieran tertawa dingin. “Hanya mengandalkan kalian? Aku bisa mengalahkan kalian hanya dengan satu tangan. Martial Shrine benar-benar sudah jatuh, sampai penjaga gerbangnya saja seperti ini.”Tatapan Kieran dipenuhi penghinaan.“Kamu cari mati!” Penjaga itu la
Nathan menggeleng. “Tidak perlu, justru karena banyak keluarga kembali ke Martial Shrine, aku ingin mereka melihat sendiri. Martial Shrine tidak lebih dari harimau tanpa taring.”Ia menatap ke kejauhan dengan tatapan tajam. “Pergi dan kirimkan surat tantangan kepada Martial Shrine. Katakan bahwa aku akan menantang mereka. Siapa pun dari Martial Shrine boleh datang. Bahkan jika seluruh Martial Shrine menyerang bersama-sama…”“Aku akan tetap menerimanya.” Nathan berhenti sejenak, lalu berkata dengan suara dingin. “Buat tantangan ini sebesar mungkin.”“Selama aku masih hidup… Aku tidak akan membiarkan Martial Shrine hidup tenang.”Saat ini Pedang Aruna di tangan Nathan sudah setara dengan senjata tingkat Origin, bahkan mungkin telah melampauinya. Selain itu, Nathan juga memiliki tubuh Dewa Brahm. Tubuh itu sendiri setara dengan perisai paling kokoh di dunia kultivator. Jika keduanya digunakan secara bersamaan, Nathan yakin mampu menghancurkan seluruh kekuatan Martial Shrine.“Baik, Kak N
Nathan terdiam. Jika ia menjawab tidak, itu dusta. Jika ia menjawab ya, ia tahu hidupnya bukan milik satu tempat. Ia tidak bisa berhenti di satu kerajaan.Melihat keheningannya, Patriark Razoon melanjutkan, “Yarke menyukaimu. Aku bisa melihatnya. Jika kau bersedia tinggal di Negara Wilom dan mendampinginya, kelak posisi ini akan diwariskan kepadanya. Kau akan memiliki kehormatan dan kekuasaan yang tak tertandingi.”Godaan seperti itu cukup untuk menggoyahkan siapa pun.Namun Nathan hanya tersenyum tipis. “Yang Mulia, saya berterima kasih atas niat baik Anda. Tapi saya tidak bisa menetap di Negara Wilom. Saya memiliki jalan saya sendiri.”Patriark Razoon terdiam beberapa detik. Lalu ia mengangguk pelan. “Perasaan memang tidak bisa dipaksa. Aku menghormati pilihanmu.”Di sudut aula, Yarke berdiri dalam diam, air matanya jatuh tanpa suara. Kadang, penolakan bukanlah penghinaan. Melainkan pengakuan bahwa seseorang memang ditakdirkan berjalan di jalan yang lebih luas dari sekadar satu kera







