Share

Bab 3

Author: Feisha
Isian pangsit itu penuh dengan serpihan kaca.

Setiap kali menelannya, tenggorokanku terasa seolah ditusuk ribuan jarum.

Menahan rasa sakit yang luar biasa, aku memuntahkan pangsit itu lalu menatap Chloe.

"Menaruh serpihan kaca di dalam pangsit, apa ini yang kau sebut permintaan maaf?"

Melihat wajahku yang penuh kesakitan, Evans menoleh ke arah Chloe dengan tatapan bingung.

Air mata Chloe seketika jatuh.

Tubuhnya melemas saat bersandar ke pelukan Evans.

"Aku nggak melakukannya ...."

"Evans melihat sendiri saat aku membuat pangsit itu. Mana mungkin ada serpihan kaca?"

"Rosa, aku benaran datang buat meminta maaf. Kenapa kau harus mengarang kebohongan murahan seperti ini buat memfitnahku? Apa benar kau baru bisa memaafkanku setelah aku dan bayiku mati?"

Hanya dengan beberapa kalimat, Chloe berhasil membuat Evans langsung menjatuhkan vonis kepadaku.

"Rosa, kau benar-benar membuatku kecewa."

"Hari ini, apa pun yang terjadi, kau harus meminta maaf pada Chloe."

Pikiranku tiba-tiba melayang ke masa lalu.

Tidak lama setelah aku dan Evans menikah, aku pernah datang ke kantornya. Saat itu, sekretarisnya menuduhku sengaja merusak dokumen penting miliknya.

Ketika aku tidak bisa membela diri, Evans tiba-tiba muncul dan di depan semua orang memecat sekretaris itu.

Saat itu, dia berkata, "Aku bakal percaya pada istriku tanpa syarat."

Namun, sekarang, orang yang dia percayai tanpa syarat sudah berganti menjadi orang lain.

"Yang salah bukan aku! Kenapa aku harus minta maaf?" Aku berteriak sambil menahan sakit di dada.

Sikapku tampaknya benar-benar memancing amarah Evans.

Seolah kehilangan akal, Evans kembali menyumpalkan pangsit itu ke mulutku.

Barulah setelah aku memuntahkan seteguk darah, dia seperti tersadar dari mimpi.

"Rosa, kamu kenapa?"

Suaranya sedikit bergetar.

Namun, aku sudah tidak punya tenaga untuk menjawab.

Sesaat sebelum kesadaranku lenyap, aku mendengar Evans berteriak, "Cepat panggil ambulans!"

Saat kembali membuka mata, yang kulihat adalah wajah Evans yang penuh kekhawatiran. Namun, kata-kata yang keluar dari mulutnya tetap setajam pisau.

"Aku tahu kau marah padaku dan Chloe. Tapi bukan berarti kau boleh menyakiti dirimu sendiri demi memfitnah Chloe."

Aku ingin berbicara. Namun, tidak ada suara sedikit pun yang keluar.

Mungkin pita suaraku terluka akibat serpihan kaca. Atau mungkin ada penyebab lain. Yang jelas, aku kehilangan suaraku.

Begitu menyadarinya, Evans langsung bangkit untuk memanggil dokter.

Namun, Chloe justru membungkuk ke telingaku dan berbisik pelan, "Tahu kenapa kau jadi bisu? Karena aku menaruh obat di dalam pangsit itu."

"Tapi kau nggak bisa mengatakannya, Evans juga nggak bakal percaya."

"Rosa, Rosa, kau sama seperti ibumu yang hina itu. Nasibmu memang sejak lahir sudah rendah."

Aku tidak sanggup menahannya lagi. Aku mendorong Chloe dengan sisa tenaga terakhir.

Chloe menampilkan senyum penuh kemenangan. Detik berikutnya, dia menjatuhkan diri ke lantai. Darah terus mengalir dari sela kedua kakinya.

Pemandangan itu kebetulan terlihat oleh Evans yang baru saja kembali ke kamar rawat.

Dia segera mengangkat Chloe dan berlari keluar.

Sebelum pergi, dia menatapku dengan sorot mata penuh kebencian.

"Kalau terjadi sesuatu pada Chloe, aku bakal memberimu hukuman berat!"

Dokter mengatakan Chloe mengalami pendarahan hebat sekunder akibat trauma pascapersalinan.

Evans menimpakan seluruh kesalahan kepadaku.

"Kalian itu sahabat, bagaimana bisa kau sekejam ini?"

"Rosa, kau perempuan kejam."

Evans menunjuk wajahku sambil memaki. Saat itu, hatiku benar-benar mati rasa. Aku mengambil ponsel dan mengirim sebuah pesan.

[Aku sudah memikirkannya. Segera kirim seseorang buat menjemputku.]

Pesan itu baru saja terkirim ketika seorang dokter berlari masuk dan berkata persediaan darah rumah sakit menipis, sementara Chloe membutuhkan transfusi darah.

"Ambil darahnya!"

Evans tidak ragu sedikit pun.

Jarum menusuk pembuluh darahku. Darah terus mengalir keluar dari tubuhku.

Aku menatap Evans dengan putus asa. Namun, dia hanya berkata dingin, "Semua ini adalah utangmu pada Chloe."

Aku tidak tahu berapa kantong darah yang mereka ambil. Aku hanya tahu kesadaranku makin kabur.

Setelah itu, aku ditinggalkan begitu saja di kamar rawat, seperti sampah yang tidak berharga.

Aku membuka berkas diagnosis azoospermia milik Evans yang tersimpan di ponselku. Aku pun menekan tombol kirim dengan sisa tenaga terakhir.

'Evan, ini hadiah terakhir dariku untukmu.'

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kembang Api di Pengujung Malam   Bab 8

    Sementara itu, Chloe terus dikurung oleh Evans di vila di utara kota.Adapun anak yang dulu begitu Evans anggap sebagai harta paling berharga, telah dia kirim ke luar negeri.Anak itu tidak bersalah, tetapi Chloe iya.Setiap hari, Evans menyiksa Chloe di vila itu dan membohonginya dengan mengatakan bahwa anaknya telah meninggal.Pada awalnya, Chloe masih berharap asisten pria itu akan kembali menyelamatkannya. Namun, setelah mengetahui bahwa pria tersebut telah berganti identitas dan menghilang tanpa jejak, Chloe pun benar-benar putus asa.Siksaan fisik dan batin yang terus-menerus membuat kondisi mental Chloe akhirnya terganggu.Saat aku melihatnya lagi, tubuhnya sudah kurus hingga nyaris tidak dikenali. Evans hanya menjatuhkan segelas teh, tetapi Chloe langsung merangkak menghampiri dan menjilat teh yang tumpah di lantai sampai bersih.Kemudian, dia mendongak dan tersenyum kepada Evans."Evans, lihat, aku sudah membersihkan lantainya sampai benar-benar bersih.""Bolehkan aku bertemu

  • Kembang Api di Pengujung Malam   Bab 7

    Baru tiga bulan yang lalu, dia bertubi-tubi menghancurkanku, bahkan hampir membuatku kehilangan nyawa. Bagaimana mungkin aku bisa begitu saja memaafkannya?Aku tanpa ragu langsung menutup pintu, bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadanya.Namun, Evans terus menunggu di depan pintu, sampai akhirnya paman yang pulang kerja melihatnya.Begitu mengenali wajah Evans, paman langsung bergegas menghampirinya dan memukulnya.Evans terjatuh ke tanah. Darah mengalir dari sudut bibirnya, tetapi dia masih keras kepala."Paman! Asal Rosa mau memaafkanku, sekalipun Paman memukuliku sampai mati, aku rela menerimanya!""Hari-hari tanpa Rosa membuat hidupku lebih buruk daripada kematian.""Tolong percayalah, aku benar-benar mencintai Rosa."Paman malas mendengarkannya dan langsung menyuruh orang mengusirnya.Beberapa hari berikutnya, Evans terus-menerus muncul di depan rumah, bahkan mencoba menggunakan kenangan masa lalu untuk meluluhkan hatiku.Setiap kali aku keluar rumah, dia langsung mengha

  • Kembang Api di Pengujung Malam   Bab 6

    Evans sangat ingin makan sup dan juga sangat merindukan Rosa.Rumah itu masih persis seperti tiga bulan lalu. Bahkan kotak pangsit yang belum habis pun masih tergeletak di sana.Setelah tiga bulan, permukaan pangsit itu sudah tidak lagi berbentuk jelas, tetapi isinya masih tampak menggembung.Seolah digerakkan oleh sesuatu yang tidak kasatmata, Evans melangkah maju dan mengambil satu pangsit.Ujung jarinya tiba-tiba terasa perih. Saat itulah dia baru melihat dengan jelas bahwa di antara pangsit yang sudah membusuk itu terdapat tumpukan pecahan kaca.Ternyata dulu Rosa tidak berbohong. Isian pangsit itu benar-benar berisi pecahan kaca.Namun, apa yang sudah dia lakukan?Dalam lamunannya, Evans seakan melihat Rosa berdiri tidak jauh darinya, dia tersenyum sambil berkata, "Evans, supnya sudah siap."Evans bergegas mendekat. Namun, yang diraihnya hanyalah kehampaan.Tiba-tiba wajahnya terasa basah dan gatal. Saat tangannya menyentuh pipi, Evans baru sadar telapak tangannya telah dipenuhi a

  • Kembang Api di Pengujung Malam   Bab 5

    Sepanjang perjalanan, yang dipikirkan Evans hanyalah bagaimana cara menghadapi Rosa.Namun, saat mendorong pintu vila terbuka, dia langsung terpaku.Yang menyambutnya adalah bau debu yang menyengat. Vila itu kosong melompong. Semua barang masih tertata seperti tiga bulan lalu. Bahkan, bercak darah di lantai pun masih tersisa.Rosa tidak ada di sini?Lalu, dia pergi ke mana?Tidak heran, meski asistennya sering melaporkan keadaan Rosa, dia tidak pernah sekali pun mengirim foto.Evans merasa dirinya seolah terjebak dalam kabut tebal.Dia mengeluarkan ponsel lalu menelepon asistennya."Sekarang juga. Detik ini juga. Datang ke vila di selatan kota."Meski asistennya sudah menyanggupi dengan patuh, Evans menunggu di vila dari siang hingga malam, tetapi bayangan asistennya pun tidak terlihat.Saat Evans menelepon lagi, yang terdengar hanya nada sibuk.Dia segera memerintahkan orang untuk melacak keberadaan asistennya, tetapi ternyata orang itu sudah naik pesawat menuju luar negeri setengah j

  • Kembang Api di Pengujung Malam   Bab 4

    Sesaat sebelum kesadaranku benar-benar lenyap, aku melihat sosok yang sudah bertahun-tahun tidak kutemui.Dia memelukku erat dengan wajah penuh kepedihan, lalu menggendongku keluar dari ruang rawat.Setelah sibuk sepanjang pagi, kondisi Chloe akhirnya berhasil distabilkan.Barulah Evans teringat pada Rosa yang tadi dia tinggalkan di ruang rawat.Dia mengusap pelipisnya dengan lelah.Awalnya, Evans mengira Rosa akan menerima keberadaan anak itu.Bagaimanapun, Rosa tidak bisa punya anak, dan Chloe adalah sahabatnya.Terlebih lagi, di lingkungan mereka, hal seperti ini bukan sesuatu yang aneh.Namanya juga laki-laki, wajar kalau tidak bisa menahan godaan.Lagi pula, dia juga tidak berniat menceraikan Rosa. Bahkan, Evans merasa sudah menemukan solusi yang sempurna, satu tinggal di utara, satu di selatan.Tidak disangkanya, Rosa bukan hanya menolak menerimanya, bahkan sampai meminta cerai.Omong kosong macam apa itu?Hanya karena Evans punya satu anak lagi, bukan berarti dia sudah tidak men

  • Kembang Api di Pengujung Malam   Bab 3

    Isian pangsit itu penuh dengan serpihan kaca.Setiap kali menelannya, tenggorokanku terasa seolah ditusuk ribuan jarum.Menahan rasa sakit yang luar biasa, aku memuntahkan pangsit itu lalu menatap Chloe."Menaruh serpihan kaca di dalam pangsit, apa ini yang kau sebut permintaan maaf?"Melihat wajahku yang penuh kesakitan, Evans menoleh ke arah Chloe dengan tatapan bingung.Air mata Chloe seketika jatuh.Tubuhnya melemas saat bersandar ke pelukan Evans."Aku nggak melakukannya ....""Evans melihat sendiri saat aku membuat pangsit itu. Mana mungkin ada serpihan kaca?""Rosa, aku benaran datang buat meminta maaf. Kenapa kau harus mengarang kebohongan murahan seperti ini buat memfitnahku? Apa benar kau baru bisa memaafkanku setelah aku dan bayiku mati?"Hanya dengan beberapa kalimat, Chloe berhasil membuat Evans langsung menjatuhkan vonis kepadaku."Rosa, kau benar-benar membuatku kecewa.""Hari ini, apa pun yang terjadi, kau harus meminta maaf pada Chloe."Pikiranku tiba-tiba melayang ke

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status