LOGIN"Steffi, aku berencana pulang ke kampung halaman akhir bulan ini. Kelak, aku seharusnya akan menetap di sana. Sisakan posisi untukku di salon kukumu." Baru saja Noreen selesai berbicara, terdengar suara terkejut sahabatnya, Steffi, dari ujung telepon. "Apa? Kamu mau pulang? Sekarang, pria malang yang kamu rawat dulu sudah jadi profesor termuda di Universitas Pratama! Kamu biayai dia selama bertahun-tahun dan akhirnya dia akhirnya sukses. Kenapa kamu nggak tinggal di ibu kota untuk menikmati hidup, malah tiba-tiba mau kembali ke kota kecil kita? Apa dia memperlakukanmu dengan buruk?" "Nggak, dia sangat baik padaku," sela Noreen. Buku-buku jarinya tanpa sadar mengusap tepi ponsel. "Hanya saja aku nggak ingin tinggal di ibu kota lagi."
View MorePada musim dingin berikutnya, Noreen telah pulih sepenuhnya. Hasil pemeriksaan lanjutannya membuatnya dan Albert sangat bahagia.Albert membawa Noreen pergi melihat aurora yang selalu ingin dilihatnya.Angin dingin menerpa pipi Noreen. Dia menarik syalnya lebih tinggi lagi, hingga hampir menutupi separuh wajahnya. Malam musim dingin di Norwegin sangat dingin. Namun, demi melihat aurora, rasa dingin ini bukanlah apa-apa."Bertahanlah sedikit lebih lama lagi. Pemandunya bilang, peluang melihat aurora malam ini sangat tinggi." Albert memberikan termos kepada Noreen. Uapnya mengembun menjadi kabut putih di udara dingin. "Minumlah air panas untuk menghangatkan badan.""Auroranya sudah muncul!" Mendengar suara pemandu, keduanya serentak mendongak. Di kejauhan, seberkas cahaya hijau samar yang seperti tirai perlahan-lahan terbentang di langit. Cahaya itu awalnya lemah. Seiring waktu berlalu, warna hijau itu makin terang dan secara bertahap berubah menjadi seperti aliran sungai."Indah bange
Albert tidak meminta Noreen untuk segera memberi jawaban. "Jangan buru-buru kasih aku jawaban. Istirahat saja dulu dengan baik. Kita bicarakan semuanya beberapa hari lagi."Setelah beberapa hari pemulihan, Noreen akhirnya bisa mengonsumsi makanan cair. Raut wajahnya pun membaik secara signifikan.Albert meletakkan bubur di depannya. "Hati-hati panas. Makanlah dengan pelan." Noreen meraih pergelangan tangannya. "Albert, ada sesuatu yang mau kukatakan padamu." Dia menatap wajah Albert yang penuh semangat. Pikirannya dipenuhi segala sesuatu yang telah Albert lakukan untuknya selama ini. Baik itu buket bunga segar harian, makanan berkhasiat yang Albert siapkan secara pribadi, atau perawatan teliti yang dia berikan sebelum dan sesudah operasi, semua itu sebenarnya hanyalah hal-hal kecil.Namun, hal-hal kecil inilah yang penting bagi Noreen. Segala sesuatu di masa lalu terasa seperti air yang membanjiri hatinya dan menumbukan lagi benih-benih yang terkubur di lubuk hatinya yang terdalam. B
"Aku nggak pandang rendah ...." Noreen mencibir, "Kamu memang nggak seharusnya pandang rendah aku." Dia mengangkat tangannya dan melanjutkan, "Demi hasilkan uang kuliahmu, aku mencuci piring di tengah musim dingin. Tanganku terendam air hampir 20 jam sehari. Bahkan sampai sekarang, aku masih sering mengalami radang dingin yang menyakitkan dan gatal di musim dingin. Karena sering memindahkan barang, lututku sudah rusak dan selalu sangat sakit waktu hujan." Masih ada luka di punggung dan kapalan di telapak tangan Noreen. Demi membiayai pendidikan Kaivan, dia telah melakukan berbagai pekerjaan kotor dan berat. Terkadang, ketika melihat bayangannya yang berantakan di cermin, dia bertanya-tanya apakah dirinya tidak pantas berdiri di samping Kaivan.Noreen bisa memikirkan itu dalam hati, tetapi dia tidak bisa menerima Kaivan memandang rendah dirinya."Memangnya aku yang masih berusia belasan dan dua puluhan tahun nggak suka pakaian yang cantik? Tapi, demi menghasilkan uang, aku pakai paka
Kaivan menurunkan tangannya dengan sedih. Dia kembali ke tempat di mana dia dan Noreen pernah tinggal bersama. Rumah itu telah direnovasi dan terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.Mengikuti ingatannya, Kaivan berjalan ke arah pohon akasia di halaman belakang. Ayunan di pohon itu sudah usang. Hanya satu sentuhan ringan saja dapat menyebabkan banyak bagian yang lepas.Kaivan menatap kosong ke ayunan itu dan memikirkan masa lalunya bersama Noreen. Di rumah kecil nan bobrok ini, dia telah menghabiskan masa-masa terkelam hidupnya. Dinding halaman tidak mampu menghalangi gosip, kutukan, hinaan, dan tawa mengejek. Semua itu terus-menerus terdengar di telinganya.Kaivan hampir kehilangan kendali berkali-kali. Akan tetapi, setiap kali, Noreen akan menutupi telinganya dan berkata, "Kaivan, nggak apa-apa. Aku akan selalu berada di sisimu." Mereka telah bersama selama sepuluh tahun. Apa pun yang terjadi, setiap kali menoleh, Kaivan selalu melihat Noreen di belakangnya.Awalnya, Noreen bekerja












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.