MasukAdele berlari masuk ke dalam toko kue. Ia berjalan mendekati Vidia, hendak mengadukan Alvano dan Alvino yang kabur dan bermain sampai jauh.
Anak kecil itu berjinjit, jemarinya menarik ujung dress yang Vidia pakai. "Mami ... Mami—" “Diamlah, Adele!" Vidia menyela ucapan Adele dan meraih lengan kecilnya. "Donat dan pretzel yang kau minta sudah Mami belikan. Ayo sekarang kita pulang, dan jangan bicara lagi!" Adele pun terdiam dengan bibir mengerucut. Padahal ia belum menyelesaikan ucapannya, tapi Vidia sudah menyela lebih dulu hingga Adele tidak berani untuk berbicara lagi. Saat keluar dari toko kue, Adele menatap sekitar dan tidak lagi melihat dua kembarannya itu. "Ayo, apa yang kau tunggu?" Vidia menarik lengan kecil Adele. "Iya, Mami." Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil dan bergegas pulang. Sepanjang perjalanan, Adele hanya diam. Ia takut kalau sampai di rumah nanti dan kedua kembarannya belum kembali, pasti Vidia akan memarahi Alvano dan Alvino. Aduuuh, bisa gawat! Beberapa menit kemudian, mobil putih milik Vidia berhenti di halaman. Adele turun dari mobil diikuti oleh Vidia yang berjalan langsung ke arah dapur. Sedangkan Adele berlari menuju ruang keluarga. Loh? Ia terkesiap saat melihat Alvano dan Alvino di sana. Alvano tengah memainkan laptop dan Alvino bermain puzzle di karpet. Adele menghampiri keduanya. "Kalian kapan pulangnya? Cepat sekali! Naik apa? Kok aku tidak tahu?" tanyanya bertubi-tubi. Alvano dan Alvino mengerutkan keningnya bingung, tidak mengerti ucapan si bungsu. "Apa maksudmu, Adele?" Alvino menatapnya aneh. Adele menoleh ke arah dapur sekilas, lalu ia mendekati dua kembarannya dan mulai berbicara dengan nada berbisik-bisik. "Kalian tadi main di dekat taman kota 'kan? Pura-pura tidak kenal sama Adele!" Anak perempuan itu cemberut. "Kalian nakal! Awas Daddy tahu, bisa dihukum nanti!" "Kau ini bicara apa, Adele?" Alvano mendengkus. "Sejak tadi kami di rumah." "Kakak bohongi Adele 'kan? Takut diadukan ke Daddy 'kan?" cecar anak itu sambil berkacak pinggang. Adele memicingkan matanya. "Kita tadi bertemu. Kakak bilang Adele sok kenal sok dekat! Kakak juga bilang Adele jelek, Adele pendek, dan Adele cerewet!" seru Adele dengan bibir manyun. "Wahhh, siapa yang berani bicara sejujur itu padamu?" kata Alvano diikuti tawanya yang pecah. "Kakak!" Adele langsung melayangkan kepalan tangannya di bahu Alvano. "Adele tidak bohong, tahu!" "Tapi kita berdua tidak ke mana-mana, Adele." Alvino menarik pelan lengan kembarannya. Adele tampak kesal karena kembarannya itu menyangkal. Apalagi Alvano yang malah meledeknya. "Adele tahu kalian kabur dari rumah!" gerutunya. Alvano menggelengkan kepala tidak percaya. "Memangnya kau melihat berapa anak?" tanyanya kemudian. "Tentu saja dua! Alvano, Alvino!" seru Adele dengan alis bertaut marah. Alvano dan Alvino saling tatap sebelum tawa keduanya kembali pecah. Mereka menganggap Adele sedang berbohong karena mereka sejak tadi tidak pergi ke mana-mana. "Wahh, kita punya kembaran dua lagi dong, Vin! Punya dua adik saja aku pusing, apalagi ditambah dua dengan kelakuan yang di luar nalar, bisa meledak kepalaku!" seru Alvano tertawa sambil memegangi perutnya. Alvino menggelengkan kepalanya dan menatap Adele yang tampak sangat kesal. "Adele memang ada-ada saja." “Lain kali, pintar sedikitlah kalau mau berbohong,” kata Alvano dengan nada geli. Melihat respon dua kembarannya yang tidak percaya, Adele sangat kesal. Anak itu langsung pergi meninggalkan mereka dan berjalan ke arah dapur mencari Maminya dengan langkah yang menghentak-hentak. "Adele tidak akan mau berteman dengan Kakak!" serunya. Anak itu cemberut dan menghentikan langkahnya di depan pintu ruangan keluarga. ** Sementara di tempat lain, Chloe sedang pusing bukan kepalang. Beberapa menit yang lalu, ia mendapat kabar dari Madam Bree kalau Dylan dan Diego tidak ada di penitipan sejak pagi. Hal ini membuat Chloe panik dan langsung pergi mencari mereka. Chloe menyusuri jalanan kota. Ia mencari di setiap tempat yang mungkin dilalui oleh si kembar. "Ya Tuhan, ke mana mereka? Mereka masih belum mengenal Paris. Bagaimana kalau mereka tersesat?" gumam Chloe cemas. Wanita berlari mendekati area taman. Namun sejauh mata memandang, ia tidak melihat dua anak kembarnya. Chloe terus menyusuri jalan, hingga saat melewati sebuah cafe, seorang laki-laki berbalut tuxedo hitam yang baru saja keluar memanggil namanya. "Dokter Chloe," sapa laki-laki itu, yang tak lain adalah Caesar Leopold. Chloe menoleh dan tersentak menatap laki-laki itu. "Tu-Tuan Caesar?" "Anda sedang apa?" Caesar menatap wanita di hadapannya yang kini tampak celingukan ke sana kemari. "I-itu, saya mau—" "Mommy!" Belum selesai Chloe menjawab, wanita itu mendengar suara teriakan keras dari arah seberang jalan. Kedua mata Chloe melebar saat mendengar suara itu. Ia menatap ke arah seberang jalan, mencari sumber suara dengan wajah panik. 'Itu suara Diego!' batin Chloe berkecamuk. Astaga! Jangan sampai Caesar melihat kedua anaknya! Chloe menatap ke arah depan, tetapi ia tidak melihat anak-anaknya di sana. Sementara tak jauh dari seberang, Dylan sudah menarik lengan kembarannya dan mengajaknya bersembunyi di balik dinding. Ia menutup mulut Diego agar tidak berteriak memanggil Mommy-nya lagi. Dylan melotot pada Diego. "Kau ini merusak suasana Mommy saja! Mommy sedang berpacaran sama Om itu!" "Aku 'kan tidak tahu!" gerutu Diego ikut mengintip setelah Dylan menarik tangannya. "Kita jangan beranjak ke mana-mana, diam dan kita awasi dari sini saja!" Dylan mencekal lengan kembarannya. Mereka mengintip Mommy-nya sekali lagi. Si kembar ingat kalau pria yang bersama Chloe saat ini, adalah pria yang mengirim pesan di kemarin malam. Sementara itu, Chloe merasa begitu panik. Sepasang matanya masih mencari-cari ke seberang jalan setelah mendengar suara Diego. Caesar memperhatikan perubahan raut wajah Chloe dalam diam. Kepanikan di wajah cantik itu begitu kentara. Dan itu membuatnya penasaran. "Apa Anda sudah memiliki seorang anak?" tanya Caesar tiba-tiba. Chloe tergemap. Ia menoleh, seolah baru sadar ada Caesar di sana. Chloe menelan ludah, berusaha tampak tenang, "Ti-tidak," katanya, lalu berdeham untuk menyembunyikan kegugupannya. Tatapan Caesar masih diselimuti rasa curiga. "Anda sudah menikah?" tanyanya lagi. Chloe menggeleng. Ia resah karena tatapan Caesar Leopold benar-benar tidak beranjak sedikit pun darinya. Chloe mengalihkan tatapannya, sedikit tertunduk gugup. "Maaf Tuan, sepertinya saya harus pergi. Permi—" "Tunggu," Caesar menahan lengan Chloe hingga wanita itu menghentikan langkahnya. Kedua mata cokelat milik Chloe bergetar saat Caesar maju beberapa langkah mendekatinya. Tatapan lekat pria itu benar-benar membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Chloe takut tatapan itu bisa menembus jiwanya dan mengetahui semua rahasia yang ia simpan dengan rapat. “A-ada apa, Tuan?” tanya Chloe dengan suara tercekat. Caesar menatapnya dalam. "Apa kita pernah bertemu sebelum ini?" tanya Caesar, hampir seperti berbisik. Chloe gemetar mendengarnya, tetapi wanita itu tertawa dengan canggung dan berusaha tampak tenang. "Tuan bicara apa? Kita memang sudah pernah bertemu di rumah sakit, di rumah Tuan—" "Bukan belakangan ini," sela Caesar. Ia semakin menghapus jarak di antara mereka. Cekalan tangannya di pergelangan Chloe erat, tapi tidak menyakiti. “Tapi beberapa tahun yang lalu.” Darah seolah Chloe berdesir mendengarnya. Sentuhan Caesar membuat tubuhnya terasa panas, mengingatkannya pada kejadian enam tahun yang lalu … di kamar hotel itu …. “Sa-saya tidak mengerti,” kata Chloe. Ia mundur selangkah, tapi Caesar tak membiarkannya begitu saja. Chloe menelan ludah saat menyadari wajah mereka hanya beberapa jengkal jaraknya. Sungguh, Chloe khawatir Caesar bisa mendengar detak jantungnya! "Benarkah?" kata Caesar dengan suara pelan. Sepasang matanya menatap Chloe dalam. "Tapi mengapa rasanya kau tidak asing, Dokter Chloe Valencia …."Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Dua bulan telah berlalu, saat ini usia Levino sudah satu bulan. Bayi laki-laki menggemaskan itu, semakin terlihat mirip dengan kelima Kakaknya, terutama dengan Adele. Berbeda dengan keempat kakak laki-lakinya, Levino juga semakin hari semakin lengket dengan Adele. Hingga tidak ada uring-uringan lagi dari Adele, apalagi setelah satu bulan yang lalu Amelia juga melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik dan lucu. Adele menganggap kini ia punya dua adik. "Mommy, adiknya bisa ditukar saja tidak, dengan Adik Kimmy?" tanya Diego sambil menatap Levino yang dipangku oleh Chloe. "Sepertinya, Levino nanti akan menjadi adik yang nakal," ujar anak itu cemberut. "Kalau Levino ditukar dengan Kimmy, pasti Paman Raksasa marah!" seru Alvino. "Paman Raksasa itu ingin punya anak seperti Kurcaci, katanya!" "Iya, sih ... Tapi kan—""Memangnya kenapa, Sayang? Kenapa dengan Adik Levino?" Caesar mendekati keempat anak laki-laki yang kini duduk di atas ranjang di d
Hari demi hari berjalan dengan sangat menyenangkan. Sudah satu Mingguan ini, Dylan dan Diego yang biasanya sering ribut, tiba-tiba akur. Bahkan saat Alvano, Alvino, dan Adele tengah menemani Chloe bersama adik bayinya, Dylan dan Diego asik bermain di taman rumahnya berdua. "Dylan, aku dapat lagi!" Diego mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan capung yang ia tangkap. "Wahhh kita sudah dapat tiga, Diego..." Dylan menunjukkan capung di dalam toples besar yang ia bawa. "Huhhh ... tapi cepek. Aku lari-lari terus. Enak juga dirimu, hanya duduk diam di sini saja!" seru anak itu pada kembarannya.Dylan mendengus. Ia berbaring di atas rerumputan di taman rumahnya. Menatap langit cerah berwarna biru, sebelum kedua matanya terpejam dan Diego ikut berbaring di sampingnya. "Dylan, kadang-kadang aku rindu saat kita hidup bertiga dengan Mommy dulu," ujar Diego tiba-tiba. Dylan pun menoleh dan mengangguk. "Heem. Andai saja dulu kita marah saat tahu Mommy akan pindah kerja ke sini. Pasti kita
"Daddy, kalau Dylan sudah besar nanti, boleh tidak kalau Dylan mau seperti Daddy?" Langkah kaki Caesar langsung terhenti mendengar apa diucapkan oleh Dylan barusan. Caesar tersenyum. "Mau seperti Daddy bagaimana?" tanyanya. "Bekerja seperti Daddy," jawab anak itu. "Alvano ingin sekolah di luar negeri, dia bilang dia mau menjadi pengacara top! Alvino ingin menjadi dokter, katanya Madam di sekolah kalau menjadi dokter harus sangat pintar dan belajar yang giat, kuliahnya juga di luar kota. Sedangkan Diego ... dia juga ingin menjadi tentara angkatan laut, jarang pulang juga. Kalau Adele ... Emmm, Dylan tidak tahu Kurcaci mau jadi apa. Tapi lebih baik Kurcaci tetap di rumah. Kalau dia jauh dari Dylan, Daddy, dan Mommy, nanti dia gampang cengeng!" Caesar terkekeh, ia masih menggendong Dylan di punggungnya sambil berjalan di teras samping rumahnya mondar-mandir. "Kalau Dylan? Kenapa tidak ingin kuliah di luar kota atau luar negeri?" tanya Caesar pada si sulung itu. "Tidak mau," jawabny
Setelah menidurkan Levino, Chloe tidak langsung tidur. Wanita itu masih ingin menengok kelima anaknya dan memastikan mereka sudah tidur atau belum. Chloe memasuki satu persatu kamar anak-anaknya, dari kamar Adele hingga kamar Dylan. Saat Chloe membuka pintu kamar Dylan perlahan-lahan tanpa suara, wanita itu melihat putranya masih duduk diam di meja belajarnya dan tampak mengerjakan sesuatu. "Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Chloe berjalan mendekati Dylan. Anak itu menoleh. "Mommy..." "Ini sudah malam, Sayang. Besok Dylan harus sekolah. Kenapa malah belum tidur?" Chloe mengelus pundak Dylan. Perhatian wanita itu tersita pada apa yang sedang dikerjakan oleh putranya. Buku gambaran yang dipenuhi dengan gambaran-gambaran yang indah dan lucu. Dan bagian yang dilihat oleh Chloe saat ini, adalah gambar di mana si kembar lima bersama Adik bayinya, juga Chloe dan Caesar. "Yahh, ketahuan Mommy deh," uja Dylan cemberut. "Memangnya ini gambar tentang apa, Sayang?" tanya Chloe duduk di
Saat hari sudah malam, Si kembar sibuk dengan tugas-tugas sekolahnya. Kelima anak itu berada di ruang keluarga di lantai satu. Dari Dylan, Alvano, Alvino, Diego, hingga Adele, mereka sibuk mengerjakan tugasnya. Dan hanya Dylan yang terlihat begitu santai. "Siapa yang selesai duluan, dia yang boleh bermain bersama adik bayi!" seru Dylan menutup bukunya. "Okey! Kau pikir kau saja yang paling pintar!" sahut Alvano ikut menutup buku belajarnya dan menyelesaikan belajarnya.Adele langsung mengangkat kepala dan menatap mereka berdua, disusul oleh Alvino yang kini juga menutup buku dan selesai mengerjakan tugasnya. "Aku juga sudah! Ini soal-soal yang terlalu gampang untuk aku yang pintar sekali!" seru anak itu. "Hayoo ... tinggal kalian berdua yang belum!" pekik Alvano pada Diego dan Adele. "Kalau belum selesai, tidak boleh main sama adik!" seru Alvino.Diego yang asik menghitung, dia berdecak kesal dan melempari mereka dengan bantalan sofa. "Susah, jangan sok pintar! Sana, pergi saja
Dua hari ini Adele tidak mau mendekati adik bayinya, semenjak Levino si mungil menangis saat ia pangku dan justru diam saat dipangku oleh Dylan. Hari ini, setelah pulang sekolah, Adele yang biasanya teriak mencari adik bayinya. Anak itu berjalan masuk tanpa mencari adiknya, ia berjalan dengan bibir cemberutnya sambil membawa tas bekalnya. "Loh, anak cantik sudah pulang?" Suara seseorang membuat langkah Adele terhenti. Anak itu menoleh ke arah ruang tamu, dan ia melihat seorang yang ia kenali satu bulan yang lalu. "Om ... Om Zachary!" teriak Adele dengan wajah berbinar. Anak perempuan itu langsung berlari mendekat ke arah ruang keluarga. Laki-laki muda dan tampan bernama Zachary itu pun langsung mengulurkan kedua tangannya ke arah Adele. "Loh kok sudah kenal sekali mereka," ujar seorang wanita setengah baya yang terkejut melihat Adele memeluk Zachary. "Iya, Nyonya. Mereka memang sudah kenal sejak Zach ke sini pertama kali," jawab Caesar menjelaskan. "Ohhh ... pantas saja. Zach







